NovelToon NovelToon
Bocah Sampah Penakluk Akademi Mecha

Bocah Sampah Penakluk Akademi Mecha

Status: sedang berlangsung
Genre:Supernatural / Perubahan Hidup / Peradaban Antar Bintang
Popularitas:475
Nilai: 5
Nama Author: Fajar

Planet 3212—planet sampah paling melarat.

Tri, bocah tujuh tahun, bertahan dari rongsokan—tapi ia menyimpan ingatan insinyur mecha dewa dari kehidupan sebelumnya. Kesalahan pendaftaran melemparkannya ke jurusan tempur paling brutal. Semua meremehkan bocah sampah ini—sampai ia menghancurkan lawan, rancangan "jelek"nya mengguncang forum maestro, dan kekuatan 3S-Agung yang terpendam mulai terkuak.

Diburu Kabut Hitam, dilindungi rival terkuatnya, Tri harus pilih: tunduk—atau bangkit menelan takhta bintang. Dari tumpukan sampah menuju singgasana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fajar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 10

Bab 10 — Ujian Daya Indra

“Berikutnya, Tri.”

Ruang uji mendadak lebih sunyi.

Bukan karena nama Tri istimewa.

Karena semua orang ingin melihat anak kelas B yang kemarin membuat Mecha latihan berdiri seperti pernah memakainya sejak lahir.

Tri bangkit dari bangku tunggu.

Dodo, yang duduk dua baris di belakang, langsung mencondongkan badan. “Jangan pingsan lagi.”

Tri melewati kursinya tanpa menoleh. “Bawa makanan.”

“Lo pikir gue kantin jalan?”

“Kalau berisik, iya.”

Beberapa murid menahan tawa. Dodo mendengus, tetapi tangannya tetap meraba saku jaket, memastikan dua batang roti daging masih ada.

Ruang uji Daya Indra Sekolah 3212 tidak besar. Dindingnya putih kusam. Di tengah ruangan berdiri alat ukur berbentuk kursi logam dengan lingkar kepala transparan, dua penahan pergelangan, dan panel cahaya setinggi manusia. Di panel itu ada deret tingkat dari B sampai 3S.

Lampu B paling bawah menyala redup.

Lampu A di atasnya belum menyala.

Di atas lagi, Ultra-A, S, SS, 3S, semuanya gelap seperti nama-nama tempat mahal yang tidak punya hubungan dengan anak Planet 3212.

Instruktur uji, Bu Ratri, menatap data di tablet. “Tri. Kelas B. Nilai praktik Mecha...”

Ia berhenti sebentar.

Angkanya terlalu bersih untuk murid yang kemarin pingsan karena lapar.

Tri berdiri di depan alat. “Saya masuk sekarang, Bu?”

“Masuk.”

Kursi logam dingin menyentuh punggungnya.

Penahan pergelangan mengunci.

Lingkar transparan turun mengurung kepala, bukan menekan, hanya membatasi jarak pandang. Bau disinfektan dan logam panas masuk ke hidung. Di sisi kanan, jarum data mulai bergerak.

Bu Ratri berdiri di balik kaca. “Atur napas. Saat titik cahaya muncul, dorong dengan Daya Indra. Jangan memaksa melebihi batas. Kalau terasa terkunci, berhenti.”

Tri mengangguk.

Lampu ruangan meredup.

Di dalam lingkar kepala, satu titik cahaya muncul.

Kecil.

Putih.

Mengambang di depan matanya seperti baut jatuh di ruang gelap.

Tri menyentuhnya dengan pikiran.

Tidak ada apa-apa.

Ia menunggu sensasi yang dijelaskan Pak Ilyas berkali-kali.

Rasa terkunci.

Rasa seperti dahi didorong ke dinding.

Rasa seperti ada pintu berat yang harus dibuka dengan bahu.

Tidak ada.

Titik cahaya itu malah bergerak begitu ia berpikir “maju”.

Mulus.

Terlalu mulus.

Di luar kaca, panel tingkat B menyala penuh dalam satu tarikan.

Murid-murid di belakang berbisik.

“Cepat sekali.”

“B memang bukan batasnya.”

“Dia kemarin pingsan itu pura-pura?”

Dodo mengangkat dagu seolah-olah keberhasilan Tri adalah miliknya. “Sudah gue bilang, dia cuma lapar.”

Tri tidak mendengar jelas.

Ia sedang menatap titik cahaya.

Titik itu masih bergerak naik.

Lampu A mulai menyala, satu ruas demi satu ruas.

Masih tidak ada rasa terkunci.

Ini buruk.

Pikiran itu muncul lebih cepat daripada rasa senang.

Kalau tubuh biasa merasakan penghalang pada batasnya, dan ia tidak merasakan apa pun, berarti alat ini bukan sedang mengukur kekuatannya saja. Alat ini juga menunggu reaksi yang seharusnya ada.

Tidak boleh terlalu bersih.

Tidak boleh terlalu lurus.

Tidak boleh terlalu mudah.

Tri memperlambat dorongan.

Titik cahaya bergetar.

Ia sengaja membuatnya goyah sedikit, seperti tangan yang mulai lelah. Lampu A naik sampai delapan puluh persen, berhenti, turun dua ruas, lalu naik lagi.

Bu Ratri menatap panel.

“Stabilkan.”

Tri menarik napas.

Ia memberi dorongan kecil.

Lampu A penuh.

Tepat di garis batas.

Tidak menyentuh Ultra-A.

Tidak lewat satu ruas pun.

Ruang uji pecah oleh suara murid-murid.

“A!”

“Kelas B keluar A!”

“Pantas dia mengalahkan Dodo.”

“Diam!” Bu Ratri mengetuk kaca.

Dodo berdiri setengah. “Siapa yang bilang mengalahkan gue?”

Semua orang menoleh.

Dodo duduk lagi.

Tri menjaga wajahnya kosong.

Di dalam, titik cahaya masih menunggu.

Ia tahu bisa mendorong lebih jauh.

Bukan mungkin.

Pasti.

Rasanya bahkan belum seperti mengangkat beban. Lebih mirip menggeser koin di meja licin. Kalau ia melepas kendali, cahaya itu akan terus naik. Ultra-A. Mungkin S. Mungkin lebih.

Dan setelah itu, semua mata yang selama ini hanya melihat anak miskin akan berubah menjadi tangan.

Tangan yang memeriksa.

Tangan yang mengambil.

Tangan yang memotong benda mahal dari tempat asalnya.

Tri sudah cukup sering melihat barang bagus dirampas dari orang yang tidak punya nama keluarga.

Ia tidak akan menjadi barang.

“Saya berhenti, Bu,” katanya.

Bu Ratri tidak langsung menjawab.

Ia menatap kurva di panel.

Kurva itu terlalu halus pada bagian awal, lalu tiba-tiba menjadi seperti murid biasa yang menahan lelah di ujung A. Perubahan itu tidak salah. Tetapi bagi orang yang biasa melihat ratusan anak menabrak batas, perubahan itu terasa seperti sambungan las yang diamplas terlalu rapi.

“Ulang.”

Ruang uji langsung diam lagi.

Tri menoleh sedikit. “Ada masalah, Bu?”

“Ulang.”

Nada itu bukan permintaan.

Penahan pergelangan belum terbuka.

Titik cahaya kembali ke awal.

Kali ini Tri lebih hati-hati.

Ia membiarkan lampu B naik lebih lambat. Pada batas B menuju A, ia memberi jeda kecil, seolah-olah tubuhnya mencari jalan. Lalu A naik, tidak semulus tadi, tetapi tetap kuat.

Penuh.

Berhenti.

Bu Ratri mengetuk panel. “Sekali lagi.”

Dodo tidak bercanda lagi.

Di belakang kaca, murid-murid saling melihat. Tiga kali tes biasanya hanya untuk alat rusak atau hasil mencurigakan. Tri menutup mata sejenak. Ia harus membuat kebohongan yang sama terlihat alami untuk ketiga kalinya.

Titik cahaya muncul.

Ia dorong.

B.

Jeda.

A.

Goyah sedikit.

Penuh.

Berhenti.

Tidak lebih.

Lampu Ultra-A tetap gelap.

Bu Ratri akhirnya mematikan alat.

Penahan pergelangan terbuka.

Tri keluar dari kursi dengan langkah biasa. Tidak terlalu cepat. Tidak terlalu lambat. Ia bahkan mengusap pelipis, meniru murid lain yang baru selesai tes.

Dodo langsung mendekat dan menyodorkan roti daging.

Tri menerimanya.

“Lo A,” bisik Dodo.

“Roti ini gratis?”

“Di saat seperti ini lo masih nanya harga?”

“Di semua saat gue nanya harga.”

Dodo menatapnya seperti melihat orang sakit. “Gratis.”

Tri menggigit.

Baru setelah itu ia merasa sedikit tenang.

Bu Ratri keluar dari ruang kontrol sambil membawa lembar cetak. “Tri.”

Tri menelan cepat. “Ya, Bu.”

“Hasil sementara: Daya Indra tingkat A. Dengan nilai praktik Mecha dan ujian berburu, kau memenuhi batas pendaftaran akademi militer.”

Suara bisik-bisik kembali naik.

A.

Tiket keluar dari Planet 3212.

Tiket menuju Mecha sungguhan, bahan sungguhan, arena sungguhan.

Tiket yang tidak murah, tetapi setidaknya pintunya terbuka.

Tri menerima lembar itu dengan dua tangan. “Terima kasih, Bu.”

Bu Ratri tidak melepaskan kertasnya selama satu detik.

Matanya menatap Tri seperti teknisi melihat mesin yang menyala tanpa suara seharusnya.

“Saat mendorong titik, kau merasakan apa?”

Tri mengangkat alis. “Lelah.”

“Selain lelah.”

“Lapar.”

Dodo di belakang hampir tersedak.

Bu Ratri tidak tertawa. “Rasa terkunci?”

Tri berhenti setengah napas.

Terlalu lama akan salah.

Terlalu cepat juga salah.

Ia mengerutkan dahi seolah mencoba mengingat. “Ada, Bu. Di ujung A. Karena itu saya berhenti.”

Bu Ratri menatapnya beberapa detik.

Lalu ia melepaskan kertas.

“Jangan memaksa sebelum masuk akademi. Kerusakan otak karena memakai Mecha di atas batas bukan cerita untuk menakuti anak kecil.”

“Saya mengerti.”

Tidak.

Ia belum mengerti sepenuhnya.

Tetapi ia cukup mengerti bahwa batas orang lain dan batasnya mungkin bukan benda yang sama.

Tri berjalan keluar dari ruang uji bersama Dodo. Di belakang mereka, Bu Ratri kembali ke panel data. Seorang instruktur lain masuk, membawa cangkir kopi, lalu berhenti saat melihat kurva di layar.

“A yang bagus,” katanya.

Bu Ratri memperbesar tiga kurva ulangan.

Awalnya berbeda.

Ujungnya sama.

Terlalu sama.

Ia menurunkan suara. “Kau pernah melihat Daya Indra... tanpa rasa terkunci sama sekali?”

Instruktur itu menatap layar.

Di luar kaca, Tri berdiri di koridor dengan lembar hasil A di tangan, wajahnya datar, mulutnya masih mengunyah roti daging gratis.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!