Hidup Dara runtuh dalam satu hari.
Pekerjaannya hilang tanpa peringatan. Perusahaan tempatnya kerja kini terancam bangkrut dan harus mem-PHK semua karyawannya termasuk Dara. Kini Dara merasa hidupnya runtuh, karena disaat yang sama Ibunya sedang di rawat di rumah sakit dan butuh biaya yang sangat besar. Di titik terendahnya, Dara hanya punya dua pilihan: bertahan atau menyerah.
Kini Takdir membawanya ke sebuah perusahaan besar, di sana ia menjadi sekretaris pribadi seorang CEO dingin, perfeksionis, dan penuh rahasia.
Pria itu setelah di khianati mantan istrinya tidak lagi percaya pada cinta. Namun sejak kehadiran Dara, sekretaris baru yang berani, tulus, dan penuh tekad, kini hatinya mulai goyah.
Bagaimana kelanjutan kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21 : Aldi vs Alexander
Dara masih menatap Aldi dengan bingung ketika pria itu menyodorkan kotak kecil berwarna hitam tersebut. "Ini untuk apa?" tanyanya heran.
Aldi tersenyum santai. "Buat kamu."
Dara langsung menggeleng cepat. "Pak Aldi, saya nggak bisa menerima..."
"Eh." Aldi langsung mengangkat tangan. "Kamu lupa ya?"
Dara berkedip.
"Kalau kita lagi nggak di kantor. Panggil aja Aldi."
Dara tampak semakin tidak nyaman.
Aldi tertawa kecil. "Lagian santai aja. Ini bukan hadiah dari aku."
Dara mengernyit.
"Ini hadiah dari klien."
"Hah?"
Aldi membuka kotak itu sedikit. Sebuah gelang wanita berwarna silver berkilau terkena cahaya matahari sore.
"Klien dari proyek kemarin ngasih ini ke aku."
"Terus?"
"Nah masalahnya aku nggak punya wanita spesial. Jadi ya udah." Aldi mengangkat bahu santai. "Daripada nganggur di laci, mending aku kasih ke kamu."
"Tapi tetap nggak bisa."
"Bisa."
"Nggak bisa."
"Bisa."
Dara hampir tertawa karena cara bicara Aldi yang seperti anak kecil. "Aku serius."
"Aku juga serius."
Dara menatap gelang itu beberapa detik. Jujur saja, gelang tersebut terlihat mahal.nDan justru itu yang membuatnya semakin tidak nyaman untuk menerima.
"Aku benar-benar nggak bisa."
"Sekali ini aja."
"Tetap nggak bisa."
Aldi menghela napas panjang seolah menyerah. Namun tepat saat itu, ebuah bayangan berhenti di samping mereka. Suasana langsung berubah. Dara bahkan tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang datang... Alexander. Pria itu berdiri di samping mereka dengan ekspresi datar.
Dan justru itu yang membuat suasana terasa lebih menegangkan. Tatapannya pertama kali jatuh pada kotak kecil di tangan Aldi. Lalu pada gelang yang masih berada di dalamnya.
Kemudian berpindah kepada Dara. Baru setelah itu ia menatap Aldi. "Sedang apa kau di sini?" Nada suaranya tenang.
Namun Aldi mengenalnya cukup lama untuk mengetahui bahwa Alexander sedang tidak dalam suasana hati yang baik.
Aldi hanya tersenyum santai. "Ikut liburan dong, Bos."
Alexander tidak menjawab.
Aldi melanjutkan. "Klien dari Naga Buana sudah deal sama perusahaan kita."
"Hm."
"Jadi sekarang gue lagi free." Tatapan Aldi bergeser ke Dara. "Makanya gue ke sini."
Deg.
Entah kenapa rahang Alexander langsung mengeras. Pak Ganjar yang berdiri tidak jauh dari sana langsung memalingkan wajah. Astaga, bahaya.
Namun Aldi seolah tidak menyadarinya. Atau mungkin pura-pura tidak menyadarinya. "Gue cuma mau ngajak Dara ngobrol aja ko, Bos."
Tatapan Alexander kembali jatuh pada gelang itu. "Itu apa?"
Aldi melirik kotak di tangannya. "Oh ini?"
"Hm."
"Hadiah dari klien."
Alexander tetap diam.
"Mau gue kasih ke Dara."
Deg.
Jari Dara refleks menegang. Sedangkan Alexander menatap gelang itu beberapa detik. Lalu menatap Aldi, atapan yang membuat senyum Aldi perlahan memudar.Karena Aldi merasakan sesuatu yang aneh.
Alexander terlihat tidak senang. Padahal biasanya pria itu tidak pernah peduli urusan seperti ini. Bahkan tidak pernah tertarik pada kehidupan pribadi bawahannya. Namun sekarang berbeda.
"Sepertinya..." suara Alexander akhirnya terdengar dingin.
Dara dan Aldi sama-sama menoleh.
"Dara tidak bisa menerima hadiah pribadi dari rekan bisnis perusahaan."
Keheningan langsung jatuh. Dara membelalak.
Aldi mengangkat alis. "Sejak kapan ada aturan seperti itu?"
Alexander menatapnya tanpa berkedip. "Sejak sekarang."
Deg.
Pak Ganjar langsung menutup mata sesaat, selesai sudah.
Sedangkan Aldi justru tertawa kecil. "Ko gue baru tau ya, Bos."
Tatapannya berpindah dari Alexander kepada Dara. Lalu kembali lagi kepada Alexander. Lalu Aldi tersenyum tipis perlahan muncul di sudut bibirnya.
"Jadi gitu..." gumamnya pelan.
Senyum itu membuat tatapan Alexander semakin dingin. Karena Aldi terlihat seperti baru saja menemukan jawaban atas sesuatu yang selama ini ia pertanyakan. Dan entah kenapa... firasat Dara mendadak menjadi sangat buruk.
Aldi masih tersenyum tipis. Sedangkan Alexander menatapnya tanpa ekspresi. Suasana di antara kedua pria itu mendadak terasa aneh. Dara yang berdiri di tengah-tengah mereka bahkan mulai merasa tidak nyaman.
"Kayanya..." Aldi akhirnya menutup kotak gelang itu perlahan. "Gue mulai paham deh."
Alexander tidak menjawab. Namun Aldi justru semakin yakin. Karena selama bertahun-tahun mereka bersama, ia belum pernah melihat Alexander ikut campur urusan pribadi karyawannya seperti ini, bahkan tidak pernah.
Dan itu membuat senyumnya semakin lebar. "Oh tidak..."
Pak Ganjar yang melihat dari kejauhan langsung memijat pelipisnya. Pria itu sedang mencari masalah.bDan Aldi memang terkenal tidak takut mencari masalah.
"Boleh tanya sesuatu, Bos?" ujar Aldi santai.
"Hm."
"Ini aturan perusahaan..." Aldi sengaja berhenti. "Atau aturan pribadi?"
Deg.
Dara langsung membelalak. Sedangkan beberapa staf yang tidak sengaja mendengar percakapan itu mulai saling melirik.
Alexander tetap tenang. "Menurutmu?"
Aldi tertawa kecil. "Nah itu dia." Senyumnya semakin lebar.
Dara sudah ingin menghilang dari tempat itu.
Sementara Alexander mulai kehilangan kesabarannya. "Aldi."
"Ya?"
"Bukannya kau kesini ingin liburan."
"Iya."
"Kalau begitu nikmati liburanmu."
Aldi mengangguk. "Benar juga."
Namun bukannya pergi, pria itu justru menoleh ke arah Dara. "Dara."
"Eh?"
"Nanti jalan-jalan sama aku ya."
Deg.
Dara langsung membeku. "Hah?"
"Kan kita lagi liburan."
"Tapi..."
"Aku belum pernah ke pantai ini."
Dara semakin panik, tatapannya tanpa sadar melirik Alexander. Kesalahan besar, karena tepat saat itu ia melihat rahang pria tersebut mengeras.
Aldi yang menangkap reaksi kecil itu langsung menahan tawa, sangat menarik. Namun sebelum Dara sempat menjawab, sebuah suara kembali terdengar.
"Dara." Kali ini Alexander yang berbicara.
"Iya, Tuan?"
"Saya butuh laporan final kerja dengan Naga Buana malam ini."
Dara langsung berkedip. "Malam ini?"
"Hm."
"Tapi bukannya..."
"Jam delapan." Nada suaranya datar. "Tolong siapkan."
Dara hanya bisa mengangguk. "Baik, Tuan."
Aldi menatap Alexander beberapa detik. Lalu tertawa pelan. "Bos."
"Hm."
"Alasan yang buruk."
Keheningan langsung jatuh. Pak Ganjar hampir tersedak kelapa mudanya. Dara membeku, sedangkan Alexander perlahan menoleh ke arah Aldi. Tatapan mereka bertemu, untuk beberapa detik tidak ada yang berbicara.
Lalu Aldi memasukkan kedua tangannya ke saku celana. "Tapi nggak apa-apa. It's oke." Senyumnya tetap santai. "Kita lihat aja nanti."
Setelah mengatakan itu, Aldi berbalik dan berjalan menuju area staf yang sedang bermain voli pantai.
Namun sebelum pergi, ia sempat melirik Dara sekali lagi. "Dara."
"Iya?"
"Kalau Bos kamu nggak kasih izin." Senyumnya melebar. "Aku tetap akan ngajak kamu jalan."
"Pak Aldi..."
"Aldi."
Lalu pria itu tertawa dan pergi begitu saja. Meninggalkan Dara yang semakin bingung. Dan Alexander yang kini berdiri dengan ekspresi jauh lebih dingin dari sebelumnya.
Sementara di kejauhan, matahari perlahan mulai tenggelam di balik lautan. Namun bagi Dara, firasat buruknya justru semakin kuat.
Karena untuk pertama kalinya sejak bergabung dengan Dirgantara Group, ia melihat dua pria yang sama-sama keras kepala mulai saling berhadapan. Dan ia merasa dirinya berada tepat di tengah-tengah masalah itu.