Arabelle Vasillo kabur dari rumah demi membuktikan bahwa dirinya bisa hidup mandiri tanpa bantuan keluarga. Dengan waktu satu tahun sebagai taruhan, ia membuka warung sarapan sederhana dan berusaha menjalani hidup biasa.
Namun, hidup tenangnya berakhir saat tanpa sengaja memecahkan kaca mobil Nathan Pradipta Anderson, seorang duda kaya dan berpengaruh yang memiliki tiga anak super nakal, Elang, Theo, dan Alya.
Dari satu kesalahan kecil, Arabelle justru terjebak dalam kehidupan keluarga Anderson yang penuh kekacauan, rahasia, dan konflik. Bisakah Arabelle bertahan menghadapi duda dingin dan tiga anak nakalnya, atau justru mereka akan mengubah hidupnya selamanya?
"Menikah denganku dan jadi ibu tiri dari ketiga anakku, maka hutangmu ku anggap lunas,"
Arabelle, hanya tersenyum menanggapi ucapan Nathan, tetapi Arabelle justru tak punya pilihan lain, semenjak hidup mandiri semua kartunya dan fasilitasnya telah dia serahkan pada keluarganya.
"Oke, deal! Setahun tidak lebih!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
05
Langit mulai berubah jingga. Satu per satu pelanggan meninggalkan warung. Arabelle sedang menurunkan tirai warung sambil menghitung hasil jualan hari itu.
"Lumayan..."
Meski banyak kejadian aneh, setidaknya dagangannya. Arabelle baru saja hendak mengunci warung ketika suara langkah kaki terdengar dari belakang.
Banyak langkah kaki, bukan satu atau dua orang melainkan enam sekaligus.
Arabelle menoleh, lalu menghela napas.
"Oh."
Di sana berdiri Ujang. Preman pasar yang tadi pagi dihajarnya. Namun, kali ini Ujang tidak datang sendirian. Ada lima pria bertubuh besar di belakangnya. Masing-masing memiliki wajah sangar.
Ujang menyeringai. "Nah."
Arabelle menyandarkan tubuh ke pintu warung.
"Datang lagi?"
"Kali ini kau tidak akan bisa macam-macam."
Arabelle mengamati satu per satu pria di hadapannya. Arabelle langsung memasang wajah tidak suka.
Ujang mengernyit. "Apa?"
"Kalian bau..."
Wajah para preman langsung berubah.
"Sialan!"
"Bukan salahku." Arabelle menutup hidung. "Kalian memang bau."
Salah satu preman hampir maju menyerang. Namun, Ujang menahannya. Pria itu masih ingat bagaimana dirinya dipermalukan terakhir kali.
"Kau pikir masih bisa melawan kami?"
Arabelle melihat jumlah mereka lagi. Lalu kembali menatap Ujang. Ia menghela napas panjang.
"Bukan takut..."
Ujang menyeringai. "Tahu diri akhirnya?"
Arabelle menggeleng. "Aku cuma jijik."
"Apa?"
"Masa datang enam orang buat lawan satu cewek."
Wajah Ujang langsung menghitam. "Itu namanya strategi."
"Itu namanya pengecut."
Salah satu anak buahnya langsung maju.
"Kurang ajar!"
Arabelle tetap santai.
"Tidak sekalian bawa satu RT?"
"Diam!"
"Atau panggil satu pasar?"
"Diam!"
"Atau satu kota?"
Ujang hampir meledak. Sementara Arabelle malah terlihat bosan. Melihat mereka datang beramai-ramai tidak membuatnya takut. Justru membuatnya geli.
"Cuma enam?"
Ujang mengepalkan tinjunya. "Kau masih bisa sombong?"
Arabelle tersenyum tipis. "Bukan sombong."
"Lalu?"
"Aku cuma heran..."
"Apa?"
"Kalian tidak belajar dari kekalahan sebelumnya."
Mata Ujang berkedut, itu tepat mengenai harga dirinya.
"Kali ini hantam dia!" Teriaknya.
Kelima anak buahnya langsung maju bersamaan. Arabelle tidak bergerak tetapi tetap berdiri santai. Tatapannya datar membuat para preman itu justru merasa tidak
Kelima preman itu mulai berjalan mendekat. Mengepung Arabelle dari berbagai arah. Ujang menyeringai puas.
"Kali ini lihat siapa yang tertawa terakhir."
Arabelle malah menguap kecil. Jujur saja, ia lebih kesal karena jam pulangnya tertunda. Daripada takut pada mereka.
"Ayo cepat."
Ujang mengernyit. "Cepat apa?"
"Aku capek."
"Kau masih bisa bercanda?"
Arabelle mengangkat bahu. "Terserah."
Tepat saat salah satu preman hendak melangkah lebih dekat, saat suara rem mobil terdengar dari pinggir jalan.
Semua orang menoleh. Sebuah mobil sport mewah berwarna merah cerah berhenti tidak jauh dari warung.
Arabelle memejamkan mata. Lalu memutar malas bola matanya.
"Ya ampun." Hari ini memang tidak ada habisnya.
"Siapa lagi sekarang?"
Pintu mobil terbuka.
Seorang pria tinggi keluar lebih dulu. Kemeja kampus yang lengan bajunya digulung hingga siku. Tatapan tajam yang langsung menyapu lokasi. Elang Pradipta Anderson.
Di belakangnya turun tiga pria lain yang sama-sama berpenampilan seperti mahasiswa. Mereka adalah sahabat Elang sejak awal kuliah. Raka, Bima dan Daren. Awalnya mereka hanya ingin mampir membeli minuman sebelum pulang.
Namun, begitu melihat sekelompok pria bertubuh besar mengepung seorang perempuan. Suasana hati mereka langsung berubah. Elang memasukkan satu tangan ke saku celana. Tatapannya berhenti pada Ujang dan anak buahnya.
Lalu pada Arabelle, kemudian kembali ke para preman.
"Kalian serius?" Nada suaranya datar.
Entah kenapa membuat Ujang merasa tidak nyaman. Salah satu preman maju.
"Ini bukan urusan kalian."
Elang mengangguk pelan.
"Oke."
Preman itu menyeringai.
Namun, detik berikutnya Elang kembali berkata,
"Tapi tetap saja memalukan."
Senyum preman itu langsung hilang.
"Kau bilang apa?"
Elang menunjuk mereka satu per satu.
"Enam pria dewasa." Lalu menunjuk Arabelle.
"Melawan satu perempuan."
Raka langsung tertawa kecil.
"Wah..."
Bima ikut menggeleng. "Aku malu melihatnya."
Daren bahkan menutup wajahnya. "Kalau aku jadi mereka, aku pindah kota."
Wajah Ujang berubah merah.
"Kalian cari masalah?"
Elang mendengus. "Nggak."
"Lalu?"
"Aku cuma heran." Elang menatap mereka dari atas sampai bawah.
"Segitu susahnya menang sampai harus keroyokan?"
Arabelle yang sejak tadi diam mulai tertarik menonton, lumayan ada hiburan gratis. Salah satu preman maju dengan marah tetapi Elang tetap santai. Sementara ketiga sahabatnya juga tidak terlihat takut sedikit pun. Aura mereka jelas berbeda dari mahasiswa biasa.
Raka adalah atlet bela diri di kampus. Bima mantan petinju amatir. Sedangkan, Daren memiliki tubuh paling besar di antara mereka. Dan Elang sendiri, meski jarang berkelahi, tidak ada yang pernah meragukan kemampuannya.
Ujang mulai ragu, belum lagi mobil yang mereka gunakan jelas bukan mobil murahan. Orang-orang seperti ini biasanya punya latar belakang yang tidak sederhana.
Di sisi lain Arabelle menyandarkan tubuhnya ke warung. Lalu melipat tangan.
"Aku boleh pulang sekarang?"
Semua orang langsung menoleh padanya.
"Apa?" Tanya Ujang.
Arabelle menunjuk Elang dan teman-temannya.
"Kalian mau berantem sama mereka kan?"
"Tidak!"Bentak Elang.
"Oh." Arabelle mengangguk. "Kalau begitu cepat selesaikan."
Elang memijat pelipis. Perempuan ini benar-benar menyebalkan. Padahal mereka baru saja membantunya. Namun, bukannya berterima kasih, dia malah terdengar seperti penonton yang menunggu pertunjukan dimulai.
Elang menatap Arabelle tajam. Sementara Arabelle balas menatap tanpa rasa bersalah.
Ujang dan anak buahnya terus mengawasi Elang serta ketiga sahabatnya. Sementara Elang sendiri terlihat santai. Seolah enam preman di depannya hanyalah gangguan kecil sebelum pulang.
Di sisi lain, Arabelle malah sibuk membereskan barang-barang di depan warung. Seakan keributan itu tidak ada hubungannya dengan dirinya. Bima memperhatikan gadis itu beberapa saat. Lalu mendekat ke samping Elang.
Dengan suara pelan ia berbisik,
"Lo yakin wanita kecil itu yang mau dinikahi ayah lo?"
Elang melirik Arabelle.
Gadis itu sedang memasukkan beberapa barang dagangan ke dalam keranjang. Tidak terlihat seperti calon istri ayahnya. Tidak terlihat seperti ibu tiri. Dan jelas tidak terlihat seperti wanita yang cocok tinggal di rumah keluarga Anderson.
"Tapi kata Paman Mohan sih iya."
Bima mengangkat alis. "Serius?"
Elang mengangguk. "Nggak mungkin salah kan?"
"Itu juga benar."
Elang memasukkan kedua tangan ke saku celana.
"Paman Mohan selalu kasih informasi lebih cepat kalau ada sesuatu."
Bima langsung mengerti.
Daren yang mendengar percakapan mereka ikut menoleh.
"Itu?"
"Iya."
Daren langsung menatap Arabelle lagi, lalu mengernyit.
"Yang suka marah-marah itu?"
"Iya."
"Yang hampir berantem sama preman?"
"Iya."
Daren terdiam, lalu bergumam,
"Selera ayah lo unik."
Elang mendengus. "Sangat."
Tepat saat itu, suara sirene polisi terdengar dari kejauhan. Semua orang refleks menoleh. Wajah Ujang langsung berubah.
"Sial!"
"Polisi!" teriak salah satu anak buahnya.
Dalam hitungan detik mereka langsung panik.
"Ayo kabur!"
"Lari!"
"Lari!"
Kelima preman itu berhamburan ke segala arah. Tidak sampai beberapa detik, mereka sudah menghilang dari lokasi. Arabelle yang melihatnya langsung mendecak.
"Pengecut!"
Elang hanya bisa menggeleng pelan. Baru kali ini ia melihat seseorang mengeluh karena preman kabur. Biasanya orang justru bersyukur. Wanita itu malah terlihat kecewa. Seolah masih ingin melanjutkan pertengkaran. Arabelle lalu mengambil kunci kendaraannya. Elang yang melihat itu tidak terlalu memperhatikan.
Sebuah sepeda listrik kecil menyala, Elang membulatkan mata. Bima berkedip dan Daren bahkan menatap dua kali. Arabelle dengan santai memakai helm. Lalu menaiki sepeda listrik mungil berwarna putih miliknya.
Sangat berbeda dengan bayangan mereka. Daren langsung berbisik,
"Itu kendaraan dia?"
"Iya kayaknya."
Elang menatap sepeda listrik itu. Lalu teringat semua dugaan yang sempat muncul di kepalanya. Perempuan yang mau menikahi ayahnya, calon ibu tiri mungkin wanita matre. Mungkin wanita yang mengincar kekayaan keluarga Anderson.
Sementara Arabelle sama sekali tidak peduli dengan keberadaan mereka. Ia bahkan tidak menoleh, tidak mengucapkan terima kasih.
Meninggalkan mereka begitu saja, Daren langsung kesal.
"Dasar udik."
Bima menahan tawa. "Nggak tahu terima kasih. Padahal kita tadi bantuin."
Elang menghela napas. Entah kenapa ia tidak terlalu terkejut. Perempuan itu memang terlihat seperti tipe orang yang hidup di dunianya sendiri.
"Sudahlah." Elang berbalik menuju mobil.
"Ngapain dipikirin. Kita pulang."
Ketiga sahabatnya mengangguk. Mereka pun masuk ke mobil.
Namun, saat kendaraan itu mulai bergerak meninggalkan lokasi, Elang tanpa sadar melirik ke arah jalan yang dilalui Arabelle. Semakin ia yakin bahwa Arabelle menyembunyikan sesuatu yang besar.
Dr bab pertama ngakak mulu bacanya 🤣🤣🤣