NovelToon NovelToon
Mama yang Terlupakan

Mama yang Terlupakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / Anak Genius
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: Lumisse

Genki Harto, pewaris tunggal konglomerat terkaya se-Asia, baru berusia tiga tahun. Tapi setiap malam, dia mengemas baju-baju kecilnya ke dalam buntalan kain usang dan berjalan keluar gerbang mansion.
"Genki mau cari Mama."
Tidak ada yang bisa menghentikannya — bukan pengawal, bukan pengasuh, bukan ayahnya sendiri, Rayhan Harto, CEO yang membuat seluruh dunia bisnis tunduk. Satu-satunya hal yang bisa membuat Genki berhenti menangis... adalah seorang perempuan biasa bernama Keira.
Keira Yanto. Anak angkat yang selalu dianggap rendah oleh keluarganya sendiri. Desainer muda yang terbiasa menelan kepahitan dalam diam. Perempuan yang tidak ingat apa yang terjadi padanya empat tahun lalu — satu tahun penuh yang lenyap dari ingatannya.
Tapi Genki tahu. Entah bagaimana, anak kecil itu tahu.
Dia menolak semua orang, kecuali Keira. Dia memeluk Keira seperti sudah mengenalnya seumur hidup. Dan saat Rayhan mulai menyelidiki masa lalu Keira yang hilang, kebenaran yang muncul jauh lebih mengerikan dari yang ia bayangkan:
Keira bukan siapa yang ia kira.
Genki bukan anak siapa yang semua orang sangka.
Dan orang-orang yang selama ini tersenyum di hadapan Keira... adalah dalang di balik segalanya.
"Kamu bilang aku cuma anak angkat? Lihat baik-baik siapa yang sebenarnya berdiri di depanmu."
Saat identitas asli Keira terungkap, dunia mereka semua akan terbalik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 26

Bab 026

Pagi belum benar-benar turun ketika Rayhan kembali membuka berkas RS Jiwa di ruang kerjanya.

Di luar jendela, halaman Vila Biru masih basah oleh embun. Lampu taman menyala redup, membuat kaca tampak seperti permukaan air gelap. Di meja, ada laptop Gio, map cokelat, flashdisk kecil yang baru semalam mereka terima, dan secangkir kopi yang sudah dingin tanpa disentuh.

Rayhan tidak pulang ke kamar sampai lewat pukul tiga.

Ia hanya sempat berdiri di depan pintu kamar tamu yang beberapa hari terakhir dipakai Keira, mendengar napas perempuan itu tenang dari balik pintu, lalu memaksa diri berbalik. Kalau ia masuk, kalau ia melihat wajah Keira yang tidak tahu apa-apa, kemarahannya mungkin akan bocor dalam bentuk yang salah.

Keira sudah terlalu lama dipaksa menanggung rasa takut orang lain. Rayhan tidak akan menambahkannya.

"Pak," suara Gio memecah hening, "arsip administrasi lama dari pihak panti sudah masuk. Bukan salinan resmi yang bersih. Ini foto buku tamu dan catatan pembayaran."

Rayhan mengangkat mata. "Tampilkan."

Gio memutar layar laptop. Di sana ada foto halaman buku besar yang menguning. Tulisannya miring, sebagian tinta sudah pudar, tetapi tanggalnya masih terbaca. Nama Fengky Yanto muncul dua kali pada bulan yang sama dengan tanggal masuk Keira ke Rumah Yanto.

Di kolom keterangan, ada kalimat pendek: konsultasi kelayakan anak.

"Konsultasi kelayakan anak?" Rayhan mengulang pelan.

Gio mengangguk. "Itu istilah yang dipakai panti untuk calon orang tua angkat yang minta rekomendasi. Tapi ada catatan tambahan dari pengurus lama. Mereka tidak mencari bayi. Mereka mencari anak perempuan usia tiga sampai empat tahun, sehat, tidak punya keluarga yang datang menengok, dan..."

Gio berhenti sebentar.

"Lanjutkan."

"Dan punya tanggal lahir yang cocok dengan perhitungan keluarga."

Rahang Rayhan mengeras.

Ia tidak langsung bicara. Jarinya hanya mengetuk pelan permukaan meja, satu kali, lalu berhenti. Di rumah ini, Keira tertidur dalam selimut putih, sementara di layar itu masa kecilnya dibuka seperti barang yang pernah dipilih di rak.

"Perhitungan siapa?"

"Nama orangnya bukan peramal terkenal. Di dokumen disebut konsultan keluarga, Hendro Sutedja. Alamatnya dulu di Glodok, sekarang sudah tutup. Rekeningnya menerima transfer dari PT Yanto Sejahtera tiga kali sebelum adopsi Keira."

Gio menggeser layar. Ada tangkapan mutasi rekening lama yang didapat dari jalur audit swasta, bukan bukti untuk pengadilan, tetapi cukup untuk menyusun arah.

Rayhan membaca nominalnya satu per satu. Tidak besar untuk ukuran keluarga Yanto, tetapi cukup teratur untuk sesuatu yang bukan kebetulan.

"Apa kata pengurus lama?"

"Dia ingat samar. Katanya Meilan Yanto datang bersama Fengky. Mereka menanyakan anak yang punya ikatan saudara kuat. Istilah persisnya..." Gio melihat catatannya. "Anak dengan nasib tangan dan kaki. Mereka percaya kalau anak itu masuk rumah, keturunan asli mereka akan terbuka jalannya."

Udara di ruang kerja terasa menipis.

Rayhan menutup mata sebentar. Ia pernah mendengar takhayul seperti itu dari cerita keluarga lama di lingkungan bisnis Tionghoa. Kebanyakan orang menertawakannya di meja makan, lalu diam-diam menyimpan kalender dan hitungan tanggal di laci. Tetapi menjadikan seorang anak yatim sebagai alat untuk membuka jalan rahim orang dewasa, itu bukan tradisi. Itu kekejaman yang diberi pakaian rapi.

"Keira tahu?"

"Belum ada tanda dia tahu. Di dokumen adopsi resmi, alasan yang ditulis sangat umum. Kemanusiaan, keinginan punya anak, keluarga stabil."

Rayhan tertawa sangat pendek, tanpa suara gembira sedikit pun. "Kemanusiaan."

Gio tidak menanggapi.

Di ponsel Rayhan, layar menyala. Pesan dari Keira masuk.

Kei: Ray, kamu sudah bangun? Genki minta pancake bentuk bintang. Katanya kalau Papa sibuk, bintangnya boleh ditaruh di kotak makan Papa.

Beberapa detik kemudian muncul foto. Genki berdiri di kursi dapur kecil dengan apron kebesaran, rambutnya mencuat ke berbagai arah. Keira memegang tepi wajan, wajahnya hanya tampak separuh, tetapi senyumnya lembut. Di piring putih, pancake pertama gosong di salah satu sisi.

Rayhan menatap foto itu lama sekali.

"Pak?" panggil Gio pelan.

"Kita istirahat sepuluh menit."

Gio memahami jeda itu bukan untuk kopi. Ia menutup laptop sementara dan membawa map keluar, memberi Rayhan ruang.

Rayhan mengetik balasan dengan ibu jari yang sempat kaku.

Rayhan: Simpan satu untuk Papa. Yang gosong juga tidak apa-apa.

Balasan Keira datang cepat.

Kei: Yang gosong punya Papa? Kejam sekali kami.

Rayhan hampir tersenyum. Hampir.

Rayhan: Kalau buatan kamu dan Genki, Papa terima.

Di dapur, beberapa lantai dari ruang kerjanya, Keira mungkin sedang tertawa kecil. Genki mungkin sedang menyebut dirinya koki paling hebat. Semua itu nyata, hangat, dekat. Tetapi di bawah kehangatan itu, ada tangan-tangan lama yang pernah menarik hidup Keira masuk ke rumah Yanto bukan karena cinta, melainkan karena mereka mengira tubuh kecilnya bisa membawa keberuntungan.

Rayhan meletakkan ponsel di atas meja dengan hati-hati.

Sepuluh menit kemudian, Gio kembali.

"Ada satu hal lagi," katanya. "Setelah Keira resmi tinggal di Rumah Yanto, Meilan hamil dalam waktu kurang dari empat bulan."

Rayhan tidak bergerak.

"Tanggal lahir Kiara?"

Gio menyebutkan tanggal itu.

Rayhan mengambil kertas kosong, menulis garis waktu dengan pena hitam. Keira masuk Rumah Yanto. Meilan hamil. Kiara lahir. Bertahun-tahun kemudian, Keira hilang dari catatan selama satu tahun. Genki muncul di Panti Asuhan Harapan Baru.

Semua garis itu belum bertemu menjadi bukti final, tetapi arahnya sudah terlalu tajam untuk disebut kebetulan.

"Cari orang yang bekerja di Rumah Yanto saat Keira pertama datang," kata Rayhan. "Sopir lama, asisten rumah tangga, satpam. Siapa pun yang pernah melihat perlakuan mereka."

"Sudah ada satu nama. Bu Sari. Dulu membantu dapur dan menjaga anak-anak. Sekarang tinggal di Tangerang. Dia bersedia bicara, tapi takut kalau namanya sampai ke Meilan."

"Pastikan dia aman."

"Baik, Pak."

Rayhan berdiri. Dari ruang kerja, ia bisa melihat sedikit arah dapur lewat koridor panjang. Suara Genki terdengar samar, memprotes sesuatu dengan nada kecil yang manja.

"Kak Kei, bintang Genki patah!"

Lalu suara Keira menjawab, hangat dan sabar, "Kalau patah, kita bilang itu bintang jatuh. Tetap bagus."

Kalimat sederhana itu menusuk dada Rayhan lebih dalam daripada berkas mana pun.

Dulu, Keira mungkin juga patah. Tetapi bukannya dipeluk dan disebut tetap bagus, ia dibesarkan sebagai benda yang harus membuat orang lain selamat.

Rayhan menoleh kepada Gio, suaranya kembali dingin.

"Aku mau tahu siapa yang pertama kali menyebut Keira sebagai syarat untuk Kiara."

Gio mengangguk. "Saya mulai dari Bu Sari."

Rayhan mengambil pancake gosong yang baru diantar staf rumah tangga ke ruang kerjanya. Bentuknya memang lebih mirip awan robek daripada bintang, tetapi di atasnya ada tusuk gigi kecil dengan kertas bertuliskan Papa.

Ia menggenggam piring itu sebentar, seolah benda rapuh itu perlu dijaga.

Di layar laptop, baris catatan lama masih terbuka.

Setelah anak perempuan itu masuk rumah, nyonya akhirnya mengandung.

Rayhan membaca kalimat itu sekali lagi, lalu menutup laptop dengan pelan.

Hari itu, nama Keira tidak lagi terlihat seperti nama anak yang diadopsi.

Di arsip keluarga Yanto, ia terlihat seperti kunci yang sengaja dicuri.

1
Diana Silaen
👍👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!