NovelToon NovelToon
Ibu Tiri Penyelamat Dua Pewaris

Ibu Tiri Penyelamat Dua Pewaris

Status: tamat
Genre:Asmara / Perubahan Hidup / CEO / Anak Genius / Ibu Tiri / Transmigrasi / Healing / Antagonis Jahat / Tamat
Popularitas:11.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nilam

Karina terbangun sebagai ibu tiri kejam dalam novel yang baru ia baca. Nathan dan Lucas, dua anak kecil yang seharusnya ia lindungi, justru gemetar setiap kali melihatnya. Lebih gawat lagi, Sebastian Wijaya, suaminya yang dingin dan berkuasa, pulang dengan kecurigaan tajam.
Karina hanya punya satu pilihan: memperbaiki semuanya sebelum terlambat.
Namun ketika Nathan dan Lucas mulai memanggilnya Mama, rahasia keluarga Wijaya perlahan terbuka. Pernikahan tanpa cinta berubah menjadi perjuangan melawan masa lalu, fitnah, dan keluarga besar yang ingin memisahkan mereka.
Bisakah Karina menjadi Mama yang mereka butuhkan sebelum takdir menyeretnya pergi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nilam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 4

Bab 4

Perban Berbentuk Pita dan Panggilan Pertama

Nathan buru-buru menarik ujung celananya ke bawah.

"Nggak usah dilihat."

Karina tidak mengejar. Ia meletakkan pakaian pengganti di atas bangku, lalu berdiri kembali.

"Baik. Mama nggak akan memaksa." Tatapannya turun sesaat ke noda darah yang sudah merembes menembus kain. "Tapi luka itu harus dibersihkan. Kamu boleh pikirkan dulu sampai nanti malam."

Nathan tidak menjawab. Ia berjalan terpincang-pincang meninggalkan dapur sambil tetap menggandeng Lucas.

Sepanjang sore, Karina tidak menyinggung luka itu lagi. Ia menanak beras yang dibeli dari warung, menggoreng tempe tipis-tipis, lalu membagi sebutir telur untuk kedua anak. Nathan makan dalam diam. Setiap kali celananya bergesekan dengan bangku, rahangnya mengeras, tetapi mulutnya tak mengeluarkan suara.

Setelah langit di luar jendela berubah gelap, Karina merebus air sekali lagi.

Lampu minyak tanah diletakkan di lantai ruang depan. Nyala kuningnya kecil dan sesekali bergoyang ditiup angin dari celah dinding. Di samping baskom air hangat, Karina sudah menyiapkan sabun, salep antiseptik, kain kasa, dan potongan kain bersih.

Ia mencuci tangan sampai bersih, kemudian duduk di atas tikar.

"Nathan."

Anak itu sedang bersandar di dekat pintu bersama Lucas. Mendengar namanya, jemarinya langsung meremas ujung baju.

"Aku bisa sendiri," katanya.

"Boleh. Mama ajari caranya."

Karina menggeser baskom ke tengah, lalu menunjukkan kain dan salep satu per satu. "Kain ini dibasahi dulu. Yang menempel di luka jangan ditarik kering-kering. Nanti kulitnya sobek lagi."

Nathan menatap benda-benda itu. "Kalau aku bersihkan sendiri, kamu nggak pegang?"

"Nggak, kalau memang kamu bisa."

Ia menyerahkan kain hangat kepadanya.

Nathan menerimanya dengan hati-hati. Namun begitu ujung kain menyentuh bagian celana yang lengket oleh darah, bahunya tersentak. Ia mencoba lagi. Tangan kecilnya gemetar terlalu keras untuk mengusap dengan pelan.

Lucas berjongkok di sampingnya. "Kak, sakit?"

"Nggak."

"Tangannya goyang."

"Karena dingin."

Udara memang dingin, tetapi keringat sudah muncul di pelipis Nathan.

Karina tetap duduk di tempatnya. "Kalau mau dibantu, bilang."

Nathan menggigit bibir. Ia menatap kain di tangannya, salep di lantai, lalu wajah Lucas yang semakin cemas. Harga dirinya dan rasa sakit seperti sedang tarik-menarik di dalam tubuh enam tahun itu.

Akhirnya, ia menyodorkan kain tanpa mengangkat kepala.

"Cuma yang nempel."

"Cuma yang nempel," janji Karina.

Ia bergerak mendekat, tetapi berhenti sebelum menyentuh kaki Nathan. "Boleh Mama gulung celananya?"

Nathan mengangguk satu kali.

Karina membasahi kain yang melekat pada luka. Sedikit demi sedikit, serat yang mengering melunak dan terlepas dari keropeng. Air di baskom cepat berubah keruh oleh tanah dan bercak darah lama.

Nathan duduk kaku. Kedua tangannya mengepal di sisi tubuh. Setiap kali kain menyentuh bagian yang terbuka, jari kakinya menekuk, tetapi ia tidak mengaduh.

"Kalau sakit bilang, ya," bisik Karina. "Mama pelan-pelan."

"Nggak sakit."

Suara itu serak. Matanya sudah merah.

Karina tidak membongkar kebohongan kecil tersebut. Ia hanya memperlambat gerakannya. Lumpur di sekitar luka dibersihkan, lalu kulitnya dikeringkan dengan kain lain. Tidak ada bau menyengat atau nanah, tetapi bagian yang berulang kali pecah tetap harus dijaga bersih.

"Besok kalau jadi bengkak, panas, atau keluar cairan, kita cari Puskesmas," katanya.

Nathan menatapnya sekilas. Seperti janji tentang obat kemarin, ucapan itu belum ia percaya. Namun kali ini ia juga tidak langsung menyebutnya bohong.

Karina mengoleskan salep tipis di area luka sesuai petunjuk pada kemasan. Setelah itu, ia melilitkan kasa mengitari betis Nathan. Kasa yang mereka punya tidak banyak. Ia menghitung panjangnya agar cukup untuk luka Lucas juga.

Ketika hendak menyelipkan ujung balutan, Karina melihat sisa kasa kecil menggantung.

Ia teringat pita rambut yang pernah dipasangkan neneknya saat ia masih kecil. Bentuknya sederhana, tetapi pada hari-hari sepi, benda kecil itu selalu terasa seperti tanda bahwa seseorang sempat memikirkan dirinya.

Jemarinya melipat sisa kasa menjadi dua simpul kecil.

Hasilnya miring. Satu sisi lebih panjang daripada sisi lain.

"Sudah," ucap Karina.

Nathan menunduk.

Di atas betisnya kini ada perban putih dengan simpul menyerupai pita. Terlalu kecil untuk menjadi hiasan, terlalu tidak rapi untuk disebut cantik. Namun bocah itu menatapnya begitu lama sampai Karina bertanya-tanya apakah ia salah melakukan sesuatu.

"Kekencangan?"

Nathan menggeleng.

Ujung jarinya bergerak diam-diam. Ia menyentuh simpul pita itu sekali, sangat ringan, kemudian buru-buru menarik tangannya ketika sadar Karina melihat.

"Aneh," gumamnya.

"Iya. Mama belum jago bikin pita."

"Bukan jelek," Nathan membalas cepat. Wajahnya langsung menegang, seolah menyesali kalimat yang telanjur keluar. "Cuma... aneh."

Karina menahan senyum. "Kalau begitu, kita sebut pita aneh."

Lucas yang sejak tadi mengamati maju satu langkah. Luka di tulang keringnya lebih ringan, tetapi ia memandang salep itu dengan mata ragu.

"Aku juga boleh?"

"Tentu."

"Aku nakal, ya?"

Karina terdiam. "Kenapa bilang begitu?"

Lucas meremas ujung kausnya. "Kalau nggak nakal, kenapa waktu sakit nggak dikasih obat? Kak Nathan juga nggak."

Dada Karina terasa seperti diremas.

Ia ingin mengatakan bahwa yang salah adalah orang dewasa. Namun bocah lima tahun tidak membutuhkan penjelasan panjang. Ia membutuhkan jawaban yang bisa dipegang.

Karina membuka kedua tangannya, tetapi tidak langsung menariknya. "Kalian nggak nakal. Kalian nggak pantas dibiarkan sakit."

Lucas memandang Nathan lebih dulu.

Kakaknya tidak mengangguk. Tidak juga melarang.

Barulah Lucas bergerak mendekat dan duduk di sisi Karina. Bahunya menyentuh lengan perempuan itu. Sangat ringan, nyaris tak terasa, tetapi ia tidak menjauh ketika Karina membersihkan luka di kakinya.

Setelah kedua luka selesai dibalut, angin malam menerobos celah jendela. Nyala lampu bergoyang. Lucas menggigil dan tanpa sadar merapatkan tubuh ke sisi Karina.

Karina mengambil selimut tipis dari atas tikar, lalu menyampirkannya ke bahu bocah itu.

"Masih dingin?"

Lucas mengangguk. Jari-jarinya mencengkeram ujung selimut. Wajahnya terangkat, menatap Karina seolah ada sesuatu yang ingin ia katakan sejak tadi.

Bibirnya bergerak, tetapi tak ada suara.

"Kenapa?" tanya Karina.

"Ma... Mama."

Suara itu hampir hilang dibawa angin.

Lucas sendiri tampak terkejut. Ia segera menoleh kepada Nathan, lalu mencoba mundur dari sisi Karina. Ketakutan kembali memenuhi matanya, seolah satu panggilan yang salah bisa membatalkan makanan, obat, dan semua kebaikan hari itu.

Nathan menatap adiknya. Kemudian ia menatap Karina.

Tangannya kembali menyentuh simpul pita pada perban.

Ia tidak berkata apa-apa.

Karina menelan sesuatu yang terasa keras di tenggorokannya. Matanya panas, tetapi ia tidak ingin tangisnya membuat Lucas takut. Jadi ia hanya menahan selimut tetap terbuka, memberi anak itu pilihan untuk mendekat atau pergi.

"Mama di sini," jawabnya. Suaranya pecah pada kata pertama.

Lucas berkedip. Keraguan di wajahnya belum benar-benar hilang, tetapi tubuhnya bergerak lebih dulu. Ia bersandar ke dada Karina.

Karina merangkulnya pelan.

Tidak erat. Tidak sampai menjebak. Hanya cukup untuk membiarkan bocah itu merasakan kehangatan yang tadi ia cari.

Di samping mereka, Nathan masih mengawasi. Namun kali ini ia tidak menarik Lucas pergi.

Malam itu, mereka bertiga berbaring di atas tikar yang sama. Karina mengambil sisi dekat dinding. Lucas meringkuk di tengah dengan satu tangan mencengkeram ujung bajunya. Nathan berbaring di sisi paling luar, di antara adiknya dan pintu.

Ia masih mengenakan pakaian lengkap. Matanya beberapa kali terbuka ketika angin menggoyang daun pintu. Namun sapu tetap bersandar di sudut ruangan.

Untuk pertama kalinya, Nathan tidur tanpa menggenggamnya.

Karina menatap dua wajah kecil yang perlahan tenang di bawah cahaya lampu yang hampir padam. Ia tak tahu berapa lama dirinya akan hidup di dunia ini. Ia juga belum tahu seberapa dekat Sebastian dengan kebenaran.

Namun satu hal sudah pasti.

Hidup ini, dan kedua anak ini, akan ia lindungi sekuat tenaga.

Menjelang subuh, suara langkah kaki berderap di jalan tanah membangunkan mereka.

Nathan langsung duduk. Lucas tersentak di pelukan Karina. Dari luar terdengar beberapa perempuan saling bersahutan, disusul suara Bu Sumiati yang melengking semakin dekat.

"Karina! Keluar kamu! Suruh anak pencuri itu keluar!"

1
awesome moment
pelakor ternuata tu jess jess
awesome moment
vincent dan sebastian punya rahasia p n
awesome moment
udh makin cinta kn
awesome moment
cinta yg tumbuh perlahan
awesome moment
lucas pernah ke sana
awesome moment
vincent c kuman
awesome moment
sebastian lahir dri kekejian herman thd elina
awesome moment
sebastian dan karina sama2 hidup kembali
awesome moment
ratih n lbh jahat dri dajjal. tega dgn anak kecil. demi harta
awesome moment
sabrina n wujud dajjal
awesome moment
banyak tangan yg mau menjaga nabil dan rafi. smg mrk ttp terlindungi dri org2 dws yg hnya melihat uang
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
awesome moment
kasihan anak2. sejarah adopsi nabil dan rafi penuh cerita keknya
awesome moment
mmg membangun mental yg hampir runtuh butuh perjuangan dan kejujuran
awesome moment
kasihan 2 bocil.
awesome moment
smua butuh proses
awesome moment
sll d yg bemar di lautan kesalahan
awesome moment
s7 bgts dgn alya.
awesome moment
siapa yg bantu raka dan alya. d pemain lain n
awesome moment
alya brubah. demi nabil dan rafi. smg sm author, alya g dibalikin lg ke dunia nyata. tar nabil sm rafi oleng
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!