Mengisahkan seorang wanita bernama Rafa Sasmita yang merupakan istri dari Evan Wirya Negara. Rafa menikah dengan Evan karena mencintai pria itu setulus hati namun sayang rumah tangga Evan dan Rafa kandas karena kemunculan Zaskia Mulandari. Tak hanya Zaskia namun masalah muncul dari ibu mertua Rafa yaitu Nena Apriandini yang selalu menghinanya miskin dan tidak beradab. Namun di tengah huru-hara masalah pertemuan Rafa dengan pria tampan bernama Sean Andrew Lee mengubahnya menjadi penuh warna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemurkaan Sang CEO
Suara pintu penthouse yang tertutup rapat malam itu seolah tidak mampu meredam gema kemarahan yang masih membara di dalam ruangan utama. Suasana megah yang biasanya terasa tenang kini berubah menjadi medan perang penuh amarah bagi keluarga Wirya Negara.
Evan Wirya Negara berdiri tegak di dekat jendela kaca besar yang menghadap langsung ke arah lanskap kota metropolitan. Segelas wiski tua digenggamnya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih. Alih-alih merasa lega karena istri yang dianggapnya 'mandul' dan 'tidak berguna' itu telah pergi dari rumah, dada Evan justru bergemuruh hebat menahan rasa sakit yang tidak biasa.
Harga dirinya sebagai seorang CEO Negara Group—pria paling berkuasa yang ditakuti sekaligus dipuja oleh ribuan bawahannya—terluka parah. Yang paling mengiris ego prianya bukanlah fakta bahwa pernikahannya kandas, melainkan sikap terakhir Rafa Sasmita. Wanita yang selama empat tahun ini dikenal sangat penurut, lembut, dan selalu menunduk patuh padanya, mendadak berubah menjadi sosok yang dingin, berani membangkang, bahkan menantangnya secara terang-terangan untuk bercerai.
"Berani-an dia..." gumam Evan dengan suara tertahan, gigi-giginya bergemeretuk menahan amarah. Ia meneguk cairan amber di dalam gelasnya dalam sekali tenggak, seolah ingin melunturkan rasa panas yang membakar dadanya. "Wanita parasit itu... bagaimana bisa dia menatapku dengan sorot mata seperti itu sebelum pergi? Seharusnya dia memohon dan bersujud di kakiku!"
Zaskia Mulandari, yang sedari tadi duduk bersila di atas sofa beledu putih sambil mengenakan jubah sutra tipis, mendengus pelan. Bibirnya yang dipulas gincu merah menyala mengerucut sinis. Ia sengaja melangkah mendekati Evan, lalu melingkarkan kedua tangannya di pinggang pria itu dari belakang, menempelkan tubuhnya erat-erat untuk memberikan pengaruh.
"Sudahlah, Ev. Kamu masih memikirkan perempuan kuno itu?" bisik Zaskia dengan nada manja yang sengaja dibuat menggoda, mencoba memancing emosi Evan agar semakin tersulut. "Dia itu cuma sedang cari muka dan sok jual mahal. Padahal di dalam hatinya, dia pasti sedang menangis darah karena tahu dirinya dibuang oleh CEO kaya raya sepertimu."
Evan tidak langsung menjawab. Ia melirik sekilas ke arah Zaskia, namun ketidaknyamanan melintas di benaknya.
Tidak lama kemudian, suara ketukan langkah kaki berhak tinggi terdengar mendekat. Nena Apriandini berjalan memasuki ruang keluarga dengan wajah masam dan kerutan tajam di dahinya. Wanita paruh baya itu baru saja memeriksa kamar utama yang ditinggalkan Rafa, memastikan tidak ada barang berharga milik keluarga mereka yang ikut terbawa oleh menantu sialannya itu.
****
"Ma, ada apa?" tanya Evan begitu melihat ekspresi wajah ibunya yang tampak jauh lebih tegang dari sebelumnya.
Nena menghentikan langkahnya tepat di hadapan anak dan calon menantunya. Napas wanita paruh baya itu memburu, dan tangannya yang dipenuhi cincin berlian tampak gemetar karena emosi yang meluap-luap.
"Evan! Zaskia! Kalian tidak akan percaya apa yang baru saja aku temukan di dalam kamar perempuan tidak tahu diuntung itu!" seru Nena dengan nada suara melengking tinggi, mencak-mencak di tengah ruangan.
Evan mengerutkan keningnya, rasa penasarannya mulai terusik. "Menemukan apa, Ma? Jangan membuat aku penasaran."
Nena menarik napas panjang sebelum melanjutkan dengan nada penuh tuduhan keji.
"Mama tadinya mau memeriksa apakah ada barang-barang peninggalan keluarga kita yang dicuri oleh Rafa. Mama mengecek brankas kecil di dalam lemari pakaiannya. Dan tebak apa yang ibu temukan?!"
"Apa, Tante?" sambar Zaskia dengan mata membelalak penuh rasa ingin tahu, sengaja mendekat untuk mendengarkan.
"Brankas itu sudah kosong melompong!" teriak Nena dengan nada emosional. "Tapi bukan itu saja masalahnya! Di atas meja rias, Mama menemukan secarik catatan kecil dan beberapa dokumen cetak yang berserakan. Rafa... perempuan sialan itu ternyata sudah merencanakan semuanya! Dia mencuri flashdisk penting milik perusahaanmu, Evan!"
Prang!
Gelas wiski yang ada di tangan Evan terlepas begitu saja, jatuh menghantam lantai marmer hingga berkeping-keping dan cairan amber memercik ke mana-mana. Wajah Evan mendadak pucat pasi, berganti dengan rona kemerahan akibat amarah yang meledak seketika. Urat-urat di pelipis dan lehernya menegang hebat.
****
"Flashdisk?!" teriak Evan dengan suara bariton yang menggelegar memenuhi ruangan penthouse. "Flashdisk apa yang kamu maksud, Ma?!"
Nena melangkah mendekat, merogoh kantong gaun tidurnya dan melemparkan beberapa lembar kertas fotokopi laporan perusahaan ke atas meja bar di hadapan Evan.
"Ini!" tunjuk Nena dengan jari gemetar. "Flashdisk yang berisi data rahasia keuangan Negara Group! Dokumen transaksi rahasia, laporan penggelapan pajak, dan proyek-proyek bawah tangan yang selama ini kamu simpan rapat-rapat untuk mengamankan posisi CEO-mu! Rafa... istri yang selama empat tahun ini kamu anggap bodoh dan tidak tahu apa-apa, ternyata diam-diam mencuri seluruh data rahasia perusahaan dari komputer kerjamu!"
Zaskia yang melihat lembaran-lembaran kertas itu langsung menutup mulutnya dengan tangan, memasang ekspresi terkejut yang berlebihan.
Namun di balik keterkejutan itu, sudut bibir Zaskia justru tersenyum licik, melihat peluang emas untuk semakin mengompori kekasihnya.
"Ya ampun, Ev! Tidak disangka ya..." Zaskia menggelengkan kepalanya pelan, sengaja mendramatisir situasi dengan suara lembut namun beracun. "Wanita bermuka dua itu ternyata benar-benar berbahaya. Di hadapanmu dia pura-pura jadi istri yang polos, penurut, dan mengabdi penuh. Tapi di belakangmu, dia menjadi mata-mata yang mengumpulkan semua rahasia perusahaan untuk menjatuhkanmu!"
Zaskia melangkah maju mendekati Evan, menyentuh dada bidang pria itu lembut untuk memprovokasi emosinya lebih jauh lagi.
"Bayangkan kalau flashdisk itu jatuh ke tangan saingan bisnis keluarga Wirya Negara, atau lebih parah lagi, diserahkan ke pihak berwajib! Hancur sudah imperium bisnis yang susah payah kamu bangun, Ev. Namamu sebagai CEO Negara Group akan busuk di penjara!" desis Zaskia, sengaja menanamkan ketakutan dan kebencian yang mendalam di hati Evan.
****
Nena mengangguk-angguk cepat, menyetujui ucapan Zaskia dengan amarah yang tidak kalah hebatnya. "Zaskia benar, Evan! Istrimu itu ular berbisa yang selama ini kita pelihara di dalam rumah sendiri! Dia pendiam, tapi ternyata sangat licik dan berbahaya! Kalau dibiarkan, perempuan mandul itu bisa menghancurkan seluruh masa depan keluarga kita dalam satu malam!"
Darah Evan mendidih hingga ke ubun-ubun. Seluruh kewarasannya seolah lenyap ditelan amarah yang teramat sangat. Harga dirinya yang sudah diinjak-injak lewat ucapan perpisahan Rafa malam ini, kini ditambah dengan kenyataan bahwa rahasia terbesar perusahaan sekaligus aset hidupnya berada di tangan wanita tersebut.
Bagi Evan, tindakan Rafa bukan lagi sekadar bentuk pembangkangan rumah tangga, melainkan ancaman langsung terhadap singgasana kekuasaan dan kekayaan yang selama ini menjadi kebanggaannya.
"Sialan... Berani sekali perempuan jalang itu bermain-main denganku!" geram Evan dengan suara bergetar penuh ancaman. Kedua tangannya terkepal sangat kuat hingga kuku-kukunya menancap ke telapak tangan. "Dia pikir dia bisa kabur membawa rahasia Negara Group begitu saja dan lolos dari tanganku?!"