NovelToon NovelToon
Luka Tak Terlihat

Luka Tak Terlihat

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga)
Popularitas:888
Nilai: 5
Nama Author: Illana Clr

Cerita ini hanya fiksi semata, hanya halu author.

Cerita ini, terispirasi dari curhatan-curhatan seorang ibu yang merasa lukanya terabaikan, lelahnya tak terlihat, dan sakitnya yang dianggap sepele, diselingkuhin pula.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Illana Clr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Apa ini benar-benar hadiah?

Sudah sebulan sejak ulang tahun Cia.

Hari-hari Alana kembali seperti dulu. Bangun pagi, masak, nyuapin, nyuci, lalu nulis di sela waktu. Mengurus rumah, Johan, dan Cia kecuali dirinya sendiri.

Sore itu terasa berbeda.

Pintu terbuka. Johan masuk dengan dasi yang sudah dilonggarkan dan wajah yang terlihat lelah.

Tapi yang menyambutnya bukan rumah rapi dan wangi seperti biasanya.

 

Mainan Cia berserakan di lantai, bantal sofa miring, dan di meja masih ada piring bekas makan siang.

Alana duduk di lantai dengan rambut diikat asal, daster kusut, dan belum sempat mandi. Wajahnya pucat, ada lingkaran hitam di bawah matanya.

 

Cia ada di pangkuannya. Pipinya merah dan dahinya hangat, tapi setidaknya sekarang sudah wangi karena habis dikompres.

Johan mengernyit. “Rumah kayak kapal pecah. Kamu ngapain aja seharian?”

Kalimat itu keluar cepat dan tajam.

Alana mendongak dengan mata yang sembab. “Cia dari tadi demam Han. Ini baru tenang. Dia rewel terus.”

 

Hening beberapa detik.

Johan meletakkan tasnya, lalu melihat sekeliling. Setelah itu ia menatap Alana.

Tidak ada bentakan, tidak ada makian.

Hanya tatapan yang membuat Alana merasa gagal.

 

Cia menggeliat di pelukan Alana lalu merengek pelan, seolah tahu kalau suasana sedang tidak baik.

 

Alana memeluk Cia lebih erat. Di dalam dadanya ada lelah, ada takut, dan ada kecewa yang tidak bisa ia ucapkan.

Karena kalau ia bicara sekarang, yang keluar bukan penjelasan. Yang keluar pasti tangis.

 

Cia masih merengek dengan suara serak.

Alana menepuk-nepuk punggungnya pelan. “Iya sayang ini mama, Cia sakit ya.. maaf ya nak....” bisiknya berulang sampai air matanya hampir jatuh.

 

Johan berdiri di depan mereka dengan tangan masuk saku. “Kalau Cia sakit ya dikasih obat. Jangan Cuma ditempelin penurun panas kayak gitu.”

 

Alana mendongak. “Tadi udah kok Han. Cuma belum sembuh aja. Kan butuh proses.”

 

Johan menghela napas panjang. “Udah deh. Kamu fokus ke Cia aja.”

Tanpa diminta, Johan mulai memunguti mainan dan memasukkannya ke keranjang. Ia juga merapikan bantal. Tapi wajahnya masam dan gerakannya kaku, seperti membantu karena terpaksa bukan karena peduli.

Alana tidak sanggup melihatnya. Ia menggendong Cia masuk ke kamar lalu menutup pintu namun tak sampai rapat.

Di dalam kamar yang temaram, Alana menyusui Cia. Bayinya masih rewel dan terus mencari nyaman, sampai akhirnya matanya terpejam dan napasnya mulai teratur.

Baru saat itu Alana menangis dalam diam sambil menatap wajah anaknya yang masih demam.

“Maafin mama ya sayang. Mama lalai jagain kamu sampai kamu sakit begini.”

Dari celah pintu, Johan melihat. Ada rasa mengganjal di dadanya, mungkin bersalah. Tapi ia memilih membuangnya, lalu berbalik masuk ke kamar mandi.

Beberapa menit kemudian rumah sudah rapi. Mainan sudah di tempatnya dan meja sudah bersih.

Alana keluar dan melihat semuanya sudah kembali seperti semula. Ia lega, tapi hatinya tetap mengganjal, apalagi mengingat wajah Johan tadi yang dingin dan masam.

Klik. Pintu kamar terbuka.

 

Johan keluar dengan kemeja rapi dan wangi parfum mahal.

“Sana mandi,” katanya. “Aku tunggu di sini. Dandan yang cantik ya. Kita makan di luar. Jessica lagi di jalan, otw ke sini.”

 

Alana mengerut. “Hah? Kamu t-tapi...”

Johan mendorong bahunya pelan ke arah kamar mandi. “Aku tunggu di sofa ya.”

Semuanya terasa aneh.

Tapi Alana tidak banyak tanya. Ia masuk kamar mandi dan membiarkan air hangat mengguyur tubuhnya yang dari pagi belum tersentuh sabun.

Setelah keluar, ia berdandan cepat. Bedak tipis, lipstik, dan rambut dikeriting yang biasanya hanya dikuncir.

Ia pakai dress pink selutut dengan lengan sebahu. Terlihat elegan.

Saat keluar, mata Johan tertuju pada Alana dengan balutan dresnya.

“Cantik” lirih Johan.

Tiiit.

Bel apartemen berbunyi.

Alana membukakan pintu disana ada Jessica dengan totebag besar dan jaket oversize. Adik iparnya.

“Wah, udah ready nih yang mau pacaran. Ponakan aku mana?” sapa Jessica cerah.

Alana tersenyum kaku. “Cia tidur Jess. Dia lagi demam.”

Dari belakang terdengar suara Johan yang dingin. “Kalau datang tuh yang sopan. Jangan kayak gak tau adab.”

 

Jessica langsung menunduk. “Iya bang, maaf. Yaudah sana pacaran berdua. Aku mau bobok bareng Cia.”

“Jagain anak gue ya. Bye Jes,” kata Johan sambil meraih kunci mobil.

Alana melirik Jessica sekali lagi sebelum pergi. Ada rasa tidak tenang, tapi ia paksa menelannya.

Di parkiran, keduanya masuk mobil dalam diam. Sepanjang jalan tidak ada obrolan, tidak ada tawa. Kaku, seperti dua orang asing yang kebetulan satu mobil.

Sampai akhirnya mobil berhenti di depan restoran.Johan turun duluan, lalu memutari mobil untuk membukakan pintu Alana dan mengulurkan tangan.

 

_Skip_

Di dalam restoran suasananya berbeda.

Ada lilin kecil di meja dan musik piano yang pelan.

Johan memotongkan steak Alana, menuangkan wine ke gelasnya, lalu menaruh tisu di pangkuannya.

Semua dilakukan pelan, hati-hati, dan manis.

Ini Johan yang sudah lama tidak Alana lihat.

Alana menatapnya bingung. “Han, kita gak lagi anniv kan?”

Johan tersenyum sambil menyendok makanannya. “Anniv kita kan udah lewat sayang. Ini hadiah buat kamu. Karena udah jadi perempuan hebat. Makasih ya.”

Tangannya meraih tangan Alana di atas meja dan mengusap punggung tangannya pelan. Hangat.

Dada Alana sesak. Haru yang ia tahan dari pagi akhirnya jatuh, satu butir dua butir.

“Han... makasih,” ucap Alana sambil mengusap air matanya cepat.

“Kita jarang keluar berdua kayak gini sayang. Sekarang nikmatin makanannya ya. Cia aman sama Jess,” kata Johan sambil menyuapkan sepotong steak ke mulut Alana.

Alana mengangguk dan tersenyum, berusaha percaya.

Tapi di tengah suapan kedua, mata Johan tiba-tiba berhenti di satu titik di ujung ruangan.

Ada seorang perempuan yang duduk bersama teman-temannya.

Mereka saling menatap. Tanpa senyum, tanpa sapa, tanpa ekspresi.

Johan langsung membuang pandang dan kembali ke steaknya, seolah tidak terjadi apa-apa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!