NovelToon NovelToon
Nafas Yang Mencekik

Nafas Yang Mencekik

Status: sedang berlangsung
Genre:Enhypen / Romansa / Dark Romance
Popularitas:87
Nilai: 5
Nama Author: rerevana

Hubungan Serena dan Heeseung selalu berada di antara lembut dan mencekik.

Setiap kali badai berlalu, Heeseung datang membawa janji dan ketenangan yang membuat Serena ingin percaya lagi. Tapi di balik perhatian dan perlindungan itu, ada rasa memiliki yang terlalu kuat untuk diabaikan.

Serena terjebak antara takut kehilangan dan takut tinggal.

Cinta yang awalnya terasa aman, perlahan berubah menjadi sesuatu yang sulit untuk dilepaskan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rerevana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Melamar

20 menit terasa lebih lama karena hujan.

Tapi akhirnya lampu mobil Darman muncul dari kejauhan.

Tak lama kemudian, lampu mobil lain membelah gelap di ujung jalan.

Darman datang.

Pintu belakang terbuka. Revan menoleh sebentar ke arah Serena, lalu mengangguk. "Pindah." Suaranya pendek, tapi cukup.

Mobil Revan ditinggal di bahu jalan. Kuncinya dititipkan di bawah kolong roda, dengan pesan singkat untuk bengkel langganan. Sepanjang perjalanan menuju apartemen, tak ada yang banyak bicara. Hujan masih turun, mengetuk kaca dengan ritme yang sama.

Tiga puluh menit kemudian mereka sampai.

Begitu masuk apartemen, Revan melepas sepatu dan langsung menjatuhkan diri di sofa. Laptop dinyalakan. Tumpukan email dan laporan yang tertunda seharian menuntut untuk segera diselesaikan. Jari-jarinya bergerak di atas keyboard dengan ritme yang biasa.

Dari arah kamar mandi terdengar suara air.

Beberapa menit kemudian, pintu terbuka. Serena keluar dengan celana pendek dan kaos kebesaran yang ujungnya sedikit melorot di salah satu bahu. Rambutnya masih setengah basah, digulung dengan handuk kecil.

Ia berhenti di depan sofa.

Revan sudah tertidur. Tubuhnya miring, satu tangan masih menggantung di sandaran. Laptop tergeletak di atas perutnya, layarnya masih menyala dengan cahaya putih yang memantul di wajah lelahnya.

Dengan hati-hati, Serena menutup laptop itu. Suara `klik` pelan terdengar di tengah sunyi. Ia berjalan ke kamar, mengambil satu bantal, lalu kembali. Bantal itu ia selipkan perlahan di bawah kepala Revan.

Saat membungkuk, sehelai rambutnya yang basah terlepas dan jatuh menyentuh pipi Revan. Laki-laki itu mengerutkan dahi, menggeliat kecil, namun tidak terbangun.

Serena tersenyum. Ia mengambil selimut tipis dari sandaran sofa dan menyampirkannya hingga ke dada Revan.

Ia hendak berdiri ketika pergelangan tangannya tiba-tiba tertahan.

Tarikan itu kuat dan cepat.

"Ah."

Tubuhnya kehilangan keseimbangan. Dalam sedetik ia jatuh, mendarat di atas dada Revan.

Mata Revan terbuka. Separuh sadar. Sorotnya masih buram oleh kantuk. Napasnya hangat, menyapu kulit leher Serena.

" ...Mau ke mana?"

Suara itu rendah. Serak.

Tangan Revan masih melingkar di pinggangnya, menahannya agar tidak bangun. Di luar, hujan belum juga berhenti. Di dalam, hanya lampu temaram yang menyala, dan detak jantung Serena yang terlalu keras untuk diabaikan.

" ...Mau ke mana?" tanya Revan lagi. Suaranya serak. Belum sepenuhnya sadar.

Serena menggeleng. Ia hendak menjawab, hendak bangun, tapi Revan mendahuluinya.

"Ser."

"Eh?"

Revan membuka mata sepenuhnya. Sorotnya lurus ke arah Serena. Tidak ada canda. Tidak ada ragu.

"Nggak usah jawab sekarang." Jempolnya mengusap pinggang Serena sekali, pelan. "Gue cuma mau ngomong."

Dada Serena mengencang. Ia menunduk, menghindari tatapan itu. Tapi dagunya ditahan oleh jari Revan. Dipaksa untuk melihat.

"Gue orangnya berantakan," lanjut Revan. Nadanya datar, tapi ada gemetar kecil di ujungnya. "Kerja gue numpuk. Emosi gue masih suka naik-turun. Bahkan gue masih belum bisa manggil lo dengan sebutan kamu."

Serena menahan napas.

"Gue nggak janji besok bakal jadi lebih baik dari hari ini. Tapi satu hal yang gue tau pasti."

Revan menghela napas. Tangan satunya masuk ke saku kemejanya yang tergeletak di meja. Ia mengeluarkan sesuatu. Kecil. Mengilap di bawah cahaya lampu.

Sebuah kotak beludru hitam.

"Gue nggak mau berantakan sama orang lain."

Klik.

Kotak itu ia buka tepat di depan Serena.

Di dalamnya, bersinar di bawah lampu temaram, ada sebuah cincin.

Pita platinum tipis. Dan di tengahnya bertengger sebuah berlian potongan oval, berwarna soft pink. Lembut. Tidak mencolok. Tapi begitu Serena melihatnya, matanya langsung basah.

"Nikah sama gue, Ser."

Kalimat itu jatuh begitu saja. Tanpa musik. Tanpa bunga. Hanya suara hujan dan napas mereka yang bertabrakan.

"Gue nggak janji besok gue nggak berantakan. Tapi gue janji berantakannya, cuma sama lo."

Serena terdiam. Matanya mulai panas.

"Gue udah capek jadi pacar lo," bisik Revan. Sudut bibirnya terangkat, setengah senyum, setengah lelah. "Gue mau naik level. Jadi suami lo."

Hening.

Hanya suara hujan yang menjawab.

Tangan Serena yang sedari tadi bertumpu di dada Revan, perlahan naik. Menyentuh pipi laki-laki itu.

" ...Iya," jawabnya. Suaranya pelan. Hampir tenggelam. "Iya, Kak."

Revan mengerjap. Seakan tak percaya.

Lalu ia menarik napas panjang, seperti orang yang baru saja berlari jauh. Dan menarik Serena lebih dekat.

Kali ini bukan ciuman yang buru-buru.

Ini ciuman yang bilang: akhirnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!