NovelToon NovelToon
Setelah 8 Tahun ( Ditinggal Nikah)

Setelah 8 Tahun ( Ditinggal Nikah)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:101.3k
Nilai: 5
Nama Author: Yutantia 10

Setelah 8 tahun pacaran, Nisa yang menunggu dilamar di hari anniversary, justru merima kenyataan pahit jika ia diputuskan oleh Sandi dengan alasan tak setara.

Tapi takdir seperti sedang mengajak bercanda, sebulan kemudian Sandi datang ke rumahnya untuk melamar. Namun bukan ia yang dilamar, melainkan Naina, sang adik yang lulusan S1 dan bekerja sebagai teler di salah satu bank swasta.

Disaat ia terpuruk, ada sosok yang tak sengaja hadir dalam kehidupannya. Sosok yang begitu baik dan humoris, tapi kadang menyebalkan. Dia adalah Januar, seoarang driver ojol.

"Kalau jodoh memang harus setara, kamu nikah sama aku aja, Mbak." Ajakan nikah Januar alias Ojan, hanya disenyumin saja oleh Nisa.

Tapi Ojan, pantang menyerah, ia terus mendekati Nisa, hingga akhirnya wanita itu luluh. Tapi satu kenyataan pahit, membuat Nisa kembali terpuruk. Ternyata selain seorang ojol, Ojan juga merupakan mahasiswa S2. Apakah sekali lagi, ia harus patah hati karena alasan kesetaraan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28

Ponsel di tangan Nisa berdering, seketika ia ingat jika Ojan tengah menunggunya di depan. Langsung saja ia berlari kecil keluar, mempercepat waktu agar Ojan tidak menunggu terlalu lama. Terlihat Ojan ada di depan pagar, menatap kearahnya sambil menahan tawa.

Astaga Nis, kenapa pakai lari segala sih, jangan-jangan Ojan langsung kegeeran. Ia tak lagi berlari, namun melangkah pelan, sedikit salah tingkah.

"Gak perlu lari-lari Mbak, aku setia kok nunggu kamu," Ojan menahan senyum.

"Apaan sih." BTW, Nisa agak malu juga.

"Hampir aja aku manjat pagar tadi demi bisa ketemu kamu, Mbak," Ojan masih menahan tawa.

"Gak lucu. Garing!" Nisa mendelik. Apaan coba pakai mau manjat, orang pintu pagar kebuka lebar.

"MasyaAllah, calon bini wangi amat."

Reflek, Nisa mengendus lengan atasnya. Ah, pasti Ojan makin geer nih. Sepertinya ia kebanyakan menyemprotkan parfum.

"Pak mer sama Bu mer di rumah? Aku langsung masuk atau gimana nih?"

"Ish." Nisa menghadang Ojan yang hendak masuk. "Kita keluar aja."

"Yah, rugi dong aku beli martabak." Menunjukkan martabak manis di tangannya. "Padahal kan ini rencana buat ngelamar kamu."

Keduanya lalu tertawa bersama.

Motor Ojan melesat keluar gang dengan Nisa di boncengannya. Sepanjang jalan, hidungnya dimanjakan dengan aroma wangi parfum Nisa. "Mbak, kalau dingin peluk aku, gak usah malu." Teriaknya sambil menoleh sekilas.

Tentu saja, Nisa tidak melakukan itu, gengsinya masih terlalu tinggi. Kedua tangannya hanya berpegangan pada sisi kiri dan kanan jaket hijau Ojan. Jaket yang menurutnya selalu wangi meski mungkin sudah dipakai ngojek seharian.

"Kita kemana Mbak?"

"Serah, asal jangan ke KUA, tutup." Nisa tertawa cekikikan.

"Minta didemo nih KUA, harusnya kan buka 7 hari 24 jam. Kasihan yang malam-malam tiba-tiba kebelet pengen kawin."

Melihat penjual bunga dadakan di pinggir jalan, Ojan menepikan motornya. Bunga segar yang dibalut plastik buket sederhana dan dikasih hiasan lampu LED, terlihat menarik. Ia dan Nisa turun, memilih bunga. Sayang bunga rose sudah habis, padahal ia pengen ngasih Nisa mawar merah atau putih.

"Ini bagus gak?" Nisa menunjukkan buket bunga krisan warna pink. Buket minimalis, hanya di wraping pastik bening melingkar dan diberi led.

"Mau itu?"

Nisa mengangguk.

Selepas Ojan membayar, mereka kembali ke motor, melanjutkan perjalanan ke sebuah taman yang tidak terlalu jauh dari rumah Nisa. Motor kesayangan sudah diparkir, jaket hijau juga sudah masuk jok, keduanya lalu melangkah masuk taman. Ojan membawa martabak untuk dimakan di dalam, sementara Nisa membawa bunganya. Bunga yang selama jalan, beberapa kali ia cium aromanya. Wangi sekali, sepertinya ditambah wewangian sama yang jualan.

Di sebuah kursi beton yang dingin, mereka menjatuhkan pantat. Di bawah pohon kamboja, eh, pohon beringin maksudnya, kuburan kali pohon kamboja.

Ojan membuka kotak martabak yang sudah tidak panas tersebut, seketika, harum dari keju, susu dan jagung, langsung menguar.

"Kayaknya enak deh." Nisa meletakkan bunganya di samping ia duduk, mengambil satu potong martabak yang isinya langsung lumer kemana-mana saat dia tarik. "Melimpah banget kejunya, yang spesial ya?"

"Enggak, B aja. Kan yang spesial cuma kamu."

Nisa auto nyengir. Urusan gombal-menggombal, sepertinya Ojan sangat fasih.

Sambil menikmati martabak, Nisa senyum-senyum menatap hamparan langit yang cerah malam ini. Gak ada hujan meteor sih, tapi taburan bintang, terlihat begitu indah. Ditambah lagi bulan yang hampir sempurna alias hampir purnama.

Jika Nisa bahagia menatap langit, Ojan bahagia menatap Nisa. Sambil senyum-senyum, ia memperhatikan ciptaan Tuhan yang menurutnya sangat indah itu. Udara malam ini begitu dingin, jadi makin gak sabar pengen ngehalalin, biar bisa mendapatkan kehangatan.

Jreng jreng jreng

Ojan yang melamun, kaget mendengar suara gitar. Sialan! Umpatnya dalam hati, ganggu orang lagi berkhayal aja. Ada dua orang anak kecil mengamen di depannya. Elah, orang tuanya gimana sih, kenapa anak sekecil itu sudah ngamen, mana malam-malam seperti ini.

"Dasar kau, keong racun..."

Ampun dah, mana lagunya keong racun lagi, Ojan memutar kedua bola matanya malas.

Nisa merogoh saku kardigan, mengambil uang 5 ribu dari sana. Tapi saat tanganya terulur ke depan, Ojan menarik lengannya.

"Ganti lagunya, nanti baru dikasih uang," ujar Ojan.

"Kicau, kicau, kicau mania."

Elah, malah ganti kicau mania. Apa gak ada lagu yang romantis dikit. "Ganti-ganti."

Kedua anak itu saling tatap, lalu kasak-kusuk, sepertinya berunding soal lagu, sampai akhirnya.

"Aku bergetar disentuh dia, mataku terbang sampai ke langit. Tubuhnya pun indah ku pandangi, putih mulus dan, seksi."

"Udah-udah!" Ojan menginterupsi. "Kalian ini anak-anak kok tahu lagu orang dewasa sih?"

"Ah, Om bawel, salah mulu dari tadi nyanyi. Mau ngasih duit apa enggak?"

Nisa menutup mulut, menahan tawa. Ia kembali menyodorkan uang 5 ribu rupiahnya.

"Makasih, Tante."

"Eh tunggu!" Ojan menahan keduanya. "Mau martabak gak?"

"Mau Om, mau." Sahut anak laki-laki yang lebih kecil. Dari tadi, saat nyanyi matanya terus tertuju pada kotak martabak yang terbuka.

Takut tangan mereka kotor, Ojan mengambilkan, meletakkan di telapak tangan masing-masing. "Jangan panggil Om, panggil abang aja."

"Makasih, Bang," ujar mereka bersama.

"Eh, orang tua kalian kemana, kok kalian ngamen?"

"Bapak tidur di rumah, katanya capek setelah seharian mulung. Kalau Ibu, Ibu juga tidur. Ibu hamil besar, gak bisa mulung, jadi buat nambah makan sehari-hari, kami ngamen kalau malam."

Ojan dan Nisa sama-sama mengucap istighfar, iba dengan kondisi keluarga mereka. Anak yang harusnya belajar atau tidur di jam ini, terpaksa ngamen untuk membantu ekonomi keluarga.

"Kalian berapa bersaudara?" tanya Nisa.

"6, Tante." Jawab sang kakak, yang langsung disenggol adiknya. "Eh, Kakak maksud saya."

Ojan mengambil uang di dompet, menyodorkan 50 ribu rupiah. "Udah malem, pulang sana. Gak aman anak seusia kalian di luar rumah jam segini."

Mata kedua anak itu berbinar menatap uang pecahan 50 ribu rupiah. "Makasih, Bang." Mereka langsung pergi.

Nisa menoleh pada Ojan yang tampak masih menatap anak-anak yang sudah jauh itu.

"Kasihan kalau ngeliat anak-anak yang masih kecil, tapi dipaksa keadaan untuk nyari duit." Ojan men desah pelan. Kita tidak bisa memilih akan dilahirkan siapa, dan lahir sebagai anak orang kaya, membuat Ojan sangat bersyukur. Setelah anak-anak itu hilang dari pandangan, ia beralih menatap Nisa. Bibirnya terlipat ke dalam, menahan tawa melihat ada sisa keju di dekat bibir Nisa. Ah, jadi pengen cosplay jadi remahan keju.

"Ada apa?" Nisa dibuat salting dengan tatapan Ojan.

"Enggak." Fokus Ojan masih tertuju pada keju di dekat sudut bibir.

Melihat arah tatapan Ojan, Nisa menutup mulutnya dengan telapak tangan. "Kamu jangan aneh-aneh ya!"

Ojan tak bisa menahan tawa. "Mbak, pengen..."

Mata Nisa melotot. "Awas kamu ya! Aku pukul kalau berani berbuat kayak semalam!"

Ojan berhenti tertawa, pelan-pelan menyingkirkan tangan Nisa yang menutupi mulut. "Ada keju disini." Ia mengambil keju tersebut, menunjukkan pada Nisa. "Pengen cosplay jadi keju."

Nisa membuang pandangan, tersenyum malu-malu. Kirain tadi Ojan pengen nyium dia.

Belum kenyang, Ojan mengambil lagi satu potong martabak, memakannya. "Hari ini kamu keliatan happy, Mbak. Beda banget sama kemarin."

Nisa tersenyum, mungkinkah sangat kelihatan? Jujur, ia memang bahagia. Bahagia melihat respon kedua orang tuanya atas hubungan Naina dan Sandi. Bukan karena masih mengharapkan Sandi, tapi karena senang aja, Sandi akhirnya gak menjadi bagian dari keluarga mereka. Bayangkan kalau Sandi dan Naina menikah, pasti mereka masih akan sering bertemu, sering berinteraksi, males banget.

"Mbak, jangan lagi ya."

"Apa? Nangis? Enggak, gak bakalan nangis lagi." Nisa yang terlihat yakin, mencomot sepotong martabak, memakannya.

"Bukan." Ojan tersenyum.

Kening Nisa mengernyit. "Lalu?" tanyanya setelah menelan martabak di dalam mulut.

"Jangan diemin aku kayak hari ini. Sumpah, aku gak kuat."

Nisa tersenyum, pipinya bersemu merah. Kenapa sih, sekarang dia bawaanya jadi baper mulu dengan ucapan Ojan.

"Mbak, kamu tahu gak, apa persamaan kamu dengan martabak?"

"Apa?"

"Sama-sama manis."

Lagi-lagi, Nisa tersipu malu.

"Kalau bedanya?" tanya Ojan lagi.

"Apa?"

"Keseringan makan martabak, bisa bikin diabetes, tapi kalau keseringan sama kamu, bisa bikin makin jatuh hati, pengen buru-buru ngehalalin. Sialan! KUA pakai tutup lagi."

Nisa auto tertawa terpingkal-pingkal.

1
MamDeyh
Ojan jgn byk tingkah deh. Pake menghilang 😒
aleena
/Sob//Sob//Sob//Sob/ayah gak salah
yg salah naina karna sifat IRI
yg membutakan mata hatinya /Puke//Puke/
olyv
ojan oh ojan where are you? 😂
olyv
jadi kasihan pd bapak mu nisa
Aidil Kenzie Zie
kang Ojan kemana kok nggak ada kabar Nisa bingung nyariin
Ummah Intan
sebentar lg ortu naina tahu klo ternyata naina dan sandi selama ini selingkuh
Ummah Intan
astagfirullah..apa naina dah hamil?
Sari Kumala
lanjut kk 💪
Sari Kumala
ikutan mewek..🥺
Nessa
naina nikah dengan sandi dan tinggal bersama keluarga sandi.. iziinn 🙏🏼🤣
Sari Kumala
ya ganteng lah namanya anak orang kaya 😅
RaDja
terima kasih
Nessa
othor umpetin ojan dimana sih 🤣
🌸 𝑥𝑢𝑎𝑛 🌸
itu tandanya benih² cinta dah mulai bersemi....😂😂😂
Eli Rahma
baru sadar nis ojan guanteng..😆
Eli Rahma
iiihhhh ada yg kangen nih jan..
Eli Rahma
gegana nih..
hiro_yoshi74
coke wae ya biar nikah sama sandi toh semakin bangke di simpen rapet juga bakalan kecium .... besok kalo dah nikah terus nai di hina sama kel sandi ben tau rasa .....
Ratih Tupperware Denpasar
jan ojan kamu kemana sih ada yg kangen lho. selain nisa aku juga kangen kamu jan
Retno Harningsih
up
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!