NovelToon NovelToon
CINTA HABIS DI MANTAN

CINTA HABIS DI MANTAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Balas Dendam / Diam-Diam Cinta
Popularitas:285
Nilai: 5
Nama Author: AssaZahara

Catalea Yoora merupakan salah satu dari pewaris perusahaan Rotasi Company. Perusahaan yang bergerak di bidang makanan, bakery, dan kuliner yang sudah membuka cabang lebih dari lima provinsi. Beberapa menit menjelang akad nikahnya Alea menghilang. Gosip yang beredar Alea pergi karena ia tidak mencintai calon suaminya karena perjodohan keluarga. Kecurigaan itu beralasan, karena tamu yang dimaksud ternyata mantan Alea, Zahran Adrian Adiguna. Mantan kekasih yang pernah menjalin hubungan dengan Alea. Namun hubungan itu berakhir karena hubungan keluarga. Akhir-akhir ini hubungan kedua keluarga itu membaik. Tapi kejadian hilang nya Alea berkaitan Erat dengan Zahran. Beberapa orang menduga Alea di culik oleh Zahran karena dendam. Namun sebagian orang merasa alasan hilangnya Alea sangat sederhana ia masih cinta dengan mantan kekasih nya. Motif yang hanya bisa di ketahui publik ketika Alea di temukan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AssaZahara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menghilang dari Radar sendiri

Gedung Adiguna Tower yang menjulang megah di pusat kawasan bisnis Jakarta tampak seperti sebuah monumen raksasa yang sedang dikepung oleh badai tak kasat mata. Di lantai dua puluh, tempat ruang kerja Direktur Pengembangan Bisnis berada, suasananya sunyi seperti kuburan yang baru saja digali. Meja kerja jati besar milik Zahran Adrian Adiguna bersih dari dokumen aktif; hanya ada sebuah laptop yang tertutup rapat, sebuah cangkir kopi porselen yang isinya telah mengering, dan sebuah miniatur maket hotel berbahan akrilik yang merefleksikan cahaya lampu ruangan dengan dingin.

Sejak jarum jam melewati pukul sembilan pagi kemarin, eksistensi digital seorang Zahran Adrian Adiguna seolah-olah telah dihapus dari muka bumi. Ponsel satelit pribadinya mati total, akun-akun perbankan korporatnya tidak menunjukkan aktivitas sepeser pun, bahkan kartu akses elektronik yang biasa ia gunakan untuk memasuki gedung ini telah dideaktivasi secara otomatis oleh sistem keamanan internal atas perintah langsung sang kakak, Gautama Adiguna.

Di dalam ruangan tertutup itu, Gautama berdiri membelakangi meja kerja adiknya, menatap pemandangan kota dari balik dinding kaca tebal. Di tangannya, terdapat sebuah laporan analisis pergerakan digital dan logistik yang baru saja diserahkan oleh tim keamanan internal Adiguna Group.

"Dia benar-benar memutus semua tali kekang yang kita pasang padanya, Rendra," ucap Gautama.

Suaranya terdengar datar namun sarat akan kecemburuan dan amarah yang telah mengendap selama bertahun-tahun. Bagaimana tidak cemburu, seharusnya dia anak pertamalah yang menjadi pusat Perusahaan Adiguna.

"Zahran tidak hanya membawa kabur anak Baskoro Yoora. Dia membawa kabur seluruh rahasia cetak biru ekspansi hotel kita di luar Jawa yang selama ini menjadi proyek andalannya."

Rendra Adiguna, sang Kepala Penasihat Hukum yang duduk di sofa kulit dekat pintu, hanya membalikkan lembaran dokumen hukum dengan gerakan yang sangat tenang.

"Secara legal, kita bisa menyatakan bahwa Zahran sedang mengambil cuti di luar tanggungan perusahaan demi alasan kesehatan emosional. Kita memiliki waktu tiga hari sebelum dewan komisaris mendesak adanya pergantian posisi direksi secara resmi akibat kelalaian tugas." lanjut Rendra.

"Tiga hari?" Gautama berbalik dengan cepat, wajahnya mengeras.

"Dalam tiga hari, saham Adiguna Land bisa amblas lebih dalam jika polisi menetapkan dia sebagai buronan nasional! Kamu lihat sendiri bagaimana Kompol Hendrawan menekan Ayah kemarin sore. Keluarga Yoora tidak akan membiarkan kasus ini menguap. Mereka butuh kambing hitam untuk menutupi fakta bahwa putri kebanggaan mereka lebih memilih kabur dengan adikku daripada menikah dengan Reynald Pratama." Ujar Gautama nyalang.

Rendra mendongak, menatap Gautama dari balik kacamata bermonokel emasnya.

"Lalu apa yang kamu inginkan, haa? Apakah kau ingin tim keamanan kita menemukan Zahran sebelum polisi, lalu menyerahkannya ke tangan Reynald di atas piring perak? jangan gila.." ujar Rendra.

Gautama menyunggingkan senyum getir yang penuh dengan kalkulasi kejam.

"Zahran telah memilih untuk keluar dari radar. Dia pikir dia bisa menjadi pahlawan romantis yang menyelamatkan kekasih masa lalunya, gila bukan?? Tapi di dunia nyata, seorang pahlawan tanpa logistik dan jaringan hanya akan menjadi mangsa yang mudah. Jika dia menolak untuk tunduk pada perintah Ayah untuk kembali, maka dia tidak lagi memiliki hak atas nama besar Adiguna." Gautama berkata dengan bimbang, karena ia tahu Zahran adalah perencana yang ulung.

Sementara itu, jauh di luar jangkauan menara beton Jakarta, radar yang dimaksud Gautama memang tidak akan pernah bisa menangkap keberadaan Zahran. Pria itu tahu persis bagaimana sistem pelacakan korporasi bekerja. Sebagai seorang lulusan arsitektur yang terbiasa membedah ruang dan jalur distribusi, Zahran telah merancang pelarian ini bukan sebagai tindakan impulsif seorang pria yang patah hati, melainkan sebuah operasi taktis yang presisi.

Di sebuah bengkel karoseri tua yang tersembunyi di pinggiran jalur arteri Jawa Barat, SUV hitam misterius yang terekam di basement hotel kini telah tertutup oleh terpal kain jip yang berdebu. Plat nomor registrasi sementaranya sudah dicopot dan dihancurkan di dalam mesin pelebur logam kecil di sudut bengkel.

Zahran berdiri di bawah lampu neon bengkel yang berkedip redup, mengenakan kaos hitam polos yang kotor oleh cipratan oli. Di hadapannya, seorang pria paruh baya dengan tato jangkar di lengannya sedang memasang sepasang plat nomor kendaraan roda empat yang baru, plat nomor biasa milik sebuah mobil keluarga tua yang terdaftar di kota kecil terpencil.

"Semua pengacak sinyal (jammer) sudah kupasang di bawah dasbor dan di dalam bagasi, Mas Zahran," ujar pria paruh baya itu sambil menyeka keringatnya dengan handuk kumal.

"Sinyal ponsel, GPS bawaan pabrik, sampai frekuensi radio pemancar jarak pendek tidak akan bisa keluar dari kabin mobil ini dalam radius lima puluh meter. Anda aman dari pelacakan satelit komersial." lanjut nya.

"Terima kasih, Kang," jawab Zahran, suaranya baritonnya terdengar serak karena kelelahan. Ia merogoh sakunya dan menyerahkan seikat uang tunai dalam jumlah besar, jenis transaksi yang tidak meninggalkan jejak digital di server bank mana pun.

"Pastikan sisa onderdil mobil yang kami tinggalkan di sini tidak akan pernah ditemukan oleh orang-orang dari Jakarta." ujar Zahran lagi.

"Beres, Mas. Di bengkel ini, apa yang masuk tidak akan pernah keluar lagi dalam bentuk yang sama," pria itu terkekeh, lalu melangkah mundur untuk membiarkan Zahran mengambil alih kemudi.

Zahran berjalan menuju sisi penumpang depan mobil, tempat Catalea Yoora sedang duduk bersandar dengan mata terpejam. Riasan wajah Alea yang sempurna kemarin pagi kini telah dihapus bersih menggunakan tisu basah, menyisakan wajah polosnya yang pucat dan tampak begitu rapuh di bawah temaram lampu bengkel. Rambutnya yang semula disanggul rapi kini terurai bebas, berantakan namun memancarkan kembali aura kebebasan yang hilang selama tiga tahun terakhir.

Zahran membuka pintu mobil dengan sangat pelan, seolah takut merusak keheningan yang sedang memeluk wanita itu. Begitu ia duduk di kursi kemudi, Alea membuka matanya secara perlahan.

"Kita ada di mana, Zahran?" bisik Alea, suaranya terdengar sangat letih.

"Di tempat yang aman... Jauh dari radar ayahmu, kakakku, dan juga tunangan hebatmu itu," jawab Zahran sambil menyalakan mesin mobil yang kini terdengar lebih halus setelah dimodifikasi.

Ia menoleh, menatap lekat-lekat ke dalam manik mata Alea yang tampak berkaca-kaca di bawah kegelapan kabin.

"Mulai detik ini, dunia mengira aku menculikmu karena dendam. Kamu siap hidup sebagai sandera dari seorang penjahat korporat?" kekeh Zahran.

Alea tidak menjawab dengan kata-kata. Dengan perlahan, ia mengulurkan tangan kanannya yang masih melingkar sebuah gelang perak tua dengan liontin berbentuk gandum kecil, benda yang ia bawa diam-diam dari meja riasnya. Ia menggenggam jemari tangan kiri Zahran yang berada di atas tuas transmisi, meremasnya dengan kehangatan yang telah membeku selama tiga tahun.

"Kayaknya Aku lebih memilih menjadi sanderamu di tengah hutan terdalam, Zahran," bisik Alea, air mata akhirnya menetes melewati pipinya yang tulus,

"daripada menjadi ratu di atas altar pernikahan yang dibangun dari kebohongann mereka." ujar Alea lagi.

Zahran membalas genggaman tangan Alea dengan erat, merasakan debaran jantung yang sama seperti malam gerimis di Bandung empat tahun lalu. Ia menginjak pedal gas, membawa SUV itu keluar dari bengkel tua menuju jalur alternatif yang membelah perbukitan sunyi. Zahran telah menghilang dari radar dunia bisnis yang munafik, masuk ke dalam kegelapan malam demi menjaga satu-satunya cahaya yang paling nyata dalam hidupnya.

1
Ana Dww
elu nekattt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!