Rean Vale menghabiskan seluruh kehidupan pertamanya di rumah sakit.
Terlahir dengan penyakit langka yang perlahan menghancurkan tubuhnya, ia tidak pernah merasakan kehidupan yang dianggap biasa oleh orang lain—bersekolah, bermain dengan teman, atau menikmati masa remaja. Meski demikian, ia tetap tumbuh menjadi pribadi yang tulus, lembut, dan baik hati.
Setelah kematiannya, Rean membuka mata di dunia yang sangat dikenalnya.
Ia telah bereinkarnasi ke dalam novel modern yang pernah ia baca, menjadi seorang tokoh figuran bernama Rean Vale—karakter yang seharusnya meninggal karena penyakit bawaan sebelum cerita utama dimulai.
Namun kali ini, takdir berubah.
Penyakit yang seharusnya merenggut nyawanya menghilang sepenuhnya, membuat tokoh yang seharusnya tidak pernah muncul di awal cerita kini tetap hidup.
Dengan kesempatan kedua yang akhirnya ia peroleh, Rean hanya memiliki satu keinginan sederhana: menjalani kehidupan sekolah yang tidak pernah sempat ia rasakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon areann._, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
-
Rean memperhatikan kedua poster itu bergantian, benar-benar bingung menentukan pilihan. Sebelum ia sempat memutuskan, suara familiar menyapanya dari belakang.
"Lagi milih klub?"
Rean menoleh. Elora berdiri bersama Lily, membawa jaket krem yang sama seperti yang ia pinjamkan beberapa hari lalu — kini sudah dicuci rapi.
"Oh, iya," jawab Rean. Ia baru ingat sesuatu, buru-buru membuka tasnya. "Ini jaketmu, aku sudah bawa untuk dikembalikan."
"Nggak usah buru-buru gitu," Elora tertawa kecil, menerima jaketnya. "Tapi makasih sudah dijaga baik-baik."
"Jadi, sudah nemu klub yang cocok?" tanya Lily, mengalihkan topik dengan seringai jahil, memperhatikan reaksi sahabatnya.
"Belum," Rean menggaruk pipinya, bingung. "Semuanya kelihatan menarik."
"Kalau gitu," Elora menyeletuk, "ikut klub sastra aja. Kebetulan aku juga anggotanya."
Lucas mengangkat alis, sedikit kaget. "Sejak kapan kamu rajin ikut pertemuan klub, Elora? Biasanya kamu cuma daftar doang."
"D-diam kamu, Lucas," Elora buru-buru menyahut, pipinya sedikit merona.
Rean, yang tidak menangkap maksud tersembunyi di balik percakapan itu, hanya menatap bergantian dengan polos. "Kalau begitu, aku coba klub sastra saja. Kelihatannya menyenangkan."
Elora tersenyum lebar mendengar keputusan itu, jauh lebih senang dari yang seharusnya ia tunjukkan di depan umum. "Bagus! Pertemuan pertama hari Kamis, aku kenalin ke yang lain juga."
Ethan dan Lucas saling melempar pandang, menahan senyum geli melihat reaksi Elora yang terlalu jelas bagi siapa pun yang memperhatikan — kecuali bagi orang yang bersangkutan.
Ruang klub sastra terletak di lantai dua perpustakaan, ruangan kecil namun nyaman dengan rak buku memenuhi dindingnya. Ketika Rean masuk hari Kamis sore, hanya ada beberapa orang di dalam — lebih sedikit dari yang ia bayangkan.
"Selamat datang!" seorang siswi kelas 11 menyapa ramah. "Kamu pasti anggota baru yang Elora ceritakan."
"Iya, aku Rean," jawabnya, membungkuk sopan.
Tidak lama kemudian, Elora muncul dari pintu, sedikit terengah karena tergesa-gesa.
"Maaf telat," katanya, lalu langsung duduk di kursi kosong tepat di sebelah Rean — pilihan yang tidak sepenuhnya kebetulan.
Pertemuan hari itu membahas pemilihan buku untuk dibaca bersama bulan ini. Rean, yang sepanjang hidupnya menghabiskan waktu membaca berbagai novel di rumah sakit, ternyata memiliki wawasan yang cukup luas soal buku — sesuatu yang mengejutkan beberapa anggota lain.
"Kamu suka baca genre apa?" tanya salah satu anggota.
"Apa saja," jawab Rean jujur. "Dulu buku adalah satu-satunya cara aku melihat dunia luar."
Kalimat itu terucap begitu saja, tanpa maksud dramatis apa pun, namun membuat ruangan sejenak hening. Elora menoleh, memperhatikan wajah Rean yang tetap tenang mengatakannya, seolah itu hanyalah fakta biasa dalam hidupnya.
"Maksudnya?" tanya Elora pelan, penasaran namun berhati-hati.
Rean tersenyum kecil. "Aku dulu sering sakit. Jadi jarang keluar rumah. Buku jadi teman terbaikku."
Elora tidak bertanya lebih jauh, merasakan ada sesuatu yang lebih dalam di balik kalimat sederhana itu. Namun alih-alih rasa kasihan, yang ia rasakan justru rasa hangat — kagum pada cara Rean menceritakannya tanpa nada sedih sedikit pun, seolah ia benar-benar bersyukur atas apa yang dimilikinya sekarang.
Pertemuan berlanjut dengan diskusi ringan, sesekali diselingi tawa kecil. Ketika semua mulai berkemas untuk pulang, Elora sengaja memperlambat langkahnya, menunggu hingga hanya tersisa mereka berdua di ruangan.
"Rean," katanya, agak ragu. "Kalau kamu mau, aku bisa rekomendasikan buku-buku bagus lain. Kita bisa diskusi berdua juga, nggak cuma pas pertemuan klub."
"Boleh," jawab Rean tanpa curiga sedikit pun, senyumnya tulus. "Aku senang kalau punya teman diskusi."
Teman, batin Elora, sedikit kecewa namun tetap tersenyum. Yah... untuk sekarang, nggak apa-apa jadi teman dulu.