"Demi menyelamatkan ayahnya, Alya setuju menggantikan kakaknya untuk memenuhi janji pernikahan dengan Mayor Damar. Namun, pada akhirnya semua hanyalah status dan diikat surat perjanjian yang berlaku selama tiga tahun. Di samping itu, Alya dan Damar menjalani kehidupan mereka masing-masing.
Namun, dua tahun kemudian, keduanya dipertemukan kembali di medan perang. Alya sebagai dokter ditugaskan ke perbatasan NTT, tempat Damar bertugas. Kontrak yang awalnya dianggap sebagai garis aman perlahan-lahan berubah menjadi bom waktu ketika cinta mengetuk hati Mayor Damar."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 4
Bab 04 - Rumah Dinas yang Hampir Roboh
Pos kesehatan itu lebih kecil dari yang Alya bayangkan.
Bangunannya berdinding semen kusam, cat putihnya mengelupas di banyak bagian. Di depan pintu ada papan bertuliskan Pos Kesehatan Terpadu Perbatasan, hurufnya mulai pudar terkena panas dan hujan. Di sampingnya berdiri gudang obat kecil dengan gembok berkarat.
Di belakang pos, bukit kering membentang sampai jauh.
"Maaf ya, Dok," kata Bidan Rina sambil menurunkan tas. "Tempatnya begini."
"Saya pernah jaga IGD saat plafon bocor," jawab Alya. "Ini masih bisa diperbaiki."
Joko tertawa. "Optimis sekali."
Alya baru saja hendak masuk ketika seorang prajurit datang.
"Dokter Alya?"
"Iya."
"Komandan minta Ibu ikut saya. Rumah dinas sudah disiapkan."
Alya menoleh ke arah pos komando yang terletak beberapa ratus meter dari sana.
Damar bahkan tidak datang sendiri.
Bagus.
Mungkin lebih baik begitu.
Dia mengambil koper kecil dan mengikuti prajurit itu. Rumah dinas untuk tenaga medis berada di deretan paling ujung kompleks. Beberapa rumah terlihat sederhana tapi layak. Ada jemuran, pot tanaman, anak-anak bermain bola, dan suara ibu-ibu mengobrol dari teras.
Namun prajurit itu terus berjalan melewati semuanya.
Sampai ke rumah terakhir.
Alya berhenti di depan pagar miring.
Rumah itu tampak lama tidak ditempati. Jendela depan retak. Terasnya penuh daun kering. Pintu kayu terlihat lembap. Dari celah bawah pintu, debu tebal terlihat jelas.
Prajurit yang mengantar tampak tidak enak.
"Ini... rumahnya, Dok."
Alya memandang rumah itu, lalu memandang prajurit.
"Serius?"
Prajurit itu menunduk. "Perintah dari bagian logistik, Dok."
"Bagian logistik atau Komandan?"
Wajah prajurit itu makin kaku.
Alya sudah tahu jawabannya.
Dia mengangguk. "Terima kasih."
"Kalau Dokter butuh bantuan..."
"Saya butuh sapu, kain pel, ember, karbol, dan kalau ada, orang yang tahu di mana stop kontak masih hidup."
Prajurit itu terkejut.
"Dokter tidak mau lapor dulu?"
"Untuk apa?"
"Rumahnya..."
"Kotor. Bukan mati."
Prajurit itu seperti ingin tertawa tapi takut.
"Baik, Dok. Saya carikan."
Setelah dia pergi, Alya membuka pintu.
Bau apek langsung menerjang.
Dia batuk sekali, lalu menutup hidung dengan ujung kerudung. Di dalam, debu menutupi lantai. Seekor cicak berlari di dinding. Meja kecil di ruang depan pincang, kasur tipis di kamar menggulung dengan noda yang tidak ingin dia tebak asalnya.
Alya meletakkan koper di teras.
"Baik," gumamnya. "Kita mulai dari napas."
Dia membuka semua jendela. Satu engsel hampir copot. Dia menopangnya dengan batu. Lalu dia mengikat rambut, menggulung lengan baju, dan mulai mengeluarkan kasur kotor ke halaman.
Saat itulah Damar muncul.
Dia berdiri di depan pagar, masih memakai seragam lapangan. Dua prajurit di belakangnya membawa map dan radio. Wajahnya datar, tapi matanya memperhatikan setiap gerakan Alya.
Alya menarik kasur sampai ke teras, lalu menoleh.
"Ada pasien?"
Damar tidak menjawab pertanyaan itu.
"Kamu sudah lihat rumahnya."
"Sedang saya lihat."
"Kalau tidak cocok, kamu bisa minta pindah ke rumah bidan."
Alya menepuk debu dari tangannya.
"Supaya nanti semua orang bilang saya datang sebagai istri komandan yang minta fasilitas khusus?"
Salah satu prajurit di belakang Damar menunduk cepat.
Damar menatap Alya.
"Kamu memang suka membuat semuanya terdengar seperti serangan."
"Karena biasanya memang begitu."
Angin lewat membawa debu dari halaman. Alya menahan batuk. Dia mengangkat kasur lagi, menyeretnya ke bagian yang terkena matahari.
Damar melihatnya.
"Kamu tidak perlu melakukan itu sendiri."
"Saya tahu."
"Lalu kenapa?"
"Karena saya bisa."
Jawaban itu membuat suasana seketika dingin.
Damar melangkah masuk melewati pagar. "Alya."
Dia tidak pernah memanggil nama Alya dengan lembut. Bahkan ketika suaranya pelan, tetap ada perintah di dalamnya.
Alya berdiri tegak.
"Ya, Komandan?"
Matanya bergerak sedikit.
Panggilan itu jelas membuatnya tidak nyaman.
"Di sini, aku atasan wilayah operasional. Jangan membuat masalah dengan warga, prajurit, atau keluarga yang tinggal di kompleks."
"Saya datang untuk bekerja."
"Aku tahu cara orang kota memandang penugasan daerah. Dua minggu pertama bersemangat, bulan berikutnya mengeluh, setelah itu minta dipulangkan."
Alya tertawa pelan.
"Anda benar-benar mengira saya punya cukup waktu untuk mengeluh?"
Damar diam.
"Di IGD, saya pernah berdiri dua puluh jam. Saya pernah menjahit luka orang mabuk yang memaki saya. Saya pernah dimarahi keluarga pasien karena BPJS mereka bermasalah. Rumah kotor tidak akan membuat saya pulang."
Damar menatapnya.
Alya mengambil sapu tua yang dia temukan di sudut teras.
"Kalau sudah selesai memberi sambutan, saya mau bersih-bersih."
Dua prajurit di belakang Damar menahan napas.
Damar memalingkan wajah, seperti sedang menahan sesuatu.
"Kamu selalu begini?"
"Begini bagaimana?"
"Keras kepala."
"Hanya saat orang berharap saya menyerah."
Untuk pertama kalinya, Damar tidak langsung membalas.
Dia melihat rumah itu lagi. Mungkin dia baru sadar tempat itu memang lebih buruk dari yang dia bayangkan. Atau mungkin dia tahu dari awal dan hanya ingin melihat Alya meminta bantuan.
Alya tidak akan memberinya itu.
Prajurit yang tadi mengantar datang membawa sapu, ember, kain pel, dan botol karbol. Di belakangnya ada dua ibu kompleks yang penasaran.
"Aduh, ini rumah lama kok dipakai lagi?" salah satu ibu berseru. "Bu Dokter, nanti kami bantu bersihkan ya."
Alya tersenyum. "Terima kasih, Bu. Tapi sedikit-sedikit saja. Saya tidak mau merepotkan."
"Tidak repot. Saya Bu Niken, istri Sertu Bagas. Itu Bu Wati. Kalau butuh apa-apa bilang saja."
"Saya Alya."
Bu Wati melirik ke arah Damar, lalu ke Alya.
"Oh... jadi ini Bu Komandan?"
Udara berubah.
Alya bisa merasakan semua mata pindah kepadanya.
Damar tidak mengatakan apa pun.
Alya menatap Bu Wati dengan senyum sopan.
"Saya dokter yang ditugaskan di pos kesehatan, Bu. Panggil Alya saja."
Bu Wati tampak kikuk. "Oh, iya, Dok."
Damar memperhatikan jawaban itu.
Dia tahu Alya sengaja tidak memakai status istri.
Bagus.
Bukankah itu yang dia mau?
Selama dua jam berikutnya, rumah itu berubah menjadi medan perang kecil. Alya menyapu debu, Bu Niken membersihkan jendela, Bu Wati membawa air panas, dua prajurit memperbaiki engsel pintu, dan Joko datang sambil membawa disinfektan dari pos.
Damar sudah pergi.
Tapi sebelum pergi, dia memberi satu perintah singkat kepada prajurit logistik.
"Pastikan listrik dan airnya berfungsi sebelum malam."
Alya mendengar.
Dia pura-pura tidak mendengar.
Menjelang magrib, rumah itu masih jauh dari nyaman, tapi sudah bisa ditempati. Lantai bersih. Jendela terbuka. Kasur lama dibuang dan diganti matras lipat dari gudang kesehatan. Koper Alya diletakkan di sudut kamar.
Bu Niken membawa sepiring nasi dan sayur bening.
"Makan dulu, Dok. Jangan langsung pingsan malam pertama di sini."
Alya tertawa. "Terima kasih, Bu."
"Komandan memang begitu," Bu Niken tiba-tiba berkata pelan.
Alya mengangkat wajah.
Bu Niken tampak ragu, lalu melanjutkan, "Kaku. Kalau bicara seperti marah. Tapi biasanya dia tidak sembarangan."
Alya menatap nasi di piringnya.
"Saya tahu."
Dia tahu Damar tidak sembarangan.
Dia hanya selalu sembarangan saat menilai dirinya.
Malam itu, setelah semua orang pulang, Alya duduk di lantai ruang depan. Punggungnya pegal. Tangannya perih karena terlalu lama memeras kain pel.
Dia membuka ponsel. Sinyal satu bar.
Ada pesan dari Mama.
Sudah sampai? Damar baik?
Alya menatap pertanyaan itu lama.
Lalu mengetik.
Sudah sampai, Ma. Rumahnya sederhana, tapi aman. Saya baik-baik saja.
Dia tidak menjawab bagian Damar.
Karena tidak tahu harus berbohong seperti apa.
Di luar, suara motor berhenti.
Alya menoleh.
Ada bungkusan digantung di pagar. Tidak ada orang. Hanya lampu motor yang menjauh.
Dia keluar dan mengambil bungkusan itu.
Di dalamnya ada obat anti alergi, plester luka, sebotol minyak kayu putih, dan senter kecil.
Tidak ada nama.
Tapi prajurit yang mengantar tadi tidak mungkin tahu telapak tangannya lecet.
Alya berdiri di teras, menatap gelap jalan kompleks.
Damar masih membencinya.
Tapi pria itu juga baru saja mengirim obat.
Dan entah kenapa, hal kecil itu membuat rumah hampir roboh tersebut terasa lebih sulit dihadapi daripada debu setebal apa pun.