Liora terpaksa menandatangani perjanjian pranikah dan dinikahkan dengan Alexander, seorang pria berkebutuhan khusus yang diasingkan keluarganya di sebuah desa terpencil. Ia pun pergi ke desa itu untuk merawat suaminya yang asing baginya. Namun, semakin lama merawat Alex, Liora mulai menyadari ada keanehan dan ketakutan dari warga sekitar terhadap pria itu. Ia pun curiga, jangan-jangan Alex tidak seperti yang terlihat. Di balik keterbatasannya, Alex ternyata menyimpan rahasia besar yang menjadi alasan keluarganya membuangnya. Liora kini harus mengungkap kebenaran di balik pengasingan suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Malam yang Tenang di Kamar Alex
Malam semakin larut. Lampu kristal di ruang keluarga masih menyala, memancarkan cahaya kuning yang hangat di atas sofa. Di atas sofa itu, Alex dan Liora terbaring dalam pelukan satu sama lain. Napas mereka sudah mulai teratur, dan tubuh mereka masih saling menempel, dilindungi oleh selimut tipis yang hanya menutupi sebagian tubuh mereka.
Setelah momen penuh gairah di atas sofa, rasa lelah akhirnya mengalahkan mereka berdua. Liora tertidur lebih dulu, kepalanya bersandar di dada Alex. Napasnya pelan dan tenang, wajahnya tampak damai di bawah cahaya lampu kristal.
Alex masih terjaga. Ia menatap Liora yang tertidur di atasnya. Rambut Liora tergerai di lengannya, dan beberapa helai menempel di pipinya. Alex tersenyum tipis, lalu mencium kening Liora dengan lembut.
Namun, ia tahu bahwa mereka tidak bisa tidur sepanjang malam di sofa. Udara malam mulai terasa lebih dingin, dan tubuh mereka masih telanjang sebagian. Alex khawatir Liora akan kedinginan.
Dengan sangat hati-hati, Alex mengusap rambut Liora. "Liora," bisiknya pelan. "Bangun sebentar, sayang."
Liora mengerang pelan. Matanya masih tertutup, dan ia bergumam tidak jelas.
"Liora, kita tidak bisa tidur di sini. Aku akan membawamu ke kamar," kata Alex dengan lembut.
Liora membuka matanya sedikit, tetapi ia masih setengah tertidur. "Hmm... Alex?"
"Iya, ini Alex. Aku akan membawamu ke kamar. Tidurlah kembali," bisik Alex.
Liora mengangguk kecil, lalu menutup matanya kembali. Alex tersenyum, lalu dengan hati-hati ia bangkit dari sofa, membawa Liora dalam pelukannya. Ia mengangkat Liora dengan gaya bridal carry, dengan satu tangan menopang punggungnya, dan tangan lainnya menopang lututnya.
Liora masih tertidur di pelukan Alex. Wajahnya menempel di dada Alex, dan napasnya masih teratur. Alex berjalan perlahan menaiki tangga, langkahnya hati-hati agar tidak terbangun. Ia juga mengambil selimut tipis dari sofa dengan satu tangan, membawanya bersama Liora.
Alex berjalan melewati kamar Liora. Namun, ia tidak berhenti di sana. Ia terus berjalan, menuju kamarnya sendiri.
Ia membuka pintu kamarnya dengan pelan, lalu masuk. Di dalam kamar Alex, suasana lebih gelap dan lebih tenang. Hanya ada cahaya bulan yang masuk melalui jendela, menciptakan siluet perak di lantai.
Alex menurunkan Liora di atas tempat tidur. Dengan sangat hati-hati, ia meletakkan kepala Liora di atas bantal, lalu menarik selimut tebal yang ada di tempat tidurnya, menutupi tubuh Liora yang masih tidak mengenakan pakaian.
Liora bergerak sedikit, mencari posisi yang lebih nyaman. Ia berguling ke sisi kiri tempat tidur, dan tangannya meraih bantal di dekatnya.
Alex tersenyum melihat Liora yang masih tertidur pulas. Ia lalu berbaring di sisi kanan tempat tidur, di samping Liora. Ia tidak mengenakan pakaian apa pun, hanya selimut yang menutupi tubuhnya.
Alex menatap Liora yang tertidur di sampingnya. Wajahnya tenang dan damai. Alex merasa dadanya dipenuhi oleh sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan. Ia sudah lama menahan diri, tetapi malam ini, ia akhirnya bisa merasakan kehangatan yang sesungguhnya.
Ia mendekatkan tubuhnya, dan dengan lembut ia memeluk Liora dari belakang. Lengannya melingkar di pinggang Liora, dan wajahnya menempel di rambut Liora.
"Selamat malam, Liora," bisik Alex.
Liora tidak menjawab. Ia hanya bergerak sedikit, mendekatkan tubuhnya pada Alex, seolah ia merasakan kehangatan itu dalam tidurnya.
Mereka berdua tertidur dalam pelukan yang erat. Tidak ada pakaian yang membatasi, tidak ada rasa canggung yang tersisa. Hanya ada dua tubuh yang saling membutuhkan, dan dua hati yang perlahan saling terhubung.
Di luar, angin malam berembus pelan, dan suara jangkrik terus bersahut-sahutan. Bulan bersinar terang di langit, menerangi kamar Alex dengan cahaya yang lembut.
Kamar Alex tidak pernah terasa begitu hangat seperti malam ini.
---
Keesokan paginya, Liora bangun dengan perasaan yang sangat nyaman. Ia merasakan kehangatan yang menyelimuti tubuhnya, dan ia merasakan sesuatu yang melingkar di pinggangnya.
Liora perlahan membuka matanya. Cahaya pagi sudah mulai masuk melalui jendela, menciptakan garis-garis emas di lantai kamar.
Liora melihat sekeliling. Kamar ini tidak seperti kamarnya. Seprainya berwarna abu-abu, dan di sudut kamar, ada beberapa mainan Lego yang belum disusun.
Liora tersentak. Ini kamar Alex. Bagaimana ia bisa berada di kamar Alex?
Ia menoleh ke belakang, dan ia melihat Alex masih tertidur. Alex berbaring di belakangnya, dengan lengan yang melingkar erat di pinggang Liora. Alex tidak mengenakan pakaian apa pun, hanya selimut tipis yang menutupi sebagian tubuhnya.
Liora melihat dirinya sendiri. Ia juga tidak mengenakan pakaian.
Ingatan semalam perlahan kembali. Ia ingat mereka melakukan hubungan intim di sofa. Ia ingat Alex yang membawanya ke kamar ini. Dan ia ingat bahwa Alex telah merawatnya sepanjang malam.
Liora tidak lagi merasa malu. Ia merasa ada kehangatan yang mengisi hatinya.
Ia perlahan berbalik, sehingga kini ia berhadapan langsung dengan Alex. Wajah Alex masih tertidur, dengan napas yang teratur dan senyuman kecil di bibirnya.
Liora tersenyum. Ia mengangkat tangannya, dan dengan lembut ia mengusap rambut Alex yang sedikit berantakan.
"Terima kasih, Alex," bisiknya.
Dan di dalam tidurnya, Alex tersenyum. Seolah ia mendengar bisikan Liora, dan ia merespons dengan senyuman.
Mereka berdua masih belum tahu apa yang akan terjadi ke depan. Ada banyak rahasia yang masih tersembunyi. Namun, pagi ini, mereka hanya ingin menikmati satu hal: kebersamaan yang hangat di bawah satu selimut.
saling support sabi kali😉