NovelToon NovelToon
Bosku Menjadi Suami Rahasiaku

Bosku Menjadi Suami Rahasiaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Fajar Rizky

Aku selalu berpikir bahwa pernikahan rahasia ini akan berjalan mudah asalkan kami tetap menjaga jarak di tempat kerja. Sebagai resepsionis, tugas utamaku adalah mengarahkan tamu, bukan menarik perhatian sang CEO. Namun, Bastian yang kutemui di rumah sebagai suami yang acuh tak acuh, perlahan-lahan menunjukkan intensitas yang berbeda di kantor. Dia mulai mengawasiku dari jauh dan membuat keputusan-keputusan sepihak yang memengaruhi pekerjaanku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Fajar Rizky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kamu... benar-benar menyukaiku?

Bu Ratna keluar terlebih dahulu di lantai dua puluh lima, sedangkan aku terus melanjutkan perjalanan lift menuju lantai dua puluh delapan.

Begitu pintu lift terbuka dan aku melangkah keluar sambil menarik koper, pandanganku langsung tertumpu pada sosok Bastian yang sudah berdiri menunggu di koridor sunyi. Dia tampak sedang menyandarkan punggungnya ke dinding dengan sebatang rokok yang terselip di antara bibir tipisnya dan l mata yang setengah terpejam.

"Pak Bastian," sapaku pelan sambil berjalan mendekat.

Bastian mengangkat tangannya untuk menjauhkan rokok dari bibir, lalu melangkah maju ke arahku. Dan tanpa ekspresi hangat sedikit pun di wajahnya, dia langsung mengambil alih pegangan koper dari tanganku. "Amara, aku perhatikan keberanianmu semakin meningkat sejak kita menikah," ujarnya dengan nada suara yang terdengar berat dan dingin.

Aku hanya bisa tertegun di tempat mendengar sindirannya.

Bastian melangkah mendahuluiku di sepanjang koridor, lalu berhenti tepat di depan sebuah pintu kamar suite mewah. Dia menggesekkan kartu akses di antara jarinya, mendorong pintu hingga terbuka, dan melangkah masuk ke dalam terlebih dahulu.

Aku mengekor di belakangnya dengan patuh. Begitu pintu tertutup rapat, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak menyunggingkan senyum tipis di bibirku. "Sepertinya suasana hatimu sedang sangat buruk hari ini, ya?"

"Aku mengirimimu begitu banyak pesan penting, dan kamu sama sekali tidak membaca satu pun dari pesan-pesan itu?"

Bastian meletakkan koperku di sudut, lalu melepas jas kantornya dan melemparkannya begitu saja ke atas sofa ruang tamu.

"Aku benar-benar tidak sempat melihat ponselku tadi. Kalau saja aku tahu kamu mengirim pesan sejak awal, aku pasti sudah langsung membalasnya," jawabku dengan nada sesantai mungkin demi meredam emosinya.

Sambil berbicara, aku mulai berjalan mengelilingi ruangan untuk melihat-lihat fasilitas kamar. Kamar suite ini berukuran sangat luas dengan seluruh perabotannya yang menggunakan bahan kayu solid berkualitas tinggi. Tata letaknya dimulai dari area kamar mandi mewah di bagian depan, dilanjutkan dengan ruang tamu yang luas, dan terakhir area kamar tidur utama yang sangat nyaman.

Setelah puas melihat-lihat, aku berbalik dan mendapati Bastian masih berdiri diam di posisinya. Wajahnya yang tegas dan tampan tampak masih mempertahankan garis-garis ketegangan yang kaku. Aku tertawa kecil menatapnya. "Pak CEO, jangan bilang kalau kemarahanmu hari ini hanya karena aku terlambat membalas pesan singkatmu?"

Begitu kalimat itu selesai kuucapkan, Bastian langsung mengambil beberapa langkah lebar mendekat ke arahku. Lengan kokohnya bergerak cepat melingkari pinggang rampingku, menarik tubuhku dengan sentakan kuat hingga menempel erat pada dada bidangnya. Dia menundukkan kepala, menatap lurus ke dalam mataku dengan sorot yang sangat intens sekaligus terasa dingin.

"Amara... apa kamu sebenarnya benar-benar menyukaiku?"

Selama tiga tahun kebersamaan kami, Bastian sama sekali tidak pernah melontarkan pertanyaan ini dengan nada seram dan serius seperti sekarang. Untuk sesaat, aku benar-benar kehilangan kata-kata dan tidak tahu bagaimana harus memberikan jawaban yang tepat.

Setelah sempat terdiam beberapa detik di bawah tekanan tatapannya, aku perlahan mengangkat kedua telapak tanganku untuk membingkai sisi wajahnya yang tegas, lalu memberikan jawaban dengan nada bicara yang sangat mantap, "..."

"Aku menyukaimu."

Kalimat itu sudah kuulang-ulang selama tiga tahun terakhir, sampai-sampai aku sendiri hampir memercayainya.

Bastian tampak puas dengan jawabanku—atau lebih tepatnya, dia puas melihat binar kekaguman yang terpancar di mataku.

Setelah pelukan singkat, sebuah ciuman yang intens langsung menyusul. Bastian mengunci tubuhku ke dinding. Wajahnya yang tegas berpadu dengan tatapan mata yang dipenuhi gairah, memancarkan aura dominan yang sulit ditolak.

Malam ini, setelah Bastian tertidur lelap, aku bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke kamar mandi. Di sana, aku menghabiskan enam batang coklat berturut-turut, merasa jengkel tanpa alasan yang jelas.

Si brengsek Bastian itu... apa dia benar-benar mulai jatuh cinta padaku?

Pria paling dingin sekalipun pasti akan menunjukkan sisi lembutnya begitu dia mulai menyayangi seorang wanita. Dan pria sekaku Bastian pun tampaknya bukan pengecualian.

Perjalanan ke luar negeri ini, selimut tipis di pesawat tadi, hingga kamar suite yang sengaja disiapkannya meski berisiko memicu kecurigaan karyawan lain—aku tidak bodoh, aku bisa membaca semua sinyal itu.

Setelah membuang bungkus batang coklat keenam di atas wastafel marmer, aku menatap bayanganku di cermin lalu terkekeh dengan sinis. "Amara, kalau dia benar-benar jatuh cinta padamu, bagaimana bisa kamu terus tenang berada di sampingnya?"

Aku melangkah keluar dari kamar mandi, dan tepat saat itu layar ponselku di atas meja nakas menyala. Aku mendekat dan mengangkatnya. Sebuah pesan singkat masuk:

"Mara, ini sudah tiga tahun. Masa kamu belum bisa memaafkan Ayah? Soal kematian Rendy, tidak ada seorang pun yang menginginkan musibah itu terjadi."

Rendy!!

Nama itu tercetak jelas di layar dan langsung terasa menghujam dadaku dengan rasa sakit yang luar biasa. Tanpa sadar, amarahku langsung mengambil alih. Aku mengayunkan tangan dan membanting ponsel itu kuat-kuat ke dinding di samping tempat tidur.

PRANG!

Suara benturan keras saat ponsel itu hancur berantakan seketika membuat mata Bastian terbuka. Tepat saat dahinya berkerut dan bibirnya terbuka hendak berbicara, aku langsung merayap naik, menindih tubuhnya, membingkai wajahnya dengan kedua tanganku, lalu mencium bibirnya dengan gila-gilaan.

Bastian hanya ragu selama satu detik sebelum akhirnya membalikkan posisi kami, mengambil alih kendali dengan gairah yang sama besarnya.

Di tengah ciuman sengit yang membuatku hampir kehabisan napas, aku menggenggam erat lehernya dan berbisik terengah-engah, "Bastian... kumohon, jangan pernah jatuh cinta padaku, ya?"

Gerakan Bastian mendadak terhenti. Dia menegakkan tubuhnya, dan binar gairah di matanya seketika menguap tanpa sisa. "Kamu bicara apa?"

Aku menatap matanya tanpa berkedip. Awalnya aku membisu, lalu terkekeh pelan. "Kamu... benar-benar menyukaiku?"

Bastian menyipitkan matanya yang tajam. Dia tidak memberikan jawaban lisan, namun perubahan auranya yang menjadi dingin menunjukkan bahwa pertanyaan itu adalah sebuah kesalahan besar.

Keesokan harinya.

Saat aku terbangun, Bastian sudah duduk di sofa ruang santai sambil menyesap kopi. Sebuah laptop terbuka di pangkuannya, tampak sibuk dengan urusan pekerjaan.

Mendengar pergerakanku di atas kasur, Bastian mendongak. Nadanya datar tanpa emosi. "Aku sudah menyuruh Rian membelikan ponsel baru untukmu. Coba lihat apa kamu suka."

Aku duduk dengan tegak dan mengalihkan pandangan ke meja nakas. Di sana tergeletak sebuah ponsel keluaran terbaru yang sudah dibuka dari kemasannya dan terpasang pelindung casing.

Aku mengambil ponsel itu, mengusap layarnya sekilas, lalu memaksakan sebuah senyuman. "Wah, bagus sekali. Responsif dan tidak lemot sama sekali, jauh lebih baik dari ponsel lama milikku. Ponselku yang kemarin itu memang belakangan ini sering bermasalah."

Namun, Bastian sama sekali tidak merespons celotehanku. Dia justru mengalihkan topik dengan pertanyaan dingin, "Amara, sebenarnya kamu punya pria lain yang kamu sukai?"

"Hah?" tanyaku bingung, benar-benar tidak menyangka pertanyaan itu akan keluar dari mulutnya.

1
sunaryati jarum
Kalian benar - benar pintar menyembunyikan status pernikahan kalian.
sunaryati jarum
Wah minta imbalan Rian
sunaryati jarum
Bastian makin menunjukkan perilaku sebagai suami, Amara.
sunaryati jarum
Shela sepertinya yang suka sama Bastian
sunaryati jarum
Amara hilangkan bayangan mendiang kekasihmu cukup di kenang dan masukkan Bastian suamimu
sunaryati jarum
👋👋👋 untuk Amara
sunaryati jarum
Dilamar diketahui suami😃
sunaryati jarum
Siapa, Bastian punya adik?
sunaryati jarum
Berarti dirahasiakan,ya
sunaryati jarum
Istrinya CEOmu ya sahabatmu
Baru mampir, sepertinya ceritanya menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!