NovelToon NovelToon
Setelah Aku Memilih Bercerai

Setelah Aku Memilih Bercerai

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Selingkuh / Tamat
Popularitas:1.5M
Nilai: 5
Nama Author: Mutzaquarius

Dengan wajah tenang, Mela tiba-tiba mengajukan perceraian pada suaminya, Rahman. Tentu saja, hal itu membuat Rahman dan ibunya terkejut, karena mereka merasa selama ini semua baik-baik saja.
Tapi, Mela sudah mengetahui semuanya, perselingkuhan Rahman dengan mantan kekasihnya yang sudah berjalan selama sepuluh tahun.
Hati Mela hancur, apalagi, saat ibu mertuanya dan putrinya sendiri justru membela selingkuhan suaminya yang bernama Camila.
"Ingat umur. Kau itu sudah tua, sudah mempunyai anak. Harusnya, kau bisa lebih fleksibel. Camila bisa membantu perkembangan bisnis keluarga. Sedangkan kau? Sudah bagus kami menampungmu."
"Kau bisa apa tanpa kami, hah?"
Ucapan ibu mertua dan suaminya, membuat Mela semakin mantap untuk bercerai.
Baginya, perceraian bukan pelarian, melainkan pintu keluar dari kebohongan panjang yang nyaris mematikan jiwanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2 Keputusan Yang Menutup Segalanya

Ruangan sidang itu mendadak terasa lebih dingin dari biasanya. Tidak ada suara selain detak jam di dinding dan napas yang tertahan.

Hakim menunduk sejenak, membuka berkas di hadapannya, lalu mengangkat wajah dengan tatapan tegas, sebelum akhirnya membacakan keputusan perceraian.

"Demi keadilan berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa."

"Mengabulkan gugatan Penggugat untuk seluruhnya."

Di kursi penggugat, jemari Mela saling menggenggam erat, sampai-sampai buku jarinya memutih. Di seberang sana, Rahman, pria yang dulu ia panggil suami hanya menunduk dengan rahang mengeras.

"Menyatakan perkawinan antara Penggugat, Mela Agustina dan Tergugat, Rahman Arya Wijaya putus karena perceraian. Dan, menetapkan hak asuh anak jatuh kepada pihak tergugat.

Mela memejamkan mata dan menarik napas panjang, mencoba berlapang dada menerima keputusan tersebut. Karena, ia sudah menduga hak asuh anak akan jatuh ke tangan Rahman.

Beberapa detik berlalu sebelum hakim menutup berkasnya perlahan. Tatapannya menyapu ruangan, memastikan semua telah mendengar. Kemudian, tangannya meraih palu kayu di meja.

"Demikian diputuskan dalam musyawarah Majelis Hakim pada hari ini, Senin, 17 Maret 2025, dan diucapkan dalam sidang terbuka untuk umum."

"Sidang dinyatakan selesai dan ditutup."

TOK! TOK! TOK!

Suara ketukan itu menggema, menjadi garis akhir dari sebuah kisah yang dulu dimulai dengan janji sehidup semati.

Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada tangisan. Hanya kalimat formal yang mengakhiri dua puluh tahun kehidupan bersama.

Mela duduk tenang di kursinya. Ia sudah membayangkan hari ini berkali-kali, namun ketika benar-benar tiba, perasaannya justru terasa hampa. Ia tidak merasa lega maupun sedih. Ia merasa seperti halaman buku yang sudah selesai ditutup.

Rahman menandatangani berkas terakhir dengan rahang mengeras. Mertuanya menghela napas berat, sementara Lina duduk membatu, matanya menatap lantai.

Setelah semua selesai, mereka keluar dari ruang sidang, dan langsung di sambut udara luar yang terasa menyengat.

Mela berbincang dengan kuasa hukumnya, lalu mereka saling berjabat tangan, sebelum berpisah.

Mela menatap punggung kuasa hukumnya yang semakin menjauh, lalu beralih ke arah langit yang cerah, terlalu cerah untuk sebuah perpisahan. Namun, detik berikutnya, sebuah senyuman tersungging di bibirnya.

"Sepertinya, kau sangat senang dengan perceraian ini."

Mela menoleh kearah sumber suara. Wajahnya datar, melihat mantan suaminya mendekat bersama ibu dan putri nya.

"Tentu saja dia senang," timpal Dyah, mantan ibu mertuanya. "Dia mendapatkan harta gono-gini yang cukup besar."

Mela menghela napas pendek. "Sejak awal, aku tidak pernah menuntut apapun," balas Mela tegas.

"Apa kau pikir aku bodoh?" seru Rahman. "Atau... Kau ingin orang-orang memandangku sebagai pria yang kejam karena tidak memberimu harta, hah?"

Rahman menaikkan sudut bibirnya. "Tapi, tidak masalah. Anggap saja, itu semua uang kompensasi karena kau sudah merawat kami selama ini."

Mela mendesah sambil tersenyum sinis. "Jadi, selama ini kau menganggap ku pengasuh?"

"Kau yang bilang," seru Rahman. "Sebelum kita menikah, kau hanya seorang pelayan. Bahkan sampai sekarang, hidupmu bergantung pada ku." Ia lalu mendekat, berbicara pelan dengan nada meremehkan. "Kita sudah bercerai dan kau tidak mempunyai sandaran hidup lagi. Aku penasaran, berapa lama kau akan bertahan hidup dengan uang itu."

Mela hanya diam tanpa niat untuk membalas. Memang benar, hidupnya dulu sangat pas-pasan. Tapi, bukan berarti setelah ia menikah dengan Rahman, yang merupakan seorang pengusaha terpandang, hidupnya justru bergelimang harta.

Dia hanya menjadi ibu rumah tangga pada umumnya. Mengurus rumah, melayani suami, merawat ibu mertuanya dan mengasuh putri semata wayangnya.

Dia selalu menggunakan uang yang Rahman berikan padanya untuk kebutuhan sehari-hari dan lebih mementingkan kebutuhan keluarga daripada dirinya sendiri.

Mungkin, itu sebabnya Rahman tidak pernah mengajaknya pergi ke pesta untuk sekedar menjadi pendampingnya saat bertemu dengan rekan bisnisnya. Rahman malu untuk membawanya karena ia tidak mengerti apapun.

Tapi, ia tidak pernah mempermasalahkannya karena pekerjaannya sudah cukup membuatnya lelah.

"Tidak perlu repot-repot memikirkan hidupku," ucap Mela datar. "Bisa bercerai denganmu, adalah berkah besar bagiku."

Rahman melotot tajam. Rahangnya mengeras. "Kau—"

Ucapannya terhenti, saat sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan tangga pengadilan.

Begitu pintu mobil terbuka, seorang wanita turun dengan gaun rapi dan sepatu hak tinggi. Rambutnya disanggul anggun, senyumnya lebar, tanpa rasa bersalah sedikit pun.

Dia adalah Camila.

Ia melangkah cepat ke arah Rahman, meraih lengannya, lalu mencium pipinya secara terang-terangan.

"Bagaimana hasil keputusan nya, sayang?" tanyanya manja.

Rahman tidak menepisnya. Bahkan tersenyum lebar. "Semua sudah beres. Kami resmi bercerai."

"Syukurlah kalau begitu."

Mela masih berdiri di sana, melihat semuanya dengan mata yang tenang. Ia berbalik, memilih pergi dari sana, daripada menjadi penonton drama pengkhianatan mereka.

Namun, Dyah bersuara cukup keras, seolah sengaja agar ia mendengarnya.

"Mulai sekarang, tidak perlu ada yang ditutup-tutupi lagi," ucap Dyah. "Kau lebih pantas menjadi pendamping Rahman. Tidak hanya membantu mengembangkan bisnis keluarga, tapi kau juga cantik dan berbakti, Camila."

Camila tersenyum, masih memeluk lengan Rahman. Sedangkan, Mela yang mulai menjauh hanya bisa tersenyum mendengarnya.

Lalu, Dyah menoleh pada Lina. "Mulai sekarang, kau harus memanggil Camila, mama."

Lina ragu sejenak. Ia menatap punggung Mela, sebelum beralih pada Camila dan berkata pelan, "Mama!"

Camila tersenyum lebih lebar, memeluk Lina. "Anak baik."

Langkah Mela terhenti. Namun, ia tidak menoleh. Tangannya mengepal erat, dadanya terasa sesak.

Lina memang dekat dengan Camila. Bahkan di saat seperti ini, putrinya itu memilih berdiri di pihak Camila hanya karena Camila sering memberinya barang mewah dan mengajaknya pergi ke tempat-tempat mewah. Tidak seperti dirinya yang selalu membatasinya.

Tapi, ia melakukan semua itu demi kebaikan Lina. Sayangnya, putrinya tidak mengerti dan justru menganggapnya kuno.

Dan sekarang, saat Mela mendengar putrinya memanggil wanita lain, mama, ia benar-benar mengerti. Bukan hanya pernikahannya yang berakhir, tetapi perannya sebagai istri dan ibu di keluarga itu telah sepenuhnya dihapus.

Ia tidak marah, tidak juga tersenyum. Ia hanya diam, lalu kembali menuruni tangga pengadilan sendirian. Dan kali ini, ia tidak merasa kehilangan apa pun.

1
Marina Tarigan
wanita yg terjolimi akan bisa merangkak kembali dgn pelan
Marina Tarigan
mela lahanmu selama imi tfk ditanami jadi tanah itu keras tentu tumnuhanmu juga berpengarjh pd tanah kerad tapi kalau sdh timnuh tanah terus divemburi disiram dan pupuk akhinya jd subur kgm patah semangat mel anak desamu sdh siap membantumu anak desa memang difatnya godip acuh kalau sfh dekag pasto kalian berjuang bersams
LENY
SIIP MELA KEREN TUH TUKANG GOSIF JD MALU SENDIRI MBAK DARMI🙈🙈
LENY
TETANGGA JULID MAIN TUDUH FITNAH AJA DUH MELA SMG KAMU SABAR GAK ADA YG TULUS KAYAKNYA. SEMUA TUKANG GOSIP DAN TOXID😥😥🙈
LENY
DYAH DAN CAMILA WANITA IBLIS TUNGGULAH KARMA KALIAN. RAHMAN JG SUAMI BIADAB. KASIHAN KAMU MELA DI ZOLIMI BERTAHUN TAHUN 😥😥🙈😡😡😡
LENY
BARU INI.BACA KARYAMU THOR BAGUS 👍❤
mooociii
emg rahmad umur berpa kok jaul lebih dewasa soale di pikiran q rahmad udah tua, scara menikah udah slama 20 thn, org nikah biasanya umur 25 brati kan umure udah 45 lebih, dr awal gak ada keteranganya umur mereka berapa
LENY
KASIHAN MELA DUH LINA JAMU SALAH DIDIK NNT BAKAL JD ANAK MANJA YG GAK BENER. DYAH PEREMPUAN LACUR PELAKOR MURAHAN SOMBONG BENER TUNGGULAH TUHAN TDK TIDUR NNT KAMU AKAN MENERIMA BALASAN ATAS PERBUATANMU😡😡😡🙈🙈
Marina Tarigan
wanita dinikahi bukan utk fisiksa tapi utk saling melengkapi saling mengasihi wanita juga bisa membunub laki2 bukan dvn kekerasan kom
Marina Tarigan
dasar ibu2 kampung biasa itu nanti hilang juha
Marina Tarigan
vitu dong jgn mau diselingkuhi
Muhyati Umi
siapa dia? apakah mantan pacarnya camila?
Muhyati Umi
beda istri beda rezeki. Rahman bakal bangkrut
mooociii
oh ternyata takut jafi gembel juga si dino 🤣🤣🤣
mooociii
umur brp si lina?
mooociii
umur berapa to lina, q pikir udah SMA karena nikah nya udah 20 thn
mooociii
dino pasti bos nya agra
Ria Gazali Dapson
kirain nikah sama gadis muda , eh nikah ny sm yg udh tua juga yaa, nyaris 50th , ga malu pa yaa
mooociii
umur mereka brpa, kalo mela bilang nikah udah 20 thn dikhianati brati umur mereka udah hampir 50 haruse, tp ini critanya mereka kliatan masih muda
mooociii
umur brp to mereka sbnere, bukanya udah hampir 50 kok kyak ABG aja🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!