NovelToon NovelToon
TAK SELAMANYA IBU TIRI KEJAM

TAK SELAMANYA IBU TIRI KEJAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Duda / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:94.4k
Nilai: 5
Nama Author: My_Sunshine

Demi memenuhi wasiat terakhir sahabatnya, Kinanti menikah dengan Keenan, seorang duda yang memiliki tiga anak. Namun pernikahan itu tidak membawa kebahagiaan seperti yang dibayangkan. Yudha, Tiara, dan Daffa menolak kehadirannya dan melakukan berbagai cara agar Kinanti pergi dari rumah mereka.

Bagi ketiga anak itu, tidak ada yang bisa menggantikan sosok ibu mereka yang telah tiada. Setiap kebaikan Kinanti dibalas dengan penolakan dan sikap menyakitkan. Meski begitu, ia memilih bertahan, menghadapi semuanya dengan kesabaran dan kasih sayang.

Mampukah ketulusan seorang ibu tiri meluluhkan hati yang penuh luka? Sebuah kisah mengharukan tentang kehilangan, pengorbanan, dan cinta yang membuktikan bahwa tak selamanya ibu tiri itu kejam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My_Sunshine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kesepian yang menyiksa

Semalaman Keenan tak mampu memejamkan mata. Pikirannya terus dipenuhi bayangan Kinanti dan Daffa yang pergi meninggalkan rumah, juga perlakuan Yudha dan Tiara yang telah melampaui batas.

Setiap kali memejamkan mata, yang terlintas justru wajah Kinanti saat menahan air mata dan memilih pergi demi menghindari pertengkaran yang semakin besar.

Ketikan adzan Subuh berkumandang, Keenan akhirnya bangkit dari tempat tidur. Ia mengambil wudhu lalu menunaikan shalat dengan khusyuk. Dalam sujudnya yang panjang, ia memohon kepada Allah agar membuka hati dan pikiran kedua anak remajanya.

Ia berdo'a agar Yudha dan Tiara menyadari kesalahan mereka, mengakui kekeliruannya, lalu meminta maaf kepada Kinanti sebelum semuanya terlambat.

Keenan duduk lama di atas sajadah. Entah mengapa, rumah yang selama ini terasa hangat kini terasa begitu dingin dan sepi.

Setelah matahari mulai menampakkan sinarnya, Keenan melangkah menuju teras rumah untuk menghirup udara pagi. Biasanya, secangkir teh hangat sudah tersedia di atas meja. Kinanti selalu bangun lebih awal untuk menyiapkannya. Bahkan sering kali perempuan itu menyambutnya dengan senyum lembut yang mampu mengusir lelah sebelum hari dimulai.

Namun pagi itu tak ada aroma teh yang mengepul. Tak ada suara langkah kaki dari dapur. Tak ada sapaan lembut yang biasa menyambutnya. Yang ada hanyalah kesunyian.

Keenan menghembuskan napas panjang. Baru sekarang ia benar-benar menyadari betapa besar peran Kinanti dalam rumah itu.

Hari itu adalah hari Sabtu. Ia sedang libur bekerja. Begitu pula Yudha dan Tiara yang tidak masuk sekolah. Namun hingga matahari semakin tinggi, kedua anaknya masih belum keluar dari kamar masing-masing.

Sejak almarhumah Ratih masih hidup, Yudha dan Tiara memang selalu dibangunkan untuk sholat Subuh. Ratih tak pernah bosan mengetuk pintu kamar mereka setiap pagi.

Kini ibu mereka telah tiada. Sayangnya, sampai hari ini mereka masih belum menyadari bahwa ibadah bukan lagi sesuatu yang harus diingatkan terus-menerus oleh orang tua. Mereka sudah cukup besar untuk bertanggung jawab atas kewajiban mereka sendiri.

Perasaan kecewa kembali menyelimuti hati Keenan. Ia mulai bertanya-tanya, di mana letak kesalahannya sebagai seorang ayah hingga kedua anaknya tumbuh dengan kebencian sebesar itu.

“Selamat pagi, Pak Keenan,” sapa Bu Arum dari halaman rumah sebelah. Perempuan paruh baya itu baru saja selesai mencuci pakaian dan tengah bersiap menjemurnya.

“Selamat pagi, Bu Arum,” balas Keenan. Ia berusaha menampilkan senyum tipis di wajahnya. Namun, senyum itu terasa begitu berat. Hatinya masih dipenuhi kegelisahan sejak kejadian semalam.

Bu Arum memperhatikan sekeliling teras, lalu mengernyit heran.

“Loh, mana tehnya? Biasanya setiap pagi Bapak duduk di teras sambil minum teh hangat buatan Bu Kinanti.”

Keenan sempat terdiam sepersekian detik sebelum akhirnya menjawab,

“Ehm... kebetulan tehnya lagi habis, Bu.”

“Oh, begitu.”

Bu Arum mengangguk dan tidak melanjutkan pertanyaannya. Ia kembali sibuk dengan jemuran di tangannya.

Sementara itu, Keenan justru merasa dadanya semakin sesak. Baru saja pagi dimulai, tetapi ia sudah berbohong. Padahal selama hidupnya, ia selalu berusaha menghindari kebohongan sekecil apa pun. Namun kali ini, ia tidak punya pilihan lain. Ia belum siap menceritakan apa yang terjadi semalam. Belum siap menjelaskan bahwa Kinanti telah pergi meninggalkan rumah itu. Belum siap menghadapi berbagai pertanyaan yang pasti akan muncul jika para tetangga mengetahui kenyataannya.

“Yah, minta uang dong. Buat beli sarapan,” ucap Tiara yang baru muncul di teras. Wajah gadis itu masih kusut karena baru bangun tidur. Rambutnya pun berantakan dan belum sempat dirapikan.

“Nggak usah beli. Masak saja dari bahan yang ada di rumah,” jawab Keenan datar.

Tiara langsung mendecak kesal.

“Ayah gimana sih? Sudah tahu aku nggak bisa masak, malah disuruh masak!”

“Kamu ini perempuan. Masa cuma menggoreng telur atau sosis saja nggak bisa?”

“Aku maunya beli lontong sayur. Mana uangnya?”

Belum sempat Keenan menjawab, sebuah sepeda motor berhenti di depan rumah. Seorang pria berjaket ojek online turun sambil membawa kantong plastik.

Keenan mengernyit. Ia tidak merasa memesan apa pun.

“Permisi. Benar ini rumah Bapak Keenan?” tanya pria tersebut.

“Benar. Saya Keenan.”

“Ada kiriman untuk Bapak dari Ibu Kinanti.”

Pria itu lalu menyerahkan sebuah kantong plastik yang tampak berisi rantang makanan.

“Terima kasih.”

Pengemudi ojek online itu segera berpamitan dan kembali melanjutkan pekerjaannya.

Keenan memandangi kantong plastik di tangannya beberapa saat. Di dalam kantong itu terdapat rantang tiga susun yang masih hangat. Ucapan Kinanti semalam kembali terngiang di telinganya.

"Meskipun kita tinggal terpisah, setiap hari aku akan memasak untuk Mas."

Dan perempuan itu benar-benar menepati janjinya. Bahkan di tengah luka hatinya, ia masih memikirkan sarapan untuk mereka.

“Mana uangnya, Yah? Aku lapar nih,” rengek Tiara, memecahkan lamunan Keenan.

“Kinanti sudah memasak. Makanan ini pasti cukup untuk kita bertiga. Ayo masuk, kita sarapan bersama.”

“Nggak! Aku nggak mau makan masakan perempuan itu! Aku maunya lontong sayur!” tegas Tiara.

Keenan menatap putrinya lama.

“Ayah nggak akan memberimu uang. Kalau kamu memilih nggak makan dan kelaparan, itu urusanmu.”

Nada suara Keenan terdengar datar, tetapi sesungguhnya dadanya terasa nyeri saat mengucapkannya. Selama ini ia terlalu sering mengalah dan memanjakan Tiara. Mungkin sudah waktunya ia bersikap tegas.

“Ayah pelit!” Tiara menghentakkan kaki dengan kesal.

Namun Keenan tidak menanggapi.

Ia membawa kantong plastik berisi masakan Kinanti masuk ke dalam rumah.

Tak lama kemudian, Yudha keluar dari kamarnya sambil menguap dan melakukan peregangan ringan. Remaja itu mengernyit melihat wajah adiknya yang sudah cemberut sepagi ini.

“Kamu kenapa? Masih pagi, tapi muka sudah masam begitu.”

“Gimana aku nggak kesel? Aku minta uang ke Ayah buat beli sarapan, tapi Ayah malah nyuruh aku makan masakan perempuan itu.”

“Maksud kamu?”

“Dia ngirim makanan ke sini pakai ojek online.”

Yudha terdiam sesaat. Entah mengapa, pikirannya langsung teringat pada udang goreng tepung buatan Kinanti beberapa waktu lalu. Ia masih ingat betul rasanya yang gurih dan renyah. Namun secepat kilat ia mengusir pikiran itu.

“Ah! Cuma tepung goreng begitu. Lihat tutorial di Yo*Tube juga bisa!” gumamnya dalam hati.

“Mas...” Tiara kembali bersuara.

“Hm?”

“Mas masih pegang uang ‘kan? Beliin sarapan dong.”

“Memangnya kamu mau makan apa?”

“Lontong sayur.”

Yudha mendengus.

“Itu mahal. Beli nasi uduk saja.”

“Masa nasi uduk?” protes Tiara.

“Ya sudah. Kalau nggak mau, biar aku beli buat aku sendiri.”

Yudha berbalik hendak pergi. Melihat kakaknya benar-benar serius, Tiara buru-buru menahannya.

“Ya sudah deh! Daripada kelaparan.”

Yudha mengeluarkan selembar uang dua puluh ribu rupiah dari saku celananya lalu menyodorkannya kepada sang adik.

“Sana, kamu yang beli.”

Tiara segera mengambil uang itu. Meski masih kesal, setidaknya pagi itu ia tidak perlu menahan lapar.

Sementara itu, Keenan duduk seorang diri di meja makan. Di hadapannya tergeletak tiga rantang berisi makanan yang baru saja dikirim Kinanti. Nasi yang masih mengepulkan asap, tumis tempe cabai hijau dan telur dadar.

Tangannya perlahan meraih sendok, tetapi tak kunjung menyuap makanan ke mulut. Tiba-tiba matanya terasa panas. Ia berusaha menahannya. Namun, air mata tetap saja lolos.

Keenan memejamkan mata. Untuk pertama kalinya sejak kepergian Ratih, ia menangis lagi. Ia merasa begitu takut kehilangan seseorang yang baru saja mengisi kembali ruang kosong di hatinya.

“Kinan...aku tak yakin bisa melanjutkan hidup tanpa kamu di sisiku.”

1
Rosmazita Imah
ayu selfish.
Arin
Semoga keputusan yang di ambil Ibu Salma, Kinanti dan Kenaan benar. Dengan mengikatkan dulu Mahesa dan Kalila dalam pertunangan. Biar mereka melakukan penjajakan perasaan, apakah akan di lanjutkan ke jenjang pernikahan atau tidak berjodoh.
Dan untuk Ayu lebih baik Mahesa kasih pemahaman kepadanya. Jangan buat Ayu terus berharap kepada nya....
sri hastuti: mahesa hrs tegas ,jngn lemah, jd laki2 hrs tegas ,ada batasan. terangkan , jngn dibiarkan ayu semaunya sendiri, dasar egois .
betul bu salma,disegerakan saja antara mahesa dngn kalila , gak sabar thor , 😡😡😡
total 1 replies
sri hastuti
alaaahhh drama, awas ya thor kl smp mahesa sm Kalila batal, biar dirasakan ayu, aku gak simpati sama sekali, dasar arogan dan egois, kyk ibunya, biar dirasakan, suka kok dipaksakan, 😡😡😡
sri hastuti
bagus thor akhirnya mahesa sm kalila ,aku kasih 👍 buat bu salma yg tegas , jd hrs ada batasan , 👍👍👍
pokoknya mahesa cm cocok sm kalila ,gak ada yg lain 👍👍👍
Arin
Lebih baik sakit pas baru memulai. Daripada sakit terjadi ketika sudah menjalin hubungan tapi di sakiti
My_Sunshine: betul-betul-betul😅
total 1 replies
sri hastuti
ayo thor, segera mahesa sm kalila , biar ayu sadar, dan ternyata sifat ayu jelek spt ibunya , tambah gak cocok sm mahesa 😡😡
Arin
Segerakan perjodohan dengan Kalila dan Mahesa. Biar Ayu segera sadar, kalau memang dari awal Mahesa bukan hanya menghindarimu dan tidak pernah memberi harapan dengan membalas pesan-pesanmu.
Rosmazita Imah
bagus. mahesa tetap jaga jarak. jangan di layan si ayu tu. sama je perangai dgn mak dia
sri hastuti
semoga segera terlaksana ,antara mahesa sm kalila thor, biar mereka berdua bahagia, singkirkan ayu , yg sombong itu 🙏😡😡
sri hastuti
lha gitu mahesa km hrs tegas ,gak usah ragu2, tolak aja ayu, perempuan kok gak punya harga diri , sombong ,gak cocok kl sm mahesa😡😡😡
Rosmazita Imah
ayu eh. kalau org x respone tu. maksudnya, org x berminat la ke awak. malu eh.
sri hastuti
alaaahh emang km sombong bu, sdh aku jugabgak suka kl ayu sm mahesa thor, lbh baik sm kalila aja thor,
dasar ayu juga gakbtau diri sdh gak di respon kok msh kejar2 mahesa 😡😡
sri hastuti
tolak aja ayu, mahesa,jangan mau ,km lebih baik sm kalila aja, buat sm ayu km akan diremehkan nanti ,
ayo thir ,jangan mahesa sm ayu lho ya 😡😡
Rosmazita Imah
terus terang je la mahesa. balik nanti saya akan menikah dgn kalila. biar ayu sedar diri. yg dia x ada makna pun.
Rosmazita Imah
jgn bermimpi la bu elina. mahesa pun x pandang dgn si ayu anak awak.
Arin
/Heart/
sri hastuti
bagus ozi, sdh relakan yg penting km sdh jadi baik, tata kembali masa don mu , 👍
thor ingat lho ,mahesa jangan sm ayu ,gak pas 🙏😡
Rosmazita Imah
bagus la. x nak. mahesa pun x tertarik pun pada anak awak bu elina oi. anak awak yg terhegeh2
ika
bagussss....
emang Mahesa bukan jodoh ayu
Mahesa mau nya ma Khalila
Arin
Bagus Bu Elina jangan sampai merestui hubungan Ayu. Biar Mahesa berjodoh dengan Kalila saja
sri hastuti: sdh betul itu jangan setuju ayu sm mahesa ,aku juga gak setuju,buar mahesa sm kalila aja thor, orng sombong gitu biar dpt karmanya 😡😡
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!