Tidak semua bidak catur bermimpi menjadi Raja. Yudi hanya ingin satu hal: bertahan hidup dan membangun wilayah kecilnya sendiri untuk kaum yang terbuang. Menjadi Pawn rendahan bagi Sona Sitri adalah langkah pertamanya. Dengan [Imperial Tiger Mantle] yang terikat di jiwanya, ia menahan auman sang harimau dan mengubahnya menjadi keheningan yang mencekik lawan.
update Harian 1 bab per harinya sambil menunggu keputusan kontrak., semoga berhasil ya, kalau udah fix dapet kontrak akan kembali normal. Kalau kelewat mungkin akan tambah satu bab di besoknya. semoga gak pernah terjadi dan kalian semua bisa terus membaca kisah ini dengan tenang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyudi0596, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 24
Sona membuang napas pelan dari hidungnya, mengendurkan kepalan tangannya. Ia menganggukkan kepalanya satu kali, sebuah gerakan yang sangat tegas.
"Apa yang baru saja kau simpulkan itu... seratus persen benar, Yudi," ucap Sona, nadanya terdengar jauh lebih serius dari sebelumnya.
"Saat ini, kondisi sosial dan politik di dunia bawah masih terbagi menjadi dua faksi utama, yaitu Faksi Maou Lama dan Faksi Maou Baru. Meskipun kami telah mengambil alih kursi pemerintahan, sisa-sisa dari faksi lama masih bersembunyi di bayang-bayang. Kedua belah pihak masih terus melakukan perang dingin, berebut kuasa politik, wilayah, dan pengaruh dari balik layar untuk bisa menumbangkan pihak lawan masing-masing."
Yudi mengangguk-angguk perlahan. Tangannya bersedekap di depan dada. Postur tubuhnya kini terlihat jauh lebih santai, seolah ia sedang mendengarkan sebuah dongeng sejarah yang sangat menarik di perpustakaan, alih-alih mendengarkan fakta tentang ancaman perang di dunia supranatural.
"Jadi begitu... aku sudah bisa mengerti garis besarnya dengan sangat jelas sekarang," ucap Yudi. Ia kemudian memajukan tubuhnya kembali, meletakkan kedua sikunya di atas tepi meja kerja Sona. Matanya memancarkan sorot keingintahuan yang kuat. "Lalu, untuk entitas mutan di luar nalar yang kau sebutkan tadi... Siapa saja nama-nama pemimpin yang kini menduduki kursi dari faksi Maou Baru ini, Kaichou?"
Sona kembali mengangkat tangannya untuk membenarkan letak kacamatanya yang sedikit merosot, sebuah gestur fisik yang menandakan bahwa ia sedang menyusun kalimat di dalam kepalanya sebelum berbicara.
"Pemimpin tertinggi dari Maou Baru saat ini... adalah seorang pria bernama Sirzechs Lucifer," jawab Sona pelan. "Nama aslinya sebelum mewarisi gelar tersebut adalah Sirzechs Gremory. Dia adalah kakak kandung dari Rias Gremory, ketua Klub Penelitian Ilmu Gaib di akademi ini."
Sona menatap Yudi, menekankan artikulasi pada kalimat berikutnya. "Dia berhasil menduduki jabatan sebagai Lucifer bukan karena garis keturunan, melainkan murni karena kekuatan magis penghancur yang ia miliki teramat sangat kuat dan tidak masuk akal. Bahkan, data intelijen dan literatur sejarah mencatat bahwa saat Sirzechs-sama menggunakan wujud kekuatan aslinya... daya hancurnya bisa mencapai sepuluh kali lipat lebih mematikan jika dibandingkan dengan kekuatan Lucifer generasi pertama."
Mendengar deskripsi kekuatan numerik tersebut, mulut Yudi sedikit terbuka. Matanya membelalak lebar, memancarkan binar ketakjuban yang tidak ditutup-tutupi.
"Woah..." Yudi memukul permukaan meja dengan telapak tangannya secara pelan. Suaranya sedikit meninggi. "Kuat sekali! Jauh melampaui batas originalnya! Kalau memang eksistensi sekuat itu benar-benar ada di dunia ini, aku sangat ingin bertemu dengannya secara langsung! Setidaknya... satu kali saja seumur hidupku!" seru Yudi dengan sangat bersemangat. Tangannya terkepal di atas meja, bahunya naik turun dengan cepat.
Reaksi fisik tersebut membuat Sona membeku sesaat. Bahu sang Ketua OSIS sedikit menegang. Matanya menatap wajah Yudi yang dipenuhi semangat dengan pandangan tidak percaya.
Di dalam benak rasional Sona, ketika seorang amatir mendengarkan deskripsi tentang monster yang memiliki daya hancur sepuluh kali lipat lebih besar dari dewa iblis original, reaksi normal yang seharusnya muncul adalah tubuh yang gemetar, keringat dingin, atau rasa ngeri yang mendalam. Namun, pemuda di depannya ini justru memancarkan aura antusiasme yang meledak-ledak.
"Kenapa... kau malah ingin bertemu secara langsung dengan sosok menakutkan sepertinya, Yudi?" tanya Sona dengan nada hati-hati, alisnya berkerut tipis.
"Tentu saja!" Yudi mengayunkan tangannya di udara, senyum lebar menghiasi wajahnya. "Aku ingin bertemu dengannya semata-mata hanya untuk duduk dan mendengarkan kisah epiknya secara langsung! Maksudku, coba kau bayangkan! Memimpin barisan kaum pemberontak para iblis, menyusun strategi di tengah keputusasaan, dan pada akhirnya berhasil menggulingkan sebuah rezim tiran Maou lama yang usianya sudah ratusan tahun... Kisah perang revolusi itu pastilah sebuah cerita yang sangat epik untuk didengarkan, bukan?!"
Mendengar alasan yang sangat polos dan terbebas dari niat bunuh diri tersebut, otot-otot di bahu Sona yang tadinya menegang perlahan mengendur. Ia menghembuskan napas panjang dari hidungnya, sebuah desahan kelegaan yang tidak bersuara.
Selama beberapa detik, ia benar-benar sempat merasa khawatir kalau bidak Pawn barunya ini memiliki pikiran gila untuk menantang sang Lucifer berduel latihan atau hal-hal konyol semacamnya. Namun, mengetahui bahwa Yudi hanya tertarik pada narasi sejarah perangnya, membuat postur duduk Sona kembali rileks.
"Baiklah, aku mengerti maksudmu," ucap Sona. Ia kembali melipat kedua tangannya di atas meja. "Untuk menjawab pertanyaanmu selanjutnya. Pemimpin yang duduk di kursi Maou berikutnya adalah seorang keturunan bangsawan dari Klan Glasya-Labolas. Namanya adalah Falbium Asmodeus."
Sona mengetukkan jari telunjuknya di atas meja, menekankan poin keahlian sang Raja Iblis. "Jika Sirzechs-sama unggul dalam kekuatan penghancur absolut, maka Falbium-sama adalah kebalikannya. Dia adalah pemilik julukan 'The Greatest Wall Demon of All Time' (Dinding Iblis Terhebat Sepanjang Masa). Dia menduduki kursi Asmodeus sebab ia memiliki sistem sihir pertahanan absolut yang terbukti tidak pernah bisa ditembus oleh serangan sihir tingkat tinggi maupun hantaman fisik terkuat milik iblis mana pun di seantero dunia bawah."
"WOAH!!"
Teriakan Yudi meledak, bergema memantul di dinding-dinding ruang OSIS yang sepi. Pemuda itu setengah berdiri dari kursinya. Kedua matanya melotot maksimal. Kedua tangannya mencengkeram tepi meja kayu Sona dengan sangat kuat.
Rambutnya sedikit bergoyang akibat gerakannya yang tiba-tiba. Tingkat semangat dan antusiasme yang dipancarkannya kini melambung dua kali lipat lebih tinggi dari reaksi sebelumnya saat mendengar tentang Sirzechs.
Brak!
Suara kursi kulit Sona yang berdecit mundur akibat dorongan kakinya terdengar keras. Bahu Sona tersentak hebat, kepalanya sedikit terdorong ke belakang. Tangan kirinya secara refleks terangkat dan menekan area dadanya sendiri, tepat di atas letak jantungnya. Mata ungu gadis itu membelalak tajam, menatap lurus ke arah Yudi yang masih mematung dengan mulut terbuka.
Perubahan emosi dan ledakan suara yang terjadi secara mendadak tanpa aba-aba itu benar-benar menyerang saraf terkejut Sona.
Suasana ruangan seketika hening. Hanya terdengar suara napas Sona yang terengah-engah dan memburu, sementara Yudi masih berdiri dengan postur mencondong ke depan, senyum antusiasnya perlahan luntur menyadari reaksi berlebihan yang baru saja ia buat.
Alis Sona menukik sangat tajam, nyaris menyatu di tengah dahi. Ia menarik napas dalam-dalam, mengatupkan rahangnya erat-erat hingga garis wajahnya mengeras.
"Sepertinya..." ucap Sona. Suaranya terdengar sangat dingin dan berat, dipenuhi oleh penekanan emosi yang tertahan. Tangan kanannya bergerak menyapu tumpukan kertas kontrak di atas meja, lalu memasukkannya kembali ke dalam laci secara kasar.
"...pembekalan materi untuk hari ini cukup sampai di sini saja. Kita akhiri kelas pengenalan ini sekarang."
Brak! Sona menutup laci mejanya dengan suara bantingan yang cukup keras, menolak untuk menatap wajah Yudi.
Melihat Sona yang bersiap menghentikan sesi penjelasannya, mata Yudi terbelalak panik. Ia langsung melepaskan cengkeramannya dari tepi meja dan melambaikan kedua tangannya di udara secara acak.
"Eh?! Kenapa?!" seru Yudi dengan nada panik, suaranya sedikit melengking. "Kok tiba-tiba udahan?! Kan struktur gelar Yondai Maou itu ada empat posisi! Kau baru menjelaskannya dua saja?! Kaichou! Tolong beritahu informasinya jangan setengah-setengah dong! Bagian ini justru yang sedang sangat seru-serunya! Kau ini aneh sekali, tiba-tiba memotong cerita di bagian klimaks!" gerutu Yudi dengan wajah cemberut, tidak terima ceritanya digantung.
Mendengar protes Yudi yang menyalahkan dirinya, Sona memutar bola matanya ke atas. Ia membuang napas kasar, mengusap pangkal hidungnya dengan ibu jari dan telunjuknya.
"Justru kau yang aneh, Yudi," gerutu Sona dengan volume suara yang cukup keras, melepaskan sisa keterkejutannya. Ia menatap tajam ke arah pemuda itu. "Reaksimu itu terlalu berlebihan dan hiperbolis. Jantungku nyaris berhenti berdetak karena kau tiba-tiba berteriak di depan wajahku seperti itu!"
Alih-alih merasa bersalah dan meminta maaf, Yudi malah menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada, menempelkannya tepat di ujung hidungnya. Tubuhnya kembali mencondong ke depan, memberikan tatapan memelas layaknya seekor anak anjing yang meminta makanan.
"Tolonglah, Kaichou... beritahu ceritanya sampai tuntas dong..." rengek Yudi dengan nada suara yang sangat memelas dan panjang, tidak mempedulikan tatapan membunuh yang sedang dipancarkan oleh atasannya tersebut.
...* * *...