Lim Keira pikir dia cuma iseng.
Malam itu di Singapura, di sebuah klub eksklusif yang hanya bisa dimasuki dengan undangan, Keira mengangkat papan tanda dan "membeli" seorang pria tampan yang berdiri di atas panggung. Tinggi 193 cm, rahang tajam, mata sedingin es — dan aroma kayu cendana yang membuatnya tidak bisa berpikir jernih.
Tiga puluh ribu dolar untuk satu malam.
Keira yakin dia yang berkuasa. Dia yang punya uang. Dia yang menentukan aturan main.
Yang tidak dia tahu: pria yang dia "beli" itu bukan model.
Tan Rayhan. Sang Malaikat Maut. Penguasa dunia bawah tanah yang mengendalikan kasino, senjata, dan ribuan perusahaan di seluruh Asia Tenggara. Pria yang belum pernah disentuh wanita mana pun dalam 25 tahun hidupnya.
Dan Keira baru saja membuatnya... jatuh.
Tapi kehidupan Keira bukan dongeng. Ibu kandungnya sudah meninggal. Ibu tirinya, Yuliana, diam-diam menghancurkan segalanya dari dalam. Adik tirinya, Vanessa, berpura-pura menjadi pewaris sah keluarga Lim dan mencuri apa yang seharusnya milik Keira. Ayahnya? Lebih memilih bisnis daripada putrinya sendiri.
Satu-satunya senjata yang Keira punya: kemampuan yang tidak dimiliki siapa pun di dunia ini — dia bisa melihat setiap kartu di meja judi. Setiap batu permata palsu. Setiap kebohongan yang tersembunyi di balik senyuman.
Dan sekarang, dua dunia bertabrakan.
Dunia gelap Rayhan — di mana taruhan senilai ratusan miliar dilempar seperti uang recehan, di mana satu kesalahan bisa berarti peluru di dada.
Dan dunia Keira — di mana keluarga besar yang seharusnya melindunginya justru menjadi musuh terbesarnya.
Di antara meja judi bernilai triliunan dan pertempuran keluarga konglomerat, satu pertanyaan tetap menggantung:
*Apakah cinta bisa bertahan di dunia yang dibangun di atas kebohongan?*
*Atau justru kebohongan terbesar adalah... bahwa dia tidak pantas dicintai?*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anindita Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30
"Bagaimana kalau kita cari tempat yang lebih tenang?" Senyumnya melebar sedikit. "Saya ingin menawarkan sebuah bisnis."
Keira tidak bergerak.
Darren berdiri setengah langkah di depannya. Dua penjaga Tan Corporation langsung membentuk garis, tetapi dari mobil hitam itu, dua pria asing turun lebih dulu. Tubuh mereka besar, wajah kaku, jas gelap tanpa satu pun kerutan. Mereka tidak mengeluarkan senjata. Mereka tidak perlu.
Cukup dengan berdiri, area parkir belakang berubah menjadi ruang tawar-menawar.
"Anda berada di area privat Tan Corporation," kata Darren dingin.
Pria bermata biru itu akhirnya melirik Darren.
"Saya tahu."
"Kalau begitu Anda tahu harus pergi."
"Saya datang untuk Nona Keira, bukan untuk Anda."
Darren tersenyum tipis, tetapi matanya tidak ikut tersenyum. "Semua orang yang datang untuk Nyonya harus melewati saya."
Senyum pria itu bertahan. "Menarik. Saya baru tahu keluarga Tan suka meminjamkan penjaga kepada keluarga Lim."
Keira menangkap kata itu.
Meminjamkan.
Ia menatap pria di dalam mobil lebih tajam. "Anda tahu banyak untuk orang yang baru memperkenalkan diri."
"Saya belum memperkenalkan diri."
"Kalau begitu mulai dari sana."
Pria itu membuka pintu mobil lebih lebar, lalu turun.
Ia tinggi, tetapi tidak setinggi Rayhan. Tubuhnya ramping, bergerak dengan santai seperti seseorang yang tidak pernah perlu terburu-buru. Mata birunya terlalu terang di bawah cahaya parkir. Di pergelangan tangan kanannya, tato rubah ekor sembilan tampak jelas ketika ia merapikan manset.
Aroma Creed Aventus datang bersamanya.
Keira merasa perutnya mengeras.
Kartu. Foto taman. Bunga mawar merah muda.
Semua mengarah ke pria ini.
"Rafael Moreira," katanya. "Anda boleh memanggil saya Rafael."
Nama Moreira membuat Darren berubah sangat sedikit. Hampir tidak terlihat. Namun Keira sudah belajar membaca reaksi orang yang terlalu terlatih. Darren mengenal nama itu.
Dan jika Darren mengenal nama itu lalu memilih tidak langsung memanggil semua penjaga, berarti nama itu bukan ancaman biasa. Itu jenis nama yang kalau disentuh sembarangan bisa meledakkan banyak pintu sekaligus.
"Moreira?" Keira mengulang.
"Keluarga kecil yang suka bisnis lintas negara."
"Bisnis atau kriminal?"
Rafael tertawa pelan. "Tergantung siapa yang menulis laporan."
Darren langsung mengangkat tangan ke penjaga. "Nyonya, masuk ke mobil Anda."
"Jangan terlalu kaku, Ko Darren." Rafael mengucapkan sebutan itu dengan ringan, seolah mereka teman lama. "Kalau saya ingin menyentuhnya di sini, saya tidak akan mengirim foto lebih dulu semalam."
Jantung Keira menghantam lagi.
Darren menoleh cepat kepadanya.
Keira tidak menjawab, tetapi wajahnya cukup memberi tahu.
Rafael melihat pertukaran itu dan tersenyum lebih puas. "Ah, ternyata foto itu belum sampai ke pria di Singapore."
Keira menatapnya. "Jangan sebut dia."
"Calon suami Anda?" Rafael memiringkan kepala. "Saya menonton konferensi pers tadi. Manis sekali. Seseorang membayar Rp400 miliar untuk Anda, tapi Anda masih berdiri di sini tanpa dia."
Darren bergerak maju.
Salah satu pengawal asing Rafael juga maju.
Udara menegang.
Keira mengangkat tangan. "Cukup."
Darren menahan langkah, tetapi tidak mundur.
Keira menatap Rafael. "Anda ingin bisnis? Katakan di sini."
"Tidak nyaman."
"Saya tidak peduli."
"Saya peduli. Saya pria yang punya selera."
"Pria yang memotret rumah perempuan diam-diam tidak punya hak bicara soal selera."
Untuk pertama kalinya, senyum Rafael berubah menjadi sesuatu yang lebih tajam. Bukan marah. Lebih seperti tertarik.
"Saya mulai paham kenapa Felix membiarkan Anda keluar hidup-hidup."
Nama Felix membuat darah Keira seperti berhenti.
Darren menatapnya lagi.
Keira menjaga wajahnya datar. "Saya tidak kenal banyak Felix."
"Kasino bawah tanah di Singapore. Tujuh juta USD dalam satu malam. Empat kotak sandi. Sepuluh putaran tanpa satu pun kesalahan besar." Rafael berjalan pelan mendekat, tetapi berhenti sebelum batas yang dibuat penjaga. "Anda pikir dunia kecil itu tidak punya mata?"
Keira akhirnya mengerti.
Rafael tidak hanya mengirim bunga.
Ia sudah mengikuti jejaknya sejak Singapore.
"Apa yang Anda inginkan?"
"Akhirnya pertanyaan yang benar."
Rafael mengeluarkan kartu hitam dari saku jas. Bukan kartu nama biasa. Permukaannya matte, hanya ada inisial R.M. dan simbol rubah kecil di sudut.
"Saya butuh seseorang menang satu meja untuk saya."
"Cari penjudi."
"Saya sudah menemukan yang terbaik."
"Saya tidak bekerja untuk orang asing."
"Saya membayar dengan baik."
"Saya tidak kekurangan uang."
Rafael melirik Graff Pink Diamond di jari Keira. "Saya lihat."
Keira mengepalkan tangan.
"Rp10 miliar sebagai tanda jadi," kata Rafael. "Rp10 miliar lagi setelah Anda menang."
Darren mengerutkan kening. "Nyonya tidak membutuhkan uang Anda."
"Saya tidak bertanya pada Anda."
"Dan saya tidak akan membiarkan Anda membawa beliau."
Rafael menghela napas, seolah kecewa karena percakapan indahnya diganggu. "Ko Darren, Anda tahu nama Moreira. Jadi Anda juga tahu saya tidak datang ke sini hanya dengan dua pengawal."
Di ujung parkir, mesin mobil lain terdengar.
Satu.
Dua.
Tiga.
Mobil-mobil hitam berhenti di luar batas area, cukup jauh untuk tidak memancing alarm gedung, cukup dekat untuk membuat setiap penjaga Tan Corporation menyadari mereka sedang dihitung.
Keira merasakan udara di paru-parunya menipis.
Rafael tidak sedang bernegosiasi.
Ia sedang menunjukkan bahwa ia bisa masuk, keluar, dan menunggu kapan saja.
"Lawan Anda siapa?" tanya Keira.
Mata Rafael berkilat.
"Seorang pria yang mengatur sebagian besar arus bawah tanah Asia Tenggara. Kasino, jalur logistik gelap, perlindungan, dan transaksi yang bahkan tidak berani disebut orang di ruang seperti ini."
Keira merasa dingin menjalar di punggung.
"Kalau dia sebesar itu, kenapa Anda butuh saya?"
"Karena dia tidak mudah dikalahkan dengan pistol." Rafael tersenyum. "Dan saya dengar Anda bisa menang tanpa membuat orang tahu bagaimana caranya."
Keira menatap Darren.
Darren tampak ingin mengatakan sesuatu, tetapi ia juga sedang menimbang risiko. Jika Rafael benar-benar Moreira, maka menyelesaikan masalah di parkiran publik bisa memicu perang yang lebih besar. Dan Rayhan tidak ada di Jakarta.
"Saya menolak," kata Keira.
Rafael mengangguk pelan, seolah sudah menunggu.
"Tentu. Perempuan seperti Anda harus menolak sekali agar tetap terlihat punya prinsip."
"Saya menolak bukan untuk terlihat apa pun."
"Baik." Rafael memasukkan kartu itu kembali. "Kalau begitu, kita bicara cara lain."
Ia mengeluarkan ponsel, menekan layar, lalu memperlihatkan foto.
Sari sedang keluar dari gerbang vila PIK membawa kantong belanja.
Foto berikutnya.
Sopir Keira menunggu di mobil.
Foto berikutnya.
Tangga belakang rumah Lim.
Foto terakhir membuat darah Keira membeku.
Titik lokasi Rayhan di Singapore, ditangkap dari jarak jauh pada peta, bukan dari ponsel Keira, melainkan dari layar lain yang ia tidak kenal.
"Anda punya banyak orang di sekitar," kata Rafael lembut. "Helper, sopir, keluarga yang rapuh, pria yang sedang sibuk menyelamatkan saudaranya. Saya tidak perlu menyentuh Anda untuk membuat Anda mengerti."
Keira ingin merampas ponsel itu.
Darren melihat foto lokasi Rayhan dan wajahnya menggelap total.
"Anda melampaui batas," katanya.
"Batas dibuat oleh orang yang punya kuasa menjaga garisnya." Rafael kembali menatap Keira. "Saat ini, Nona Keira, Rayhan Anda sedang jauh."
Keira hampir bereaksi pada nama itu, tetapi menahannya pada detik terakhir.
Rafael menangkap sedikit perubahan di matanya.
"Rayhan," ulangnya pelan. "Nama yang bagus."
"Jangan sebut namanya."
"Kalau begitu bantu saya, dan saya tidak perlu mencari tahu lebih banyak tentang dia."
Kebencian naik ke tenggorokan Keira.
Namun bersama kebencian itu, pikirannya menjadi jernih.
Rafael belum tahu siapa Rayhan.
Ia hanya tahu Rayhan penting baginya. Jika Keira salah bergerak, ia akan menggali lebih dalam. Dan Moreira sudah terkait dengan serangan yang membuat Ko Devin hampir mati.
Ia tidak boleh membawa Rafael langsung ke Rayhan.
Belum.
"Di mana meja judi itu?"
Rafael tersenyum.
Kali ini puas.
"Singapore."
Darren langsung berkata, "Nyonya."
Keira tidak memandangnya. "Kapan?"
"Besok."
"Terlalu cepat."
"Orang yang akan kita hadapi tidak menunggu kesiapan orang lain."
"Saya punya syarat."
"Silakan."
"Saya pergi sekali. Saya menang satu meja. Setelah itu Anda berhenti mengganggu rumah saya, orang saya, dan siapa pun di sekitar saya."
Rafael menatapnya lama.
"Pertama dan terakhir?"
"Pertama dan terakhir."
"Saya suka perempuan yang membuat aturan meski sedang terpojok."
"Saya suka pria yang tahu kapan harus pergi."
Rafael tertawa.
Ia melemparkan kartu hitam itu. Keira menangkapnya dengan dua jari.
"Besok pagi, orang saya menjemput Anda. Jangan beri tahu calon suami Anda."
Keira menatap kartu di tangannya. "Kalau saya beri tahu?"
Rafael tersenyum tanpa kehangatan.
"Maka sebelum pesawat Anda mendarat, seseorang yang Anda kenal akan terluka lebih dulu."
Angin dari area parkir bergerak dingin melewati leher Keira.
Rafael kembali masuk ke mobil. Sebelum jendela tertutup, ia berkata pelan, "Sampai besok, Nona Keira."
Mobil hitam itu bergerak pergi, diikuti satu per satu mobil lain dari kejauhan.
Darren langsung menoleh. "Nyonya, saya harus melapor kepada Bos."
Keira menatap kartu R.M. di tangannya.
"Jangan sekarang."
"Nyonya."
"Kalau dia tahu sekarang, dia akan pulang. Kalau dia pulang, Ko Devin dan semua urusannya di Singapore terbuka. Rafael justru menunggu itu."
Darren terdiam.
Keira memasukkan kartu itu ke tas.
Jarinya dingin.
"Antar saya pulang, Ko Darren. Kita pikirkan cara agar aku pergi tanpa membuat Rayhan meninggalkan pekerjaannya."
Darren menatapnya dengan wajah berat.
"Anda yakin?"
Keira melihat ke jalan tempat mobil Rafael menghilang.
"Tidak. Tapi aku tidak punya pilihan yang bersih."