Sinopsis:
Lima belas tahun setelah perpisahan yang dipenuhi salah paham, Helena kembali bertemu dengan Arthur Fernando, mantan suami yang tak pernah berhenti mencarinya. Di balik perceraian mereka, tersimpan konspirasi musuh yang ingin menghancurkan klan Fernando. Kini, saat kebenaran terungkap, Arthur bertekad merebut kembali Helena, meski harus menjadikannya tawanan cinta yang tak pernah padam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Peluru untuk Sang Ayah
Matahari pagi semakin tinggi, menerangi gudang tua yang kini dipenuhi oleh tim penyelamat. Arthur memegang tangan James erat-erat, melangkah keluar dari pintu gudang yang sudah terbuka lebar. Udara laut yang segar menyapa wajah mereka, dan Arthur merasakan kelegaan yang luar biasa. James masih menggenggam tangannya, jari-jari remaja itu sedikit gemetar, tapi langkahnya mulai mantap.
"James, kau hebat. Kau sangat berani," bisik Arthur, menatap putranya dengan bangga.
James menatap Arthur, dengan mata yang masih merah. "Aku... aku tidak tahu kalau kau ayahku, Pa. Mama belum pernah cerita."
Arthur tersenyum getir. "Mama punya alasan, Nak. Tapi sekarang, semuanya sudah selesai. Aku akan bawa kamu pulang."
James mengangguk, tersenyum tipis. Mereka berjalan melewati parkiran yang dipenuhi mobil-mobil tim, menuju mobil hitam yang sudah menunggu. Aldi berdiri di dekat pintu mobil, mengawasi keadaan sekitar. Semua terlihat aman. Hendra sudah dikunci di dalam mobil tim, tangan diborgol, diawasi oleh tiga anak buah.
Arthur menepuk pundak James. "Naiklah, Nak. Mama sudah menunggumu."
James melangkah menuju pintu mobil. Arthur berbalik sebentar, menatap gudang tua itu untuk terakhir kalinya. Di dalam hatinya, dia bersumpah tidak akan pernah membiarkan keluarga Fernando lagi menciptakan ketakutan seperti ini.
Namun, di balik tumpukan kontainer di sebelah kanan, sebuah bayangan bergerak. Seorang pria yang sebelumnya tidak terdeteksi—seorang anak buah Hendra yang bersembunyi selama pengepungan—mengangkat senjatanya. Matanya menatap sasaran: James yang sedang membuka pintu mobil.
Arthur tidak tahu apa yang mendorongnya, mungkin insting seorang ayah, mungkin naluri bertahan hidup. Dia menoleh tepat saat pria itu menarik pelatuk.
Tembakan.
Bukan satu, tapi dua. Dentuman itu mengguncang kesunyian pantai. Burung-burung camar yang bertengger di atap gudang terbang berhamburan. Dan Arthur tidak berpikir. Dia hanya bergerak.
"ARTHUR!" teriak Aldi.
Dalam sekejap, Arthur melompat ke depan. Tubuhnya melayang, menghalangi jalur tembakan. Peluru itu—sebuah tembakan yang seharusnya menembus dada James—menghantam punggung Arthur dengan kekuatan dahsyat.
Arthur terhempas ke depan. Dia jatuh tepat di samping James, tubuhnya membentur aspal dengan keras. Suara erangan tertahan keluar dari bibir Arthur sebelum dia diam, matanya terpejam.
James terbelalak. Wajahnya memucat. "PA! PA!"
Remaja itu berlutut di samping Arthur, tangannya gemetar mencoba meraih bahu Arthur. Di punggung Arthur, bercak merah mulai menyebar cepat, mewarnai kemeja putihnya dengan warna merah mengerikan.
"PAK!" Aldi dan tim langsung bereaksi. Dua orang anak buah menembaki arah kontainer, memaksa penembak itu berlindung. Sementara itu, Aldi berlari ke arah Arthur, menjatuhkan lutut di sampingnya.
"Pak Arthur! Pak, Anda mendengar saya?" Aldi menekan tangan di luka Arthur, mencoba menghentikan pendarahan. Darah mengalir di antara jari-jarinya.
Arthur mengerang, matanya terbuka sebentar. Pandangannya mencari James. "James... kau... selamat?"
James menangis, mengangguk. "Aku selamat, Pa. Tapi kau..."
Arthur tersenyum tipis, meskipun rasa sakit menjalari seluruh tubuhnya. "Selamat... bagus. Itu yang... terpenting."
Matanya kembali tertutup. Aldi langsung mengangkat radio. "Tim, butuh ambulans sekarang! Ada korban tembak di bagian punggung! Dia kehilangan banyak darah, cepat!"
Dari kejauhan, suara sirene ambulans mulai terdengar. Tapi waktu terasa lambat. James memegang tangan Arthur, membiarkan tangannya basah oleh darah.
"Pa... jangan mati... jangan tinggalkan aku," isak James. "Aku baru bertemu ayah. Aku belum sempat mengenalmu."
Di belakang James, Aldi terus melakukan tekanan pada luka Arthur, menunggu bantuan medis tiba. Anak buah tim berhasil menangkap penembak kedua itu, menghantamnya ke tanah dan memborgolnya. Tapi semua mata tertuju pada Arthur dan James.
---
Di rumah Fernando, Helena duduk di ruang tamu. Pukul 07.30 pagi, waktu berlari sangat lambat. Dia sudah tidak bisa tidur lagi setelah mendengar kabar bahwa tim menemukan James. Dia menunggu dengan napas yang tidak beraturan, berdoa agar semuanya berjalan lancar.
Ponselnya bergetar. Itu Arthur.
Atau tepatnya, itu dari ponsel Arthur, tapi suara di ujung telepon bukanlah Arthur. Itu Aldi, suaranya tergesa-gesa.
"Nona Helena, saya Aldi. Pak Arthur... dia tertembak. Dia menyelamatkan James."
Helena berdiri, ponselnya hampir jatuh. "Apa? Arthur tertembak? Di mana? Bagaimana keadaannya?"
"Kami sedang dalam perjalanan ke rumah sakit. Pak Arthur kritis. Saya sudah memerintahkan mobil tim untuk membawa James bersama kami. Tapi Pak Arthur... dia membutuhkan pertolongan segera."
Helena menutup mulutnya. Air matanya langsung mengalir deras. "Rumah sakit mana? Saya akan ke sana. Sekarang."
Aldi menyebutkan nama rumah sakit. Helena tidak berpikir dua kali. Dia berlari keluar ruang tamu, hampir menabrak Maria yang sedang berjalan.
"Helena, ada apa?"
Helena berbalik, wajahnya pucat. "Ibu... Arthur tertembak. Dia membela James. Saya harus ke rumah sakit."
Maria langsung terkejut. Robert yang mendengar dari ruang kerja langsung berdiri. "Apa? Arthur? Telepon Aldi, kita akan ke sana sekarang!"
Helena berlari keluar rumah, menaiki mobil yang sudah dijalankan oleh pengemudi. Dalam perjalanan, dia terus menangis.
"Arthur... tolong jangan pergi. Aku baru bisa kembali padamu. James baru mengenalmu. Aku tidak bisa kehilangan kamu lagi."
---
Di rumah sakit, Arthur sudah dibawa ke ruang operasi. Darah memenuhi lantai ruang gawat darurat. James duduk di kursi tunggu, wajahnya basah air mata. Tangannya masih berlumuran darah Arthur.
Aldi berdiri di samping James, mencoba menenangkan. "James, tenang. Ayahmu kuat. Dia pasti bertahan."
James menggeleng. "Aku tidak mau dia mati, Aldi. Dia belum sempat jadi ayahku."
Helena tiba di rumah sakit beberapa menit kemudian. Dia berlari ke ruang tunggu, dan langsung melihat James duduk dengan wajah kaku. Dia berlutut di depan putranya, memeluk James erat.
"James... kau selamat. Syukurlah."
James memeluk Helena dengan erat. "Ma, Ayah... dia tertembak saat melindungiku. Dia lari di depanku."
Helena menatap James, lalu menatap pintu ruang operasi. Di balik pintu itu, Arthur sedang berjuang antara hidup dan mati. Demi anaknya. Demi keluarganya.
Helena menggenggam tangan James. "Arthur... tolong bertahan. Aku masih punya banyak hal untuk kamu ketahui. Tentang James. Tentang perasaanku. Jangan pergi."
Jam demi jam berlalu. Pintu ruang operasi masih tertutup. Helena, James, Robert, dan Maria duduk di ruang tunggu, menunggu dengan napas yang teratur namun penuh harapan.