NovelToon NovelToon
SUAMIKU, KETUA OSIS YANG PALING KUBENCI

SUAMIKU, KETUA OSIS YANG PALING KUBENCI

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Ketos / Romansa Fantasi
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Secret A

Naya Aurelia hanya ingin menjalani tahun terakhirnya di SMA dengan tenang. Sayangnya, ayahnya justru membuat keputusan gila: menikahkannya dengan anak sahabatnya. Lebih buruk lagi, calon suaminya adalah Arka Pradipta, ketua OSIS sekaligus laki-laki yang paling Naya benci. Demi menjaga reputasi keluarga, pernikahan itu harus dirahasiakan sampai mereka lulus sekolah. Setiap hari mereka bertengkar karena hal-hal sepele, saling menjahili, bahkan berlomba membuat satu sama lain kesal. Namun, ketika orang lain mulai mendekati Naya, Arka mendadak berubah posesif. Begitu pula Naya yang mulai merasa tidak nyaman melihat Arka bersama gadis lain. Tanpa mereka sadari, kebencian perlahan berubah menjadi perasaan yang jauh lebih berbahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Secret A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24 — CEMBURU PERTAMA

Sejak insiden ditarik ke mobil kemarin sore, kepala Naya terasa seperti adonan kue yang diaduk asal-asalan. Kalimat posesif Arka—“Saya yang suami kamu”—terus bergema di telinganya bagaikan kaset rusak yang tak mau berhenti.

Namun, rasa melayang yang sempat merayap di dada Naya mendadak dihempaskan ke bumi secara kasar saat jam istirahat kedua hari Kamis ini.

Rapat koordinasi antar divisi baru saja selesai di aula kecil. Naya yang bertugas membereskan sisa lembar konsep kelas 12 IPS 2 masih berdiri di dekat meja prasmanan panitia. Tak jauh dari sana, Arka duduk di kursi kayu utama, memijat pelipisnya yang tampak kelelahan usai memimpin rapat marathon selama dua jam.

Tiba-tiba, Melisa melangkah mendekati Arka. Gadis itu mengenakan seragam yang terawat sempurna, rambutnya dikuncir setengah dengan pita biru lembut. Di tangannya, Melisa membawa sebuah botol minuman dingin berembun dan selembar saputangan halus.

"Arka, ini minum dulu," ujar Melisa dengan suara yang sangat lembut dan menenangkan. Ia meletakkan botol dingin itu di meja, tepat di samping tangan Arka. "Kamu dari tadi pagi belum sempat ke kantin, kan? Suara kamu juga sudah agak serak."

Arka membuka matanya, menatap botol itu lalu tersenyum tipis—sebuah senyuman formal yang biasa ia berikan kepada rekan kerja. "Terima kasih, Melisa. Kamu selalu perhatian."

"Nggak apa-apa, Arka. Aku selalu senang kok bisa bantu kamu," jawab Melisa ramah, matanya berbinar manis saat menatap Ketua OSIS di hadapannya. "Kalau ada berkas divisi dekorasi yang belum rapi, biar aku saja yang selesaikan nanti sore. Kamu istirahat sebentar ya."

Naya yang berdiri hanya tiga meter dari mereka menyaksikan seluruh adegan itu tanpa terlewat satu detik pun.

Jari-jemari Naya tanpa sadar meremas kertas lembar konsep di tangannya hingga remuk kusam. Ada perasaan asing yang mendadak meletup di dalam dadanya—sebuah rasa panas yang tajam, sesak, dan membuat tenggorokannya mendadak gatal oleh rasa kesal yang tak beralasan.

Gue dari tadi kepanasan ngurus kain spanduk nggak ada yang ngasih minum! jerit Naya dalam hati dengan sengit. Si robot kaku itu juga kenapa senyum-senyum manis gitu ke Melisa?! Giliran sama gue mukanya letek kayak kain lap!

Naya menyambar tasnya kasar, melangkah lebar-lebar melewati meja Arka dan Melisa tanpa menoleh sedikit pun. Langkah kakinya yang dihentakkan keras ke semen aula menimbulkan suara gaduh yang cukup kentara.

Arka refleks menoleh saat mendengar bentakan sepatu itu. Manik mata hitamnya menangkap sosok Naya yang berjalan cepat keluar aula dengan bahu yang tegang dan wajah yang dilipat kaku.

"Arka? Kenapa?" tanya Melisa heran melihat pandangan Arka teralih.

"Ah... tidak apa-apa," jawab Arka singkat, matanya masih menatap pintu aula yang terbuka. Ada kerutan cemas yang perlahan terbit di dahinya.

Sore harinya, saat mereka sudah berada di dalam mobil perjalanan pulang menuju rumah, atmosfer di dalam kabin terasa sangat mencekam. Udara dingin dari pendingin udara tak mampu mengikis aura permusuhan pekat yang dipancarkan oleh Naya.

Cewek itu menyilangkan kedua tangannya rapat-rapat di dada, menyandarkan kepalanya ke kaca jendela, dan menatap jalanan kota dengan pandangan tajam seolah-olah trotoar di luar sana baru saja menghina dirinya.

Arka melirik Naya dari sudut matanya untuk yang kelima kalinya. Ia menghembuskan napas panjang, memutuskan untuk memecah keheningan yang meletihkan ini saat mobil berhenti di lampu merah.

"Kamu kenapa dari tadi murung terus?" tanya Arka pelan, suaranya tenang dan teratur.

Naya tidak memindahkan pandangannya dari kaca jendela. "Nggak kenapa-kenapa."

"Naya," tegur Arka dengan nada yang sedikit lebih tegas namun tetap lembut. "Dari keluar aula tadi kamu diam saja. Pintu mobil dibanting, ditanya jawabannya singkat. Kalau ada yang salah, bicara."

Naya memutar kepalanya dengan cepat. Matanya yang bulat menatap Arka dengan kilatan amarah yang meluap-luap.

"Kenapa sih lo ikutan nyolot?!" sembur Naya tajam. "Kenapa?! Gue nggak boleh punya suasana hati sendiri?! Gue harus selalu senyum-senyum manis dan siap sedia ngelayanin lo kayak orang lain?!"

Arka tersentak kecil, keningnya berkerut makin dalam oleh kebingungan yang nyata. "Saya tidak minta kamu melayani saya, Naya. Saya cuma bertanya kamu kenapa. Kenapa tiba-tiba marahi saya?"

"Terserah gue mau marah sama siapa!" balasan Naya makin tidak rasional, menyembunyikan rasa gengsinya yang membumbung tinggi. "Lo ngurusin urusan lo aja sana! Urusin tuh Melisa yang selalu senang membantu lo!"

Nama Melisa yang terlempar keluar dari bibir Naya membuat Arka terpaku di tempatnya.

Lampu merah berubah hijau. Mobil-mobil di belakang membunyikan klakson pelan, membuat Arka terpaksa menekan pedal gas kembali. Namun fokus di otaknya sudah sepenuhnya buyar. Arka melirik Naya yang kembali membuang mukanya ke jendela dengan napas yang memburu kesal.

Arka mencoba menata kalimatnya, bingung. "Soal Melisa? Dia cuma ngasih minum karena rapat selesai, Naya. Tidak ada—"

"Gak usah dijelasin! Gue nggak butuh penjelasan lo!" potong Naya histeris, menyumbat telinganya sendiri. "Gue nggak peduli mau dia ngasih lo minum kek, ngasih lo perhatian kek, mau lo senyum-senyum sampai gigi lo kering kek! Nggak ada urusannya sama gue!"

Arka mengatupkan bibirnya rapat-rapat, menghembuskan napas pasrah. Laki-laki yang terkenal selalu punya jawaban logis untuk segala perdebatan itu kini dibuat bungkam total oleh emosi Naya yang tak menentu.

Malam harinya, rumah keluarga Pradipta sangat hening. Tante Elena dan Om Adrian sedang menghadiri makan malam relasi di hotel pusat kota.

Di dalam kamar tidur mereka yang temaram, Naya duduk di atas tempat tidur dengan posisi memeluk kedua lututnya. Buku pelajaran Bahasa Indonesia terbuka di pangkuannya, tetapi tidak ada satu kata pun yang sanggup dicerna oleh otaknya.

Di sudut lain, Arka sedang duduk di meja belajar, mengetik laporan panitia di laptopnya. Namun, ketukan jarinya di papan ketik beberapa kali terhenti. Arka berkali-kali melirik ke arah tempat tidur, menatap punggung Naya yang kaku.

Naya meremas ujung kaus piyamanya kuat-kuat.

Rasa panas yang membakar dadanya sejak sore tadi kini mereda, berganti menjadi sebuah kesadaran pahit yang teramat menakutkan bagi dirinya sendiri.

Gue... cemburu? bisik Naya dalam hati, dadanya berdebar liar oleh rasa takut yang nyata.

Naya menelan ludah yang terasa pahit. Mengapa ia harus merasa sekesal ini hanya karena melihat Melisa memberikan minum pada Arka? Mengapa melihat Arka tersenyum pada cewek lain rasanya begitu menyakitkan di dalam dadanya?

Aturan nomor lima dalam surat perjanjian rahasia mereka mendadak terbayang jelas di benak Naya: DILARANG JATUH CINTA SATU SAMA LAIN.

Naya membenamkan wajahnya di antara kedua lututnya, merutuki dirinya sendiri setengah mati.

Ia tidak boleh menyukai Arka. Arka adalah ketua OSIS yang kaku, yang menikahinya hanya karena terpaksa oleh janji orang tua mereka, dan yang dalam hitungan bulan akan berpisah darinya setelah lulus sekolah.

"Bego banget sih lo, Naya..." bisik Naya sangat pelan, air mata keputusasaan dan kekesalan pada perasaannya sendiri mulai menggenang di sudut matanya.

Kenyataan bahwa dirinya telah melanggar aturan paling penting itu—bahwa ia benar-benar telah jatuh hati pada laki-laki yang paling ia benci—membuat Naya merasa teramat kesal dan takut pada dirinya sendiri. Dan malam itu, tembok pertahanan yang ia banggakan resmi hancur tanpa sisa.

1
Adinda
bukannya nama orang tuanya naya Raka thor,pengusaha juga seperti Orangtuanya Arka
Lolita Febiyanti
kak ini tayang setiap hari apa kak??
Secret A: iya dong kak pasti, di setiap harinya selalu ada bab baru yakk 😚
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!