Selama tiga tahun menjadi istri Arga Pratama, Rania selalu merasa tertekan karena dianggap gagal memberikan keturunan.
Arga mencintainya, tapi tak sanggup menahan tekanan ibunya yang mengancam akan mengakhiri hidup jika Arga tidak mau menikah lagi dan bercerai dengan Rania.
Akhirnya, Rania meninggalkan rumah tangganya dengan hati yang hancur.
Di sisi lain, Alvino Pratama, saudara sepupu Arga yang jauh lebih kaya dan berkuasa, ternyata sudah lama menyimpan perasaan pada Rania.
Rania pun menerima lamaran dari Alvino karena orang tua Alvino mengatakan Alvino juga tidak bisa memiliki keturunan. Rania berharap setidaknya ia bisa mendapatkan ketenangan karena tak lagi dikejar masalah anak.
Namun baru tiga bulan menikah, Rania dinyatakan hamil. Rania bahagia, tapi juga cemas. Bagaimana kalau kehamilannya dicurigai? Karena itu Rania menyembunyikan kehamilannya. Namun, tanpa sengaja Alvino mengetahui kehamilan Rania.
Lalu, apakah Alvino bisa menerima kehamilan Rania?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24
.
Angelina menggigit bibir bawahnya sampai nyaris berdarah. Rasa iri dengki dan benci semakin dalam membakar dadanya. Selama ini ia selalu membayangkan Rania hidup menderita setelah diceraikan. Bahkan pernah membayangkan Rania akan datang memohon pada Arga lali dengan pongah dia akan mengusirnya.
Namun, kenyataannya justru sebaliknya. Rania malah akan menjadi nyonya keluarga Mahendra. Sedangkan dirinya... Setiap hari harus menghadapi Bu Ratih yang selalu ikut campur dalam urusan rumah tangganya dengan Arga. Termasuk yang baru saja terjadi, lagi-lagi ia terpaksa mengikuti ibu mertuanya untuk periksa kehamilan di dokter kandungan. Lalu ketika hasilnya masih negatif, ibu mertuanya itu merewes sepanjang jalan kenangan.
“Ini benar-benar tdak adil...” bisiknya pelan, matanya menatap ke arah lantai di mana puing-puing cangkir porselen berserakan.
Bu Ratih mendengus kasar. Suaranya terdengar seperti badai yang akan datang.
“Pasti perempuan itu sengaja merayu Alvino! Kalau tidak, mana mungkin keluarga sebesar Mahendra mau menerima janda mandul.”
Angelina ikut mengeraskan rahangnya. Telapak tangannya sedikit terluka karena dia mengepalkan tangan erat hingga ujung kukunya menancap. “Benar, Bu. Saya juga merasa dia menggunakan cara kotor, atau berpura-pura menyedihkan. Orang yang terlalu baik hati seperti keluarga Mahendra, sangat mudah merasa kasihan hingga gampang tertipu.”
Sementara itu...
Sejak tadi Arga yang baru saja pulang hanya berdiri membeku di ambang pintu. Jasnya yang semula tergantung di lengannya tanpa sadar terjatuh ke lantai. Semua pembicaraan itu masuk jelas ke telinganya, seperti hujan deras yang menusuk langsung menembus kulitnya.
"...Rania akan menikah dengan Alvino..."
Kalimat itu terus bergema di dalam kepalanya. Dadanya terasa sesak. Seolah ada tangan tak terlihat yang meremas jantungnya dengan kuat. Wanita yang masih ia cinta, wanita yang terpaksa ia lepaskan karena ancaman ibunya, kini akan menjadi milik pria lain. Dan yang paling menyakitkan… pria itu adalah Alvino Mahendra. Saudara sepupunya sendiri.
Arga memejamkan kedua matanya rapat-rapat. Bayangan Rania kembali memenuhi pikirannya. Senyumnya ketika sedang membuat masakan untuknya, kesabarannya saat ia marah karena pekerjaan. Tatapan matanya saat menerima talak darinya. Semuanya kembali berputar seperti mimpi buruk yang tak pernah selesai.
Kalau saja waktu bisa diputar ulang… kalau saja ia memiliki keberanian untuk membantah ibunya… mungkin saat ini ia masih bahagia bersama Rania.
“Arga…!”
Suara Bu Ratih membuyarkan lamunannya. Ibu nya berdiri tepat di depan wajahnya, matanya menyala marah.
“Kamu dengar, kan? Itulah wanita yang selama ini kau bela. Baru beberapa bulan cerai sudah kegatalan!”
Arga tidak menjawab. Sorot matanya kosong. Badannya seperti batu yang tak bisa bergerak.
“Mulai sekarang jangan memikirkan perempuan itu lagi. Fokus pada istrimu yang sekarang, supaya kalian lekas punya anak!”
“Jangan mulai itu lagi, Ma,” sahut Arga datar. “Aku bosan. Lama-lama aku juga bisa muak!"
Mata Bu Ratih terbelalak lebar mendengar suara Arga yang begitu dingin.
“Apa maksudmu bicara seperti itu haa? Kamu mulai berani bersikap durhaka pada Mama?"
Arga menundukkan kepala. Air matanya hampir jatuh. Ia cepat menyekanya dengan telapak tangan. “Aku lelah.”
Bu Ratih menggeram marah karena Arga berlalu begitu saja saat ia belum selesai bicara.
Angelina yang melihat semua itu mengepalkan tangan. Sejak awal ia tahu Arga belum sepenuhnya melupakan Rania, tapi melihat sikap Arga yang semakin hari semakin dingin membuat hatinya terbakar.
Malam harinya...
Arga masih betah berada di ruang kerjanya meski hari telah larut. Pria itu duduk di kursi sambil memandangi foto lamanya bersama Rania yang diam-diam masih ia simpan di dalam laci.
Dengan tangan gemetar, ia mengambil ponselnya. Layar sentuh nya terpantul wajahnya yang pucat. Nama Rania masih tersimpan di daftar kontak dengan nama “Sayangku” yang tidak pernah ia hapus. Arga menekan tombol panggil setelah beberapa saat bergulat dengan pikirannya.
Tut...
Tut...
Tut...
Tak ada jawaban. Hanya suara nada tunggu yang terus berulang. Arga mencoba lagi. Jari nya gemetar ketika menekan tombol. Tetap tidak diangkat.
“Rania… ku mohon angkatlah…” bisiknya putus asa. Matanya sudah penuh dengan air mata.
Ia menghubungi untuk ketiga kalinya. Namun tetap saja, hanya nada tunggu yang kemudian terhenti dengan sendirinya. Arga kembali mencoba. Namun kali ini layar ponselnya hanya menampilkan satu kalimat singkat.
Panggilan ditolak.
Arga menarik napas panjang. Dadanya semakin sesak. Ia merasa seperti sedang tercekik tanpa bisa bernapas. Ia kemudian mengetik sebuah pesan dengan jari yang tidak bisa diam.
“[Rania... aku hanya ingin bicara sebentar. Tolong angkat telponku.]”
Pesan itu terkirim. Tanda centang abu berubah menjadi biru pertanda pesan telah dibaca. Namun, beberapa menit berlalu tetap tak ada balasan.
Arga menatap layar dengan mata yang tidak bisa berkedip. Lima menit. Sepuluh menit. Lima belas menit. Tetap sunyi. Hanya suara jam dinding yang terus berdetak membangunkan kesunyian.
*
Di dalam rumah kontrakannya, Rania menatap layar ponselnya yang terus bergetar. Nama Arga berkali-kali muncul, foto profil lama mereka berdua juga terpampang jelas. Wanita itu menggenggam ponselnya erat, sambil memejamkan matanya.
Ingatan tentang malam ketika mereka bercerai kembali muncul. Air mata Arga yang menetes di atas lantai kamar. Beberapa saat kemudian... Rania mengambil nafas panjang sebelum akhirnya menekan tombol blokir.
“Tak ada lagi yang perlu dibicarakan,” bisiknya pelan.
*
*
*
Sebulan kemudian…
Hari yang ditunggu akhirnya tiba. Ballroom Hotel Mahendra Palace yang beberapa bulan lalu menjadi saksi pernikahan Arga dan Angelina kembali penuh hiasan dan lampu berkilauan. Tamu undangan mulai berdatangan, suasana begitu megah dan semarak.
Di dalam ruang rias, Rania tampak bersinar anggun dalam gaun pengantinnya. Hanya tatapannya masih sedikit gelisah.
“Sayang… kamu cantik sekali…” Bu Soraya yang sengaja datang melihat menatap lembut sambil mengusap pipinya.
Rania sebenarnya merasa gugup, langsung tersipu dengan wajah memerah. Wanita itu merasa sedikit tenang meskipun sebenarnya sedikit kecewa. Kenapa malah Bu Soraya yang memujinya? Kenapa bukan ibunya?
*
Di atas panggung tempat akan diadakannya akad nikah, Alvino sudah duduk tegak mengenakan pakaian adat indah. Wajahnya tenang, meski tangannya sedikit berkeringat dingin.
“Kamu gugup?” bisik Tuan Aksara sambil menepuk bahu putranya.
“Mana ada?” sangkal Alvino menolak mengakui meski napasnya terdengar sedikit lebih berat daripada biasanya.
“Dasar cemen!" ledek tuan Aksara.
Alvino tidak menjawab, tapi matanya melirik dengan sengit.
*
Waktu terus berjalan, dua calon pengantin sudah duduk berdampingan, tapi ayah Rania belum juga muncul. Penghulu mulai melirik jam di pergelangan tangannya.
“Maaf… apakah ayah dari calon pengantin wanita sudah ada di sini?” tanyanya sopan.
“Bukankah tadi beliau ada di ruang rias," tanya Bu Soraya karena saat dia melihat Rania memang melihat pak Hasan ada di sana.
Rania mendadak cemas. Tadi ayah dan ibunya keluar dari ruang rias bersama dengannya. Tp kenapa sekarang tidak ada?
Tuan Aksara memerintahkan beberapa orang untuk mencari dengan menunjukkan foto pak Hasan.
Beberapa menit kemudian, tampak pak Hasan dan Bu Siti datang bersama petugas. Namun, pak Hasan mengatakan dirinya tidak bersedia menjadi wali nikah Rania.
Mata Rania berkaca-kaca. Wanita itu menekan dadanya yang terasa sesak karena penolakan ayahnya.
“Ada apa sebenarnya, Besan? Apa Besan merasa kurang sehat?” tanya Tuan Aksara mencoba bersikap tenang.
Pria itu mengangkat wajah perlahan sambil menarik napas panjang. “Saya sama sekali tidak sakit. Saya hanya tidak mau, karena…”
mak semangat truus menulis ny ,, sehat2 trus mamak ku ,, 🫰🫰🫰🫰
nonis tidak ada pakai ijab kabul ya.kita adanya pemberkatan di gereja.
tidak harus ada orang tua yang jadi wali jabat tangan dengan mempelai pria...
pemberkatan di lakukan oleh pendeta atau pastor,diantara dua pengantin.
mohon di perhatikan lagi kk Thor
setau saya nikah di gereja itu namanya pemberkatan nikah oleh Pendeta.
tolong lebih diperluas referensinya. karena ketika kita membaca maka yang diharapkan ada bertambahnya pengetahuan bukan makin keliru.
tp dtggu penjellasan ny di bab berikut ny ,, 😁😁😁😁😁