Jeremy Aslan, kepala mafia paling ditakuti, mengira menikahi Claire, putri wakil presiden akan memberikan keuntungan besar pada bisnis senjata yang sedang dia jalankan. Ternyata, yang ia dapatkan adalah ... menghadapi perempuan paling bikin sakit kepala sepanjang dia hidup.
Alih-alih fokus dengan bisnis dunia gelapnya, ia malah fokus dengan segala tingkah laku random Claire seperti, diam-diam menciptakan bom dan meledakkan kantor polisi hanya karena ia punya dendam dengan polisi, merusak rumah pribadi politisi yang dia anggap sering merendahkan ayahnya, dan bekerja di perusahaan Farmasi hanya untuk membuktikan mantan pacarnya adalah gay.
Bagi Jeremy, mengendalikan ratusan anak buah bersenjata jauh lebih mudah daripada menghadapi satu istrinya yang nakal dan sama sekali tidak mengenal kata takut. Jeremy hampir menyerah pada semua kenakalan perempuan itu, sampai Claire tiba-tiba di culik, saat itulah dunia Jeremy hancur. Karena akhirnya ia menyadari, Claire adalah dunianya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Turun, Claire
Saat Jeremy membuka matanya di pagi hari, makhluk pertama yang dia lihat adalah si pembuat onar Claire. Gadis itu juga sudah bangun, matanya terbuka lebar dengan senyum lebar dan kening yang bergerak-gerak aneh. Alis Jeremy terangkat, ia hendak bangkit tapi tubuhnya di tindih oleh gadis itu.
"Kenapa meluk-meluk aku? Nggak tahan sama kecantikan aku? Udah jatuh cinta ya?"
Goda Claire tanpa malu-malu. Jeremy mendengus lalu mendorong pelan tubuh gadis itu. Tapi bukannya menjauh, Claire langsung duduk di atas perut Jeremy, membuat lelaki kaget. Gadis ini benar-benar. Ia heran bagaimana orangtuanya yang memiliki nama besar itu mendidiknya.
"Turun, Claire." katanya tegas. Tatapannya tajam seperti biasa.
"Nggak mau, aku mau cari tahu jantung kamu berdetak kencang apa nggak. Kalo kencang fiks, kamu ada rasa sama aku." Claire lalu membenamkan kepalanya ke dada Jeremy, mendengar jantung pria itu seperti yang dia katakan.
Jeremy masih biasa saja, jantungnya berdetak beraturan. Tidak cepat, tidak lambat, seperti orang normal. Dia hanya pusing menghadapi gadis setengah waras ini. Ia hanya bisa mengerutkan kening dalam diam, merasa seluruh logika akal sehatnya diuji habis-habisan setiap kali berhadapan dengan gadis ini. Ia mencoba menahan diri agar tidak bertindak kasar, tahu betul sifat Claire yang justru akan makin menjadi-jadi jika dilarang dengan nada tinggi.
"Turun, Claire. Jangan lakukan hal yang tidak perlu," ulangnya lagi dengan suara rendah dan tegas, meski nada bicaranya tidak lagi setajam dulu.
Namun Claire seolah tuli terhadap perintah itu. Ia tetap duduk tegak di atas perut Jeremy, kepalanya tetap menempel erat di dada bidang itu, telinganya mendengarkan dengan saksama setiap detak jantung yang berirama teratur. Beberapa detik berlalu, dan ia mengangkat wajahnya dengan ekspresi bingung.
"Lho? Kok detaknya biasa saja? Padahal pas bangun kita tidur berpelukan, kamu meluk aku erat banget. Apa jangan-jangan beneran kamu nggak suka perempuan lagi? Kamu beneran gay?" tanyanya polos, lalu menyandarkan dagunya tepat di atas dada Jeremy, menatap wajah pria itu dengan pandangan menyelidik.
Jeremy mendengus pelan, matanya menatap wajah gadis itu yang terlihat begitu dekat hingga ia bisa melihat jelas setiap helai bulu mata dan bintik-bintik halus di pipinya.
"Jantungku berdetak normal karena aku tenang. Kalau kau terus bertingkah aneh begini, bukan berdebar kencang, tapi malah bisa berhenti berdetak karena pusing. Satu hal lagi, hentikan bilang kata yang tidak masuk akal itu. Aku adalah pria normal yang bisa membuatmu berteriak-teriak minta ampun."
Mata Claire melotot lebar.
"Teriak-teriak minta ampun? Kamu mau nyiksa aku?! Mau ikat aku terus mukul-mukul aku kayak yang di film-film? Sebenci itu kamu sama aku?!" semburnya polos.
Jeremy menatapnya dengan mulut setengah ternganga, merasa otaknya seolah berhenti bekerja sesaat mendengar kesimpulan yang langsung meleset jauh dari maksud ucapannya. Bagaimana bisa kalimat yang bermaksud lain itu dipahami sedemikian rupa oleh gadis ini?
"Otakmu itu berisi apa saja?" geram Jeremy, suaranya terdengar lebih berat tapi tanpa amarah sungguhan. Ia mengangkat satu tangannya, lalu mencubit pelan pipi Claire yang lembut dan kenyal itu.
"Bukan begitu maksudku! Jangan suka mengarang cerita sendiri yang tidak ada hubungannya sama sekali."
Claire meringis kesakitan sedikit, lalu mengusap pipinya sambil menatap Jeremy dengan pandangan semakin bingung dan penasaran.
"Terus maksudnya apa? Kalau bukan menyiksa, lalu apa yang bisa bikin aku berteriak minta ampun? Jangan bilang kamu mau menggelitikku sampai aku tidak bisa bernapas, ya? Itu juga cara menyiksa lho!"
Jeremy menghela napas panjang, rasanya ingin menarik rambutnya sendiri karena kebingungan menghadapi tingkat kepolosan sekaligus kenakalan yang dimiliki istrinya ini. Ia sadar Claire memang tidak mengerti hal-hal yang lebih intim, dan justru itu yang membuat situasi ini makin lucu sekaligus membuat jantungnya yang tadinya tenang mulai bergerak tidak teratur. Padahal sudah pernah dia lakukan waktu di pesawat, tapi gadis ini tidak paham-paham juga.
"Nanti saja kau akan tahu sendiri." jawab Jeremy akhirnya, memilih menghindari penjelasan yang pasti akan membuat situasi makin kacau. Ia berusaha menenangkan dirinya sendiri, tapi posisi Claire yang masih duduk tegak di atas perutnya dengan jarak yang sangat dekat membuatnya sulit untuk tetap tenang sepenuhnya.
Claire mengerutkan kening, tidak puas dengan jawaban samar itu.
"Kenapa nanti? Sekarang jelaskan saja dong! Aku kan ingin tahu supaya tidak salah paham lagi. Atau… jangan-jangan itu hal yang sangat menyenangkan sampai kamu tidak berani mengatakannya secara langsung?" tanyanya lagi, matanya berbinar seolah baru menemukan petunjuk baru.
Jeremy menatapnya tajam, tapi sudut bibirnya tidak bisa menahan senyum kecil yang mulai muncul.
"Kau ini bertanya terus tidak ada habisnya. Kalau aku sudah berniat, kau tidak akan bisa bergerak sedikit pun dan hanya bisa mengikuti apa yang aku inginkan. Mengerti?"
Mendengar itu, Claire justru tersenyum lebar, matanya berkilat penuh rasa ingin tahu dan sedikit tantangan.
"Kayak menarik tuh. Kalau begitu, kapan kamu akan melakukannya?"
Mendengar ucapan itu, Jeremy menatap Claire lama. Perempuan ini benar-benar menantangnya dengan wajah polos itu. Ia kalau memegang pinggang Claire dan mendorongnya perlahan. Ia takut nafsunya akan bangkit seperti di pesawat waktu itu dan ia akan kehilangan kendali. Biar bagaimana pun dia adalah seorang pria yang juga membutuhkan kebutuhan jasmani seperti itu.
"Sudah, turun sekarang juga! Kalau tidak, aku benar-benar akan lakukan sesuatu yang membuatmu menyesal bertanya sejauh ini."
Claire mencebik. Lalu turun dari atas perut pria itu.
"Dasar nyebelin!" katanya lalu berjalan masuk ke dalam kamar mandi.
"Tuh kan, aku jadi rasa berak karena kamu terlalu pelit! Tunggu aku berak dulu!"
Heh? Perkataan yang meluncur begitu saja dari mulut Claire membuat Jeremy lagi-lagi ternganga. Wajahnya tercengang.
Jeremy masih terbaring di tempat tidur, matanya terbelalak lebar seolah baru mendengar hal paling aneh yang pernah dia dengar dari mulut perempuan. Ia tidak mengeluarkan suara apa pun, hanya bisa menatap pintu kamar mandi yang baru saja ditutup rapat itu dengan tatapan kosong.
Apa tadi yang dia dengar?
Setelah percakapan yang terasa mendebarkan, penuh rasa penasaran dan sedikit ketegangan, gadis itu justru mengakhiri semuanya dengan kalimat yang membuat suasana seketika hancur berantakan. Dari momen yang terasa begitu intim, tiba-tiba berubah menjadi hal yang paling wajar sekaligus paling memalukan untuk didengar.
Jeremy mengangkat tangannya, lalu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan kasar. Dadanya terasa naik turun, antara ingin tertawa terbahak-bahak atau merasa pusing sampai ingin memukul bantal di sampingnya.
"Ya Tuhan … apa yang harus aku lakukan dengan gadis itu." gumamnya pelan, suaranya terdengar bercampur antara kesal dan geli yang tak tertahankan.
kirain bom rakitan claire berbahaya hanya bikin gosong, mom thalia dan claire dan sahabat-sahabatnya aja🤣
claire nanti ketahuan mister jem dihukum kamu nakal banget, diam-diam keluar dari rumah sama sahabat2 kamu tanpa ijin mister jem😄
mommy thalia bergabung aja geng mafia mommy thalia jadi ketuanya, claire dan teman2nya anak buahnya pasti sangat seru dan menarik🤣🤭
Thalia cocok ni ketemu Claire yg nakal dan unik 🤣🤣🤣🤣bisa bikin group mafia cewe ni🤣🤣🤣🤣