Demi menepati janji masa lalu, Mahira memilih hidup sederhana dan menjadi istri yang berbakti bagi Ziko, seorang pengusaha sukses di Bandung.
Namun, ketulusan Hira justru dibalas dengan dinginnya sikap Ziko dan hinaan bertubi-tubi dari ibu mertuanya.
Hira kerap dianggap wanita tak berpendidikan yang hanya menjadi beban keluarga. Padahal, di balik layar, koneksi rahasia Hiralah yang membuat bisnis Ziko terus meroket.
Penderitaan Hira mencapai puncaknya ketika sebuah kesalahpahaman sengaja diciptakan untuk menjebaknya. Saat Ziko terang-terangan melukai harga dirinya demi wanita lain, kesabaran Hira akhirnya habis. Ia memutuskan melangkah pergi dan menyetujui perceraian tanpa meminta harta sepeser pun.
Kepergian Hira menjadi awal kehancuran dunia Ziko. Rumah yang tadinya hangat berubah menjadi asing, dan rahasia besar di balik sukses bisnisnya perlahan terbongkar. Di sisi lain, Hira bangkit menunjukkan identitas aslinya sebagai wanita berkelas dan berpengaruh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 Anggapan yang Salah
Ziko masih berdiri mematung di tengah ruang kerjanya. Ponsel di genggamannya terasa dingin, sementara suara panik dari sekretarisnya di seberang telepon perlahan memudar setelah panggilan diputus. Matanya tertuju lurus pada lembaran kertas putih bermaterai yang tergeletak di atas meja. Judul surat itu, Surat Gugatan Cerai, seolah menjadi pukulan kedua setelah kabar penolakan dari Grand Wijaya Group.
"Ziko? Ada apa, Nak? Siapa yang telepon tadi?"
Suara Bu Rani memecah keheningan. Wanita tua itu melangkah masuk ke dalam ruang kerja dengan daster rumahan yang longgar, wajahnya dipenuhi rasa penasaran. Begitu melihat putranya berdiri kaku dengan wajah pucat pasi, alis Bu Rani seketika bertaut.
Ziko tidak langsung menjawab. Ia meletakkan ponselnya di atas meja dengan tangan yang sedikit bergetar, lalu mengambil kembali lembaran kertas gugatan cerai milik Mahira.
"Mahira... dia benar-benar menggugat cerai aku, Bu," kata Ziko, suaranya terdengar agak serak.
Bu Rani tertegun sejenak, namun sedetik kemudian ia mendengus sinis dan tertawa meremehkan. Ia merebut kertas itu dari tangan Ziko, membaca sekilas dengan tatapan mata yang penuh penghinaan.
"Cerai? Perempuan kampung itu berani menggugat cerai kamu?" Bu Rani mencampakkan kembali kertas itu ke atas meja dengan kasar. "Halah, Ziko! Kamu jangan bodoh mau ditakut-takuti oleh kertas beginian. Ini paling cuma akal-akalan dia saja buat cari perhatian!"
"Tapi Bu, dia sudah tanda tangan di atas materai. Berkasnya juga kelihatan resmi," ujar Ziko, mencoba menepis rasa cemas yang mendadak menyerang dadanya.
"Resmi dari mana? Memangnya dia punya uang buat bayar pengacara? Buat makan sehari-hari saja dia bergantung dari uang bulanan yang kamu kasih," sahut Bu Rani berapi-api.
"Dia sengaja melakukan ini karena tahu semalam kamu bentak dan kamu suruh angkat kaki. Dia sengaja menggertak kamu supaya kamu panik, merasa bersalah, lalu menjemputnya ke desa sambil memohon-mohon ampun. Perempuan seperti Mahira itu tidak akan punya nyali untuk hidup sendiri di kota ini!"
Mendengar penjelasan ibunya, Ziko terdiam sejenak. Logikanya mulai membenarkan kata-kata Bu Rani. Benar juga. Selama tiga tahun ini, Mahira tidak pernah memegang uang dalam jumlah besar. Ia tidak punya pekerjaan, tidak punya teman dekat di kota, dan tidak memiliki keluarga lagi setelah ayahnya meninggal. Dari mana seorang wanita sebatang kara bisa mengurus berkas gugatan serapi ini jika bukan sekadar gertakan kosong untuk membalikkan keadaan?
Rasa panik di dada Ziko perlahan berganti menjadi rasa jengkel yang baru. Egonya sebagai seorang pria sukses kembali bangkit. "Ibu benar. Dia pasti cuma mau menggertakku agar aku merasa bersalah atas kejadian semalam."
"Tentu saja! Makanya, kamu jangan goyah," dukung Bu Rani dengan senyum puas. "Biarkan saja dia pergi ke desanya. Kita lihat saja, paling lama tiga hari juga dia sudah menangis di depan pagar rumah ini, memohon-mohon untuk diterima kembali karena kelaparan di sana."
Ziko mengangguk setuju, melipat kertas gugatan cerai tersebut dan memasukkannya ke dalam laci meja kerja dengan kasar. Ia merasa tidak perlu memusingkan urusan Mahira lagi untuk saat ini. Fokus utamanya harus segera dialihkan pada masalah yang jauh lebih besar dan mengancam hidupnya, Grand Wijaya Group.
Setengah jam kemudian, Ziko melangkah keluar dari kamarnya setelah berganti pakaian kerja lengkap. Namun, suasana rumah yang mendadak sepi membuat langkah kakinya terhenti di lorong tengah.
Biasanya, jam segini rumah sudah bersih, aroma kopi hangat sudah tercium dari meja makan, dan pakaian kerjanya sudah disiapkan dengan rapi tanpa noda sedikit pun. Pagi ini, meja makan tampak kosong, menyisakan sisa cangkir semalam yang belum dicuci di dapur bawah. Area belakang rumah terasa begitu lowong dan dingin.
Ziko berjalan pelan menuju kamar belakang, kamar tempat Mahira tidur selama beberapa bulan terakhir. Ia membuka pintu kayu tersebut dan melangkah masuk.
Kamar itu tampak sangat rapi, terlampau rapi hingga terasa kosong. Ranjang kecilnya tertata bersih. Ziko berjalan mendekati lemari pakaian, lalu membuka pintunya lebar-lebar.
Dahi Ziko mengernyit tajam saat melihat isi lemari tersebut. Seluruh pakaian mewah, gaun-gaun bagus, tas, dan perhiasan yang pernah ia belikan untuk Mahira selama tiga tahun ini masih tergantung rapi di tempatnya.
Tidak ada satu pun barang berharga yang berkurang. Mahira benar-benar hanya mengosongkan rak paling bawah, tempat ia menyimpan beberapa potong baju katun lama yang ia bawa dari desa dulu.
Ziko mendekati meja kecil di sudut kamar. Di atas permukaan kayu yang bersih, tergeletak sebuah kartu debit berwarna perak beserta pin yang ditulis di secarik kertas kecil. Itu adalah kartu ATM berisi uang nafkah bulanan yang Ziko berikan, yang ternyata sama sekali tidak disentuh oleh Mahira.
Melihat semua itu, ada setitik rasa asing yang mendadak mengetuk kesadaran Ziko. Mahira pergi tanpa membawa harta gono-gini sedikit pun.
Ia tidak menuntut apa-apa, tidak membawa barang mewah apa-apa, dan meninggalkan semua fasilitas rumah ini tanpa penyesalan. Sikap ini terlalu ekstrem untuk ukuran orang yang hanya ingin membuat gertakan kosong.
"Ziko! Kamu sedang apa di kamar pembantu itu? Ayo cepat berangkat, nanti kamu terlambat ke kantor!" panggilan Bu Rani dari ruang depan membuyarkan lamunan Ziko.
Ziko menggelengkan kepalanya pelan, mencoba mengusir pikiran-pikiran aneh yang mulai mengganggu logikanya. Ia menutup kembali pintu lemari dengan rapat, lalu berjalan keluar dari kamar belakang.
'Ibu benar,' batin Ziko mencoba menenangkan dirinya sendiri saat berjalan menuju mobilnya di garasi. 'Mahira hanya sedang berakting menjadi wanita tegar yang tersakiti. Dia sengaja meninggalkan semua ini agar aku merasa bersalah. Kita lihat saja sampai kapan dia bisa bertahan tanpa uangku di luar sana.'
Dengan pemikiran itu, Ziko melajukan mobil sedannya keluar dari halaman rumah, menuju kantor pusat perusahaannya untuk menghadapi badai penolakan dari Grand Wijaya Group, tanpa pernah menyadari bahwa keputusan untuk mengabaikan kepergian Mahira pagi ini adalah awal dari kekeliruan terbesar dalam hidupnya.
Lanjutkan jangan ya? Ok, saya coba lanjut sampai bab 40 ya teman-teman. Kalo masih gagal, mungkin akan saya stop atau pindah ke tempat lain.