Satu sekolah tahu Lintang Gentariana adalah gadis paling gigih yang setiap hari memanggil nama Arka—atlet pencak silat kebanggaan sekolah yang sedingin es.
Dua tahun cintanya bertepuk sebelah tangan, sebuah wasiat tiba-tiba memaksa mereka menikah secara rahasia di bangku SMA.
Lintang mengira impiannya jadi nyata. Namun, ia keliru. Arka menikahinya tepat ketika dunia cowok itu di ambang runtuh.
Di sekolah Lintang adalah gadis yang selalu terlihat mengejar Arka, tapi di rumah, Lintang harus menghadapi kemarahan dan luka terdalam Arka.
Lantas, bagaimanakah kelanjutan kisah pernikahan rahasia mereka?
Sanggupkah Lintang bertahan, atau perpisahan justru menjadi jalan terbaik bagi keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon siyunr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7 Menit Bunda
Pagi-pagi sekali, sepasang pengantin baru itu sudah kembali berada di rumah sakit untuk menengok Frina.
Menurut informasi dari Ilna, kondisi Frina sudah jauh lebih stabil.
Wanita paruh baya itu pun sudah dipindahkan kembali ke ruang rawat inap VIP.
Kini jam dinding di sudut ruangan sudah menunjukkan pukul dua siang. Suasana di dalam kamar rawat inap itu terasa sangat tenang.
Lintang dan Arka hanya berjaga berdua saja di dalam ruangan bercat putih tersebut.
Sebab, Ilna dan Leno sudah pamit pulang untuk beristirahat sejak azan zuhur berkumandang.
Frina terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit dengan selang infus yang masih menempel di punggung tangannya dan selang oksigen yang belum boleh di lepas.
Sementara putra dan menantunya duduk setia berjaga di sisi kiri dan kanan ranjang.
"Bunda sama mami kamu itu udah sahabatan lama ... banget," ujar Frina memecah keheningan.
Suaranya terdengar parau namun sarat akan kehangatan.
Ia mulai membagikan kisah masa lalunya bersama Ilna kepada kedua keturunannya tersebut.
"Kita bareng-bareng sejak zaman SMP."
"Dari SMP? Wah, udah puluhan tahun berarti dong, Bun?" Lintang menyahut antusias.
Kedua matanya berbinar, selalu tertarik dengan cerita masa lalu.
Frina tersenyum lembut menatap menantunya.
"Iya ... udah kayak saudari kandung sendiri."
"Ilna selalu ada pas bunda lagi di masa-masa susah," kenang Frina, matanya menerawang.
"Pas dulu bunda sering terpaksa sekolah jalan kaki, Ilna pasti langsung nawarin tebengan."
"Dulu Ilna kalau sekolah memang selalu diantar jemput sama sopir pribadinya."
"Pasti nama sopirnya Pak Don!" tebak Lintang cepat sambil menjentikkan jarinya.
Frina tampak sedikit terkejut, lalu tersenyum makin lebar. "Betul. Kok kamu bisa tahu?"
"Mami pernah cerita ke Lintang, Hehehe," ujar Lintang sambil menyengir kuda.
"Dulu, Ilna selalu maksa bunda buat ikut nebeng."
"Bahkan Pak Don sampai hafal banget sama rute rumah bunda," lanjut Frina dengan kekehan kecil.
"Sampai lulus SMA pun kita berdua selalu bareng."
"Ternyata, takdir sampai ke pernikahan juga mirip. Kita berdua cuma nikah beda jarak sehari."
Frina mengela napas pendek, ada kilat sendu yang sempat melintas di matanya.
"Tapi ... ternyata garis nasib kita setelah menikah agak berbeda."
"Bunda ikut seneng karena Ilna bisa sebahagia itu sama pernikahannya."
Mendengar kalimat tersirat sang bunda, rahang Arka seketika mengeras di tempatnya duduk.
Cowok itu tahu betul badai seperti apa yang harus dilewati bundanya sendirian selama ini.
"Bunda ...," tegur Arka lirih, suaranya terdengar berat penuh peringatan.
Frina tersenyum menenangkan, mengusap lengan putranya yang tampak menegang.
"Bunda cuma cerita, Arka. Nggak maksud apa-apa."
Lintang yang menangkap perubahan atmosfer itu pun segera berdeham, mencoba mengalihkan topik agar suasana kembali mencair.
"Terus gimana lagi kelanjutannya, Bunda?"
"Jangan bilang... rencana Bunda sama Mami masukin anak ke daycare Happychild itu juga barengan?" tebak Lintang sok misterius.
Frina kembali tersenyum mendengar tebakan jitu menantunya.
"Iya, betul banget. Itu juga sebenarnya rencana impulsif kita berdua."
"Karena bunda sama Ilna kebetulan lahiran di tahun yang sama, jadi rencana buat masukin anak ke daycare itu langsung terbentuk."
Frina mengalihkan pandangannya, menatap Lintang dengan heran.
"Tapi tunggu, kamu kok bisa tahu kalau Arka juga alumni Happychild?"
"Pernah iseng cerita ke Arka pas lagi bazar di sekolah, Bun. Ternyata dia juga alumni sana," ujar Lintang riang sambil melirik Arka jahil.
Mendengar itu, Arka hanya mendengus pelan dan pura-pura mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Frina menarik napas panjang, pandangannya kini beralih menatap langit-langit plafon kamar rawat.
Ingatannya ditarik semakin jauh ke belakang, memunculkan memori-memori lucu belasan tahun silam.
"Padahal ... dulu pas masih balita, kalian berdua ini yang paling sering berantem rebutan barang."
"Kalau bunda sama Ilna datang buat jemput, pasti ... ada aja laporan informasi unik dari Miss-nya di sana."
"Mulai dari laporan Arka nangis gara-gara ditendang Lintang, lah."
"Arka yang dicakar Lintang, sampai adegan kalian berdua rebutan botol susu."
Frina tertawa kecil menatap Arka yang kini mulai salah tingkah.
"Bahkan, boneka Barbie baru punya Lintang pernah dipatahin sama Arka dengan sengaja."
"Pas bunda tanya kenapa, kata Arka kecil dengan polosnya begini:"
"'Aku kesel sama Lintang, rambut aku dijambak mulu sama dia.'"
"'Karena aku takut Lintang nangis kalau aku balas jambak, ya udah aku jambak aja rambut Barbie-nya. Eh, ternyata malah copot kepalanya.'"
Lintang seketika meledak dalam tawa renyah, tawanya menggema di ruangan VIP tersebut.
Ia menoleh ke arah suaminya dengan tatapan mengejek. "Sadis banget lu dari kecil, Ka!"
Arka mendengus malas, melirik Lintang dengan sudut matanya yang tajam.
"Lu yang lebih villain," sahut Arka tak mau kalah.
"Tuh kan, sampe sekarang udah nikah juga masih adu mulut aja," goda Frina.
Sepasang matanya menatap geli ke arah putra dan menantunya bergantian.
Lintang seketika menunduk dalam. Wajahnya mendadak terasa panas, dengan hati yang berbunga-bunga luar biasa.
Ia baru saja tersadar oleh sebuah kenyataan yang manis.
Kini, cowok kulkas sepuluh pintu di depannya itu sudah resmi menjadi miliknya sepenuhnya.
Sementara itu, Arka buru-buru buang muka ke arah lain karena merasa malu rahasia masa kecilnya dibongkar habis-habisan.
"Bunda, aku keluar dulu. Mau ngisi bensin," pamit Arka mendadak sambil berdiri dari kursinya.
Frina menahan tawa, menatap putranya dengan tatapan jenaka.
"Eh, kenapa? Habis digodain, bensinnya langsung habis?" tanya Frina sengaja memojokkan Arka.
Arka tidak menjawab pertanyaan bundanya.
Dengan langkah seribu, cowok itu segera beranjak pergi keluar dari dalam ruangan VIP tersebut.
Frina tertawa pelan di balik selang oksigen yang terpasang di hidungnya.
Ia menyenggol lengan Lintang dengan senyuman penuh arti.
"Kamu liat nggak, Lin? Telinga Arka merah banget tadi," adu Frina ke menantunya.
Lintang langsung meledak dalam tawa kecil yang menggemaskan.
"Hahaha, iya Bunda! Merah banget kayak ketumpahan blush on," ujar Lintang riang.
Namun, sedetik kemudian Lintang sadar kalau wajahnya sendiri pasti tidak kalah merah dari Arka.
Secara refleks, Lintang langsung menarik rambut panjangnya ke depan untuk menutupi kedua daun telinganya sendiri yang ikut memanas.
Setelah tawa mereda, Frina kembali buka suara.
"Lintang... Bunda pengen jeruk. Disitu ada jeruk nggak?" Tanya Frina menunjuk nakas.
Lintang menoleh, sedikit menggeser geser buah buahan yang ada disana. "Nggak ada bunda, adanya pisang sama salak."
Ujarnya agak malu. Karena buah lainnya malah dia yang menghabiskan.
"Bunda mau jeruk? Lintang beliin dulu sebentar. Di deket pertigaan ada tukang buah disana" tawar lintang.
"Boleh..." Frina mengangguk samar.
Lintang berdiri, meraih tas dan jaketnya. "Yaudah, lintang beli dulu ya, sebentar. Assalamualaikum."
Dia menyalimi punggung tangan Frina.
"Waalaikumsalam..." Jawab Frina.
Lintang keluar dari ruangan meninggalkan frina sendirian.
...----------------...
Arka berjalan keluar dari ruangan VIP itu entah ke mana tujuannya.
Yang penting bagi cowok itu sekarang adalah kabur agar tidak digoda oleh bundanya lagi.
Langkahnya yang lebar menyusuri koridor rumah sakit yang tampak lengang, hingga akhirnya sampai ke area parkiran luar.
"Arka!" Sebuah suara berat mendadak memanggil namanya dari arah belakang.
Arka menghentikan langkahnya, lalu menoleh pelan.
Begitu melihat sosok yang berdiri tak jauh darinya, rahang Arka seketika mengeras sempurna.
"Ngapain lagi lu di sini?" tanya Arka dengan nada suara yang teramat dingin.
Hansanto melangkah mendekat.
Pria paruh baya itu hendak menyentuh pundak putranya, namun Arka dengan cepat mundur selangkah untuk menghindar.
"Ayah mau jenguk bunda kamu, Ka," ujar Hansanto dengan raut wajah penuh penyesalan.
Mata Arka seketika menajam, memancarkan kilat kebencian yang mendalam.
"Jangan pernah temuin bunda, atau jalang kesayangan lu itu habis gue permalukan!" ancam Arka tanpa basa-basi.
Hansanto menghela napas panjang, kepalanya tertunduk lesu menerima makian sang anak.
"Arka ... Ayah bener-bener minta maaf atas semua kesalahan Ayah di masa lalu ...."
"Ada alasan kenapa dulu Ayah jahat banget sama kalian," lanjut Hansanto mencoba membela diri.
Arka terkekeh sinis, sama sekali tidak tersentuh oleh ucapan pria di depannya.
"Alasan apa? Demi nyenengin selingkuhan lu?" sindir Arka telak.
"Arka—"
"Pergi!" usir Arka, memotong ucapan ayahnya dengan cepat.
"Tapi, Ka—"
"GUE BILANG PERGI!" bentak Arka dengan suara yang menggelegar di area parkiran.
Hansanto terdiam, menyadari kemarahan putranya sudah berada di titik puncak.
"Oke, Ayah pergi. Jaga diri kamu baik-baik. Jagain bunda juga," pasrah Hansanto akhirnya.
Arka kembali terkekeh sinis, menatap punggung ayahnya yang mulai berbalik menjauh.
"Gue pastiin kalau gue nggak akan pernah jadi cowok bejat kayak lu!" teriak Arka tajam.
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Arka berbalik badan dengan emosi yang masih meluap-luap.
Tujuannya sekarang adalah kembali ke ruangan VIP bundanya demi menenangkan diri.
Langkahnya bergegas menembus koridor, lalu dengan cepat membuka pintu kamar rawat sang bunda.
Brak!
Namun, begitu pintu terbuka, emosi di dada Arka seketika runtuh digantikan oleh rasa syok yang luar biasa.