NovelToon NovelToon
STEP FATHER FOR MY DAUGHTER

STEP FATHER FOR MY DAUGHTER

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Tamat
Popularitas:104.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rona Risa

Erina Hutomo, single mom yang harus berjuang sendiri mengatasi kekacauan hidup--anak sulung yang beranjak remaja dan banyak ulah, anak bungsu yang autis, tetangga yang selalu nyinyir karena dia janda--hingga tumpukan pekerjaan yang terus menghantuinya di kantor.

Sampai suatu ketika, petir terbesar menyambarnya--Erina divonis mengidap kanker otak, dan usianya tak akan lama.

Di tengah badai, Erina tak sempat menangis. Garis akhir itu seperti bom waktu. Dan ia memilih mati-matian mempersiapkan segalanya, terutama untuk buah hati yang paling dicintainya. Ia hanya ingin anak-anaknya hidup layak dan bahagia--bahkan setelah ia tak ada lagi di dunia.

Termasuk, memberi mereka sosok ayah yang bisa menjaga dan menyayangi mereka seperti darah daging sendiri, sampai akhir.

Berhasilkah Erina menuntaskan misi dan harapan terakhirnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rona Risa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERTEMUAN KEMBALI

Rona ingat wajah ayahnya?! batin Raya terguncang.

"Rona..."

Sambara tanpa ragu melangkah maju dan merengkuh Rona. Gadis kecil itu memeluk erat ayahnya, untuk pertama kali dalam hidupnya.

"Ayah... Ayah ke mana aja? Lona kangen Ayah...!"

Rona menangis di pelukan Sambara. Sambara memejamkan mata dan mempererat dekapannya. Ekspresi dingin itu hilang, digantikan kerapuhan dan kesedihan mendalam.

"Maafin Ayah ya Rona... maafin Ayah baru bisa ketemu Rona sekarang... Ayah banyak salah sama Rona..."

Air mata kini mengalir di pipi Sambara. Rona memandang wajah ayahnya, terperangah. Tangan kecilnya terulur dan menghapus linang bening itu dengan lembut.

"Ayah nggak salah... yang salah Laja Caci suka nahan Ayah jadi Ayah nggak bisa pulang..."

Sambara bingung sejenak.

"Raja Caci...? Oh..."

Tatapan mata tajam itu menumbuk mata Raya.

"Bunda yang cerita begitu, ya...?"

"Iya..."

Sambara menarik napas dalam-dalam. Lalu ia kembali memandang Rona sambil tersenyum lembut.

"Yah... yang penting Ayah bisa ketemu Rona sekarang. Rona senang?"

Rona mengangguk bahagia. "Iyaaa!"

Sambara tertawa dan membelai lembut kepala Rona. "Ayah senang kalau Rona senang."

"Ini sudah siang. Rona sudah makan siang?" tanya Sambara sambil membawa Rona ke sofa dan memangkunya, yang masih menempel manja.

Rona mendadak cemberut dan menggeleng.

"Lona nggak lapal."

"Makan sedikit aja... biar cepat sembuh. Ayah suapin, ya?" bujuk Sambara lembut.

Rona menimbang-nimbang. "Hmm..."

"Gini aja... kalau Rona mau makan, Ayah akan ajak Rona terbang dengan helikopter Ayah. Gimana?"

Rona melongo.

"Telbang? Benelan telbang? Kayak Gajah Mas?"

"Gajah Mas?"

Sambara mengerutkan alis sejenak. Jelas ia tak paham jika Rona sudah menyinggung tokoh-tokoh dongeng ajaib yang suka didengarnya, diangankannya atau dimainkannya setiap hari.

"Iyaa. Itu gajah yang bisa telbang, yang tadi dicelitain Ayah Sam ke Lona..."

Sambara makin menukikkan alisnya. "Ayah Sam?"

"Iyaa. Itu Ayah Sam, yang duduk di sebelah Bunda," tunjuk Rona polos. "Namanya sama kayak Ayah. Ayah Sam baik, suka beliin mainan Lona, main sama Lona..."

"Ah, ya...," Sambara menatap tajam Samudera, yang sedari awal menatap waspada Sambara tanpa bicara. "Samudera Dewa."

"Ayah kenal, ya?"

"Begitulah," Sambara jelas enggan membahas lebih lanjut seputar Samudera, lalu segera mengganti topik. "Ayah nggak tahu Gajah Mas... tapi helikopter Ayah beneran bisa bawa Rona terbang... asal Rona mau makan ya..."

Sambara memberi isyarat pada salah satu pria kekar berjas hitam yang adalah asisten sekaligus bodyguard-nya untuk mengambil nampan makanan Rona yang masih tersegel di meja.

"Lihat... ada ikan, tofu, buah, sayur, bubur, puding... warna-warni lucu! Rona mau disuapin yang mana dulu?"

Mimpikah aku?

Raya hanya bisa terpaku hampir sepanjang waktu. Apa yang diangankannya beberapa menit lalu, tiba-tiba terjadi secara nyata di depan matanya.

Sambara duduk memangku Rona, menyuapinya, mengobrol dan tertawa. Keduanya tampak akrab dan bahagia.

Air mata Raya kembali menetes, tanpa disadarinya.

"Udah, Yah... kenyang...," tolak Rona, padahal ia baru menelan lima sendok makanan, itu pun dikunyahnya dalam waktu yang sangat lama.

"Satu lagi aja...," bujuk Sambara.

"Jangan dipaksa, Sambara!" tegur Raya--entah bagaimana dia mendapat kembali kekuatannya untuk bergerak dan bicara, meski suaranya pecah gara-gara menahan air mata. "Rona nggak bisa makan banyak-banyak. Kalau dipaksa dia nanti malah muntah."

Sambara memandang Raya sekilas. "Oke."

"Ayah, Lona udah makan... katanya Ayah mau ajak Lona telbang? Ayo, Ayah! Ayo!"

Sambara tersenyum. "Ya. Ayo."

"Apa yang kamu lakukan? Kamu nggak bisa membawa Rona gitu aja!" Raya tanpa sadar berseru dan bangkit untuk menghalangi Sambara pergi sambil menggendong Rona.

"Raya...," Samudera maju dan bergerak waspada saat dua bodyguard Sambara mulai mendekati Raya, berusaha menghalanginya mendekati Sambara.

"Kenapa? Dia putriku!" kata Sambara dingin.

"Dia juga putriku!" desis Raya. "Rona sedang sakit. Aku nggak akan membiarkanmu--"

"Ada apa ini?"

Al tiba-tiba melangkah masuk, memecah ketegangan.

"Ayah Al!" sapa Rona ceria.

"Ayah Al?" Sambara sejenak memandang tajam Al. "Siapa kamu? Apa kamu dokter di sini?"

"Ya, saya Alam Semesta, dokter yang bertanggung jawab menangani pasien anak Rona Purnama," jawab Al tenang. "Anda Sambara Bumi, ayah kandung Rona?"

"Ya."

"Saya senang akhirnya Anda datang. Rona selalu merindukan dan menantikan kehadiran ayahnya, Anda tahu. Itulah sebabnya saya dan Samudera menjadi semacam ayah pengganti baginya di sini, agar ia tak lagi sedih dan kesepian karena melihat anak-anak lain ditemani ayah mereka, sementara Rona tidak."

Al menguntai kalimatnya dengan lembut dan tenang, tetapi jelas itu merupakan sindiran keras bagi Sambara. Tatapan elang Sambara sejenak berkilat, namun ia memilih tidak berkomentar panjang.

"Terima kasih sudah merawat dan mendampingi Rona selama ini," tukas Sambara dingin. "Aku ingin mengajak putriku berkeliling dengan helikopter sebentar. Aku sudah menjanjikannya karena dia mau makan sedikit siang ini. Tak ada masalah, kan?"

Al terdiam sejenak.

"Ayo, Ayah... katanya mau ajak Lona telbang... ayo!" rengek Rona tak sabar.

"Baiklah," kata Al perlahan. "Tapi tolong hati-hati dan jangan lama-lama. Rona harus menerima dosis obatnya siang ini dan beristirahat."

"Oke."

Sambara melenggang pergi sambil membawa Rona.

"Al!" Raya memandang Al marah dan kecewa.

"Rona akan baik-baik saja, Raya, kamu tidak..."

Namun Raya tak mau mendengarkan lagi dan berlari kencang menyusul Sambara dan Rona. Samudera juga mengekornya tanpa kata, tangannya sibuk mengutak-atik ponselnya.

"Sambara! Tunggu! Kamu nggak bisa membawa Rona begitu aja! Kuingatkan kamu!"

Bodyguard Sambara berbalik untuk menghalau Raya. Samudera siaga melawan, namun Sambara berkata, "Biarkan dia."

Sang bodyguard mundur. Samudera diam. Raya sesaat terperangah.

"Apa...?"

"Kalau kamu mau, ikutlah," kata Sambara, sekilas memandang datar Raya sebelum melangkah menuju lift di ujung lorong. "Hanya kamu, Raya. Laki-laki itu tak boleh ikut."

Apa-apaan ini?

"Pergilah," kata Samudera pelan. "Kamu harus terus di sisi Rona. Lindungi dia, apapun yang terjadi. Aku akan segera bertindak dan menyusul jika sesuatu terjadi."

Raya menelan ludah, lalu mengangguk.

Sebuah helikopter putih dengan huruf BC emas besar yang dikelilingi gambar butiran padi tercetak di pintunya--logo resmi Bumi Corporation--sudah bertengger di helipad di puncak gedung rumah sakit CHC, siap terbang.

"Waah!" Rona terkesima. "Ini punya Ayah?"

"Ya," Sambara tersenyum. "Rona suka?"

"Sukaa!"

"Kalau begitu, ayo terbang sama Ayah dan Bunda!"

"Asyiiik!"

Raya merasa dirinya bermimpi saat ia duduk di dalam helikopter, di salah satu kursi penumpang belakang. Bodyguard Sambara membantunya memasangkan sabuk pengaman dan juga headphone khusus agar Raya tetap bisa mendengar dan berkomunikasi selama penerbangan.

Sambara duduk di sebelahnya sambil tetap memangku Rona. Keduanya sudah memakai sabuk pengaman dan headphone juga.

"Sudah siap, Tuan?" tanya pilot sambil memandang Sambara.

"Ya," angguk Sambara. "Kita terbang sekarang."

Ini pertama kalinya Raya dan Rona terbang menggunakan helikopter. Sensasinya begitu menakjubkan, saat daratan di bawah mengecil dan helikopter melayang cepat membelah udara penuh cahaya. Rona tak hentinya menyeru takjub, wajahnya luar biasa bahagia.

"Lona telbang...! Lona telbang sepelti peli...!"

Sambara tertawa. "Ya. Rona senang, kan?"

"Senang banget, Ayah!"

"Ah... lihat Rona, itu laut... Rona pernah lihat laut sebelumnya?"

"Pelnah ke pantai dulu sama Bunda... telus Bunda beliin Lona topi dan es klim tobeli..."

Ketegangan dan ketakutan menyergapi hati Raya. Ia menyadari helikopter yang ditumpanginya kini terbang meninggalkan pulau dan melintasi laut biru kehijauan di bawah sana.

"Sam!" pekik Raya. "Kita mau ke mana? Kamu mau bawa aku dan Rona ke mana?"

Sambara tidak menggubris Raya. Ia memilih menyahuti celotehan Rona yang terus menunjuk laut dan langit dengan gembira.

Namun, di sela obrolannya dengan Rona, Sambara menyunggingkan senyum licik--persis senyuman terakhirnya saat meninggalkan Raya di malam pertama pernikahan mereka.

Hati Raya hancur berkeping-keping.

"Sam!!!"

***

"Apakah mereka akan baik-baik saja?" gumam Al resah.

Al dan Samudera berdiri di puncak gedung rumah sakit CHC dekat landasan helipad yang kosong. Dua bodyguard Sambara juga berdiri tak jauh dari mereka. Al memandang langit dengan cemas dan menyesal, sementara Samudera sibuk mengutak-atik ponselnya.

"Seharusnya aku tidak mengizinkan mereka pergi tadi..."

"Tak ada gunanya. Tak ada yang bisa menghalangi Sambara Bumi membawa putrinya ke mana pun dia mau," sela Samudera datar.

"Tapi Rona pasienku!" seru Al. "Dia di bawah perlindungan dan tanggung jawabku..."

"Kamu cuma seorang dokter, Al. Sambara Bumi adalah CEO Bumi Corporation sekarang. Ia bisa membeli seperempat negeri ini kalau dia mau. Sekuat dan sekaya itulah dia. Kita tak ada apa-apanya dibanding dia," kata Samudera pelan.

Al menghela napas panjang.

"Mengapa dia baru muncul sekarang untuk menemui Rona?" tanya Al pelan. "Apa dia tahu kondisi terkini Rona? Apa dia berniat rujuk dengan Raya untuk menyembuhkan Rona?"

Samudera terdiam sesaat. Pikirannya keruh. Batinnya remuk bergemuruh.

"Aku tidak tahu..."

Keheningan yang menyusul terasa menyesakkan.

"Lihat! Itu mereka! Mereka kembali!"

Al menunjuk titik putih di kejauhan, ekspresinya lega.

Helikopter putih itu mendarat mulus di atas helipad. Bodyguard Sambara dengan sigap membukakan pintu dan membantu para penumpang helikopter itu turun.

"Ayah Aal! Ayah Saam!" Rona melambai ceria saat turun dari helikopter dalam gendongan Sambara.

"Gimana terbangnya, Rona? Seru?" tanya Al sambil tersenyum.

"Bangeet!" Rona tampak sangat bahagia. "Ayah, kapan-kapan kita telbang lagi, ya... Lona suka telbang naik heli! Rasanya sepelti jadi peli!"

Sambara tersenyum. "Iya, Sayang. Tapi Rona sembuh dulu ya... yuk sekarang diobatin dulu sama dokter, supaya Rona cepat sembuh dan bisa naik heli lagi."

"Iyaaa!"

Sambara, Rona, dan Al berjalan beriringan, dikawal dua bodyguard Sambara. Samudera sengaja tertinggal di belakang, matanya memandang cemas Raya yang berjalan sempoyongan, wajahnya pucat pasi. Air mata menggenang di pelupuknya, ekspresinya begitu tertekan.

"Kamu baik-baik saja? Apa dia melakukan sesuatu yang buruk padamu?"

Namun Raya enggan bicara dan memaksakan diri berjalan cepat menyusul Sambara dan Rona.

Samudera berusaha keras menahan lara hatinya kala melihat mental Raya sehancur itu.

"Raya..."

Raya memasuki Kamar Bambi 3 tepat setelah Al menyuntikkan obat ke tubuh Rona yang masih terus menempeli Sambara seperti koala. Putri kecilnya itu masih mengoceh-ngoceh gembira seputar pengalaman terbangnya, yang ditimpali Sambara dan Al dengan hangat dan tawa.

Sungguh pemandangan yang absurd bagi Raya. Ia terhuyung ke belakang, nyaris jatuh. Samudera dengan sigap menangkapnya dan mendudukkannya di sofa.

"Tenanglah, Ra...," bisik Samudera, meski batinnya juga terasa pedih.

"Kakak nggak apa-apa?"

Raya baru sadar Arum sudah kembali dan duduk di sofa juga, matanya memandang cemas Raya.

"Kamu...," Raya tak tahan untuk bertanya lirih. "Apa kamu yang menghubungi Sambara tadi?"

Arum mengangguk. Tubuhnya gemetar.

"Iya... kan katanya Kakak butuh ketemu Tuan... tapi kenapa kakak kelihatannya nggak senang? Apa Arum salah, Kak?"

Raya tidak menghiraukan pertanyaan itu. Ia justru balik bertanya, "Saat kamu meneleponnya, apa Sambara langsung mengangkatnya?"

Arum menggeleng.

"Nggak diangkat. Tapi terus Arum WA. Arum bilang Nona Rona sakit leukemia, butuh transplantasi sumsum tulang belakang untuk sembuh. Habis itu Tuan telepon..."

"Sambara bilang apa?"

"Tuan tanya Nona Rona di mana... gimana Arum bisa tahu kondisi Nona Rona... gimana dengan Kakak..."

Raya sukar mempercayai apa yang baru didengarnya.

"Sambara... menanyakan tentangku?" suara Raya bergetar sekarang.

"Iya... Tuan tanya, 'Gimana Raya sekarang?' Terus Arum bilang, kalau Kakak sangat sedih dan khawatir soal Nona Rona, sampai mimpi buruk terus... Kakak berusaha menghubungi Tuan supaya bisa menyelamatkan hidup Nona Rona, tapi Tuan nggak bisa dihubungi Kakak... jadinya Arum yang coba telepon dan jelasin semuanya ke Tuan..."

Raya memandang lurus Sambara. Matanya basah sekarang.

Kamu langsung datang begitu tahu Rona butuh diselamatkan? Kamu menangis dan minta maaf begitu bertemu Rona? Kenapa... kenapa kamu melakukan ini semua? Setelah kekejaman di masa lalu yang telah kamu lakukan kepadaku dan Rona... kenapa kamu tiba-tiba berubah dan bersedia datang?

Tolong katakan padaku, Sambara... apa yang sebetulnya terjadi? Apa yang kamu pikirkan?Jangan siksa aku seperti ini... kumohon...

Rona mulai kehilangan kesadaran akibat kelelahan dan efek obat yang disuntikkan Al. Sambara membaringkan Rona dengan lembut di atas tempat tidurnya, menyelimutinya, bahkan mencium keningnya penuh sayang.

Raya menekap mulutnya, berusaha keras menahan isakan.

"Aku perlu bicara dengan William Adams, Presiden Direktur rumah sakit ini. Juga denganmu, Al, sebagai dokter penanggung jawab Rona. Bisa kamu antar aku ke ruangan William?"

Sambara kembali bersikap datar dan dingin. Tak ada lagi kehangatan dan keramahan di wajahnya.

"Tentu," angguk Al. "Ikut aku."

"Arum, tolong jaga Rona sebentar," perintah Sambara. "Raya, ikut denganku."

Raya menelan ludah berkali-kali, berusaha keras meredam kepiluan yang telanjur membuncahi hati.

"Aku...? Kenapa...?"

Sambara menatap Raya tajam. Saat bicara, nadanya begitu dingin dan tanpa perasaan.

"Kita perlu membahas donor transplantasi sumsum tulang belakang untuk Rona dengan para ahli di sini. Kurasa kamu juga sudah tahu apa artinya itu."

Raya paham betul mengenai itu. Ia berusaha keras tegar, meski kedalaman jiwanya menjerit, terluka, tersiksa.

Aku harus mengandung dan melahirkan anak keduaku dengan Sambara untuk menyelamatkan hidup Rona.

...***...

1
sean hayati
buat apa hidup di sangkar mas kalau gak bahagia
sean hayati
Salam kenal mbak baru mampir ini,bila ada waktu mampir ya di karyaku cinta di ujung batas usia
Hera Puspita
cerita nya bagus, dan byk menguras air mata 🥰🥰
Hera Puspita
ikut terharu 😭😭😭😭😭
Hera Puspita
😭😭😭😭😭😭
Hera Puspita
betul2 menegangkan
Hera Puspita
sedih dgn kondisi samudra 😭😭😭
Hera Puspita
terlalu besar pengorbanan mu samudera 😭😭😭
Hera Puspita
sakti kah pengkhianat nya 🤔🤔
Hera Puspita
kok curiga sama Arum ya 🤔🤔
Hera Puspita
sedih banget 😭😭😭😭😭
Hera Puspita
waw....🥰🥰
Hera Puspita
kamu berhak bahagia raya
Hera Puspita
baru mampir
Zudiyah Zudiyah
hemmm smua qo dbikin mati thor sad ending 😔😔😔
Zudiyah Zudiyah
😭😭😭😭😭😭
Zudiyah Zudiyah
Aduh Satria kenapa kamu lahir d situasi & keadaan yg lagi genting naakkkk
Zudiyah Zudiyah
aduh duh duh duh t sesuai rencana 😱
Zudiyah Zudiyah
siapakah yg akhirnya bertahan dsisi Raya? apakah Samudera yg berkorban menyelamatkan nyawa Sambara krn ia sadar hidupnya g akn lama krn penyakitnya/kah Sambada yg berkorban menyelamatkn Samudera dg mendonorkan hatinya krn dia sadar hati Raya untuk Samudera? 🤔🤔🤔🤔
Zudiyah Zudiyah
untung Sambara masih memiliki kewarasan ketika dihadapkan masalah rumit & keadaan & kejadian ya sgt menyakitkan memilukan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!