NovelToon NovelToon
Apotheosis Of The Solitary Hunter: Highschool Of The Dead

Apotheosis Of The Solitary Hunter: Highschool Of The Dead

Status: tamat
Genre:Evolusi dan Mutasi / Reinkarnasi / Action / Zombie / Hari Kiamat / Antagonis / Tamat
Popularitas:857
Nilai: 5
Nama Author: mamang to get her....

"Kecantikan tak bisa memakan racun kiamat, dan jabatan tak bisa membendung gigitan mayat."

Bereinkarnasi satu tahun sebelum bencana wabah The Them pecah, Thomas—seorang pria asal Indonesia—memilih jalan kelam demi bertahan hidup. Bergabung dengan sindikat perdagangan manusia, ia membiarkan tangannya berlumuran darah, memburu wanita-wanita Jepang untuk dijual kepada para pejabat demi satu tujuan: mengumpulkan modal tanpa batas.

Seluruh uang haram itu ia sulap menjadi sebuah Fortress Mansion bernilai miliaran yen di puncak pegunungan dekat SMA Fujimi—benteng pertahanan baja mandiri yang dilengkapi teknologi tinggi, stok logistik melimpah, dan persenjataan lengkap yang dapat dioperasikan seorang diri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mamang to get her...., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14 Jeritan Di Pondok Kayu

Malam kian melarut di kawasan pegunungan. Angin dingin menusuk hingga ke tulang, bersiul samar di antara rimbunnya pohon-pohon pine yang membisu. Di dalam pondok kayu pemotong kayu yang rapuh dan berdebu, atmosfer begitu tegang hingga suara helaan napas pun terasa memekakkan telinga.

Satu-satunya sumber cahaya di dalam bangunan tua itu adalah nyala api lilin kecil yang berkedip-kedip ditiup angin yang menerobos masuk dari celah-celah papan.

Rei Miyamoto duduk meringkuk di sudut ruangan, memeluk kedua lututnya yang gemetar. Lambungnya terasa melilit, memunculkan rasa mual yang teramat sangat akibat belum menelan makanan sejak pagi hari. Di sampingnya, Saya Takagi memandangi kacamata retaknya dengan tatapan kosong. Keangkuhatannya sebagai putri keluarga elit telah hancur lebur, berganti dengan keputusasaan yang merayap perlahan.

"Aku... aku lapar, Takashi," bisik Rei dengan suara sangat pelan, hampir tak terdengar. Air mata membendung di sudut matanya yang lelah.

Takashi Komuro yang bersandar di dekat pintu kayu hanya bisa mengepalkan tangannya rapat-rapat hingga buku-buku jarinya memutih. Rasa tidak berdaya menghantam dadanya begitu telak. Ia adalah pria yang membusungkan dada dan berjanji akan melindungi semua orang, tetapi kini ia bahkan tak mampu memberi sepucuk biskuit pun untuk Rei.

Ia memikirkan Thomas—pria asing yang saat ini mungkin sedang menikmati makanan hangat, minuman dingin, dan tempat tidur yang nyaman di dalam Fortress Mansion yang kokoh. Rasa cemburu dan benci kembali membakar dada Takashi.

"Tahan sedikit lagi, Rei," kata Takashi dengan nada serak yang dipaksa tenang. "Besok pagi kita akan turun ke area perumahan di kaki bukit. Pasti ada minimarket yang belum dijarah."

"Dan bagaimana kalau kita mati sebelum pagi tiba, Siswa Komuro?" potong Shido Koichi dengan nada dingin dan penuh sarkasme. Sang guru duduk di sudut teraman ruangan, memeluk tas punggungnya sendiri yang berisi sisa botol air minum terakhir—air yang bahkan tak ia bagikan kepada murid-muridnya yang kehausan.

"Tutup mulutmu, Pak Shido!" gertak Kohta Hirano, tangannya yang gemetar memegang erat sebatang pipa besi tua yang ia temukan di lantai.

Saeko Busujima berdiri tegak di dekat jendela yang tertutup tirai kotor. Matanya yang tajam tetap menatap ke luar, mengabaikan perdebatan tak berguna di dalam ruangan. Pengalaman bertarungnya memberi sinyal bahaya yang sangat jelas. Udara di luar pondok ini terasa terlalu sunyi—sebuah kesunyian yang mematikan.

"Cukup," potong Saeko tegas, suaranya membuat semua orang seketika bungkam. "Hemat tenaga kalian. Jangan membuat suara. Hutan ini bukan tempat yang aman."

Namun, peringatan Saeko sudah terlambat.

Aroma bau badan, keringat dingin ketakutan, dan helaan napas dari belasan manusia yang berkerumun di ruang sempit itu telah menyebar menembus celah-celah papan kayu, terbawa angin malam ke seluruh penjuru lereng bukit.

GGRRRRRRRR...

Suara geraman berat dan serak bergema dari balik kegelapan semak belukar. Bukan satu atau dua, melainkan puluhan geraman yang saling bersahutan!

"M-mereka datang..." cicit seorang siswa laki-laki di pojok ruangan dengan wajah sepucat mayat.

THUMP!

Dinding papan sebelah kanan pondok dihantam keras dari luar! Papan kayu yang sudah lapuk itu berderit tajam, paku-pakunya mulai terlepas. Histeria pecah seketika di dalam pondok. Gadis-gadis menjerit ketakutan, sementara para siswa berlarian panik saling dorong demi menjauhi dinding yang dihantam.

KRAAAK!

Dinding kayu itu jebol seketika. Tangan-tangan kaku dengan kuku berdarah menembus masuk, disusul oleh puluhan zombie yang menerobos bagaikan gelombang air bah. Mereka adalah zombie-zombie warga lokal dan pendaki yang terinfeksi di pegunungan, matanya memutih tanpa pupil dan rahangnya meneteskan liur busuk.

"Tahan pintunya! Bertarung!" teriak Takashi histeris seraya mengayunkan tombak rakitannya, menancapkan pisau di ujung kayu itu ke leher zombie terdepan.

Namun jumlah monster itu terlalu banyak. Dalam hitungan detik, seorang siswa laki-laki di barisan belakang ditarik keluar lewat jendela oleh tiga zombie sekaligus.

"TOLONG AKU! TAKASHI! PAK SHIDO! TOLONG—AAARGHHH!"

Jeritan memilukan siswa itu terputus saat lehernya dikoyak hidup-hidup di kegelapan malam. Darah segar menyembur membasahi lantai kayu pondok. Bau amis yang menyengat makin memicu kegilaan para mayat hidup di luar.

"Lari! Keluar dari sini!" jerit Shido Koichi tanpa memedulikan murid-muridnya lagi. Ia mendorong dua siswi hingga jatuh terlentang untuk dijadikan umpan, lalu melompat keluar melewati pintu belakang yang tembus ke semak-semak.

"Pak Shido! Pria bajingan itu!" maki Kohta seraya mengayunkan pipa besinya secara kalap memukul kepala zombie yang mendekat.

Kekacauan mutlak terjadi. Pondok kayu rapuh itu berubah menjadi tempat pembantaian dalam hitungan menit. Nilai-nilai moral, rasa hormat kepada guru, dan janji perlindungan menguap tak berbekas. Manusia-manusia di dalamnya saling menginjak, saling tumbalkan, dan berteriak histeris dalam ketakutan yang paling murni.

Sementara itu, sekitar dua ratus meter di atas lokasi pembantaian, berdiri sebuah sosok di atas dahan pohon pine yang tinggi.

Thomas memperhatikan kekacauan di pondok kayu itu melalui teropong malam (night vision monocular). Wajahnya tertutup masker taktis hitam, dan di tangannya tergegam erat machete baja perisai yang berkilat dingin diterpa cahaya bulan.

Ia melihat bagaimana Shido melarikan diri bagaikan tikus got, melihat bagaimana Takashi berjuang panik mempertahankan Rei, dan melihat bagaimana gadis-gadis yang dulu dipuja-puja di sekolah kini merangkak di tanah berdarah sambil menangis memohon keajaiban.

"Kecantikan yang sia-sia, moralitas yang rapuh," bisik Thomas dingin tanpa ada sedikit pun rasa kasihan di dalam hatinya.

Namun, mata Thomas tidak tertuju pada para penyintas yang sedang dibantai. Pandangannya bergeser ke arah bagian belakang kerumunan zombie.

Di sana, merangkak keluar dari kegelapan hutan, seekor monster berukuran tidak wajar. Itu adalah seekor zombie beruang pegunungan—tubuhnya membengkak hingga dua kali lipat ukuran normal, kulit tebalnya tertutup nanah dan luka menganga, serta cakar fisiknya memanjang tajam bagaikan pisau baja.

Pendaran cahaya ungu pekat terpancar sangat terang dari balik dada tebal monster beruang tersebut.

"Kristal Zombie Tier 2 dari mutasi predator apex..." gumam Thomas. Binar matanya seketika menyala tajam, dipenuhi haus akan kekuatan. "Perburuan yang sebenarnya telah tiba."

Tanpa membuang waktu, Thomas melompat turun dari dahan pohon dengan kelenturan fisik Tier 1 yang luar biasa. Ia menyatu dengan kegelapan malam, melesat menuju tempat pembantaian bukan untuk menyelamatkan siapa pun, melainkan untuk merebut kristal dari dada sang monster beruang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!