Di tengah duka kehilangan bayinya dan pengkhianatan suaminya, Shanum berjuang sendirian demi kesembuhan Sang Nenek, satu-satunya keluarga yang ia miliki.
Bekerja sebagai ART dengan upah kecil, tak cukup untuk membiayai pengobatan jantung sang nenek di rumah sakit.
Kondisi ini menarik simpati Dokter Daniel yang menangani neneknya. Daniel sendiri tengah didera lara, ia ditinggal selingkuh oleh istrinya dan kini merawat putri kecilnya yang berusia empat bulan seorang diri.
Masalah kian pelik karena sang bayi mengalami alergi susu formula dan sangat bergantung pada donor ASI.
Didorong rasa iba dan kebutuhan yang mendesak, Daniel menawarkan Shanum pekerjaan sebagai pengasuh sekaligus ibu susu bagi putrinya. Bagi Shanum, ini dilema antara kehormatan dan kebutuhan ekonomi. Tanpa ia sadari, bayi kecil yang butuh dekapannya itu perlahan menjadi obat bagi trauma kehilangan buah hatinya.
Akankah pertemuan dua jiwa yang sama-sama patah ini menjadi awal dari kesembuhan luka mereka berdua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 33
Mobil melaju membelah jalanan kota yang cukup padat, meninggalkan area Rumah Sakit Citra Medika setelah Baby Ziva selesai mendapatkan imunisasinya. Di kursi belakang, suasana begitu hening. Shanum duduk terdiam, matanya menatap lekat-lekat wajah mungil Ziva yang kini sedang tertidur pulas di dalam pangkuannya. Bayi itu tampak kelelahan setelah tadi sempat menangis histeris saat jarum suntik menembus kulit pahanya. Shanum terus mengusap lembut lengan Ziva, seolah berusaha menyalurkan ketenangan yang sebenarnya tidak ia miliki saat ini.
Dari balik kemudi, Daniel sesekali melirik ke arah kaca spion tengah. Melihat Shanum yang terus menunduk dan mengatupkan bibirnya rapat-rapat, ada rasa nyeri yang teramat sangat menghantam dada Daniel. Kejadian di ruang praktek Dokter Renata beberapa saat lalu masih terngiang jelas di kepalanya. Kalimat spontan Renata yang menyebut Shanum sebagai "bekas ART" dengan nada melengking itu terus berputar, dan Daniel tahu persis, kata-kata itu telah berhasil menggores kembali luka lama di hati istrinya.
Daniel mencengkeram setir mobil sedikit lebih erat, bergelut dengan rasa bersalahnya. Ia ingin sekali membuka suara, menanyakan kondisi Shanum, dan memastikan bahwa wanita itu baik-baik saja. Namun, melihat aura murung yang begitu pekat menyelimuti Shanum pasca pertemuannya dengan Renata, Daniel mendadak ragu dan takut salah berucap.
Setelah beberapa menit terjebak dalam keheningan yang menyiksa, Daniel akhirnya memutuskan untuk meminggirkan mobilnya sejenak di bahu jalan yang agak sepi. Ia mematikan mesin, lalu memutar tubuhnya menghadap ke samping, ia menatap Shanum dengan pandangan yang sarat akan kehangatan dan kekhawatiran.
"Num," panggil Daniel lembut, suaranya yang bariton terdengar begitu menenangkan di dalam kabin mobil yang sunyi.
Shanum sedikit tersentak, lalu perlahan mendongak menatap Daniel. Sorot matanya tampak sayu dan ada gurat minder yang kembali muncul di sana. "I... iya, Pak Dokter?"
Daniel menghela napas pendek, pandangannya melunak. "Kamu... baik-baik saja? Sejak keluar dari ruangan Renata tadi, kamu tidak bersuara sedikit pun. Tolong jangan diabaikan, Num. Kalau ada sesuatu yang mengganjal di hatimu karena perkataan Renata tadi, katakanlah padaku."
Shanum memaksakan seulas senyum tipis, meski senyuman itu terlihat begitu getir di mata Daniel. Ia kembali menunduk, menatap jemari Ziva. "Saya tidak apa-apa, Pak Dokter. Saya hanya... berpikir bahwa apa yang dikatakan Dokter Renata tadi memang benar. Fakta kalau saya ini hanya bekas pembantu di rumahnya tidak akan pernah bisa berubah. Berada di samping anda dengan status seperti itu... rasanya saya memang membuat anda malu di depan rekan-rekan anda."
Mendengar penuturan jujur yang bernada kepasrahan itu, dada Daniel terasa semakin sesak. Tanpa ragu, ia mengulurkan tangan kirinya ke depan, meraih jemari Shanum yang bebas dan menggenggamnya dengan erat, mencoba menyalurkan kekuatan yang ia miliki.
"Dengar aku, Shanum. Tatap mataku," pinta Daniel tegas namun lembut.
Shanum perlahan mendongak, menantang sepasang netra tajam Daniel yang kini tidak memakai kacamata.
"Tidak ada satu kata pun dari ucapan Renata yang boleh kamu masukkan ke dalam hati. Bagiku, status sosial atau pekerjaan masa lalu mu sama sekali tidak bernilai negatif. Menjadi ART adalah pekerjaan yang halal dan terhormat, Num. Kamu banting tulang demi keluargamu, dan itu luar biasa," ujar Daniel dengan penekanan di setiap kalimatnya.
Daniel mengusap punggung tangan Shanum dengan ibu jarinya, menatap wanita itu dengan binar pemujaan yang dalam. "Dan satu hal yang harus kamu tahu, aku tidak pernah sedetik pun merasa malu berjalan di sampingmu. Justru sebaliknya, aku bangga memiliki istri sepertimu. Kamu tulus, kamu memperlakukan Ziva seperti anak kandungmu sendiri dengan penuh kasih sayang. Nilai itu jauh lebih tinggi dan mulia daripada gelar dokter atau harta mana pun yang dimiliki orang lain."
Air mata yang sejak tadi ditahan Shanum akhirnya lolos juga membasahi pipinya. Namun kali ini, itu bukan air mata kesedihan, melainkan rasa haru yang membuncah karena ketulusan kata-kata dari Daniel.
"Jadi, tolong jangan murung lagi, ya? Fokus kita sekarang adalah Ziva dan masa depan kita. Biarkan orang lain bicara apa, yang penting di mataku dan di mata hukum, kamu adalah Nyonya Daniel yang paling terhormat," pungkas Daniel dengan senyuman hangat yang begitu menenangkan.
Shanum menyeka air matanya perlahan dengan tangan yang lain, lalu mengangguk pelan. "Terima kasih... Pak Dokter," jawabnya lirih, untuk pertama kalinya ia merasa benar-benar dilindungi dan dihargai seutuhnya sebagai seorang wanita. Daniel yang melihat senyum Shanum mulai kembali akhirnya merasa lega, ia pun kembali menyalakan mesin mobilnya dan melanjutkan perjalanan pulang mereka dengan hati yang jauh lebih tenang.
*
*
Setibanya mereka di rumah, suasana hangat itu mendadak berganti dengan kesibukan Daniel. Sang dokter langsung berpamitan kepada Shanum untuk kembali ke rumah sakit, karena jadwal praktek siangnya akan segera dimulai tepat setelah jam makan siang.
Namun, sebelum membalikkan badan menuju mobil, Daniel melakukan hal yang sama sekali tidak diduga oleh Shanum. Ia melangkah mendekat, mencondongkan tubuhnya, lalu mengecup kening istrinya dengan lembut dan penuh perasaan. Kecupan itu sukses membuat Shanum mematung seketika di tempatnya berdiri. Sebelum menjauhkan wajahnya, Daniel berbisik dengan suara bariton yang pelan namun terdengar sangat intim di telinganya Shanum.
"Tunggu aku nanti malam!"
Deg!
Shanum semakin kehilangan kemampuannya untuk menggerakkan tubuhnya. Jantungnya berdegup kencang tak karuan, bersahutan dengan rona merah pekat yang langsung menjalar di kedua pipinya tanpa bisa ia sembunyikan. Daniel pun pergi meninggalkan istri dan putri kecilnya dengan senyumnya yang mengembang.
Hari itu, suasana rumah perlahan menjadi sepi. Langkah kaki dan tawa renyah Nyonya Tania serta Tuan Lee tidak lagi terdengar setelah mereka memutuskan untuk kembali ke kediaman pribadi mereka pagi tadi.
Menjelang larut malam, setelah berjuang menenangkan Baby Ziva yang sempat rewel akibat efek sisa imunisasi siang tadi, bayi mungil itu akhirnya tertidur pulas. Dengan langkah gulai karena kelelahan, Shanum kembali ke kamarnya. Ia berniat menunggu kepulangan suaminya, namun rasa lelah yang teramat sangat setelah seharian menguras emosi membuatnya tak kuasa menahan kantuk. Shanum pun ketiduran di atas ranjang dalam posisi menyamping.
Tak lama berselang, mobil Daniel memasuki halaman rumah. Kondisi rumah sudah sangat sepi, hanya menyisakan penjaga keamanan di gerbang depan dan seorang ART yang kebetulan belum tidur untuk mengunci pintu belakang. Daniel melangkah masuk dengan guratan lelah di wajahnya, namun seulas senyum terbit saat ia membayangkan sosok yang menunggunya di atas.
Daniel bergegas melangkah naik ke lantai dua. Sebelum menuju kamarnya, ia menyempatkan diri mengintip ke kamar putrinya. Di sana, Baby Ziva sudah tertidur sangat pulas dengan ditemani oleh Bik Sumi yang menjaga di sofa samping boks bayi.
Merasa tenang, Daniel beralih menuju kamar utamanya. Begitu pintu terbuka, pandangannya langsung tertuju pada Shanum yang sudah terlelap di atas ranjang tempat tidur. Daniel tersenyum tipis, memandangi wajah polos itu sekilas sebelum akhirnya melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan membasuh sisa penatnya.
Setelah selesai mandi dan berganti pakaian tidur yang santai, Daniel melangkah mendekati ranjang tempat tidur. Tanpa ragu-ragu seperti malam-malam sebelumnya, ia langsung naik ke atas kasur, mengikis jarak, dan melingkarkan lengan kekarnya untuk memeluk tubuh Shanum dari belakang.
Sentuhan hangat yang tiba-tiba itu seketika membuat Shanum tersentak bangun. Ia terkejut setengah mati saat membuka mata dan mendapati wajah tampan suaminya sudah berada sangat dekat di hadapannya, lengkap dengan lengan yang mengunci pinggangnya erat.
"Pak... kenapa anda tidur di sini? Bukankah Nyonya Tania sudah pu...!"
Belum sempat Shanum menyelesaikan kalimatnya tentang mertuanya yang sudah pulang, Daniel dengan gerakan lembut langsung menempatkan jari telunjuknya tepat di atas bibir manis Shanum, membungkam kata-kata wanita itu.
"Ssstttt... Aku tidak bisa tidur kalau tidak memelukmu, Num," ucap Daniel lirih dengan tatapan mata tajamnya yang sudah sayu karena didera kantuk yang berat.
Deg!
Shanum refleks menelan ludahnya berat. Ia menatap dalam-dalam sepasang mata suaminya yang kini memancarkan ketulusan murni tanpa ada sekat kacamata. Waktu seolah berhenti berputar saat keduanya saling menyelami manik mata satu sama lain dalam keheningan malam.
Perlahan, Daniel semakin mendekatkan wajahnya, memangkas sisa jarak yang ada di antara mereka. Bukannya menjauh atau membangun benteng bantal seperti kemarin, Shanum justru perlahan memejamkan kedua kelopak matanya. Sikap pasrah itu seolah menjadi lampu hijau yang sangat jelas bagi Daniel.
Daniel menyunggingkan senyuman tipis yang sangat manis sebelum akhirnya pria itu kembali mem4gut bibir istrinya dengan lembut, dalam, dan sarat akan perasaan yang membuncah.
Malam itu, di dalam keheningan kamar yang temaram, kedua insan yang baru saja ditumbuhi benih-benih rasa cinta yang kuat itu mulai menyalurkan perasaan mereka yang sebenarnya melalui tindakan yang intim dan hangat. Shanum sendiri pasrah dan merasa sangat bahagia. Di tengah pagut4n manis itu, ingatan Shanum kembali pada perkataan tegas Daniel di rumah sakit siang tadi, di mana pria itu dengan lantang membelanya dan menyatakan tidak pernah memandang dirinya rendah dari status sosial masa lalunya. Rasa dihargai itu membuat dinding pertahanan di hati Shanum runtuh seutuhnya.
Sembari memperdalam ciumannya dan merasakan balasan lembut dari sang istri, Daniel memeluk tubuh ramping Shanum semakin erat, seolah enggan untuk melepaskan pagut4n mereka walau hanya sedetik.
'Num... apakah kamu memiliki perasaan yang sama sepertiku? Apakah cintaku ini tidak bertepuk sebelah tangan?' ucap Daniel menjerit di dalam hatinya, dipenuhi rasa syukur sekaligus harap yang teramat besar.
Genggaman hangat dan sentuhan penuh cinta malam itu akhirnya membuat wanita di hadapannya benar-benar terbuai, kehilangan kendali diri, dan menyerahkan seluruh hatinya kepada sang dokter.
Bersambung...
tida ada perbedaan kasta
Sekali tepuk 2 ekor lalat mati🤭