NovelToon NovelToon
Dahaga Sang Tuan

Dahaga Sang Tuan

Status: tamat
Genre:Beda Usia / Cerai / CEO / Duda / Pengasuh / Ibu susu / Tamat
Popularitas:13.7M
Nilai: 4.9
Nama Author: your grace

Demi melunasi hutang keluarga, Amara (19) nekat merantau ke Jakarta dengan rahasia tubuh yang tak lazim: ia mampu menghasilkan ASI meski masih perawan. Keajaiban itu membawanya menjadi pengasuh bayi milik Arlan, pengusaha dingin yang dikhianati istrinya.

Saat bayi Arlan menolak segala jenis susu formula, hanya "anugerah" dari tubuh Amara yang mampu menenangkannya. Namun, rahasia itu terbongkar. Bukannya marah, Arlan justru terobsesi. Di balik pintu kamar yang tertutup, Arlan menyadari bahwa bukan hanya putranya yang haus akan kehangatan Amara—ia pun menginginkan "jatah" yang sama.

Antara pengabdian dan gairah terlarang, Amara terjebak dalam jerat cinta sang tuan yang posesif. Apakah ini jalan keluar bagi kemiskinannya, atau justru awal dari perbudakan nafsu yang manis?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon your grace, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14

Sentuhan pertama itu seketika membuat Amara terenyak, seolah ada aliran getaran halus yang menyengat seluruh tubuhnya. Kehangatan kulit Arlan dan debaran jantung pria itu yang terasa begitu dekat di bawah jemarinya membuat napas Amara semakin pendek. Ia sempat ingin menarik tangannya karena merasa sungkan, namun Arlan menahan pergelangan tangannya dengan lembut namun kokoh, menuntun gerakan jemari Amara untuk memberikan ketenangan yang dibutuhkannya.

"Tetap di sini, Amara," bisik Arlan dengan suara serak, sementara perhatiannya sepenuhnya terikat pada kehangatan tubuh Amara yang perlahan mengurai ketegangannya. "Tenang saja... perlahan dan ikuti petunjukku."

Amara memejamkan mata rapat-rapat, merasa wajahnya memanas karena kedekatan yang begitu intim ini. "Tuan... saya tidak tahu harus bagaimana... ini terlalu mengejutkan bagi saya," rintihnya pelan.

Arlan menjeda gerakannya sejenak, menatap Amara dengan tatapan yang sarat akan intensitas emosi dan desakan rasa yang tertahan. "Kau bisa melakukannya. Dengar, Amara... bukankah ini adil? Aku sudah membantumu meredakan rasa sesak di dadamu, sekarang giliranmu membantuku meredakan ketegangan yang menyiksa ini. Gerakkan tanganmu... perlahan saja."

Dengan bimbingan tangan Arlan, Amara mulai menggerakkan jemarinya, merasakan kehangatan dan kekuatan fisik pria di hadapannya. Sentuhan yang begitu asing itu perlahan membangkitkan sebuah desiran aneh yang belum pernah ia rasakan sebelumnya di dalam lubuk hatinya.

"Ahhh... begitu, Amara... terus..." Arlan menghela napas rendah, menyandarkan kepalanya saat merasakan sentuhan lembut namun pasti dari tangan Amara yang mulai memberikan kelegaan.

Melihat reaksi Arlan yang tampak sangat terbantu oleh perlakuannya, rasa takut Amara perlahan terkikis oleh rasa penasaran yang polos. Ia memperhatikan bagaimana setiap gerakannya mampu membuat pria berwibawa di hadapannya ini memejamkan mata dan menghela napas lega.

"Apa... apa rasa sesak yang Tuan rasakan sama beratnya seperti dadaku kalau tidak dikeluarkan, Tuan?" tanya Amara polos, matanya menatap ragu pada interaksi mereka.

Arlan terkekeh serak di tengah napasnya yang memburu. "Iya, Amara... rasanya sangat menyesakkan dan penuh. Hanya kau yang bisa meredakannya saat ini."

Arlan kembali menyembunyikan wajahnya di ceruk leher dan bahu Amara, menikmati kedekatan mereka yang semakin intens seiring dengan gerakan tangan Amara yang mulai menemukan iramanya. Keheningan kamar bayi itu kini dipenuhi oleh riuh napas mereka yang saling berkejaran.

Ketika ketegangan itu mencapai puncaknya, Arlan mengerang rendah, membenamkan wajahnya pada kehangatan tubuh Amara saat seluruh beban dan stres yang menghimpitnya luruh seketika. Tubuh kokoh itu menegang sesaat sebelum akhirnya rileks dan bersandar sepenuhnya pada bahu Amara.

Keheningan kembali menyelimuti kamar bayi. Amara terengah-engah, menatap sisa-sisa kedekatan yang tertinggal di tangannya, bercampur dengan noda ASI yang sempat menetes di pakaian mereka.

Arlan mengangkat kepalanya, lalu mengecup dahi Amara dengan lembut—sebuah tindakan yang terasa jauh lebih dalam dan intim dari sekadar pelampiasan rasa. "Terima kasih, Amara. Untuk hari ini, cukup. Sekarang, bersihkan dirimu... dan bersiaplah, karena aku akan membutuhkan bantuanmu lagi di lain waktu."

***

Setelah Arlan melepaskan dekapannya dan membiarkannya pergi, Amara hampir tersandung saat melangkah cepat menuju kamarnya sendiri. Ia segera mengunci pintu kayu itu dan bersandar di baliknya, dengan jantung yang masih berdegup sekencang genderang perang. Seluruh tubuhnya terasa hangat, seolah-olah suhu di dalam kamar itu mendadak naik drastis.

Dengan langkah gontai, ia masuk ke dalam kamar mandi. Di depan cermin besar yang mengkilap, Amara terpaku menatap pantulan dirinya sendiri. Rambutnya tampak sedikit berantakan, dan seragamnya yang kusut meninggalkan jejak-jejak kedekatan intens yang baru saja terjadi.

"Apa yang baru saja kulakukan?" bisiknya pada diri sendiri dengan napas yang masih belum sepenuhnya teratur.

Namun, di balik rasa bersalah dan bingung yang berkecamuk, ada sensasi aneh yang tidak bisa ia nafikan. Perut bagian bawahnya terasa seperti diaduk oleh kehangatan yang mendesir, meninggalkan sebuah debaran asing yang membuatnya gelisah. Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, Amara memeriksa dirinya.

Matanya membelalak saat menyadari adanya reaksi alami dari tubuhnya sendiri yang terasa begitu lembap dan sensitif. Ia merasakan kebasahan yang tidak biasa di area intimnya, seolah tubuhnya merespons getaran yang baru saja terjadi secara otomatis.

"Astaga..." Amara terpekik pelan, merasa sangat bingung dengan perubahan biologis yang dialaminya. "Ada apa dengan tubuhku? Kenapa rasanya seperti ini? Apa aku sedang tidak sehat karena kejadian bersama Tuan tadi?"

Dalam kepolosannya, ia sama sekali tidak memahami bahwa itu adalah tanda bahwa tubuhnya baru saja ikut terbangkitkan oleh gairah yang belum pernah ia kenal sebelumnya. Ketidaktahuannya membuat Amara mengira ada sesuatu yang salah dengan kesehatannya, padahal itu adalah respons tubuh yang sepenuhnya alami atas kedekatan fisik mereka.

***

Sementara itu, di kamar bayi, suasana telah berubah menjadi sangat tenang dan hangat. Arlan Aditama kini tampak seperti orang yang sepenuhnya berbeda. Tidak ada lagi gurat kemarahan, lelah, atau wajah kaku yang ia bawa dari urusan pekerjaannya siang tadi. Ia berdiri di depan boks bayi sambil merapikan pakaiannya kembali dengan gerakan yang santai dan ringan.

Ia menatap Kenzo, yang ternyata sejak tadi terbangun dan memperhatikan papanya sambil asyik menyesap ibu jari-jarinya sendiri. Bayi mungil itu mengeluarkan suara gumaman kecil dan menendang-nendang kakinya ke udara, seolah bisa merasakan bahwa suasana hati papanya kini sedang sangat baik.

"Kenapa, Jagoan? Kau senang melihat Papa sudah tenang?" Arlan terkekeh rendah, sebuah tawa tulus yang sudah sangat jarang terdengar dari bibirnya.

Arlan membungkuk, mengangkat Kenzo ke dalam dekapannya yang hangat dan mencium pipi gembul bayinya dengan penuh kasih sayang. Setelah kepergian istrinya yang sempat meninggalkan luka dalam dan kehampaan di rumah ini, baru kali ini Arlan merasa hidupnya kembali memiliki gairah dan warna. Dan ia menyadari sepenuhnya, warna baru itu dibawa oleh pengasuh muda dari desa yang mungkin saat ini sedang kebingungan di kamarnya.

"Pengasuhmu itu... dia benar-benar membawa pengaruh besar, Kenzo," gumam Arlan pelan sambil menimang bayinya dengan penuh rasa sayang. "Dia bukan hanya bisa merawat dan memberimu makan dengan baik, tapi dia juga bisa mengembalikan ketenangan Papa yang hilang."

Arlan berjalan mendekati jendela besar, menatap ke arah taman luar yang mulai temaram oleh senja dengan senyuman yang penuh arti. Rasa penatnya hari ini memang sudah reda, namun ia tahu pasti bahwa esok hari ia akan menginginkan kehadiran dan sentuhan menenangkan itu lagi. Dan ia akan memastikan bahwa Amara akan tetap berada di sisinya, mengisi hari-harinya di rumah tersebut.

1
Rita Juwita
luar biasa thor...
Visitor6374
Cerita yang menarik 👍
Nur Aulia
dinikahin dong tuan,,jgn di jadiin pemuas nafsu saha,, kasian Amara yg msh polos
Mala Sari
yeeyy selesaii, congrot ya gaes, happy ever after. suka banget ceritanya, next time i'll visiting ur incredible another story again yaa, see ya thor, gudluc as always
Mala Sari
bagus, dah itu aja
mulia modeong
👍👍
Yayan Maryana
bagus kenz
papahmu memang harus diganggu 😁😁😁😁
Erni Susanti
padahal gampang, tinggal cek asinya, setiap asi itu kan bagus, kalopun menurutnya gak bagus, ya di treat yg bener dong org yg menyusui anakny, dikasih makanan bergizi dll. gimana sih Arlan, kamu pimpinan perusahaan, hal sepele gitu aja gak bisa mikir. kasian loh Amara, udah syukur anak mu susuin. kalau aku jadi Amara, aku tinggal aja. ngeselin si Arlan ihhhh
Esterina Djawa
Ceritanya sungguh menarik....💖
Mala Sari
wow... adorable eps
Siti Sopiah
dr prolog yg ku baca takda typo nya semoga lancar sampai tamat.
Mala Sari
merinding baca bagian eps ini, eh ikut nyumbang tetes air mata ni aku😄,seneng bacanya
Mala Sari
wowww..., amazing arlan, go go arlan💪
Mala Sari
well done arlan.., at last
Mala Sari
cerita dewasa yg amat "dewasa", menurutku bagus. teruslah berkarya thor, gudjob
Maharani Rani
😭😭lanjuttt
Mala Sari
menikmati aja ceritanya😌,thnkz author for the story, moga makin sukses..
Mala Sari
authornya hebat, gudjob thor, its just a fiksi, nikmati aja alurnya.., healing after hard work ya gaes.., mangatt thorr💪😄
BLINK
woahhh
BLINK
😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!