Ning terbangun di ranjang rumah sakit dengan tubuh yang bukan miliknya.
Perutnya rata. Bayinya hilang. Dan tahun di kalender menunjukkan angka yang mustahil — enam belas tahun telah berlalu sejak malam kecelakaan yang merenggut nyawanya.
Tapi anaknya masih hidup.
Kian Nie, 16 tahun. Pewaris tunggal Semesta Group. Remaja berambut perak dengan tatapan sedingin es — yang langsung mengusirnya begitu mendengar namanya.
Karena nama Ning... adalah nama mendiang ibunya.
Ning tahu ia tidak bisa mengaku. Tidak kepada Kian yang masih memendam luka ditinggal ibunya. Tidak kepada Kevin Nie — suami lamanya yang kini menjadi CEO paling berkuasa di Jakarta, yang masih memakai cincin pernikahan mereka setelah enam belas tahun, yang masih menonton video terakhirnya setiap malam sebelum tidur.
Yang tidak Ning tahu: Kevin sudah mengenalinya. Matanya, caranya tertawa, kebiasaannya yang tak mungkin dipelajari orang lain.
Dan ia akan melakukan apapun untuk tidak kehilangan Ning — untuk kedua kalinya.
Pernikahan kilat. Identitas yang tersembunyi. Seorang anak yang diam-diam memanggil "Mama" saat mengira ia tidur. Dan satu keluarga yang bersekongkol menjaga rahasia terbesar mereka — bahwa ibu tiri baru Kian... bukan ibu tiri biasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 2
Bab 2: Dia Punya Seorang Anak
Kevin Nie.
Nama itu menempel di mata Ning begitu lama sampai huruf-huruf di potongan berita lama itu mulai kabur.
Enam belas tahun sudah lewat, tetapi nama itu masih sanggup membuat dadanya sakit seperti luka baru. Dulu, Kevin masih seorang pria muda yang tidak pandai bicara. Ia jarang tersenyum, lebih sering menatapnya diam-diam, lalu melakukan semua hal yang ia butuhkan sebelum ia sempat meminta.
Sekarang pria itu menjadi CEO Semesta Group.
Foto di berita itu buram. Wajahnya tidak terlalu jelas, hanya garis rahang dan postur tegak yang membuat Ning yakin. Itu Kevin. Lebih matang, lebih jauh, seperti seseorang yang sudah berjalan sendirian melewati tahun-tahun yang tidak pernah Ning lihat.
"Mbak, mau keluar?" suara satpam rumah sakit membuatnya tersadar.
Ning menoleh. Pria berseragam itu berdiri beberapa langkah darinya, tampak heran melihat seorang pasien pucat berdiri lama di depan papan pengumuman.
"Iya," jawab Ning pelan.
Ia memaksa kakinya bergerak.
Di luar rumah sakit, panas Jakarta menyambut seperti dinding. Sore hampir turun, tetapi udara masih lembap. Klakson angkot, suara motor, dan teriakan pedagang di pinggir jalan bercampur menjadi satu. Ning berdiri di trotoar dengan kantong obat di tangan, KTP di saku, dan ponsel retak yang baterainya hampir mati.
Dunia ini bergerak terlalu cepat.
Mobil-mobil melintas. Orang-orang menunduk pada ponsel masing-masing. Tidak ada yang tahu bahwa seorang perempuan yang seharusnya mati enam belas tahun lalu sedang berdiri di antara mereka, mencari sisa hidupnya di kota yang sama sekali asing.
Ning membuka aplikasi peta dengan susah payah. Ingatan tubuh ini memberinya satu alamat kontrakan di Tangerang. Jauh. Ongkos ojol akan membuat sisa uangnya menipis, tetapi ia tidak sanggup naik angkutan umum dengan tubuh selemah ini.
Ia memesan ojol termurah.
Selama perjalanan, Ning memeluk kantong obat di pangkuan. Jaket pengemudi berbau matahari dan asap jalan. Angin sore menampar wajahnya setiap kali motor menyelip di antara mobil. Ia melewati halte, flyover, deretan ruko, lalu jalan-jalan yang semakin sempit menuju Tangerang.
Kontrakan itu lebih buruk daripada potongan ingatan yang muncul di kepalanya.
Bangunannya menempel satu sama lain di dalam gang sempit yang hanya cukup dilewati satu motor. Kabel listrik bergelantungan seperti akar hitam. Air bekas cucian mengalir di selokan kecil. Dari salah satu pintu terbuka, terdengar suara televisi terlalu keras. Bau minyak goreng bekas dan sabun murah memenuhi udara.
Kamar Ning ada di lantai dua.
Tangga semennya curam. Setiap anak tangga membuat pandangannya berkunang-kunang. Ketika akhirnya ia sampai di depan pintu tripleks bercat biru kusam, tangannya gemetar saat mencari kunci.
Di dalam, kipas angin tua berputar pelan dengan bunyi berdecit. Ruangan itu mungkin hanya enam meter persegi. Kasur lipat menempel ke dinding. Di sudut ada ember, gantungan baju, dan satu meja plastik kecil yang penuh gulungan benang, gunting kain, serta nota pekerjaan.
Tidak ada foto keluarga.
Tidak ada benda yang menunjukkan seseorang pernah pulang dengan bahagia ke tempat ini.
Ning duduk di tepi kasur. Tubuhnya seperti habis diperas. Ia ingin menangis lagi, tetapi air matanya sudah terasa kering.
Ponsel di tangannya menyala sebentar. Baterai lima persen.
Ia cepat memasang charger yang kabelnya sudah terkelupas di beberapa bagian. Layar ponsel berkedip, lalu hidup. Begitu sinyal muncul, deretan pesan masuk memenuhi layar.
Hartono: Kirim uang sekarang.
Hartono: Jangan pura-pura mati.
Yuan: Kak, pulsa gue habis. Transfer.
Ning menatap pesan-pesan itu tanpa ekspresi. Dadanya tidak lagi hanya sakit karena Kevin dan anaknya. Ada kemarahan asing yang tumbuh dari ingatan tubuh ini, pelan tapi panas.
Gadis ini bahkan tidak diberi ruang untuk sakit.
Sebelum ia sempat membuka mesin pencari, ponselnya bergetar.
Nama kontak di layar: Mbak Rina Les Privat.
Ning menatapnya beberapa detik, lalu mengangkat.
"Halo?"
"Ning, ya ampun, kamu dari mana saja? Tadi aku telepon berkali-kali." Suara perempuan di seberang terdengar cepat dan sibuk. "Kamu masih cari kerja tambahan, kan?"
Ning menegakkan punggung. "Iya, Mbak."
"Ada kesempatan bagus banget. Ini bukan murid biasa. Keluarga elite, rumahnya di Menteng Enclave. Butuh tutor privat yang bisa sabar sama anak SMA."
Menteng.
Jantung Ning bergerak lebih cepat.
"Pelajarannya apa?" tanyanya, berusaha menjaga suara tetap tenang.
"Campuran. Bahasa, seni, sedikit bantu tugas sekolah. Anak ini pintar, tapi katanya susah diatur. Yang penting kamu tahan mental." Mbak Rina tertawa kecil. "Bayarannya besar. Untuk sekali datang saja bisa lebih dari gaji mingguan kamu."
Ning menelan ludah. "Nama keluarganya?"
"Nie. Kamu tahu Semesta Group, kan? Papanya Kevin Nie."
Kamar sempit itu mendadak seperti kehilangan udara.
Ning menggenggam ponsel lebih erat. "Anaknya... umur berapa?"
"Enam belas. Namanya Kian Nie. Kamu bisa datang malam ini untuk perkenalan? Mereka butuh cepat. Tutor sebelumnya kabur karena anaknya galak banget."
Ning tidak langsung menjawab.
Enam belas.
Darahnya berdesir sampai ujung jari.
Kalau anaknya selamat hari itu, usianya memang enam belas.
Nama itu.
Kian.
Ning menutup mata. Tangannya menekan perut yang kosong. Tidak ada tendangan kecil di sana, tetapi seluruh tubuhnya seperti masih mengingat berat bayi yang pernah ia bawa.
"Ning? Kamu dengar?"
"Dengar, Mbak." Suaranya hampir pecah. "Saya bisa datang."
"Serius? Jangan mundur, ya. Ini kesempatan besar. Aku kirim alamat dan nomor kontak rumahnya lewat WhatsApp. Pakai baju rapi. Jangan telat. Orang kaya paling tidak suka menunggu."
"Iya."
"Dan satu lagi, jangan terlalu banyak tanya soal keluarga mereka. Kamu tahu sendiri keluarga konglomerat sensitif."
Ning memejamkan mata. "Saya mengerti."
Telepon terputus.
Beberapa detik kemudian, pesan WhatsApp masuk. Alamat lengkap Menteng Enclave. Nomor rumah. Nama murid: Kian Nie.
Ning menatap layar itu seperti menatap pintu yang tiba-tiba terbuka di tengah kegelapan.
Tapi ia belum berani percaya.
Ia membuka browser. Jarinya gemetar saat mengetik kata kunci: Kevin Nie istri meninggal bayi selamat.
Jaringan lambat. Layar memuat satu per satu. Artikel lama muncul, beberapa dari media bisnis, beberapa dari portal berita nasional.
Kecelakaan tragis keluarga Tju, istri Kevin Nie meninggal dunia.
Bayi laki-laki diselamatkan melalui operasi darurat.
Semesta Group menolak memberi komentar.
Ning membaca baris itu berulang kali.
Bayi laki-laki diselamatkan.
Diselamatkan.
Suara yang keluar dari mulutnya bukan tangis, bukan tawa. Lebih seperti napas yang tersangkut terlalu lama akhirnya pecah.
Anaknya hidup.
Kian hidup.
Ia menutup ponsel ke dada, tubuhnya membungkuk di atas kasur kecil. Bahunya bergetar. Untuk pertama kalinya sejak bangun di rumah sakit, rasa sakit di dadanya tidak hanya berisi kehilangan. Ada cahaya kecil yang menyakitkan karena terlalu terang.
"Terima kasih," bisiknya, tidak tahu bicara kepada siapa. "Terima kasih..."
Namun kegembiraan itu segera berubah menjadi desakan yang tidak bisa ditahan.
Ia harus melihatnya.
Malam ini.
Sekarang.
Ning membuka lemari plastik. Di dalam hanya ada beberapa baju murah, sebagian kusut, sebagian berbau lembap. Ia memilih kemeja putih paling bersih dan celana bahan hitam yang sudah agak pudar. Ia menyisir rambut dengan jari, mencuci wajah, lalu menutup bekas pucat di bibir dengan lip tint sisa yang hampir habis.
Di cermin kecil yang retak, wajah asing itu masih menatapnya.
Tapi kali ini, mata itu hidup.
"Kian," ucapnya pelan, mencoba membiasakan lidahnya dengan nama yang selama ini hanya ia panggil dalam mimpi-mimpi pendek sebelum kematian. "Mama datang."
Begitu kata Mama keluar, ia langsung menutup mulut.
Tidak.
Untuk dunia ini, ia bukan Mama.
Ia hanya tutor privat baru.
Seorang perempuan asing bernama Ning Tju.
Ning memasukkan KTP, ponsel, dan sisa uang ke tas selempang murah. Ia mengunci pintu, turun dari tangga sempit, lalu memesan ojol lagi meski aplikasi memperlihatkan biaya yang membuatnya hampir ragu.
Tujuan: Menteng Enclave.
Motor bergerak meninggalkan gang.
Tangerang perlahan tertinggal di belakang. Gang sempit, warung kecil, jemuran yang melintang di atas kepala, anak-anak bermain bola plastik di jalan berlubang. Semuanya berganti menjadi jalan besar, lampu gedung, mall, mobil mengilap, lalu pohon-pohon tinggi yang berjajar rapi di kawasan Menteng.
Ning duduk diam di belakang pengemudi. Tangannya tidak berhenti menggenggam ujung tas.
Setiap kilometer terasa terlalu lambat.
Setiap lampu merah terasa seperti hukuman.
Ketika motor akhirnya berhenti di depan gerbang Menteng Enclave, malam sudah turun sepenuhnya. Pos keamanan berdiri terang dengan kaca bersih. Di balik pagar, jalanan komplek tampak lebar, tenang, dan wangi tanaman basah. Rumah-rumah besar berdiri jauh dari jalan, seolah punya udara sendiri.
Petugas keamanan menatap Ning dari atas sampai bawah. Kemeja putih murahnya, tas selempang lusuhnya, wajah pucatnya.
"Mau ke mana, Mbak?"
Ning turun dari motor. Kakinya masih lemas, tetapi kali ini ia tidak mundur.
Ia menunjukkan alamat di ponsel.
"Saya tutor privat baru untuk rumah nomor satu."
Petugas itu memeriksa daftar tamu, lalu menghubungi seseorang lewat handy talkie. Beberapa detik terasa panjang. Ning bisa mendengar jantungnya sendiri.
Akhirnya palang dibuka.
"Lurus, lalu belok kanan. Rumah pertama."
Ning mengangguk. "Terima kasih."
Motor ojol pergi setelah ia membayar. Ning berdiri sendirian di depan gerbang yang terbuka. Di ujung jalan, rumah nomor satu tampak menyala hangat, besar, dan nyaris tidak nyata.
Di dalam sana ada anaknya.
Ning menarik napas dalam, lalu melangkah menuju pintu besar Menteng Enclave nomor satu.
dan sekarang kata-kata itu dipakai si Abang kalau antar aku ketemu bestieku... buah jatoh sepohon-pohonnya