Demi membiayai operasi ayahnya, Natalie nekat menjual keperawanannya pada seorang pria yang tidak ia kenal. Namun pria yang datang ternyata seorang dokter berhati baik yang justru ingin menyelamatkannya dari jalan buntu itu.
Setelah melewati malam yang penuh gairah, Drake malah kecanduan dengan tubuh Natalie, padahal dia tahu kalau wanita itu hanya mengejar uang.
Saat rahasia tergelap mereka terbongkar, mampukah hubungan rapuh dan terlarang ini tetap bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25
Setelah makan malam selesai, suasana meja makan di rumah Drake masih terasa hangat. Piring-piring sudah kosong, hanya tersisa gelas air dan sedikit rempah.
Nathalie menatap Drake yang duduk di depannya, lalu tiba-tiba bertanya, “Kamu kenal dokter Sela?”
Drake yang sedang menyeka mulut dengan serbet, mengangkat sebelah alisnya. “Kenal, dia salah satu dokter di rumah sakit tempat aku praktek,” jawabnya santai.
Namun, pria itu langsung mengerutkan kening, menatap Nathalie dengan tatapan penuh selidik. “Kenapa? Dia mengganggumu?”
Nathalie buru-buru menggelengkan kepalanya. Jantungnya berdegup kencang. Ia tidak mungkin menceritakan ancaman Sela tadi, nanti semuanya bisa jadi masalah besar.
“Tidak kok,” jawabnya pelan, berusaha tersenyum tipis. “Dia sangat cantik. Pasti banyak pria yang menyukainya,” pancing Nathalie, berharap mendapatkan reaksi dari Drake.
Sayangnya, Drake hanya mengangkat bahu ringan. Wajahnya tetap datar, tak ada sedikit pun ketertarikan atau gelombang emosi.
“Mungkin. Tapi aku tidak tertarik” balasnya singkat sambil berdiri dari kursi.
Ia berjalan mendekati Nathalie, tangan besarnya menyentuh bahu wanita itu lembut namun penuh kepemilikan. “Yang penting bagiku hanya kamu,” tambah Drake pelan di telinga Nathalie sebelum mencium pipinya sekilas.
Nathalie tersenyum kecil, tapi di dalam hatinya masih gelisah. Ancaman Sela dan sikap dingin Drake terhadap wanita lain membuat perasaannya semakin rumit.
Nathalie menarik napas dalam sebelum akhirnya memberanikan diri. “Nanti setelah ayah sembuh, aku akan membawanya ke kontrakan ku,” ucapnya pelan tapi jelas. “Aku akan tinggal berdua dengan ayah.”
Drake yang sedang berjalan menuju ke arah tangga langsung menghentikan langkahnya. Tubuh tegapnya menegang seketika. Ia menoleh perlahan, menatap Nathalie dengan sorot mata yang tajam dan gelap. Wajahnya yang tadinya rileks berubah dingin dalam sekejap.
“Aku tidak mengizinkannya. Kau tetap tinggal di sini bersamaku.” jawab Drake tegas, suaranya rendah namun penuh otoritas yang tak boleh dibantah.
Nathalie beranjak dari tempat duduknya, perlahan dia dia menghampiri Drake dengan ekspresi campur aduk antara takut dan putus asa. “Bagaimana dengan ayahku? Aku tidak mungkin mengembalikan dia ke ibuku. Kondisinya masih lemah, dia butuh perhatian penuh. Aku harus merawatnya sendiri" serunya, suaranya mulai meninggi.
Drake melangkah mendekat, setiap langkahnya terasa berat dan mengintimidasi. Ia berdiri tepat di depan Nathalie, menjulang tinggi hingga wanita itu harus mendongak untuk menatapnya. “Aku akan memikirkannya nanti,” ucapnya dingin. “Yang jelas kau tidak kuizinkan pergi dari sini.”
Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut, Drake berbalik dan berlalu menaiki tangga, seolah pembicaraan itu sudah selesai baginya. Ia menuju ke ruang kerjanya yang berada di samping kamarnya.
Nathalie berdiri membeku di tempatnya. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. “Drake, ini bukan hidupku,” bisiknya lemah, suaranya hampir hilang. “Aku punya ayah yang harus kujaga. Aku tidak bisa selamanya bergantung padamu seperti ini.”
Drake yang baru sampai di tengah tangga, lalu menoleh lagi dengan tatapan yang tak tergoyahkan. “Bergantung padaku adalah pilihan terbaik untukmu sekarang,” katanya datar. “Ayahmu akan dirawat dengan baik. Aku bisa sediakan perawat pribadi, rumah sakit khusus, apa pun yang dia butuhkan. Tapi kau… kau tetap di sini. Di sisiku.”
“Jangan coba-coba melawan, Nathalie. Kau tahu aku bisa membuat semuanya menjadi mudah, atau lebih sulit.”
Nathalie menggigit bibir bawahnya, tubuhnya gemetar. Di satu sisi ia bersyukur atas semua bantuan Drake terhadap ayahnya, tapi di sisi lain ia merasa seperti burung dalam sangkar emas, indah, aman, tapi tak bebas.
Ceklek...
Drake menutup pintu ruang kerjanya dengan pelan namun, meninggalkan Nathalie sendirian di bawah dengan perasaan hancur.
Ruang kerja itu luas dan elegan, dindingnya dipenuhi rak buku kedokteran tebal, diploma, serta foto-foto penghargaan yang tergantung rapi. Lampu meja menyala redup, menciptakan suasana fokus yang biasa ia nikmati.
Ia duduk di kursi kulit hitamnya, membuka laptop, dan mulai memeriksa email yang masuk. Satu per satu ia pelajari kasus pasiennya, grafik EKG, hasil CT scan, dan catatan perkembangan pasca-operasi. Jari-jarinya mengetik cepat, membuat catatan profesional, tapi pikirannya sesekali memikirkan Nathalie.
Sambil meminum kopi hitam yang sudah dingin, Drake membuka folder khusus tentang ayah Nathalie. Ia sudah menyusun rencana jangka panjang, perawat pribadi dua puluh empat jam, fisioterapi terbaik, bahkan kemungkinan memindahkan ayah Nathalie ke rumah ini kelak. Tapi itu semua dengan syarat. Nathalie tidak boleh pergi.
Beberapa menit kemudian, pintu ruang kerja diketuk pelan. Drake tak menjawab langsung, tapi Nathalie memberanikan diri masuk. Wanita itu berdiri di ambang pintu dengan wajah pucat dan mata masih sembab.
“Drake…” panggilnya pelan.
Drake menutup laptopnya perlahan, lalu bersandar di kursi sambil menatap Nathalie dari ujung kepala hingga kaki. “Masuk. Tutup pintunya.”
Nathalie menurut, langkahnya ragu-ragu mendekati meja kerja. “Aku hanya ingin bicara. Aku tidak bisa hidup seperti ini selamanya. Aku butuh kebebasan, setidaknya untuk merawat ayahku.”
Drake berdiri, mendekati Nathalie dengan langkah lambat yang penuh kuasa. Ia menangkup wajah wanita itu dengan kedua tangan besarnya, ibu jarinya mengusap air mata yang tersisa di pipi Nathalie. “Kau tidak perlu kebebasan dariku,” bisiknya serak. “Aku sudah beri segalanya. Rumah ini, keamanan, pengobatan ayahmu, bahkan hidupku yang kini hanya berpusat padamu. Apa lagi yang kau inginkan?”
Nathalie menutup matanya, tubuhnya gemetar di bawah sentuhan Drake. “Aku ingin menjadi diriku sendiri, bukan milikmu sepenuhnya.”
Jawaban itu membuat Drake tersenyum tipis, tapi senyumnya penuh kegelapan. Ia menarik Nathalie ke dalam pelukannya, memeluknya erat hingga dada wanita itu menempel sempurna di tubuhnya.
“Kau sudah menjadi milikku sejak pertama kali aku menidurimu,” gumamnya di telinga Nathalie. “Dan aku tidak pernah melepaskan apa yang sudah menjadi milikku.”
“Besok aku akan ke rumah sakit pagi-pagi. Kau ikut denganku. Kita lihat ayahmu bersama. Setelah itu, kita bicarakan soal ayahmu tinggal di sini atau di rumah baru. Tapi kau tetap tidak boleh kembali ke kontrakan itu.”
Nathalie tak melawan. Ia hanya diam dalam pelukan Drake, tubuhnya lemas menyerah pada dominasi pria itu. Drake mengangkat dagunya, mencium bibirnya dalam-dalam, penuh tuntutan. Ciuman itu lama, intens, seolah Drake sedang menyegel janjinya malam ini.
Setelah melepaskan ciuman, Drake menggandeng tangan Nathalie keluar dari ruang kerja menuju kamar tidur. “Malam ini kau tidur dalam pelukanku,” perintahnya lembut tapi tak terbantahkan. “Besok pagi kita mulai semuanya lagi.”
Di kamar, Drake membaringkan Nathalie di tempat tidur dengan penuh perhatian. Ia naik ke sampingnya, memeluk tubuh wanita itu dari belakang, satu tangannya melingkar di pinggang ramping Nathalie seolah tak ingin melepaskan sedikit pun. Napas hangat Drake menyapu tengkuk Nathalie, membuatnya sulit memejamkan mata.
Sementara itu, di dalam benak Drake, rencana demi rencana terus tersusun. Ia akan memastikan ayah Nathalie sembuh total, tapi dengan syarat yang tak tertulis, Nathalie harus tetap berada di bawah kendalinya. Tak ada kontrakan, tak ada kebebasan, hanya kehidupan yang ia atur.