NovelToon NovelToon
Diceraikan Dunia, Dicintai Empat Pewaris

Diceraikan Dunia, Dicintai Empat Pewaris

Status: tamat
Genre:Asmara / CEO / Anak Genius / Pengasuh / Tamat
Popularitas:11k
Nilai: 5
Nama Author: Nilam

Keira Lo bukan siapa-siapa.
Yatim piatu, lulusan SMA, hidup dari upah serabutan di desa kecil Jawa Tengah. Satu-satunya alasan dia masih bertahan: Kiara — kembaran-nya yang mengalami kerusakan otak setelah diserang tiga tahun lalu. Keira butuh uang. Banyak. Dan satu-satunya jalan adalah menjadi pengasuh bayi di kediaman keluarga Ciu — konglomerat terkaya di Jakarta yang terkenal kejam.
Dia datang dengan koper lusuh dan tangan penuh luka. Mereka menatapnya seperti debu yang tersasar ke istana marmer.
Tapi ketika bayi keluarga Ciu nyaris meninggal di tangan pengasuh berpengalaman — dan Keira yang menyelamatkannya dengan tangan gemetar — segalanya berubah.
Empat pewaris. Empat hati yang berbeda. Semua jatuh pada gadis yang sama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nilam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 9

Bab 9: Hadiah Lima Puluh Juta

"Semua."

Satu kata dari Ethan di lantai tiga tidak langsung sampai ke telinga Keira.

Yang sampai kepadanya lebih dulu adalah napas Stephanie yang akhirnya pecah setelah Gilbert pergi.

Stephanie tidak menangis keras. Ia hanya menunduk, memegang tangan Keira, lalu air matanya jatuh satu per satu ke atas cardigan putih. Seperti seseorang yang terlalu lama berdiri di tepi jurang dan baru sadar kakinya belum melangkah jatuh.

"Dia menyuruh cek CCTV," bisiknya.

"Iya."

"Dia percaya?"

Keira tidak menjual harapan palsu. "Belum. Tapi dia mulai ragu."

Stephanie menutup mata. "Itu sudah lebih banyak daripada tiga bulan terakhir."

Bayi di boks bergerak kecil. Keira melepaskan tangan Stephanie pelan, memeriksa napas bayi, lalu merapikan selimut katun di bawah dadanya. Tidak ada kain berbulu lagi. Tidak ada dekorasi yang bisa rontok. Semua yang berbahaya sudah dikeluarkan semalam atas perintah Vivienne.

Saat Keira kembali berdiri, Stephanie sedang menatapnya.

"Kamu mau apa?"

Keira mengira ia salah dengar. "Maaf, Nyonya?"

"Hadiah." Stephanie mengambil ponsel dari meja kecil, lalu berhenti karena tangannya masih gemetar. "Aku tidak tahu bagaimana caranya berterima kasih dengan benar. Di keluarga ini, semua orang membayar sesuatu karena tidak tahu cara meminta maaf."

"Nyonya sudah memberi saya kepercayaan. Itu cukup."

"Tidak cukup."

Stephanie menghubungi seseorang dengan suara pelan. Tidak sampai lima menit, seorang staf keuangan datang membawa map tipis. Ia berdiri di ambang pintu, tidak berani melihat ruangan yang masih seperti bekas badai.

Stephanie menandatangani satu lembar kertas.

"Transfer Rp 50 juta ke rekening Suster Keira. Hari ini."

Keira membeku.

Angka itu terdengar seperti kalimat dari dunia lain.

"Nyonya Stephanie, itu terlalu besar."

"Tidak. Kau membuat suamiku mempertanyakan Chenny tanpa aku harus menjadi perempuan gila di matanya." Stephanie menatapnya dengan mata merah. "Bagi orang seperti aku, itu lebih mahal daripada perhiasan."

Staf itu menunduk, lalu pergi.

Keira berdiri di tempat, merasakan lantai marmer di bawah kakinya seperti bergeser.

Rp 50 juta.

Ditambah Rp 20 juta dari Vivienne.

Dalam dua hari, ia memegang jumlah uang yang biasanya hanya ia lihat dalam kolom tagihan rumah sakit. Di Sriwedari, uang sebesar itu bisa membayar kontrakan kecil setahun, makanan Kiara, obat, transportasi ke dokter, dan mungkin satu meja kayu sederhana dekat jendela.

Meja untuk Kiara menggambar.

Bayangan itu muncul begitu jelas sampai tenggorokan Keira sakit. Kiara duduk di depan jendela, krayon oranye tersusun rapi, kertas tidak perlu dihemat setengah lembar demi setengah lembar. Tidak ada ember bocor saat hujan. Tidak ada Kak Anisa yang harus menghitung beras sebelum memasak.

"Keira."

Panggilan Stephanie menariknya kembali.

Keira menunduk. "Terima kasih, Nyonya Stephanie. Saya akan bekerja lebih baik."

"Bukan lebih baik." Stephanie bersandar ke bantal, wajahnya masih lelah. "Tetap seperti kemarin. Jangan ikut-ikutan orang rumah ini yang hanya tahu diam ketika salah."

Kalimat itu terdengar seperti perintah, tetapi bagi Keira, rasanya seperti pengakuan.

Beberapa hari berikutnya, kehidupan Keira tidak menjadi lebih ringan.

Ia justru mulai memahami harga dari uang besar di Kediaman Ciu.

Pukul lima pagi, ia sudah bangun untuk memeriksa jadwal bayi, suhu kamar, stok popok, botol susu steril, kain katun, dan catatan tidur Stephanie. Pukul tujuh, Bi Sari memanggilnya ke ruang staf untuk mempelajari aturan rumah.

"Di Kediaman Ciu, semua staf keluarga inti siaga dua puluh empat jam," kata Bi Sari, membuka buku catatan tebal. "Kau boleh tidur, tapi ponsel internal harus aktif."

"Ponsel pribadi?"

"Tidak dibawa saat bertugas. Disimpan di kamar. Dipakai hanya saat waktu istirahat."

Keira terdiam setengah detik.

Kiara.

Bi Sari melihat perubahan kecil di wajahnya, tetapi tidak bertanya. "Kalau ada urusan darurat, lapor padaku. Jangan sembunyikan ponsel di seragam. Kamera di rumah ini lebih banyak daripada yang kau kira."

"Baik, Bi Sari."

"Jalan di koridor utama jangan menyeret sandal. Tamu keluarga tidak boleh mendengar suara staf sebelum melihat stafnya. Kalau lewat ruang makan utama, pandangan turun, tapi jangan membungkuk berlebihan. Mereka tidak suka staf yang terlihat takut."

Keira mencatat cepat.

"Makan staf maksimal dua puluh menit. Kalau ada panggilan dari lantai dua atau kamar bayi, tinggalkan makanmu. Nanti bisa lanjut kalau masih ada waktu."

Aturan itu tidak disampaikan dengan kejam. Justru karena Bi Sari mengucapkannya seperti cuaca harian, Keira semakin sadar betapa normalnya ketidaknyamanan bagi orang yang bekerja di rumah ini.

Dalam tiga hari, ia hafal jalur dari kamar Stephanie ke ruang obat, dapur kecil, laundry, kamar pengasuh, dan paviliun belakang. Ia belajar bahwa lantai tiga adalah wilayah Ethan. Bahwa lantai empat jarang disebut, dan kalau disebut pun suara staf akan turun setengah nada. Bahwa Nyonya Besar memegang rumah utama, Nyonya Kedua lebih sering berada di sayap tenang, dan Nyonya Ketiga punya area yang staf masuki dengan wajah lebih hati-hati.

Ia juga belajar bahwa uang di rumah ini bergerak cepat, tetapi martabat bergerak lambat.

Beberapa staf mulai menyapanya lebih sopan setelah hadiah Rp 50 juta tersebar sebagai bisik-bisik dapur. Ada yang memanggilnya Suster Keira dengan senyum terlalu manis. Ada juga yang menatapnya dari belakang, seolah keberuntungan Keira adalah penghinaan pribadi.

Keira tidak menanggapi.

Ia menyimpan bukti transfer di ponsel, lalu saat jam istirahat, mengirim pesan pendek kepada Kak Anisa.

`Kak, aku kirim uang lagi malam ini. Tolong mulai cari meja kecil yang kokoh untuk Kiara. Yang dekat jendela.`

Balasan Kak Anisa datang beberapa menit kemudian.

`Ya Allah, Dek Keira. Kamu baik-baik saja?`

Keira menatap layar cukup lama sebelum mengetik.

`Aku baik. Kiara harus punya tempat menggambar sendiri.`

Ia tidak menulis tentang koridor panjang, tidur yang selalu terputus, atau aturan ponsel yang membuat dadanya sesak setiap kali jauh dari kabar Kiara.

Malam keempat, setelah memastikan Stephanie tidur dan bayi tidak demam, Keira kembali menuju kamar pengasuh lewat koridor taman. Jalur itu lebih jauh daripada koridor dalam, tetapi lebih sepi. Udara Jakarta lembap setelah hujan, membawa bau tanah basah dan daun kamboja dari halaman.

Lampu taman menyala redup.

Keira baru melewati pilar batu kedua ketika langkahnya berhenti.

Di depan, dari arah gerbang samping, sekelompok pria berpakaian hitam bergerak cepat memenuhi koridor.

Bukan satpam biasa.

Mereka terlalu seragam. Terlalu sunyi. Tangan beberapa orang berada dekat pinggang, wajah mereka menatap ke segala arah tanpa berkedip.

Salah satu dari mereka mengangkat tangan, memberi isyarat agar semua staf mundur.

Keira mundur setengah langkah.

Lalu ia sadar jalan di belakangnya sudah tertutup oleh dua pria lain.

Koridor taman yang semula kosong tiba-tiba berubah menjadi area yang dibersihkan untuk seseorang yang belum terlihat.

Keira menahan napas.

Siapa yang datang sampai Kediaman Ciu harus dikosongkan seperti ini?

1
!m_mah
maaf kk thor, kno JD "Lo gue" 🙄
sunaryati jarum
Langsung 200 bab dan end, langsung delete
sunaryati jarum
Ko Kevin sepertinya tertarik pada Keira Lo
sunaryati jarum
Suami istri ko seperti orang asing,pada sudah melahirkan
sunaryati jarum
Semoga kakakmu sembuh,Keira
sunaryati jarum
Ko Ethan kaku tapi teliti
sunaryati jarum
Baru mampir, penasaran
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!