SINYAL TERAKHIR
Sinopsis
Tahun 2487.
Persemakmuran Persatuan Manusia (PPM) telah berkembang menjadi peradaban antarbintang yang menguasai ratusan sistem bintang. Dengan bantuan jaringan gerbang antarbintang dan kecerdasan buatan AURA, manusia berhasil membangun koloni di berbagai penjuru galaksi. Meski teknologi berkembang pesat, satu pertanyaan besar belum pernah terjawab: apakah manusia benar-benar sendirian di alam semesta?
Semuanya berubah ketika jaringan observatorium PPM menangkap sebuah sinyal misterius dari Galaksi Asterion, sebuah galaksi yang tidak pernah tercatat dalam jalur eksplorasi resmi. Sinyal itu memiliki pola yang tidak mungkin dihasilkan oleh fenomena alam dan terus berubah seolah merespons sesuatu.
Untuk menyelidikinya, Dewan PPM membentuk ekspedisi rahasia menggunakan kapal eksplorasi tercanggih, ESS Horizon. Misi tersebut dipimpin oleh Kapten Idris, didampingi Wakil Kapten Kael, bersama sepuluh anggota lain yang dipilih langsung dari berbagai bidang keahlian
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mirage Ink, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 – Penghalang
Lampu merah terus berkedip.
Bip!
Bip!
Bip!
AURA melaporkan tanpa henti.
"Stabilitas penghalang tujuh puluh delapan persen."
"Tujuh puluh lima persen."
Adrian masih berdiri di depan panel kendali.
Tangannya bergerak cepat di atas simbol-simbol asing.
Namun grafik di layar tetap menurun.
Kapten Idris melangkah mendekat.
"Apa yang rusak?"
"Bukan rusak."
"Lalu?"
"Tenaganya tidak cukup."
---
Di ESS Horizon, Owen tiba-tiba berdiri.
"Darius!"
"Lihat ini."
Darius menoleh ke layar.
Aliran energi yang sebelumnya mengalir dari Pos Observasi menuju kapal kini berubah arah.
"Apa artinya?"
Owen memperbesar data.
"Pos Observasi sedang mengambil kembali energi yang dipinjamnya."
"Untuk menyalakan penghalang?"
"Sepertinya begitu."
---
Di ruang inti, Lyra memperhatikan panel di samping menara.
"Adrian."
"Ya?"
"Beberapa modul distribusi energi tidak aktif."
"Aku tahu."
"Kenapa tidak diperbaiki?"
"Aku tidak punya suku cadangnya."
Lyra menunjuk salah satu indikator.
"Kalau modul ini dilewati..."
"...energi bisa langsung dialirkan ke inti."
Adrian menoleh cepat.
"Itu berbahaya."
"Kenapa?"
"Kalau perhitungannya salah..."
"...penghalang akan mati total."
---
Kael memandang menara hitam itu.
"Berapa lama lagi sebelum benar-benar gagal?"
Adrian melihat layar.
"Dua puluh menit."
Ruangan kembali hening.
---
Di kapal, Leo kembali memantau sinyal.
Ia memijat pelipisnya.
"Dengungan itu semakin keras."
Rina menatapnya.
"Kau baik-baik saja?"
"Aku masih bisa berpikir."
"Tapi rasanya..."
Leo mencari kata yang tepat.
"...seperti ada seseorang yang terus mencoba mengajakku berbicara."
Niko langsung mematikan seluruh penerima komunikasi.
Namun Leo tetap memegang kepalanya.
"Tidak berubah."
Semua teringat isi laporan Pos Observasi.
Sinyal itu memang tidak membutuhkan alat komunikasi.
---
Mira menghubungi Lyra.
"Lyra."
"Ya?"
"Kalau penghalang gagal, apa efek pertama yang mungkin terjadi?"
Lyra berpikir sejenak.
"Kalau berdasarkan laporan lama..."
"...gangguan psikologis."
"Kalau berdasarkan ilmu yang kita miliki sekarang?"
Lyra menggeleng.
"Aku tidak berani menebak."
---
Robot kecil berjalan mengitari menara.
Sesekali ia memancarkan cahaya biru ke beberapa panel.
Namun tidak ada perubahan berarti.
Adrian mengembuskan napas panjang.
"Sudah waktunya."
"Waktu untuk apa?" tanya Reza.
"Menghidupkan reaktor cadangan."
"Kita punya reaktor cadangan?"
"Bukan milik Pos Observasi."
Adrian menatap lantai di bawah menara.
"Reaktor itu jauh lebih tua."
Kael mengingat laporan Hana.
Inti struktur memang jauh lebih tua daripada lapisan luarnya.
"Jadi..."
"Pos Observasi dibangun mengelilingi sesuatu?"
Adrian mengangguk.
"Benar."
"Tapi aku tidak akan membawamu ke sana sebelum penghalang stabil."
---
Kapten Idris mengambil keputusan.
"Apa yang bisa kami bantu?"
Adrian menunjuk tiga panel di sisi ruangan.
"Masing-masing panel harus diaktifkan bersamaan."
"Kalau terlambat beberapa detik saja..."
"...sinkronisasinya gagal."
Kael segera menuju panel pertama.
Lyra ke panel kedua.
Reza ke panel ketiga.
Kapten Idris tetap berada di dekat Adrian.
"Beri aba-aba."
Adrian mengangguk.
"Pada hitungan ketiga."
"Satu..."
"Dua..."
"Tiga!"
Ketiga panel ditekan bersamaan.
Ruangan langsung bergetar.
Menara hitam memancarkan cahaya biru yang jauh lebih terang.
AURA segera memberikan laporan.
"Stabilitas meningkat."
"Tujuh puluh lima persen."
"Tujuh puluh sembilan persen."
"Delapan puluh tiga persen."
Semua menghela napas lega.
Namun hanya sesaat.
Seluruh ruangan tiba-tiba berguncang lebih keras.
Lampu kembali berubah merah.
Adrian membeku menatap layar.
"Wah..."
"Apa lagi?" tanya Kael.
Adrian menunjuk salah satu grafik.
"Bukan penghalangnya yang bermasalah."
"Lalu?"
"Sumber sinyal..."
"...baru saja bergerak."
Ruangan langsung sunyi.
Selama lebih dari satu abad, semua catatan menyebut sumber sinyal berada di lokasi yang sama.
Tetapi sekarang...
untuk pertama kalinya...
sesuatu di Galaksi Asterion mulai bergerak menuju mereka.