NovelToon NovelToon
Dokter Dewa: Sistem Check-in Rumah Sakit

Dokter Dewa: Sistem Check-in Rumah Sakit

Status: tamat
Genre:Sistem / Dokter / Tamat
Popularitas:99.8k
Nilai: 5
Nama Author: Novi

"Rangga Aditya Wijaya hanyalah dokter muda miskin yang dihina ""sampah"" oleh mantan pacarnya dan anak pejabat.
Tapi saat pasien sekarat di UGD, sebuah sistem misterius aktif dalam dirinya — Sistem Check-in Dokter Dewa.
Setiap kali ia check-in di situasi darurat, ia mendapatkan keahlian bedah kelas dunia, uang ratusan juta, dan resep obat revolusioner.
Dari nol, Rangga akan mengguncang seluruh dunia kedokteran."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 29

Bab 29: Kecelakaan

Rangga meninggalkan RS Persatuan Nusantara saat langit sudah gelap.

Pesan anonim itu masih berada di ponselnya.

Hati-hati dengan RS Mentari Global.

Ia sudah menyimpan tangkapan layar, mengirimkan salinan ke Pak Hendra, lalu mencoba melacak nomor itu lewat jalur yang wajar. Tidak ada hasil.

Orang yang mengirim pesan itu ingin memperingatkan, tetapi tidak ingin ditemukan.

Itu berarti dua hal.

Ia punya akses.

Dan ia takut.

Rangga mengemudi pelan melewati jalan besar Kota Cakrawala. Lampu toko mulai padam satu per satu. Lalu lintas tidak terlalu padat. Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari, kota hampir terlihat normal.

Normal hanya bertahan sampai suara klakson panjang memecah malam.

Di depan, sebuah truk barang oleng dari jalur kanan. Sebuah sedan mewah hitam mencoba menghindar, tetapi terlambat.

Brak!

Benturan itu membuat sedan hitam berputar, menabrak pembatas jalan, lalu terguling setengah badan. Kaca pecah menyembur seperti hujan kecil. Truk berhenti beberapa meter kemudian, asap tipis keluar dari kap mesin.

Rangga menginjak rem.

Ia tidak berpikir dua kali.

Tas medis darurat dari bagasi ia ambil, lalu ia berlari.

Di kursi pengemudi sedan, seorang pria berusia sekitar empat puluh tahun masih sadar, wajahnya berdarah tetapi tangannya bergerak.

"Pak, bisa dengar saya?"

"Bisa..." pria itu batuk. "Saya... sopir. Agung. Tolong... belakang..."

Rangga menoleh ke kursi belakang.

Seorang pria paruh baya terjepit di sana.

Setelan jasnya robek. Dada kirinya memar luas. Napasnya berat dan tidak simetris. Perut kanan atas mengeras. Paha kirinya tampak berubah bentuk, lengan kanan membengkak tidak wajar, dan darah merembes dari luka di sisi kepala.

Satu pandangan cukup.

Trauma multipel.

Dan pria itu sedang tenggelam.

"Jangan bergerak, Pak Agung. Saya panggil bantuan."

Rangga menekan nomor UGD RSUD Harapan Bangsa, mengirim lokasi, lalu memberi instruksi singkat kepada operator.

"Butuh ambulans trauma, papan spinal, oksigen, cairan, set perdarahan. Siapkan ruang operasi. Kemungkinan cedera toraks, abdomen, fraktur multipel, dan cedera kepala."

Saat ia menyentuh nadi pasien belakang, sistem muncul.

[Terdeteksi trauma multipel kritis.]

[Risiko kematian tinggi dalam waktu dekat.]

[Pilih mode check-in:]

[A. Check-in Normal — bantuan real-time, level teknik: Kelas Internasional.]

[B. Check-in Mandiri — tanpa bantuan real-time, terhitung progres Jalur Kemandirian.]

Rangga menatap dada pria itu yang naik turun tidak seimbang.

Ini bukan kasus untuk memburu progres.

Ia memilih dalam hati.

Check-in Normal.

[Check-in Normal aktif.]

[Teknik Penanganan Trauma Multipel Kelas Internasional diperoleh.]

Dunia di depannya berubah menjadi susunan prioritas.

Airway belum tertutup total.

Breathing bermasalah di sisi kiri.

Circulation jatuh karena perdarahan internal.

Disability harus dipantau.

Exposure tanpa membuat hipotermia.

Rangga langsung bergerak.

Ia membuka jalan napas, memasang penyangga leher darurat dengan handuk tebal dan bantuan warga, menekan luka kepala, lalu memeriksa dada. Suara napas kiri melemah.

"Saya butuh pisau kecil steril dan selang dari kit."

Warga di sekitar menelan ludah melihat gerakannya.

"Dok, mau operasi di jalan?"

"Kalau saya tidak keluarkan udara dari rongga dada, dia tidak sampai rumah sakit."

Rangga melakukan tindakan dekompresi darurat dengan presisi. Udara keluar dengan suara mendesis pendek. Dada pasien mulai bergerak sedikit lebih simetris, tetapi tekanan darah masih lemah.

"Pak, dengar saya?" Rangga menepuk pipi pria itu. "Jangan tidur."

Pria itu tidak menjawab.

Agung di kursi depan berusaha menoleh.

"Pak Anthony..."

Nama itu lewat begitu saja di telinga Rangga.

Tidak penting.

Saat ini, ia bukan Anthony.

Ia hanya pasien trauma yang harus hidup.

Ambulans RSUD Harapan Bangsa tiba kurang dari tujuh menit kemudian. dr. Yoga turun dari pintu belakang, diikuti dua perawat.

"Bang Rangga!"

"Dia pasien prioritas merah. Sopir cedera ringan-sedang, stabilkan setelah ini. Pasien belakang: trauma toraks, abdomen, fraktur multipel, cedera kepala. Kita bawa sekarang."

Yoga tidak bertanya panjang.

Ia langsung masuk mode yang baru dilatih beberapa hari lalu.

"Papan spinal. Oksigen. Dua jalur infus besar. Siapkan darah di rumah sakit."

Rangga meliriknya sekilas.

Bagus.

Latihan itu mulai bekerja.

Di ambulans, monitor menunjukkan angka yang membuat perawat pucat. Nadi cepat. Tekanan turun. Saturasi naik turun. Rangga memegang titik tekanan dan terus memberi instruksi.

"Telepon Pak Bambang. Minta ruang operasi siap. Bedah umum, ortopedi, anestesi, ICU. Jangan tunggu administrasi."

"Siap, Bang."

RSUD Harapan Bangsa menerima mereka seperti badai.

Brankar melesat melewati UGD. Pak Bambang sudah menunggu di pintu ruang operasi dengan wajah seperti batu.

"Kondisi?"

"Cedera toraks kiri sudah didekompresi di tempat. Dugaan hemoperitoneum, kemungkinan laserasi hati. Fraktur femur kiri, humerus kanan, beberapa iga. Cedera kepala ringan-sedang, perlu monitoring setelah operasi. Hemodinamik turun."

"Masuk."

Empat jam berikutnya tidak terasa seperti waktu.

Terasa seperti perang.

Laparotomi membuka rongga perut dan memperlihatkan darah yang menggenang. Robekan pada segmen kanan hati cukup berat untuk menguras hidup, meski organnya belum hancur total. Rangga mengontrol perdarahan, melakukan packing terarah dan jahitan hemostatik, lalu memastikan tidak ada kebocoran besar lain.

Di sisi lain, tim ortopedi menstabilkan femur sementara di bawah arahan Rangga dan memasang penyangga awal pada lengan kanan. Cedera dada ditangani dengan chest tube. Cedera kepala belum membutuhkan pembukaan tengkorak, sehingga tim memantau setiap perubahan pupil dengan ketat.

dr. Yoga menjadi asisten tanpa banyak bicara.

Tangannya masih belum secepat Rangga.

Tetapi ia tidak panik.

Saat perdarahan hati kembali menyembur tipis dari sudut luka, Yoga sudah menyiapkan suction sebelum Rangga meminta.

Pak Bambang melihat itu dan matanya bergerak sedikit.

Anak ini mulai tumbuh.

Pukul lewat tengah malam, operasi utama akhirnya selesai.

Pasien masuk ICU dengan tekanan darah yang masih butuh dukungan, tetapi tidak lagi jatuh bebas.

Agung, sopir yang sudah dijahit lukanya, menunggu di luar dengan wajah pucat. Begitu melihat tim keluar, ia hampir jatuh.

"Pak Anthony... selamat?"

"Untuk fase ini, selamat," kata Rangga. "Masih kritis. Kami butuh keluarga."

Agung mengangguk berkali-kali, lalu mengeluarkan ponsel dengan tangan gemetar.

"Saya hubungi keluarga. Saya hubungi Pak Robert juga..."

Nama Robert membuat dr. Yoga menoleh, tetapi Rangga sedang melepas sarung tangan dan belum menangkap penuh.

Ia terlalu lelah untuk memikirkan jaringan bisnis siapa pun.

Baginya, pasien baru saja keluar dari jurang.

Beberapa menit kemudian, Yoga masuk ke ruang ganti dengan wajah aneh.

Di tangannya ada dompet kulit dan kartu nama yang diberikan Agung untuk proses identifikasi.

"Rangga..."

Rangga mengangkat kepala.

"Ada apa?"

Yoga menatap kartu itu, lalu menyerahkannya.

"Kamu tahu kamu baru saja menyelamatkan siapa?"

Rangga menerima kartu itu.

Nama yang tercetak di sana membuat ruangan seolah berhenti.

Anthony Halim.

Komisaris Utama PT Tirta Medika Jaya.

Nama perusahaan itu sudah muncul dalam dugaan pencurian formula. Pak Robert bekerja di sana, dan pengaruhnya kini merayap ke laboratorium mereka.

Rangga menatap kartu itu beberapa detik.

Lalu ia memasukkannya kembali ke map identifikasi pasien.

"Dia pasien saya," katanya.

Yoga diam.

Di luar ruang operasi, langkah kaki mulai terdengar cepat.

Kabar tentang Anthony Halim sudah menyebar.

1
☯️꧁༒⫷Loͥngͣ ͫTian ⫸༒꧂☯️
berani pak Bambang ngerjain bosnya 😂😂😂
Setiawan
yoga biasa manggil abang rangga🤭🤭
Thewie
knp dokter Alya menghilang digantikan dokter Laras thor. padahal dokter Alya dr awal baik ke dokter rangga
Wega Luna
kehidupan seorang dokter yg tak pernah dilihat oleh mata netizen,dokter bukan tuhan ,💪
☯️꧁༒⫷Loͥngͣ ͫTian ⫸༒꧂☯️
gile dari awal baca dibikin tegang terus euy 😂😂😂
Lesmana
waahhh smua yg sakit leukimia nanti jd gak perlu transplatasi sum2 tulang belakang lg👏👏👏
Setiawan
30 milyar gak ada apa2nya dibanding hadiah dr sistem tiap rangga ngobatin pasien cuyyy😄😄😄 malah lbh bermanfaat , tdk ada tekanan moral.. dr sistem dpt hadiah besar plus ilmu hebat😄😄
akang Solo
dengan ada pasien, bisa cair minimal 150 jt😄😄
Ita Xiaomi
🤣🤣🤣
Ita Xiaomi
Keren👍👍👍
Ita Xiaomi
👍👍👍
Ita Xiaomi
Rangga tdk pergi ke rumah sakit mewah. Dia membangun rumah sakit tempat awal dia datang 👍👍👍.
Ita Xiaomi
Iseng😁
Ita Xiaomi
Kode tuh 😁
Adinda Rahmadinah
keren
JJ opa
cerita yang bagus dan pastas menjadi top one👍👍
irena
luar biasa karyamu thor.. saya suka...
Ria Gazali Dapson
,ngeri juga yaa, d rs d dunia kesehatan, ternyata kumpulan orang² jahat, dunia penuh tipu muslihat
Ria Gazali Dapson
se x ,gaji dari sistem ja 200jeti , 1 M , buat setaun , ya kalah
Amiera Syaqilla
hello author🙂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!