Maryati meninggal di malam hujan, membeku di gang sempit, setelah ketiga anaknya menolak membuka pintu.
Seumur hidup dia mengabdi. Gaji suaminya — Hartono — dia yang kelola supaya cukup untuk makan sekeluarga. Menantu pertamanya, Watini, menampar dan memaki sesuka hati. Anak sulungnya, Darmanto, bungkam saja. Anak keduanya, Bagus, cuma datang kalau butuh uang. Satu-satunya yang sayang — Lestari, anak perempuannya — justru dibuang ke kampung terpencil dan mati muda.
Lalu Tuhan memberi kesempatan kedua.
Maryati membuka mata dan mendapati dirinya kembali ke usia lima puluh tahun. Kali ini, dia bukan lagi ibu yang menunduk. Kali ini, dia melawan.
Hari pertama: dia menampar balik Watini dan merebut seluruh gaji keluarga. Hari kedua: dia mengusir siapa pun yang berani menginjak harga dirinya. Dan tujuan terbesarnya? Menyelamatkan Lestari sebelum terlambat — naik kereta sendirian ke kampung terpencil, menghadapi keluarga preman yang menyandera anaknya, dan membawa Lestari pulang dengan tangannya sendiri.
Tapi membebaskan anak perempuannya baru permulaan.
Maryati harus berhadapan dengan suami yang lebih memilih selingkuhan daripada istri, menantu yang licik di balik senyum manisnya, dan anak-anak yang menganggap pengorbanan ibu adalah hal yang wajar. Ketika cukup sudah — **dia menggugat cerai di usia lima puluh tahun, keluar dari rumah dengan satu tas kecil, dan membuktikan bahwa hidup seorang perempuan tidak berakhir setelah ditinggal suami.
Dari buruh pabrik tekstil biasa, Bu Yati naik menjadi ketua serikat pekerja wanita. Dia mendirikan asrama perlindungan untuk pekerja perempuan korban kekerasan. Dia menemukan kakak kandung yang terpisah sejak kecil. Dan satu per satu, perempuan-perempuan di sekitarnya — Wulandari si anak yang dikorbankan untuk adik laki-laki, Ayu yang dijual untuk dinikahkan, Ningsih yang tertipu laki-laki brengsek — bangun dari tidur panjang mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10
Bab 10: Polisi Datang
Bu Yati masuk ke Polsek kecamatan dengan kerudung rapi dan wajah paling lelah yang sengaja ia biarkan terlihat.
Tari berjalan di sisinya, menunduk. Bagus di belakang, membawa tas dan rahang keras. Endang menunggu di luar karena takut keluarganya ikut terseret, tetapi ia sudah memberi nama beberapa warga yang tahu kebiasaan judi Kuncoro.
"Ada laporan apa, Bu?" tanya petugas piket.
Bu Yati menarik napas, lalu menangis.
Bukan tangis kosong. Air matanya memang ada, tapi ia memilih kapan menjatuhkannya. Ia bercerita tentang anak perempuan yang dikirim keluarga untuk bekerja, tentang calon mertua yang menjadikannya buruh sawah, tentang uang lima juta yang tidak pernah diterima, tentang ancaman laki-laki yang membuat anaknya takut pulang.
Ia tidak menyebut video secara terbuka di meja piket. Ia hanya mencondongkan badan ke polisi perempuan yang dipanggil kemudian, lalu berkata pelan, "Ada ancaman dengan rekaman pribadi. Anak saya korban. Saya minta diperiksa hati-hati, jangan dibuat tontonan."
Wajah polisi perempuan itu berubah serius.
Polisi itu memperkenalkan diri sebagai Bripka Rina. Suaranya tidak lembut berlebihan, tetapi tegas dan hati-hati. Ia membawa Tari ke ruangan kecil, hanya ditemani Bu Yati. Di sana, pertanyaannya tidak menyudutkan. Kapan ancaman dimulai. Apakah ada saksi. Apakah pelaku pernah mengirim pesan. Apakah korban merasa aman untuk kembali mengambil barang.
Tari menjawab patah-patah. Beberapa kali ia berhenti karena napasnya sesak. Setiap kali itu terjadi, Bripka Rina menunggu, bukan mendesak.
Bu Yati menggenggam tangan anaknya di bawah meja.
Bripka Rina juga meminta izin sebelum mencatat bagian paling sensitif. "Yang ditulis cukup untuk laporan dulu. Detail lain nanti kalau penyidik membutuhkan dan Mbak Tari siap."
Tari mengangguk dengan mata basah.
Bu Yati menelan rasa panas di tenggorokan. Perlindungan kecil seperti itu tidak menghapus luka, tetapi membuat anaknya tidak merasa sedang dihukum karena berani bicara.
Di ruang depan, Bagus menyerahkan catatan utang judi yang semalam ia dapat dari pemuda warung. Ia tidak bilang dari mana cara mendapatkannya. Bu Yati juga tidak bertanya. Pagi itu fokusnya satu: membawa Tari keluar secara sah dan aman.
Tari meremas ujung jaketnya. Untuk pertama kalinya sejak kemarin, ada orang berseragam yang tidak langsung bertanya, "Kamu salah apa?"
Setelah laporan dibuat, dua polisi ikut ke kampung. Satu mobil patroli tua melaju di jalan berlubang. Bu Yati duduk di belakang bersama Tari. Bagus di depan, diam seperti batu.
Saat mereka tiba, Bu Sarinem sedang berdiri di depan rumah, memarahi seorang anak kecil yang menumpahkan air.
"Dasar tidak becus!" teriaknya.
Lalu ia melihat mobil polisi.
Wajahnya langsung pucat.
"Ada apa ini?"
Bu Yati turun pelan. "Tanya anakmu."
Kuncoro muncul dari samping rumah. Begitu melihat polisi, ia mundur setengah langkah. Gerakan kecil itu cukup untuk membuat Bagus mengepalkan tangan.
Polisi meminta ponselnya.
"Untuk apa? Ini HP pribadi," protes Kuncoro.
"Ada laporan ancaman," jawab polisi. "Kalau bersih, tidak perlu takut."
Kepala desa datang terburu-buru, mencoba tersenyum. "Pak, mungkin ini salah paham keluarga. Bisa dimusyawarahkan."
Polisi perempuan menatapnya. "Ancaman dan dugaan rekaman tidak pantas bukan urusan musyawarah kampung, Pak."
Kalimat itu membuat warga yang berkumpul langsung berbisik.
Kepala desa masih mencoba tersenyum. "Tentu, tentu. Kami dukung hukum. Hanya saja nama kampung..."
"Nama kampung rusak karena pelaku," kata Bu Yati. "Bukan karena korban melapor."
Bripka Rina menoleh sekilas pada Bu Yati, seperti menyetujui tanpa perlu mengucapkan apa pun.
Kuncoro tiba-tiba berlari.
Bagus hampir mengejar, tetapi dua polisi lebih cepat. Salah satu menahan bahunya, yang lain menjatuhkannya ke tanah. Ponsel Kuncoro terlempar ke debu. Bu Sarinem menjerit, menuduh semua orang memfitnah anaknya.
Ketika ponsel itu dibuka, wajah polisi mengeras.
Bukan hanya Tari.
Ada beberapa video perempuan lain. Ada rekaman dari sumur, dari celah bambu, dari belakang rumah. Beberapa warga perempuan langsung menutup mulut. Seorang bapak menarik anak gadisnya ke belakang.
Tari gemetar hebat.
Bu Yati memeluk bahunya. "Jangan lihat."
Salah satu perempuan muda di kerumunan tiba-tiba menangis. Ibunya memeluknya sambil menatap ponsel Kuncoro seperti melihat ular. Tidak ada yang bertanya lagi apakah Tari berlebihan. Dalam satu layar kecil, kebusukan yang selama ini ditutup adat dan malu berdiri telanjang di depan semua orang.
Bripka Rina meminta warga perempuan yang merasa menjadi korban datang ke Polsek tanpa harus bicara di depan kerumunan. Suaranya tegas. "Jangan sebarkan video. Siapa pun yang menyebarkan akan berurusan dengan hukum."
Bu Yati mengangguk dalam hati. Itu kalimat penting. Di kampung, hukuman sosial sering jatuh pada korban lebih dulu daripada pelaku.
Kuncoro yang tadi garang kini menunduk dengan wajah abu-abu. Polisi juga menemukan percakapan judi dan tagihan utang. Kepala desa perlahan mundur, tetapi Bu Yati melihatnya.
"Pak," katanya lantang, "kemarin Bapak bilang anak saya tidak bisa saya bawa pulang karena adat. Adat yang mana? Adat melindungi laki-laki yang merekam perempuan?"
Warga menoleh pada kepala desa.
Wajah laki-laki itu berkeringat. "Saya tidak tahu soal rekaman."
"Tapi tahu soal uang lima juta?"
Tidak ada jawaban.
Bu Sarinem ikut dibawa untuk dimintai keterangan karena mengaku menerima uang lamaran dan menahan barang milik Tari. Ia menjerit sepanjang jalan, memanggil nama anaknya, menyumpahi Bu Yati, menyumpahi Tari. Namun suara itu makin lama makin jauh saat mobil polisi bergerak.
Tari berdiri di halaman dengan napas putus-putus.
"Ma... selesai?"
"Belum semua," kata Bu Yati jujur. "Tapi kamu sudah lepas dari rumah ini."
Endang kemudian membawa mereka ke rumah ayahnya, seorang kerabat perangkat desa yang selama ini tidak suka pada Kuncoro. Lewat orang itulah surat keterangan pindah dan surat pengantar untuk membawa Tari keluar kampung akhirnya diurus. Prosesnya tetap berbelit, tetapi setelah polisi datang, tidak ada yang berani mempersulit terang-terangan.
Di kantor desa, pegawai yang tadi pura-pura mencari stempel terlalu lama akhirnya bergerak cepat setelah Bagus berdiri di belakang kursinya. Bu Yati tidak membentak. Ia hanya duduk lurus, menatap jam dinding, lalu berkata setiap lima menit, "Kami menunggu."
Stempel jatuh ke kertas dengan suara keras.
Tari memandang surat itu seperti memandang pintu terbuka.
"Ini artinya Tari boleh pulang, Ma?"
"Bukan boleh." Bu Yati melipat surat itu dan menyimpannya di map plastik. "Kamu memang berhak pulang."
Pegawai desa menyerahkan map itu dengan wajah masam. "Kalau nanti ada pemeriksaan lanjutan, harus datang lagi."
"Kami datang kalau polisi memanggil," jawab Bu Yati. "Bukan kalau orang kampung mau menakut-nakuti."
Bagus mengambil foto surat itu dengan ponselnya. "Buat cadangan," katanya. "Kalau map hilang, masih ada bukti."
Bu Yati meliriknya. "Tumben otakmu dipakai benar."
Bagus mendengus, tapi tidak membantah.
Sebelum mereka pergi, Bripka Rina memberi nomor kantor dan pesan singkat. "Kalau ada yang mengancam lewat HP, jangan hapus. Screenshot, simpan, lapor. Dan Mbak Tari, jangan merasa bersalah kalau nanti ada orang kampung menyalahkan kamu. Pelaku ditangkap karena perbuatannya sendiri."
Tari menunduk. "Iya, Bu."
Bu Yati mengingat wajah polisi perempuan itu. Tidak semua orang berseragam akan berpihak pada korban, ia tahu. Tapi hari ini, satu orang cukup untuk membuka jalan.
Sore hari, Tari mengambil barangnya dari sudut kecil di rumah Bu Sarinem. Hanya satu tas: dua baju, kain lusuh, sandal cadangan, dan buku catatan lama. Tidak ada perhiasan. Tidak ada uang. Tidak ada tanda bahwa ia pernah diperlakukan sebagai calon menantu.
Bu Yati memasukkan semua itu ke tasnya.
"Mulai hari ini, barangmu tidak dititipkan di rumah orang yang membuatmu takut."
Tari menyentuh dinding bambu kamar kecil itu untuk terakhir kali. Di sudutnya ada bekas goresan kecil, garis-garis hari yang pernah ia buat diam-diam setiap kali ingin pulang. Bu Yati melihat garis itu dan tenggorokannya tercekat.
"Kenapa tidak pernah bilang?" tanya Bagus pelan.
Tari tidak menatapnya. "Kalau bilang, Mas bisa apa?"
Pertanyaan itu menusuk lebih dalam daripada tuduhan. Bagus tidak menjawab. Ia hanya mengangkat tas Tari dan keluar lebih dulu.
Di depan rumah, lutut Tari mendadak lemas. Bu Yati cepat menangkapnya.
"Ma, Tari boleh benar-benar pergi?"
"Boleh."
"Kalau mereka cari?"
"Mereka cari polisi dulu sebelum cari kamu."
Tari tertawa kecil di antara tangis. Tawa itu rapuh, tapi hidup. Bagus berdiri memunggungi mereka, pura-pura melihat jalan, padahal bahunya naik turun menahan sesuatu.
Mereka meninggalkan kampung menjelang magrib. Beberapa perempuan muda berdiri di balik pagar, menatap Tari dengan mata yang sulit dijelaskan. Salah satunya, gadis kurus berkerudung hijau, mendekat cepat saat tidak ada yang memperhatikan.
Ia menyelipkan kertas kecil ke tangan Tari.
"Tolong," bisiknya. "Kalau ke Surabaya, sampaikan ini."
Sebelum Tari sempat bertanya, gadis itu sudah mundur.
Di dalam angkot menuju kecamatan, Tari membuka kertas itu. Tulisannya gemetar.
Tolong sampaikan ke kakak saya di Surabaya. Alamatnya di Kodam V/Brawijaya...
Bagian bawah berisi nama seorang laki-laki: Hendro Wibowo.
Tari menatap ibunya. "Orang ini pasti sangat putus asa."
Bagus membaca dari samping, lalu mengerutkan kening. "Bu, kita ikut campur lagi?"
Bu Yati melipat kertas itu hati-hati. "Kalau orang minta tolong sampai menitip pesan pada orang asing, berarti dia sudah tidak punya jalan biasa."
Bu Yati menatap alamat itu lama.
Dalam ingatannya, nama itu bukan nama asing.
Masa depan anaknya baru saja berbelok lagi.