"Arya Suryanegara — menantu miskin yang diusir dari rumah mertua tanpa sepeser pun. Dicaci, dihinakan, diperlakukan bagai sampah selama tiga tahun.
Tapi semua orang salah besar.
Arya adalah pewaris tunggal Keluarga Suryanegara, konglomerat terkuat di Indonesia dengan aset ratusan triliun. Perusahaan terbesar di kota itu? Miliknya. Mantan Kapten Kopassus dengan kemampuan bela diri mematikan? Itu dia. Otak bisnis jenius yang bisa menghancurkan perusahaan saingan dengan satu telepon? Juga dia.
Sekarang penyamarannya berakhir. Yang pernah menghinanya akan berlutut. Yang berani menyentuh orang-orangnya akan hancur — secara bisnis, secara hukum, secara total.
Menantu miskin? Tidak. Pewaris triliunan yang kembali untuk mengambil tahtanya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardana Bayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25
Bab 025: Yanto Harus Pergi
Pintu kaca Ratna Permata Jewelry retak.
Ketika mobil Arya berhenti di depan ruko itu, dua karyawan berdiri gemetar di trotoar. Salah satu dari mereka memegang pipi merah, seperti baru ditampar. Etalase kecil yang kemarin terlihat hangat kini berantakan. Kotak perhiasan jatuh ke lantai. Kursi tunggu terbalik.
Dari dalam, terdengar suara lelaki membentak.
"Keluar, Bunga! Papa cuma mau bicara!"
Tangis anak kecil menjawab dari balik meja.
Arya turun dari mobil.
Pak Satria tiba bersamaan dari arah lain, membawa map hitam. Napasnya tenang, tetapi matanya keras.
"Berkas lengkap, Tuan Muda."
"Polisi?"
"Dalam perjalanan. Tapi saya pikir Anda ingin masuk lebih dulu."
"Kamu benar."
Arya mendorong pintu.
Lonceng kecil di atas pintu berbunyi pecah.
Di tengah ruangan, Ratna berdiri dengan rambut berantakan. Pipi kirinya merah. Ia memeluk lengan sendiri, berusaha menahan tubuhnya agar tidak gemetar. Di depannya, seorang lelaki memakai kemeja biru mahal berdiri dengan wajah penuh amarah.
Yanto.
Mantan suami Ratna.
Di belakang Yanto, dua pria besar berdiri seperti pagar.
Di bawah meja kerja, Bunga meringkuk sambil memeluk boneka kelinci kecil. Matanya basah. Mulutnya berusaha tidak bersuara, tetapi napasnya tersengal.
Arya melihat Bunga dulu.
Lalu melihat Ratna.
Baru setelah itu ia menatap Yanto.
"Keluar."
Yanto menoleh. "Siapa kamu?"
Ratna langsung berkata, "Arya, jangan..."
Yanto tertawa kasar. "Oh. Ini investor barumu? Laki-laki yang tiba-tiba membuatmu merasa hebat?"
Arya berjalan masuk.
Salah satu pria Yanto maju menghalangi.
"Pak, urusan keluarga. Jangan ikut..."
Kalimatnya berhenti ketika Arya memegang pergelangan tangannya, memutar, lalu menekan siku ke arah yang membuat tubuh besar itu langsung berlutut. Pria kedua mencoba menyerang dari samping. Arya menggeser kaki, menahan bahu, lalu mendorongnya ke rak kosong. Tubuhnya jatuh tanpa kesempatan membalas.
Dua detik.
Yanto mundur.
"Kamu gila?"
"Tidak." Arya berdiri di depannya. "Saya sangat sadar."
Yanto menunjuk Ratna. "Dia istri saya."
"Mantan."
"Dia ibu dari anak saya."
"Benar. Dan itu bukan izin untuk meneror anakmu."
Yanto berusaha tersenyum, tetapi bibirnya gemetar. "Kamu pikir uang bisa membeli urusan keluarga orang?"
"Tidak. Tapi bukti bisa menghentikan laki-laki pengecut."
Wajah Yanto berubah.
Arya bergerak cepat, mencengkeram kerahnya, dan menekannya ke dinding di samping etalase. Tidak ada pukulan. Tidak ada benturan berlebihan. Namun posisi itu cukup membuat Yanto tahu bahwa tubuhnya tidak punya hak tawar.
"Dengar baik-baik," kata Arya. "Saya tidak akan memukulmu di depan anakmu. Bukan karena kamu pantas dihormati. Karena Bunga tidak pantas mengingat hari ini sebagai hari orang dewasa saling menghancurkan."
Ratna menutup mulut.
Air matanya jatuh.
Yanto berbisik, "Lepaskan..."
"Pak Satria."
Pak Satria membuka map hitam dan meletakkannya di meja yang masih utuh.
"Laporan KDRT dua tahun terakhir. Foto luka Bu Ratna. Rekaman suara ancaman. Bukti transfer aset dari rekening bersama ke rekening atas nama perempuan lain. Pesan Anda kepada pengacara yang menyebut rencana mengambil hak asuh hanya untuk memaksa Bu Ratna menyerahkan toko."
Yanto pucat.
"Itu dokumen pribadi."
"Dokumen pribadi menjadi bukti hukum ketika dipakai untuk melindungi korban," kata Pak Satria datar.
Arya melepas kerah Yanto, tetapi tetap berdiri dekat.
"Ada dua pilihan."
Yanto menelan ludah.
"Pertama, kamu menandatangani pernyataan bahwa hak asuh utama Bunga tetap pada Ratna, kamu tidak mendekati sekolah, rumah, atau kantor Ratna tanpa izin tertulis, dan semua komunikasi anak lewat pengacara keluarga."
"Kamu tidak bisa memaksa saya."
"Kedua, berkas ini masuk ke polisi, media, dan Pengadilan Agama besok pagi. Hakimmu akan membaca bagaimana kamu memukul ibu dari anakmu, menggelapkan aset, dan memakai anak sebagai alat pemerasan."
Yanto memandang Ratna. "Kamu biarkan dia melakukan ini?"
Ratna menghapus air mata dengan punggung tangan.
Untuk pertama kalinya sejak Arya masuk, suaranya tidak gemetar.
"Aku membiarkan hukum melihat siapa kamu."
Yanto seperti ditampar tanpa disentuh.
Di bawah meja, Bunga mengintip.
"Mama..."
Ratna langsung berlutut. "Bunga, Mama di sini."
Yanto melihat anak itu. Untuk sesaat, sesuatu seperti malu melintas di wajahnya. Namun kalah oleh ego yang sudah terlalu lama diberi makan.
"Dia anak saya juga."
Arya mengambil satu kursi, membaliknya ke posisi benar, lalu duduk di depan Yanto.
"Kalau kamu benar-benar ayah, kamu akan memilih membuatnya aman daripada membuat ibunya takut."
Yanto tidak menjawab.
Pak Satria mengeluarkan dokumen pernyataan yang sudah disiapkan. Seorang pengacara perempuan masuk beberapa menit kemudian, disusul dua polisi yang berdiri di pintu sebagai saksi awal. Semua berjalan formal. Tidak ada teriakan lagi.
Yanto membaca dokumen itu dengan tangan gemetar.
"Saya mau pengacara saya."
"Silakan," kata Arya. "Tapi sampai pengacaramu datang, polisi akan memproses laporan perusakan, kekerasan, dan ancaman terhadap anak. Kamu ingin menunggu di sini atau di kantor polisi?"
Yanto memegang pena.
Tangannya berhenti di atas kertas.
Ratna memeluk Bunga yang kini keluar dari bawah meja. Anak itu menyembunyikan wajah di dada ibunya, tetapi matanya tetap mencari Arya.
"Om Arya..."
Arya menoleh.
Bunga mengulurkan tangan kecil. "Om datang karena Bunga takut?"
Ruangan yang keras itu mendadak kehilangan semua suara.
Arya berdiri, lalu berlutut agar sejajar dengannya.
"Iya. Om datang."
"Papa marah."
"Orang dewasa yang marah tetap tidak boleh membuat anak kecil takut."
"Om akan pergi lagi?"
Arya melihat Ratna, lalu kembali ke Bunga.
"Om akan pergi kalau semua sudah aman. Tapi kalau Bunga takut lagi, Mama bisa telepon Om."
Bunga melepas pelukan ibunya dan memeluk leher Arya.
Tubuh kecilnya masih gemetar.
Arya mengangkatnya dengan hati-hati, seolah-olah anak itu bukan sekadar anak orang lain, melainkan sesuatu yang rapuh dan harus dijaga dari seluruh kebisingan dunia.
Yanto melihat pemandangan itu.
Pena di tangannya akhirnya menyentuh kertas.
Tanda tangan pertama.
Lalu kedua.
Lalu paraf di setiap halaman.
Ketika semuanya selesai, polisi membawa Yanto keluar untuk pemeriksaan. Dua pria yang tadi dibawanya ikut diamankan. Di pintu, Yanto sempat menoleh.
Tidak ada lagi kesombongan.
Hanya lelaki yang baru menyadari bahwa rasa takut yang ia tanam selama bertahun-tahun bisa berbalik dalam satu siang.
Arya tidak mengejarnya dengan kata-kata.
Ia sudah cukup kalah.
Ratna berdiri di tengah toko yang berantakan. Matanya memandang pecahan kaca, kursi terbalik, map hukum, lalu Bunga yang masih menempel di bahu Arya.
"Saya minta maaf," katanya lirih. "Sejak awal saya seharusnya tidak membawa masalah pribadi ke perusahaan."
Arya menatapnya. "Perusahaanmu tidak terpisah dari hidupmu. Kalau orang yang membangun perusahaan dihancurkan, perusahaan juga hancur."
Pak Satria menambahkan, "Kami akan memasang pengamanan baru. Kamera, panic button, dan akses pintu belakang untuk staf."
Ratna mengangguk pelan. "Terima kasih."
Bunga mengangkat kepala. "Om Arya, toko Mama masih bisa buka?"
Arya menatap etalase yang retak.
"Bisa. Kita ganti kacanya dengan yang lebih kuat."
"Yang tidak bisa dipecahin Papa?"
"Yang tidak bisa dipecahkan orang sembarangan."
Bunga mengangguk serius, seolah itu keputusan bisnis penting.
Ratna tertawa kecil di antara air mata.
Sore itu, karyawan kembali masuk satu per satu. Tidak ada yang dipaksa bekerja. Arya justru memerintahkan toko tutup dua hari, semua gaji tetap dibayar, konseling disediakan bagi staf yang menyaksikan kekerasan. Pak Darmawan datang setelah mendengar kabar dan langsung memeriksa apakah zamrud disimpan aman.
"Batu selamat," katanya.
Arya melihat Ratna. "Yang penting orangnya selamat."
Ratna menunduk.
Kalimat itu sederhana.
Namun bagi perempuan yang bertahun-tahun hidup dalam ancaman, sederhana kadang terasa seperti kemewahan.
Malamnya, setelah memastikan Ratna dan Bunga diantar ke apartemen aman sementara, Arya kembali ke Rumah Bukit.
Ia baru melepas jaket ketika ponselnya bergetar.
Pesan dari Nayla Wicaksana.
Arya, Eyang sudah bicara dengan pengacara keluarga. Urusan Kota Selatan resmi diserahkan kepadamu. Aku ikut. Jangan coba-coba berangkat tanpa aku.
Beberapa detik kemudian, pesan kedua masuk.
Kapan kita pergi?
Arya membaca dua pesan itu, lalu memandang hard disk di meja kerjanya.
Kota Selatan.
PT Pelayaran Jaya.
Aliran uang dalam catatan Bagaskara.
Satu pintu lagi terbuka, dan kali ini, Nayla Wicaksana berdiri tepat di ambangnya.
Arya membalas singkat.
Besok pagi.