"Dia seorang pria tua, Elena. Tapi dia sangat kaya dan royal. Tugasmu hanya melayaninya satu malam dengan mata tertutup."
Setelah kabur dari rumah tanpa uang dan tanpa tujuan, Elena menerima tawaran yang seharusnya tidak pernah ia ambil. Satu malam dan bayaran yang cukup untuk menyelamatkan hidupnya.
Namun malam itu meninggalkan sesuatu yang tidak pernah Elena duga.
Elena Hamil.
Demi melindungi bayinya, Elena melarikan diri ke Indonesia.
Tujuh tahun kemudian, takdir membawanya bekerja di sebuah perkebunan teh yang ternyata adalah milik Leonard—miliarder misterius yang selalu bersembunyi di balik topeng dan penampilan seorang pria tua yang rapuh.
Sementara itu, Leonard masih terus mencari keberadaan Elena, satu-satunya wanita yang sentuhannya tidak memicu penyakit alergi langka yang selama ini membuatnya menjauhi semua orang.
Saat kebenaran mulai terkuak, mampukah Elena menjaga rahasianya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 2
Keesokan harinya...
"Astaga, kenapa rasanya seperti habis ikut lomba angkat karung beras sekampung, sih?" tangannya refleks memegangi pinggang.
Elena meringis kesakitan sambil duduk perlahan di atas ranjang super empuk itu.
"Oh, pinggangku! Ini pasti gejala penuaan dini atau efek samping menghadapi aki-aki tenaga kuda semalam."
Setelah berhasil membuka mata sepenuhnya, Elena menoleh ke samping. Pria tua itu masih tertidur tenang dengan selimut menutupi sebagian tubuhnya, sementara wajahnya tetap tersembunyi.
Elena menyipitkan mata, menatap curiga. Ia memperhatikan sosok itu beberapa detik. Semakin diperhatikan, semakin banyak hal yang terasa janggal.
"Tangannya tidak keriput, bahunya juga lebar banget untuk ukuran lansia," gumamnya heran. "Lengan sebesar itu dia dapat dari mana? Apa saking kayanya dia sanggup beli suplemen pembesar otot khusus lansia?"
Semakin dipikirkan, semuanya semakin tidak masuk akal.
"Tidak, tidak! Uangnya terlalu banyak untuk dipikirkan. Otak miskin sepertiku dilarang kritis kalau urusan duit."
Prioritas utama Elena sekarang adalah keluar dari sana secepat mungkin. Ia buru-buru turun dari ranjang dan mulai mengumpulkan pakaiannya yang berserakan di lantai.
"Aku harus segera pergi sebelum dia bangun dan minta ronde kedua. Bisa encok permanen aku!"
Elena berjalan tertatih menuju pintu dan akhirnya berhasil keluar dari kamar hotel mewah tersebut.
"Selamat, Elena Anastasia. Kamu resmi selamat dari malam paling aneh sekaligus paling menegangkan dalam sejarah hidupmu!"
Ting!
Ponsel di kantongnya berbunyi nyaring. Sebuah pesan masuk dari Bella.
[Elena! Cepat cek rekeningmu sekarang juga! Sekarang!]
Elena mengernyitkan dahi. "Kenapa, sih? Pagi-pagi sudah heboh," gerutunya sembari membuka aplikasi mobile banking.
Beberapa detik kemudian saat angka di layar muncul—
"Hah?!" Matanya membulat sempurna, hampir keluar dari tempatnya.
Seorang tamu hotel berjas rapi yang kebetulan lewat di koridor sampai menoleh heran melihat ekspresi syoknya. Elena buru-buru membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangan.
Angka di layar ponselnya masih tetap sama. Tidak berubah, tidak berkurang, dan nolnya berderet sangat panjang.
"Ini serius? Aku tidak sedang bermimpi akibat kurang tidur, kan?" Ia mengucek matanya berkali-kali, lalu melotot lagi ke arah layar.
"Ini beneran saldo uang atau nomor telepon layanan masyarakat, sih? Banyak banget!"
Jumlah itu bahkan jauh lebih besar daripada seluruh uang saku yang pernah ia kumpulkan selama hidup mewah bersama ayahnya. Ponselnya kembali bergetar di genggaman.
[Sudah lihat belum, Ele?! Jawab!] tanya Bella di pesan baru.
Elena dengan cengiran konyol langsung mengetik balasan dengan kilat. [Bel, mulai hari ini ubah nama kontakku di ponselmu. Panggil aku Nyonya Sultan!]
Balasan Bella datang dalam hitungan detik.
[Jangan halu! Cepat pulang!]
Sementara di dalam kamar, Leonard berdiri tegak di dekat jendela besar sambil memandangi pintu kamar yang baru saja tertutup. Setelah bertahun-tahun lamanya, kulitnya sama sekali tidak bereaksi negatif terhadap sentuhan seorang wanita.
Dan fakta itu membuat isi kepala Leonard jauh lebih kacau dan berantakan daripada Elena.
"Siapa sebenarnya gadis semalam?"
Leonard menyambar ponselnya yang tergeletak di atas meja nakas. Lalu menekan satu nomor cepat. Tidak sampai dua kali dering, panggilan langsung terhubung.
"Selamat pagi, Sir," sapa suara di seberang sana.
"Jojo," panggil Leonard tanpa basa-basi.
Joni yang berada di apartemennya langsung mengernyit, menahan kantuk.
"Maaf, Sir. Nama saya Joni. Bukan Jojo."
"Apa bedanya? Sama-sama berawalan Jo!" potong Leonard mutlak. "Sekarang, periksa seluruh rekaman cctv hotel tempatku menginap tadi malam."
Joni yang masih setengah mengantuk langsung tersedak kopi hitam yang baru saja ia sesap.
"Hah? Rekaman cctv Sir? Ada masalah apa?"
"Cari identitas wanita yang bersamaku semalam di kamar," perintah Leonard dingin.
"Baik, Sir. Segera saya urus."
"Lakukan sekarang juga. Jangan menunda. Kalau sampai dalam waktu dua puluh empat jam kamu tidak berhasil menemukan data dirinya—"
"Baik, Sir! Saya mengerti, Sir! Dua puluh empat jam!" potong Joni cepat-cepat karena nyawanya terasa terancam.
Sambungan langsung diputus sepihak oleh Leonard.
Leonard berjalan santai menuju kamar mandi. Ia berdiri di depan cermin besar. Perlahan, tangannya terangkat ke wajah. Kemudian, ia mengelupas topeng silikon tipis yang semalam membuatnya tampak seperti pria tua berusia enam puluh tahun.
Lapisan kulit buatan itu terangkat sedikit demi sedikit, dan pantulan seorang pria muda dengan wajah luar biasa tampan, rahang tegas, serta pahatan visual yang sempurna segera muncul di depan cermin.
Leonard menyisir rambut hitam pekatnya ke belakang menggunakan jari-jari tangan. Sebuah senyum tipis yang misterius terbentuk di sudut bibirnya.
"Akhirnya, aku berhasil menemukan penawarku"
Sudah bertahun-tahun ia menderita kondisi psikologis yang aneh. Setiap kali bersentuhan dengan wanita, tubuhnya langsung menolak.
Dokter-dokter terbaik di dunia pun angkat tangan gagal menjelaskan penyebabnya.
"Gadis itu, dia satu-satunya wanita di dunia ini yang bisa ku sentuh selain mama. Aku harus menemukannya kembali, apa pun caranya," seringai tipis terukir dari sudut bibirnya.
*
*
"Bella! Aku pulang! lihatlah sahabatmu yang kaya raya ini!"
Elena membuka pintu rumah kos mereka dengan tendangan pelan dan wajah super cerah. Ia masih tersenyum lebar sejak melihat isi rekeningnya pagi tadi.
Namun, senyum lebar itu langsung lenyap dalam sekejap mata.
Elena melongo menatap isi dalam kosan mereka. Sebuah kursi kayu tergeletak mengenaskan di lantai. Laci-laci lemari terbuka paksa. Pakaian-pakaian mereka berserakan ke mana-mana seperti habis diterjang angin puting beliung.
"Apa kita baru saja kerampokan? Tapi apa yang mau dirampok dari kosan semiskin ini?" jantungnya langsung berdegup kencang, disergap rasa takut yang luar biasa.
"Bella! Jangan main-main ya! ini tidak lucu!"
Tiba-tiba, terdengar suara bisikan super pelan dari arah sudut ruangan.
"Ele... jangan berteriak..."
Elena menoleh cepat ke sumber suara. "Bella? Kamu dimana?!"
"Di sini, di dalam lemari pakaian!"
Elena berjalan mendekat dengan hati-hati. Saat ia membuka pintu lemari pakaian yang agak reot itu, wajah Bella langsung muncul dengan raut pucat pasi seperti habis melihat hantu.
"Ya Tuhan, Bella! Kenapa kamu bersembunyi di dalam sana?!" pekik Elena kaget.
Bella buru-buru melompat keluar, membekap mulut Elena dengan telapak tangannya, lalu menariknya masuk ke dalam kamar mandi dan mengunci pintunya.
"Kecilkan suaramu, Elena Anastasia! Kita dalam masalah besar sekarang!"
Elena melepaskan bekapan tangan Bella dengan kesal. "Masalah apa, sih? Cepat jelaskan kenapa kosan kita hancur seperti kapal pecah begini?!"
Bella menelan ludahnya dengan susah payah, matanya bergerak panik ke kanan dan kiri.
"Pria tua... kakek-kakek kaya raya yang semalam bersamamu di hotel..."
"Iya, kenapa dengan kakek itu? Uangnya sudah masuk kok ke rekeningku," sahut Elena bingung.
Bella mencengkeram kedua bahu Elena dengan sangat erat, tangannya gemetar. "Dia bukan pria tua biasa, Ele! Tadi ada beberapa pria berbadan kekar, berjas hitam, dan berwajah sangar datang mendobrak pintu kosan kita!"
"Apa? Pria berjas? Mereka mencari siapa?"
"Mereka mencari mu! Mereka memegang tablet yang menunjukkan rekaman cctv hotel saat kamu keluar pagi tadi!" seru Bella panik.
"Astaga, kenapa kakek itu mencari ku lagi?" Elena mulai ikutan panik dan gemetaran.
"Aku tidak tahu! Tapi orang-orang seperti itu biasanya bekerja untuk mafia atau orang yang sangat berkuasa di kota ini!" Bella bergerak cepat menarik sebuah koper besar dari bawah tempat tidur darurat mereka. "Kita harus pergi sekarang juga!"
"Bella, tunggu dulu! Kita mau kemana?"
"Tidak ada waktu untuk bertanya, Ele! Cepat masukkan baju-bajumu! Malam ini juga, kita harus pergi sejauh mungkin dari negara ini!" perintah Bella tegas sembari melempar beberapa potong pakaian ke arah wajah Elena.
"Maksudmu?!"
"Indonesia!" jawab Bella mantap sembari menarik resleting kopernya dengan paksa.
tetang bagaimana jadinya ada anak kecil yng mirip
Elena pasti panik melihat Naomi , berasa jadi wanita simpanan
🤣🤣
Leon siap siap jadi asisten opa dan oma mu🤣
meskipun namanya Leon tetap saja akan kupanggil singa yang alergi sentuhan🤣
hahaha Joni sampai menangis itu lho Leon 😂
habislah Leon setelah ini di tangan opa Xander 🤣
berani banget menghamili gadis sampai ada nya seorang anak yang menyebalkan