Alea Winslow (22th), melanjutkan pendidikan S2-nya di salah satu kampus ternama di Belanda.
Hidupnya yang awalnya dia pikir akan bebas, malah hancur lebur karena harus berhadapan dengan Damon Alvaro. Dokter tampan 39 tahun, kadang hangat kadang dingin, yang tiba-tiba mulai terlibat dalam hidupnya.
Damon selalu menjadi saksi Alea melakukan hal-hal konyol. Bahkan mencuri di salah satu pertokoan di Belanda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mobil Damon
Alea keluar dari apartemen Damon dengan langkah kaki yang kasar, bahkan membanting pintu depan. Tidak terlalu kuat sih, tapi cukup untuk membuat Damon yang masih berada di dalam kamar mandi menghembuskan nafas kasar.
Lelaki itu keluar dan melihat keseluruhan apartemennya yang awalnya sangat rapi berubah drastis setelah kedatangan Alea. Mangkok mie milik gadis itu masih ada di atas meja sofa. Camilan yang dia bawa juga ketinggalan di atas sana. Ruang tamunya penuh dengan bau mie juga beberapa mie berserakan di atas karpet.
Sekali lagi Damon berusaha menenangkan dirinya. Dia anti sekali dengan yang namanya kotoran. Lelaki itu rapi sekali. Tapi sekarang, lihat yang gadis itu perbuat. Damon memutuskan mandi sebelum membersihkan semua kekacauan yang terjadi.
Sementara itu, Alea masuk ke apartemennya sambil terus mengomel-ngomel.
"Ya ampun, apa-apaan itu tadi? Kenapa tetanggaku harus laki-laki itu coba? Padahal aku sudah buat mie-nya dengan sepenuh hati. Aku latihan ngomong biar akrab sama tetangga. Ternyata yang muncul di depanku malah laki-laki matang, galak datar kayak papan triplek nggak punya perasaan!"
Alea menutup pintunya agak keras. Ia langsung bersandar di balik pintu, napasnya masih sedikit terengah. Rambutnya basah, bajunya juga. Air masih menetes ke lantai, tapi dia bahkan tidak peduli.
"Nyebelin banget. Nyebelin banget. NYEBELIN BANGET!" ulangnya sambil mengacak rambutnya sendiri. Ia berjalan mondar-mandir di ruang tamunya.
"Udah nyembur mie, nyiram air, galak, dingin, terus sok keren lagi! Huh! Om-om satu itu bener-bener ya. Gue nggak bakal datang ke apartemen itu lagi titik!"
Dia terus bicara melampiaskan kekesalannya sendiri. Beberapa menit berdiri, dia mulai bersin-bersin.
"Mandi air anget aja. Gue butuh yang anget-anget." katanya lalu berlari kecil ke kamar mandi di kamarnya.
Alea langsung menyalakan shower. Air hangat itu mengalir, mengepul tipis memenuhi kamar mandi. Ia berdiri di bawahnya, memejamkan mata saat air itu menyentuh kulitnya.
"Hhh… nah gini kek. Hidup tuh harus hangat, bukan kayak tetangga gue yang dingin kayak es batu." gumamnya masih kesal.
Beberapa menit kemudian, ia selesai mandi. Alea keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit rambutnya, memakai piyama sederhana. Wajahnya sudah lebih segar, tapi ekspresinya masih menunjukkan sisa-sisa kesal. Ia berjalan ke dapur kecilnya, membuka kulkas. Kosong. Alea tertawa.
"Oke. Bagus, keren, mantap. Hidup mandiri level satu, kulkas kosong."
Ia menutup kulkas pelan, lalu menghela napas. Ia berjalan ke sofa dan membanting tubuhnya di sana.
"Gini amat hidup mandiri gue." katanya meratapi nasib sampai matanya tidak sadar mulai tertutup perlahan dan masuk ke alam mimpinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Whoaamm...
Alea merentangkan tangannya lebar-lebar. Saat ia membuka mata, ia baru sadar kalau dirinya ternyata ketiduran di sofa dari semalam. Lampu-lampu masih menyala, dan ruang tamu makin terang lagi dengan cahaya matahari dari luar.
Alea mencari ponselnya untuk melihat jam. Matanya membelalak.
"Udah jam sembilan pagi?! Ya ampun, ya ampun. Ini hari pertama gue ke kampus. Mampus!"
Alea berlari secepat kilat, mandi dan berpakaian. Ia nyaris terpeleset saat keluar dari kamar mandi karena terlalu terburu-buru.
"Fokus, Alea! Hari pertama, jangan bikin malu! Lo anak pascasarjana. Minimal harus keliatan pinternya." gumamnya sambil setengah loncat ke arah lemari.
Ia membuka lemari dengan cepat, mengambil pakaian seadanya, kaos putih, jeans, dan jaket tipis. Rambutnya masih setengah basah, tapi dia tidak punya waktu untuk mengeringkannya dengan benar. Ia hanya mengacaknya asal, lalu mengambil tas dan langsung meluncur keluar apartemen.
Begitu keluar dari apartemennya, pada saat yang sama sosok yang tidak ingin dia lihat, yang katanya sudah jadi musuhnya ikut keluar dari apartemennya. Alea saling berhadapan dengan laki-laki jangkung mengenakan jaket tebal itu.
Seketika perang semalam langsung teringat jelas di kepala Alea. Damon berdiri di depannya, rapi seperti biasa. Penampilan rapi, rambutnya tertata. Seolah semalam tidak terjadi apa-apa.
Berbanding terbalik dengan Alea yang masih sedikit berantakan.
"Ya ampun, dia lagi. Pagi yang indah jadi hilang keindahannya gara-gara lihat makhluk paling nyebelin di muka bumi ini." katanya pelan, namun cukup untuk sampai di telinga Damon, kedengeran jelas.
"Aku mendengarmu." balas Damon datar.
Alea tetap santai.
"Oh, baguslah kalau begitu.
Damon menatapnya datar. Tidak terpancing. Justru itu yang membuat Alea makin kesal.
"Lagi buru-buru?" tanya Damon singkat.
Alea mendengus.
"Ngapain nanya-nanya, kepo ya? Maaf pak, saya sudah gak kenal bapak sekarang, bye. Hmph!" Alea membuang muka lalu pergi begitu saja meninggalkan Damon yang masih menatapnya dengan ekspresi tak terbaca.
Begitu Alea menghilang dari hadapannya, Damon tersenyum setengah mendengus sambil menggelengkan kepala.
"Ada-ada saja." katanya pelan. Ia ikut berjalan menuju lift untuk ke lantai bawah.
Ia pergi ke parkiran untuk mengambil mobilnya. Begitu mobilnya keluar, lagi-lagi ia melihat gadis itu. Alea sedang berdiri di depan jalan sepertinya menunggu kendaraan. Wajahnya kusut sekali. Mungkin karena dia sudah terlambat ke kampus. Damon menebaknya.
Lelaki itu sempat Menimbang-nimbang akan menawarinya di anterin ke kampus atau tidak, tapi mengingat aura permusuhan gadis itu padanya kuat sekali setelah kejadian semalam, dia pun memutuskan untuk tetap menjalankan mobilnya.
Namun, baru beberapa meter menjauh, kaki Damon refleks menekan rem.
"Ck."
Ia menghela napas pelan, menatap ke depan dengan rahang sedikit mengeras.
"Merepotkan," gumamnya.
Beberapa detik berlalu. Akhirnya, ia memutar setir, membawa mobilnya kembali ke arah Alea.
Gadis itu masih berdiri di pinggir jalan, gelisah setengah mati. Ia melirik jam di ponselnya berkali-kali.
"Aduh … ini beneran bakal telat. Mana gak ada taksi lewat lagi. Gue bisa mati gaya di hari pertama ini."
Tiba-tiba sebuah mobil berhenti tepat di depannya. Alea refleks mundur sedikit, lalu menunduk melihat siapa di dalam. Pasalnya itu mobil mewah. Jelas bukan taksi dong. Kaca mobil perlahan turun.
Wajah Damon langsung keliatan. Dan ekspresi Alea makin kusut.
"Kenapa dia ada di mana-mana sih?" gumamnya pada dirinya sendiri. Namun lagi-lagi, Damon bisa mendengarnya.
Lelaki itu tidak banyak bicara.
"Masuk."
Alea melipat tangan.
"Gak mau."
Damon menatap lurus ke depan.
"Kalau begitu, terlambatlah."
Alea menggigit bibirnya, melirik kiri kanan. Tidak ada kendaraan lain. Sial. Kota sebesar dan semaju ini minim banget kendaraan. Padahal dia jelas-jelas ada di pusat kota.
Alea menghela napas panjang. Wajahnya menunjukkan pergulatan antara gengsi … dan kenyataan. Tapi nanti makin terlambat ke kampusnya. Akhirnya ia membuka pintu mobil dan masuk. Pintu di tutup agak keras sampai Damon meliriknya tajam.
"Sorry, sorry." katanya dengan nada santai setengah meledek.
Damon menghembuskan nafas kasar lalu melajukan mobilnya meninggalkan gedung apartemen itu.
bener2 kocak anak Daddy Damian nnih 😄😄
dasar alea membuat pak anthony jadi darting dan stress, menghadapi kerandoman dan sifat bar-bar alea🤭
Elora hanya diam aja takut ancaman pak anthony, alea kocak banget mengatakan pak anthony jodohnya elora🤣🤭
Elora hanya diam aja takut dikasih hukuman lagi😃dasar alea banyak akalnya berani melawan dosen terkenal killer🤭
hanya om damon pawangnya alea nantinya, lama-lama tubuh benih-benih cinta dihati alea dan om damon🤣🤭