NovelToon NovelToon
Istri Rahasia Sang CEO

Istri Rahasia Sang CEO

Status: tamat
Genre:Romantis / Reinkarnasi / Romansa Fantasi / CEO / Tamat
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Tere Nusa

Keira tidak punya apa-apa
Dibuang ibunya saat usia lima tahun dibesarkan di panti asuhan yang lebih mirip penjara dan dijual seperti barang bekas ke dunia orang kaya yang tidak pernah ia pahami
Tapi suatu malam ia terbangun di tepi kolam teratai sebuah mansion mewah di Jakarta basah kuyup jantung berdegup kencang dan kepala dipenuhi potongan memori yang bukan miliknya Api Darah Seorang pria yang memeluk tubuhnya yang tak bernyawa dan ikut terbakar bersamanya
Keira tahu dua hal pertama ia sudah pernah mati Kedua pria itu Darren Hendrawan pewaris konglomerat paling berkuasa di Indonesia akan mati juga Kecuali ia mengubah segalanya
Masalahnya Darren sudah punya tunangan dari keluarga elite Seluruh klan Hendrawan menganggap Keira sampah Dan racun yang perlahan membunuh Darren dari dalam ditanam oleh ayahnya sendiri
Tapi Keira bukan gadis yang mudah menyerah Ia pernah makan dari tempat sampah ia tidak takut dengan tatapan merendahkan para sosialita Jakarta Ia pernah mati ia tidak takut dengan ancaman
Yang ia takutkan hanya satu kehilangan pria yang ternyata telah memilihnya bukan sekali bukan dua kali tapi di setiap kehidupan
Kehidupan ini sudah cukup bisiknya
Tidak jawab Darren Aku akan menemukanmu di kehidupan berikutnya juga
Tapi bagaimana jika kehidupan berikutnya sudah tidak ada

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tere Nusa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 35

Bab 035: Rossa

Serena dibawa pergi saat langit Villa Puncak mulai gelap.

Mobil hitam yang membawanya turun dari halaman belakang tanpa suara besar, tetapi semua orang di villa tahu satu hal: perempuan itu tidak akan kembali dengan nama yang sama di lingkaran Hendrawan.

Namun masalah belum selesai.

Rossa Santoso masih duduk di ruang keluarga utama dengan punggung tegak, secangkir teh yang sudah dingin di depannya, dan buku tipis di pangkuan.

Judul buku itu membuat Keira berhenti sebentar.

Seni Berperang Sun Tzu.

Rossa membaca buku perang di tengah keluarga yang baru saja menangkap seorang pengkhianat.

Jika itu kebetulan, maka kebetulan itu terlalu rapi.

Kurang dari satu jam setelah Serena dibawa keluar, dua orang dari tim Rio mendekati Rossa.

"Nona Rossa," kata salah satu dari mereka dengan sopan. "Pak Darren meminta Anda membantu klarifikasi beberapa hal di ruang keamanan."

Kalimatnya halus.

Semua orang mengerti maksudnya.

Ini bukan penangkapan. Tidak ada polisi. Tidak ada borgol. Tidak ada suara keras.

Tetapi semua pintu villa sudah dijaga, sinyal komunikasi diawasi, dan setiap mobil yang bisa keluar dari halaman berada di bawah kendali Rio.

Rossa menutup buku.

Ia tidak terlihat terkejut.

Ia bahkan menyelipkan pembatas halaman dengan tenang, seolah hanya akan meninggalkan bacaan sebentar lalu kembali.

"Tentu."

Ia berdiri, merapikan kerah bajunya, lalu mengikuti petugas keamanan.

Mama Lian menyaksikan dari sofa tanpa bicara. Felicia menggigit bibir, tetapi juga tidak ikut campur. Jessica sudah dibawa Ratna ke kamar untuk beristirahat. Ningsih berdiri di depan pintu kamar Keira seperti penjaga kecil yang terlalu serius untuk ukuran tubuhnya.

Keira tidak masuk ke ruang pemeriksaan bersama Darren.

Ia duduk di ruangan sebelah, menatap layar monitor yang menampilkan sudut ruang keamanan villa.

Di layar, Darren duduk di depan Rossa. Rio berdiri di sisi kanan. Pak Ji berada dekat pintu. Ruangan itu kecil, dindingnya putih polos, mejanya kayu sederhana. Tidak ada hiasan, tidak ada minuman, tidak ada cara untuk berpura-pura ini percakapan sosial.

Rossa duduk dengan tangan terlipat rapi di pangkuan.

Darren membuka pembicaraan.

"Kamu tahu kenapa kamu di sini."

"Tahu," jawab Rossa.

Suaranya datar. Tidak menantang, tidak takut.

"Serena menyebut namamu."

"Saya mendengar."

"Dan bukti komunikasi di ponselnya menunjukkan kamu yang membuka jalur masuknya ke compound."

Rossa mengangguk.

"Benar."

Rio menoleh sedikit, seolah ia pun tidak menyangka pengakuan akan datang secepat itu.

Darren tidak berubah ekspresi.

"Lanjutkan."

Rossa menatapnya dengan tenang.

"Saya memang dikirim oleh Om Yuwono. Melalui hubungan keluarga Santoso. Tugas saya adalah mengawasi Hendrawan dari dalam, membaca perubahan kekuatan di keluarga Anda, dan melaporkan celah yang bisa dipakai."

Keira yang menonton dari ruangan sebelah merasakan udara di dadanya memadat.

Tidak ada air mata.

Tidak ada sandiwara.

Tidak ada "aku juga korban" seperti Serena.

Rossa mengaku seperti seseorang yang sedang menjelaskan cuaca.

Darren menyandarkan punggung ke kursi.

"Kenapa mengaku?"

Rossa sedikit menunduk, bukan tunduk, lebih seperti menghitung.

"Karena Serena sudah terbakar. Jalur saya juga tidak bisa dipakai lagi. Kalau saya terus diam, Anda akan membongkar semuanya dalam beberapa jam. Kalau saya bicara sekarang, saya masih bisa menukar informasi dengan perlakuan yang lebih masuk akal."

Pak Ji menatapnya tajam.

"Kamu pikir ini negosiasi?"

Rossa menoleh padanya.

"Semua yang belum berakhir adalah negosiasi."

Keira nyaris tersenyum pahit.

Rossa berbeda dari Serena.

Serena ingin menang melalui rasa percaya orang lain. Rossa ingin bertahan melalui perhitungan.

Darren mengetuk meja sekali.

"Apa yang Yuwono siapkan?"

Rossa menjawab tanpa menunda.

"Tiga hal."

Ruangan menjadi lebih sunyi.

"Pertama, akuisisi paksa melalui pasar. Om Yuwono sudah bekerja sama dengan tiga lembaga investasi luar. Target utama mereka adalah saham beredar PT Hendrawan Properti, anak usaha paling rentan di grup Anda. Mereka akan menekan harga, memicu kepanikan, lalu masuk sebagai penyelamat melalui pihak ketiga."

Rio langsung mencatat.

Rossa melanjutkan.

"Kedua, serangan media. Beberapa program infotainment dan akun KOL sudah dibayar untuk menyebarkan cerita tentang kehidupan pribadi Pak Darren. Fokusnya bukan Serena atau Rossa. Fokusnya Keira."

Darren tidak bergerak.

Namun di layar monitor, Keira melihat matanya menjadi lebih gelap.

Rossa menatap langsung ke arah kamera kecil di sudut ruangan.

Keira tahu perempuan itu sadar sedang dipantau.

"Mereka akan memakai foto dari Plaza Indonesia. Narasinya sederhana: CEO Hendrawan kehilangan kendali karena perempuan dari panti asuhan, tanpa keluarga, tanpa pendidikan tinggi, tanpa latar belakang yang pantas."

Keira menggenggam ujung kursinya.

Kata-kata itu tidak baru.

Tetapi kali ini, kata-kata itu akan diberi mikrofon.

"Ketiga," kata Rossa. "Dua orang di dewan direksi sudah dibeli. Mereka akan mendorong mosi tidak percaya terhadap Pak Darren pada rapat berikutnya. Alasannya: keputusan bisnis terganggu karena urusan pribadi, termasuk rapat akuisisi yang Anda tinggalkan saat Keira diracun."

Keira menutup mata sejenak.

Jadi bahkan ketakutan Darren hari itu pun akan mereka jadikan senjata.

Di ruang pemeriksaan, Darren diam.

Sepuluh detik.

Lima belas.

Lalu ia tertawa pelan.

Tidak keras.

Tidak panjang.

Hanya satu suara pendek yang membuat Rossa akhirnya berkedip.

"Biarkan mereka datang."

Kalimat itu tidak terdengar seperti keberanian kosong.

Lebih seperti seseorang yang sudah menunggu musuh mengetuk pintu agar ia punya alasan membuka perang.

Darren berdiri.

"Rio, pisahkan Rossa dari semua komunikasi luar. Jangan perlakukan dia seperti tamu, tapi jangan sentuh dia tanpa alasan hukum."

"Baik, Pak."

"Pak Ji, siapkan kendaraan. Semua orang kembali ke Jakarta besok pagi."

Pak Ji mengangguk. "Baik."

Darren mengambil ponselnya dan mulai memberi perintah.

"Vincent. Aktifkan tim hukum. Semua jalur. Aku butuh mereka siap sebelum pukul enam pagi."

Ia berjalan keluar dari ruang pemeriksaan sambil tetap berbicara.

"Hubungi CFO. Bekukan akun dan jalur transaksi yang terkait vendor luar dan rekening yang pernah disentuh jaringan Yuwono. Sekarang."

Rio mengikuti dengan tablet di tangan.

"Naikkan keamanan compound dan Hendrawan Tower ke level tertinggi. Tidak ada tamu tanpa verifikasi dua lapis. Semua kendaraan diperiksa."

Villa Puncak yang semula dirancang sebagai tempat liburan berubah menjadi markas darurat.

Telepon berdering di mana-mana. Pak Ji mengatur kendaraan. Rio mengirim instruksi kepada tim di Jakarta. Andi membantu menarik data dari tablet manajemen. Ratna memastikan Jessica tidak mendengar terlalu banyak agar kondisinya tidak semakin buruk. Mama Lian keluar dari kamar sekali, melihat kekacauan terorganisir itu, lalu kembali tanpa mengucapkan sepatah kata.

Keira tidak langsung menemui Darren.

Ia menunggu sampai hampir tengah malam, ketika villa lebih sunyi tetapi lampu ruang kerja sementara di lantai dua masih menyala.

Darren berada di sana.

Meja panjang dipenuhi laporan keuangan, daftar pemegang saham, skema transaksi, dan catatan hukum. Jasnya sudah dilepas. Lengan bajunya digulung. Ponsel di telinganya, tablet menyala di tangan kirinya, sementara tangan kanannya menandai angka dengan pena.

"Aku tidak peduli mereka memakai nama pihak ketiga," katanya ke telepon. "Cari pemilik manfaat terakhir. Kalau ada hubungan dengan Yuwono, bekukan jalur negosiasi."

Keira masuk tanpa bicara.

Darren menoleh sekilas.

Ia ingin mengatakan sesuatu. Mungkin menyuruhnya tidur. Mungkin bertanya apakah ia takut.

Keira duduk di sofa dekat meja, mengambil satu laporan yang sudah selesai dibaca Darren, lalu mulai melihat angka-angkanya.

Ada catatan margin, kode anak usaha, dan daftar nama yang asing. Tetapi Keira sudah belajar cukup banyak sejak memegang Kunci Utama untuk tahu satu hal: angka yang tidak jujur selalu punya bau.

Ia mengambil pensil dan memberi tanda pada tiga transaksi kecil yang berulang di bawah nama vendor berbeda.

Darren selesai menelepon.

"Kamu seharusnya tidur."

"Kamu juga."

"Aku sedang bekerja."

"Aku juga."

Ia menyerahkan laporan itu.

"Tiga pembayaran ini jumlahnya tidak besar, tapi polanya sama. Jika mereka sedang menyembunyikan jalur dana, mereka mungkin memecahnya kecil-kecil seperti ini."

Darren menerima kertas itu.

Matanya bergerak mengikuti tanda pensil Keira.

Untuk pertama kalinya malam itu, wajahnya tidak hanya dingin.

Ada sesuatu yang lembut muncul, cepat, tetapi nyata.

"Kamu memperhatikan ini?"

"Aku dulu hidup dari menghitung uang receh. Orang miskin tahu angka kecil bisa membunuh lebih pelan daripada angka besar."

Darren memandangnya lama.

Lalu ia menarik Keira mendekat dan mencium keningnya.

Tidak seperti ciuman di Villa Puncak sebelumnya. Tidak menggoda. Tidak menuntut.

Itu ciuman seorang pria yang di tengah perang menemukan seseorang duduk di sampingnya, bukan di belakangnya.

"Terima kasih," bisiknya.

Keira menunduk, mengambil laporan lain.

"Jangan berterima kasih dulu. Aku belum selesai menandai."

Sudut bibir Darren bergerak sedikit.

Mereka bekerja sampai dini hari.

Saat fajar mulai menyentuh puncak pohon, iring-iringan mobil Hendrawan turun dari Villa Puncak.

Jessica tidur di mobil tengah dengan wajah pucat. Mama Lian duduk diam, lebih tua daripada biasanya. Rossa berada di kendaraan terpisah dengan dua pengawal. Rio memimpin jalur depan. Pak Ji terus menerima telepon.

Di mobil utama, Darren menggenggam tangan Keira.

Jakarta muncul jauh di depan, garis gedungnya samar dalam cahaya pagi.

Darren menatap kota itu seperti menatap medan perang yang sudah lama ia kenal.

"Pulang ke Jakarta," katanya. "Ada perang yang harus diselesaikan."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!