NovelToon NovelToon
DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU

DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:15.6k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

Pernikahan kami sempurna. Harta, takhta, dan sepasang anak kembar yang rupawan telah kami miliki. Sebagai sesama pemilik perusahaan, aku dan Mas Hanif adalah definisi pasangan ideal di mata dunia.

​Namun, kesempurnaan itu runtuh saat Mas Hanif meminta izin untuk menikah lagi. Didukung oleh ibu mertuaku, seorang wanita polos datang dan mengaku siap berjuang dari bawah bersamanya.

​Dunia mengira aku akan mengamuk. Nyatanya, di balik anggunnya hijabku, aku justru tersenyum tenang. Aku mengiyakan, bahkan mengantarnya langsung ke pelaminan maduku.

​Mereka pikir aku pasrah? Salah besar.

​Sebelum melepasnya, sebuah perjanjian gono-gini rahasia telah kutandatangani bersama Mas Hanif. Lewat strategi bisnis yang rapi, perlahan akan kutarik semua aset dan kejayaan yang menyokongnya selama ini.

​Katanya siap berjuang dari bawah? Silakan nikmati perjuangan itu tanpa sepeser pun sisa hartaku. Selamat datang di skenario dendam manisku!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU

​Jarum jam dinding di ruang tamu utama rumah mewah kami baru saja berdentang delapan pagi lewat sedikit. Suasana rumah terasa sibuk dengan aktivitas pagi hari yang hangat. Di ruang tengah, kedua anak kembarku, Kayla dan Kenzie, sudah tampak rapi mengenakan seragam sekolah mereka lengkap dengan tas ransel di punggung masing-masing.

​Pagi ini, aku sengaja bersiap lebih awal. Mengenakan setelan blazer berwarna hijau emerald yang anggun dipadukan dengan hijab sutra senada, aku sudah memegang kunci mobil. Hari ini aku sendiri yang akan mengantarkan Kayla dan Kenzie ke sekolah, sebelum langsung bertolak ke kantor Amara Modest untuk memimpin rapat pleno. Aku sengaja mengatur jadwal ini karena aku tahu, sebentar lagi seseorang yang sangat penting akan datang ke rumah. Andai aku tetap berada di rumah saat proses itu terjadi, Mas Hanif pasti akan menggunakan celah emosional untuk memohon-mohon kepadaku. Aku tidak sudi memberikan panggung itu untuknya.

​Tok! Tok! Tok!

​Suara ketukan pintu depan terdengar konstan dan berwibawa. Asisten rumah tangga kami buru-buru membukakan pintu, dan sosok pria paruh baya berambut kelabu dengan setelan jas formal hitam yang rapi melangkah masuk. Dia adalah Pak Baskoro, pengacara kepercayaanku, yang membawa tas kerja kulit hitam berisi draf pemisahan harta mutlak yang kubutuhkan.

​"Selamat pagi, Ibu Hanum," sapa Pak Baskoro dengan senyuman hangat seorang senior yang sudah menganggapku seperti keluarga sendiri.

​"Selamat pagi, Pak Baskoro. Terima kasih sudah datang sepagi ini," balasku sambil tersenyum takzim.

​Begitu melihat sosok Pak Baskoro, Kayla dan Kenzie yang sedang memakai sepatu di dekat koridor langsung menghentikan aktivitas mereka. Wajah sepasang anak kembar berusia sembilan tahun itu mendadak berbinar riang. Mereka berdua langsung berlarian kecil mendekati pria tua itu.

​"Kakek Baskoro!" seru Kenzie dan Kayla kompak. Ya, sejak kecil, kedua anakku memang sudah terbiasa memanggil pengacara keluarga kami ini dengan sebutan Kakek karena kedekatan batin yang terjalin lama.

​"Halo, cucu-cucu Kakek yang pintar dan cantik," sapa Pak Baskoro, wajah tegasnya seketika mencair menjadi senyuman hangat seorang kakek. Beliau membungkuk sedikit, mengusap puncak kepala Kenzie dan Kayla bergantian dengan penuh kasih sayang. "Wah, sudah rapi sekali jam segini. Mau berangkat sekolah, ya?"

​"Iya, Kakek! Hari ini Kenzie mau ada kelas menggambar!" sahut Kenzie semangat.

​"Kayla juga hari ini diantar Bunda sampai ke depan kelas!" timpal Kayla manja sambil memeluk lengan Pak Baskoro sebentar.

​Aku tersennyum melihat interaksi manis itu. "Sayang, ayo pamit sama Kakek Baskoro. Mobilnya sudah dipanaskan oleh Pak Sopir di depan. Bunda juga harus segera berangkat ke kantor Amara Modest setelah mengantar kalian."

​"Siap, Bunda!" Kenzie dan Kayla bergantian mencium punggung tangan Pak Baskoro dengan takzim. "Kami berangkat dulu ya, Kakek Baskoro. Assalamualaikum!"

​"Waalaikumussalam. Belajar yang rajin ya, Nak," balas Pak Baskoro lembut.

​Setelah anak-anak berjalan lebih dulu ke arah mobil, aku mendekat dan menatap Pak Baskoro dengan pandangan mata yang penuh arti. Aku sengaja menurunkan volume suaraku. "Pak Baskoro, draf perjanjian pasca-nikah itu sudah saya baca semalam dan isinya sudah sangat sempurna. Saya sengaja tidak ikut dalam proses penandatanganan di dalam ruangan nanti. Saya tahu apa isi perjanjian itu dan saya hanya butuh tanda tangan Mas Hanif di atas materai. Saya percayakan proses eksekusinya mutlak kepada Anda."

​Pak Baskoro mengangguk paham, sorot matanya memancarkan dukungan penuh. "Saya mengerti, Ibu Hanum. Anda tidak perlu khawatir. Pergilah bekerja dengan tenang. Biar saya yang menyelesaikan urusan dengan suami Anda di dalam."

​"Terima kasih, Pak Baskoro. Saya jalan dulu," ucapku anggun. Aku melangkah keluar rumah, masuk ke dalam mobil bersama anak-anakku, lalu melesat pergi meninggalkan rumah menuju sekolah dan kantor Amara Modest, meninggalkan Mas Hanif yang sebentar lagi akan menghadapi kenyataan pahit sendirian.

​Di dalam ruang tamu yang kini sunyi, Mas Hanif akhirnya turun dari lantai dua setelah mendengar suara mobilku menjauh. Penampilannya tampak sangat kuyu, dengan lingkaran hitam pekat di bawah matanya, menandakan bahwa pria itu sama sekali tidak bisa memejamkan mata semalam akibat tekanan psikologis.

​Begitu melangkah ke ruang tamu, Hanif tertegun saat menyadari bahwa Hanum dan anak-anaknya sudah tidak ada di sana. Hanya ada Pak Baskoro yang sedang duduk tenang di sofa tunggal, sambil mengeluarkan dua bundel dokumen tebal bersegel hukum dari dalam tas kulitnya.

​"Selamat pagi pak Hanif." sapa pak Baskoro.

"Pagi Pak Baskoro silakan duduk, Pak," jawab Hanif terdengar kaku.

"Baik." Jawab Pak Baskoro profesional, nadanya dingin dan formal, sangat kontras dengan suaranya saat menyapa Kayla dan Kenzie yang memang Hanif dengar tadi.

Hanif mendudukkan tubuh kaku-nya di sofa panjang di hadapan Pak Baskoro. Matanya melirik ke arah luar jendela seolah mencari keberadaanku. "Hanum... Hanum di mana, Pak? Kenapa dia tidak ikut menemui Anda?"

​"Ibu Hanum sudah berangkat mengantarkan Kayla dan Kenzie ke sekolah dan beliau akan langsung bertolak ke kantor pusat Amara Modest untuk memimpin rapat," jawab Pak Baskoro tenang tanpa beban. "Beliau sudah tahu dan paham betul apa isi dari seluruh perjanjian ini, jadi kehadiran beliau tidak lagi diperlukan. Kita hanya butuh tanda tangan Anda pagi ini untuk melegalisasi pemisahan harta gono-gini secara mutlak."

​Melihat tumpukan kertas putih dengan stempel notaris tersebut diletakkan di hadapannya, ego Mas Hanif yang terancam mendadak bergejolak. Dia memajukan tubuhnya, menatap Pak Baskoro lurus-lurus dengan pandangan penuh tuntutan frustrasi.

​"Pak Baskoro... sebelum saya tanda tangan, saya ingin bertanya langsung kepada Anda sebagai pengacara keluarga kami selama sepuluh tahun ini," ucap Mas Hanif, nadanya naik satu oktav. "Kenapa Hanum melakukan hal sejauh ini? Kenapa istri saya tiba-tiba berubah dan meminta pemisahan harta secara mutlak di tengah pernikahan kami yang harmonis? Tolong jelaskan dari sudut pandang hukum dan logika Anda!"

​Pak Baskoro tidak langsung menjawab. Beliau perlahan membetulkan letak kacamatanya, menatap Mas Hanif dari balik lensa bulat dengan pandangan mata yang begitu dalam, tajam, dan sarat akan intimidasi moral.

​"Pak Hanif," panggil Pak Baskoro, suaranya mengalun rendah namun berat. "Ibu Hanum semalam sudah menelepon saya dan bercerita... katanya, Anda akan menikah lagi, ternyata. Tapi saya heran, kenapa sekarang Anda justru duduk di sini dan bertanya seolah-olah Anda tidak tahu apa yang sedang terjadi dengan rumah tangga Anda sendiri?"

​Mas Hanif langsung tersentak kaku, wajah kuyunya memerah karena malu dihantam kalimat terbuka dari sang pengacara senior.

​"Pak Hanif, ujian seorang laki-laki itu memang saat dia dikasih kehidupan yang mapan, lalu dia merasa punya kuasa dan ingin mendua," lanjut Pak Baskoro tanpa ampun, membedah mental Mas Hanif hingga tak berkutik. "Tapi maaf, beda dengan saya. Saya tidak akan pernah membuat dan melakukan hal menjijikkan itu jika saya jadi Anda, terlepas dari apa pun alasan ibadah yang Anda ucapkan menurut versi Anda sendiri. Menjaga komitmen satu wanita saat berada di puncak kejayaan adalah harga diri tertinggi seorang pria."

​Ketakutan yang sejak semalam menghantui Hanif mendadak memuncak ke ubun-ubun. Pertanyaan yang sejak kemarin tertahan di kerongkongannya akhirnya lolos dengan nada suara yang bergetar hebat, panik, dan dipenuhi ketakutan yang nyata.

​"Pak Baskoro... tolong jujur dengan saya," bisik Mas Hanif, matanya melebar tegang. "Apakah... apakah dengan adanya surat pemisahan harta mutlak ini, artinya nantinya Hanum... Hanum akan menceraikan saya setelah dia memisahkan semua asetnya? Apakah ini persiapan untuk menceraikan saya?"

​Mendengar pertanyaan yang dipenuhi rasa tidak aman dan ketakutan kehilangan kemewahan itu, Pak Baskoro langsung menjawab dengan nada ketus dan tegas, memotong kepanikan Mas Hanif tanpa memberikan ruang untuk dikasihani.

​"Tanyakan hal ini langsung pada istri Anda, Tuan Hanif!" jawab Pak Baskoro langsung, suaranya menyengat pendengaran Mas Hanif. "Tugas dan wewenang saya di sini hanya memastikan pembagian harta gono-gini berjalan adil dan legal demi melindungi hak klien saya. Mengenai kelanjutan status pernikahan, itu adalah hak mutlak Ibu Hanum sebagai pihak yang Anda kecewakan."

​Pak Baskoro menyodorkan sebuah pena berujung emas, mengetuk berkas dokumen di atas meja. "Silakan ditandatangani sekarang, Pak Hanif. Tunjukkan pada istri Anda, pada Ibu Anda dan pada calon istri muda Anda, bahwa Anda adalah kepala rumah tangga yang bertanggung jawab dan tidak mengincar sepeser pun kekayaan dari Amara Modest untuk pernikahan kedua Anda."

​Mas Hanif mematung. Dengan tangan yang gemetar hebat dan napas yang memburu menahan gejolak rasa bersalah yang menghimpit dada, dia akhirnya meraih pena tersebut. Dia menyadari, di rumah ini, dia tidak lagi memiliki kuasa.

​Sret... Sret...

​Suara gesekan pena di atas kertas putih itu terdengar begitu nyaring di ruang tamu yang sunyi. Mas Hanif membubuhkan tanda tangannya di atas materai pada kedua bundel dokumen tersebut dengan pasrah.

​Pak Baskoro dengan cekatan menarik kembali dokumen-dokumen itu, memeriksanya sejenak, lalu memasukkannya kembali ke dalam map kulit hitamnya dengan senyuman puas yang dingin. Langkah awal dari skenario keadilan untuk Hanum kini telah resmi dikunci di atas kertas putih, dan Mas Hanif baru saja menandatangani awal dari kehancuran finansialnya sendiri.

1
sunaryati jarum
Semoga prosesnya cepat sesuai harapan
Noey Aprilia
Reader aja ikutn jngkel tau ga....
blng aja pgn d tmani mkn gt,ga ush ngeles sna sni....gengsi aja d gdein.....🙄🙄🙄
Arin
Salah lawan nih......Hanif dimiskinkan semiskin miskinnya😁😁😁
Muft Smoker
gengsiny jgn byk2 kak tian ,, nnti org gx kebagian ,, 🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
kalo mau ngajak makan bareng lngsung aj ngomong ,, gx usah gengsi gtuuu🤣🤣🤣🤣
Muft Smoker
meski kaku Dan dingiin ,, tp tian sosok laki2 yg tanggung jawab ,,
Noey Aprilia
Iye...iye....
Yg gengsiny stnggi gunung.....kt tau lh kl situ holang kaya,ya kali kelaparan.....🤣🤣🤣....
Ma Em
Ternyata Hanif dan Bu Rahma itu sebenarnya dulunya orang miskin namun setelah menikah lagi Bu Rahma diangkat derajat dan jadi orang kaya dan terhormat dan kelakuannya jadi sombong dan sekarang Hanif dan Bu Rahma kembali ke awal lagi , semoga Hanum berjodoh dgn Tian karena Tian sdh menyayangi anak2 Hanum .
Heni Setiyaningsih
/Heart//Heart//Heart/
Noey Aprilia
Mau heran,tp gtulh knytaannya....
bkannya bruntung pnya istri cntik,mndiri,kaya raya pula...d tmbh kluarga yg mau nrima dia...
ni mlah ngelunjak...d kira dnia bkln kiamat kali kl hanum ga sm dia....
ccckkk.....🙄🙄🙄
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,

udh emnk si hanif ,, seharusny tnggal di tempat yg skrang ,, gx cocok dy tnggal di rumah mewaah ,,
🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Heni Setiyaningsih
sat set 😍😍
Noor hidayati
anak anak hanum itu umur 9th apa 5th,kok tingkahnya kayak masih balita,kalau 9th kan berarti sudah kelas 3 SD
Noor hidayati
kembar telat itu apa ya,apa sama dengan kembar tidak identik
Himna Mohamad
good kkk
Muft Smoker
udh kak ,, hanum ma tian aj ,, meski kaku , dingiin , bak kulkas 100 pintu ,, tp Dari sikap ny dy begitu menghargai hanum , menyayangi si kembar ,, udh pas tuh jd bpa Dan suami idaman 👍👍👍😁😁😁😁
Muft Smoker
waah ad apa niih ,, tian klo suka jgn lama2 di pendam ,, takut keburu jdii Batu ,, 🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
susi ana
apakah nantinya Tian akan bersama Hanum?
aku setuju banget klo mereka bersatu, biar Hanif semakin merana....
semangat thor, ceritanya bagus banget
blcak areng: makasih kakak🙏🙏
total 1 replies
Noey Aprilia
Mngknkh sbnrnya tian udh ska hanum dr dlu,cma dia mngalah dmi yg onoh???
Dr kulkas 6 pntu,jd cair kl sm ponakannya....
Noey Aprilia: Gabut.....🤣🤣🤣
total 2 replies
cinta semu 2
Hanif u sengaja gali lubang buat kematian u sendiri🤭
cinta semu 2
hanum kecerdasan u mampu membuat Hanif gila...🤣🤣🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!