Nyai Seruni, seorang dukun yang menghabiskan masa mudanya menghancurkan kebahagiaan orang lain lewat racun petunduk karena rasa iri, kini terjebak dalam tubuh yang membusuk namun menolak mati. Di ambang sakaratul maut yang abadi, ia harus menyeret tubuhnya yang lumpuh untuk bersujud di kaki para korbannya—orang-orang yang hidupnya ia curi—hanya demi satu hal : izin untuk meninggal dunia.
Assalamualaikum semua, aku datang dengan tulisanku.
Bantu ramaikan dengan Like, komentar dan bagikan jika suka.
Insya Allah besok pagi jika banyak peminat, 😉
Mohon maaf jika ada kesamaan nama dan tempat, 🙏
#cerbung
#cerpen
#ceritahoror
#hobimenulis
Cerita Hantu
Cerita Misteri , Mitos , Sejarah Di Dunia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selie Noris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33 : Jejak Petunjuk di Ujung Samudra
Cahaya keemasan fajar merayap lembut menyapu atap-atap kayu Ulin di Pelabuhan Bandan. Angin laut yang membawa kesegaran pagi bertiup perlahan, menggoyangkan bendera bergambar gelombang samudra di puncak tiang Istana Pesisir. Di dalam balai balai kedatuan yang teduh, Marno, Sari, dan Si Mbah sedang berkemas, bersiap melanjutkan perjalanan panjang mereka.
Pangeran Arya Braja bersama Laksamana Reksapati—yang kini telah kembali bugar dengan rona merah di wajahnya—berdiri mengapit meja kayu besar. Di atas meja tersebut, gulungan kitab kulit kuno pemberian Pangeran Arya terbentang rapi.
Marno menunduk, mengamati lekat-lekat garis-garis tinta hitam yang menggambarkan pulau-pulau kecil di seberang laut selatan. Namun, matanya tidak tertuju pada jalur pelayaran utama, melainkan pada sebuah simbol kecil berujung tiga di sudut kanan bawah peta—sebuah lambang **Palak Tempa Kuno** yang dikelilingi oleh ukiran lidah api dan gelombang.
"Ki Marno," panggil Laksamana Reksapati dengan suara berat yang penuh kewibawaan. "Sejak kemarin malam, saya memperhatikan matamu selalu tertuju pada lambang di ujung timur peta itu. Apakah kau mengenali ukiran tersebut?"
Marno mengusap gagang martil besinya yang bertengger kokoh di punggung. "Lambang ini... sama persis dengan ukiran samar yang ada di bagian bawah landasan tempa peninggalan guru saya di Karang Tumpuk, Laksamana. Guru pernah berpesan bahwa besi murni yang saya pakai ini ditempa dari bijih logam langka yang hanya bisa ditemukan di tempat asal mula para empu terdahulu."
Pangeran Arya tersenyum tipis seraya mengetuk perlahan area bersimbol tersebut di atas peta. "Tempat itu dinamakan **Pulau Api Hitam**. Sebuah pulau vulkanik terpencil di Kepulauan Seribu Karang yang dikelilingi oleh benteng karang tajam dan lautan berarus putar. Konon, di sana berdiri reruntuhan *Kawah Hyang Tempa*, tempat para maestro pembuat senjata zaman purba menempa baja-baja legendaris."
Sari mendengarkan dengan seksama seraya memasukkan bumbung-bumbung herbalnya ke dalam tas kulit. "Apakah pulau itu berpenghuni, Pangeran? Mengapa namanya jarang terdengar di antara pedagang pelabuhan?"
"Hampir tak ada pedagang yang berani mendekatinya, Nyi Sari," sahut Laksamana Reksapati menjelaskan. " Laut di sekitar Pulau Api Hitam diselimuti oleh kabut uap panas dan gas beracun yang keluar dari celah vulkanik dasar laut. Namun, dari kabar yang dibawa oleh para penyelam tua, di sekitar lembah gunung api itu tumbuh flora langka bernama **Pohon Garam Hitam**—tanaman bertuah yang getahnya mampu menetralkan segala bentuk racun tanah maupun bisa binatang purba."
Mendengar hal itu, mata Sari berbinar penuh rasa ingin tahu. Sebagai seorang racik obat, keberadaan flora langka seperti Pohon Garam Hitam adalah sebuah keajaiban ilmu yang sangat berharga. Ia menatap Marno, dan dalam diam, kedua sahabat itu saling memahami—takdir seolah sedang memanggil mereka menuju ke timur.
"Tampaknya, langkah kaki kalian memang ditakdirkan untuk berlayar lebih jauh ke seberang samudra," ujar Pangeran Arya penuh kekaguman. "Saya telah memerintahkan Kapten Wardana untuk menyiapkan sebuah kapal layar berukuran sedang yang lincah, *Nusa Indah*. Kapal itu beserta pasokan bekal penuh akan membawa kalian menyeberangi Kepulauan Seribu Karang."
Si Mbah, yang sejak tadi duduk di atas jendela balai sambil mengunyah buah mangga manis, melompat cekatan ke atas bahu Marno. Kera hitam itu mencicit gembira seolah sudah tidak sabar untuk menaiki kapal baru dan menerjang gelombang laut lagi.
Setelah mengucapkan perpisahan yang hangat kepada Pangeran Arya Braja, Laksamana Reksapati, serta para warga Pelabuhan Bandan yang mengiringi dengan doa dan senyuman, rombongan kecil itu kembali melangkah menuju dermaga utama.
Kapal *Nusa Indah* berukuran lebih kecil dibanding *Bahari Perkasa*, namun didesain khusus dengan lambung kayu jati lapis ganda yang tebal dan dua layar bertingkat agar sanggup menembus arus liar samudra. Kapten Wardana berdiri di samping kemudi bersama empat prajurit pilihan yang bertugas mengantarkan mereka hingga ke batas laut selatan.
"Semua perbekalan, beras, air tawar, serta kotak hadiah emas dari Pangeran sudah tersimpan aman di ruang palka bawah, Ki Marno," lapor Kapten Wardana saat Marno dan Sari melangkah naik ke geladak.
"Terima kasih atas segala kebaikanmu, Kapten," jawab Marno tulus.
Tali-tali tambang pelempar dilepaskan dari tiang pancang dermaga. Diringi oleh tiupan terompet kerang milik para prajurit pesisir, kapal *Nusa Indah* perlahan bergerak meninggalkan Pelabuhan Bandan. Deretan rumah-rumah panggung dan riuhnya pasar pelabuhan makin lama makin mengecil, menyusut di balik garis pantai yang membiru.
Marno berdiri di geladak depan, membiarkan angin samudra yang kencang mengibaskan selendang kain terpalnya. Di sampingnya, Sari merapikan ikatan tas herbalnya sambil menikmati pemandangan laut lepas yang membentang tanpa batas.
"Apakah kau merasa cemas, Sari?" tanya Marno pelan, menatap riak gelombang putih yang terbelah oleh haluan kapal. "Perjalanan ke Pulau Api Hitam ini bukan lagi sekadar urusan desa kita, tetapi memasuki wilayah rahasia yang penuh bahaya."
Sari tersenyum tenang, menatap Marno dengan binar mata yang penuh keyakinan. "Selama kita berjalan bersama demi kebaikan dan kedamaian, Marno, tidak ada tempat yang perlu ditakuti. Lagi pula, bukankah besi martilmu dan racikan herbal milikku selalu menemukan caranya sendiri untuk saling melengkapi?"
Marno tertawa kecil—sebuah tawa yang jarang terdengar dari bibirnya yang biasa terkatup rapat dalam keseriusan. Kata-kata Sari memberikan kehangatan tersendiri di tengah dinginnya uap air laut yang mengepul.
Tiba-tiba, dari arah tiang layar tertinggi, Si Mbah memekik nyaring sambil menunjuk ke arah timur laut!
*Uuk! Uuk-uuk!*
Marno dan Sari menengadah. Di kejauhan, di batas garis cakrawala tempat langit dan laut bertemu, tampak gulungan kabut tebal berwarna abu-abu kehitaman membumbung tinggi ke udara. Dari dalam kabut tersebut, kilatan cahaya merah redup terpancar samar—sesebuah tanda ghaib dari kejauhan bahwa mereka telah mendekati gerbang Kepulauan Seribu Karang.
Perjalanan mereka menuju misteri Kawah Hyang Tempa dan legenda bijih logam purba baru saja dimulai di atas gelombang samudra lepas.