"Demi menyelamatkan ayahnya, Alya setuju menggantikan kakaknya untuk memenuhi janji pernikahan dengan Mayor Damar. Namun, pada akhirnya semua hanyalah status dan diikat surat perjanjian yang berlaku selama tiga tahun. Di samping itu, Alya dan Damar menjalani kehidupan mereka masing-masing.
Namun, dua tahun kemudian, keduanya dipertemukan kembali di medan perang. Alya sebagai dokter ditugaskan ke perbatasan NTT, tempat Damar bertugas. Kontrak yang awalnya dianggap sebagai garis aman perlahan-lahan berubah menjadi bom waktu ketika cinta mengetuk hati Mayor Damar."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28
Bab 28 - Raka Wicaksana
Alya mengirim berkas seleksi malam itu.
Setelah menekan tombol kirim, dia menatap layar laptop cukup lama. Tidak ada ledakan. Tidak ada langit runtuh. Hanya email terkirim dan jantungnya yang berdetak terlalu cepat.
Damar duduk di seberang meja pos kesehatan, membaca laporan patroli.
"Sudah?" tanyanya.
"Sudah."
"Bagaimana rasanya?"
Alya memikirkan jawabannya.
"Seperti lompat dari tebing dan berharap di bawah ada air."
Damar mengangkat wajah.
"Analogi yang buruk untuk diberitahukan kepadaku."
"Anda bertanya."
"Aku menyesal."
Alya hampir tertawa.
Ponselnya berbunyi sebelum tawa itu keluar. Nomor tidak dikenal, kode Jakarta.
Dia mengangkat.
"Halo?"
"Alya?"
Suara itu membuat waktu mundur.
Hangat. Tenang. Akrab dengan cara yang sudah lama tidak dia dengar.
Alya berdiri pelan.
"Raka?"
Damar mengangkat kepala.
Di seberang telepon, pria itu tertawa kecil.
"Syukurlah nomormu masih sama. Aku kira harus cari lewat rumah sakit lagi."
Raka Wicaksana.
Tetangga lama keluarga Prameswari. Anak laki-laki yang dulu mengajarinya naik sepeda, membawakan buku kedokteran bekas, dan menjadi orang pertama yang berkata Alya cocok jadi dokter karena tidak tahan melihat orang kesakitan.
Mereka kehilangan kontak beberapa tahun setelah Raka pindah ke luar kota untuk kuliah dan bekerja dengan organisasi kemanusiaan.
"Kamu dari mana dapat nomor ini?"
"Dari Bu Ratna. Aku mampir ke rumahmu di Jakarta. Katanya kamu di NTT."
"Ada apa?"
"Aku dengar kamu mendaftar Tim Medis Kemanusiaan Nusantara-Global."
Alya terdiam.
"Kamu terlibat?"
"Aku salah satu koordinator lapangan untuk seleksi. Jangan khawatir, aku tidak pegang penilaianmu langsung. Konflik kepentingan."
Alya memijat pelipis.
"Dunia sempit sekali."
"Dunia memang sempit kalau orang keras kepala selalu berakhir di tempat sulit."
Dia tertawa. "Kamu masih cerewet."
"Kamu masih tidak bisa dipuji?"
"Raka."
"Baik, baik. Aku telepon bukan untuk menggoda. Aku ingin memastikan kamu paham risiko program ini. Banyak orang mendaftar karena terdengar heroik. Setelah tiba di lapangan, mereka baru sadar tidak ada panggung, hanya luka, tangis, dan keputusan buruk."
Alya menatap Damar.
Damar menatap balik. Wajahnya datar, tapi matanya waspada.
"Saya tahu," kata Alya.
"Aku yakin kamu tahu lebih baik dari kebanyakan orang. Tapi aku tetap harus bilang. Kalau kamu lolos, hidupmu berubah. Bukan hanya enam bulan itu. Setelah pulang pun, tidak semua orang kembali sama."
"Kamu terdengar seperti ingin mencegah saya."
"Tidak. Aku justru berpikir kamu salah satu orang yang seharusnya ikut. Tapi aku ingin kamu memilih dengan mata terbuka."
Kalimat itu mirip dengan Damar.
Alya duduk kembali.
"Terima kasih."
"Aku akan ke NTT minggu depan untuk audit posko dan wawancara awal beberapa kandidat. Kita bisa bertemu?"
Alya ragu.
Damar masih menatapnya.
"Bisa. Beri tahu jadwalmu."
"Baik. Jaga diri, Alya."
"Kamu juga."
Telepon ditutup.
Ruangan hening.
Damar meletakkan laporan.
"Raka?"
"Teman lama."
"Seberapa lama?"
Alya menatapnya.
"Pertanyaan itu administratif atau pribadi?"
"Pribadi."
Jawaban itu terlalu jujur.
Alya merapikan ponsel.
"Dia tetangga lama. Seperti kakak."
"Seperti kakak."
"Jangan ulangi dengan nada begitu."
"Nada apa?"
"Nada komandan yang sedang mencatat tersangka."
Damar bersandar.
"Dia koordinator seleksi?"
"Salah satu."
"Dan dia akan datang ke sini?"
"Minggu depan."
"Baik."
Alya menunggu.
Tidak ada larangan.
Tidak ada komentar.
Tapi wajah Damar terlalu tenang.
"Anda cemburu?"
Damar menatapnya.
"Tidak."
"Jawaban Anda terlalu cepat."
"Aku sedang menilai."
"Menilai apa?"
"Apakah aku cemburu."
Alya tidak bisa menahan tawa.
Damar tampak kesal pada dirinya sendiri.
"Hasilnya?"
"Mungkin."
Alya menunduk, masih tersenyum.
"Raka sudah seperti keluarga."
"Banyak masalah dimulai dari kalimat itu."
"Damar."
"Aku tidak melarang kamu bertemu."
"Bagus."
"Tapi aku ingin bertemu dia."
"Sebagai apa?"
"Suamimu."
Kata itu keluar begitu saja.
Alya menatapnya.
Damar tidak menarik kembali.
"Dia teman lama," kata Alya pelan.
"Maka dia perlu tahu posisi sekarang."
"Posisi?"
"Aku sedang belajar, bukan mati."
Alya tertawa lagi. Kali ini lebih lepas.
Damar melihatnya dengan wajah yang melembut tanpa sadar.
Minggu berikutnya, Raka datang bersama tim kecil. Dia turun dari kendaraan BPBD dengan kemeja lapangan, ransel, dan senyum yang langsung membuat beberapa ibu Persit berbisik.
Tinggi, berkacamata, wajahnya bersih, pembawaannya tenang.
"Alya."
Raka membuka tangan sedikit, ragu apakah boleh memeluk.
Alya tersenyum, lalu memeluknya singkat.
Damar melihat dari jarak tujuh meter.
Rendra di sebelahnya berbisik, "Dan, wajah Anda..."
"Kenapa?"
"Tidak apa-apa. Sangat operasi."
Damar menatapnya.
Rendra mundur.
Raka melepas pelukan dan melihat lengan Alya.
"Kamu kurus."
"Kalimat pertama setelah bertahun-tahun?"
"Itu hasil observasi."
"Kamu makin menyebalkan."
"Dan kamu masih tidak suka diobservasi."
Damar berjalan mendekat.
Alya menoleh.
"Damar, ini Raka Wicaksana. Raka, ini Mayor Damar Arkan Wiratama."
Raka menatap Damar, lalu tersenyum sopan.
"Suami Alya."
Damar mengulurkan tangan.
"Damar."
Raka menjabat tangannya.
"Raka. Saya banyak dengar tentang Anda."
"Dari siapa?"
"Berita. Laporan lapangan. Dan sedikit dari keluarga Prameswari."
"Dari Alya?"
Raka melirik Alya.
"Dulu, belum ada banyak yang bisa dia ceritakan."
Kalimat itu halus, tapi mengenai sasaran.
Damar menatap Raka.
Alya langsung masuk.
"Kita mulai audit posko?"
Raka tersenyum. "Tentu."
Sepanjang hari, Raka bekerja profesional. Dia memeriksa catatan pasien, alur triase, distribusi obat, sanitasi, dan protokol penyakit pascabanjir. Dia memberi masukan tanpa menggurui. Alya menanggapinya cepat.
Mereka punya bahasa yang sama.
Bahasa medis, pengalaman lapangan, dan masa lalu yang tidak perlu dijelaskan terlalu banyak.
Damar melihat itu.
Dia tidak suka.
Bukan karena Raka melakukan sesuatu yang salah.
Justru karena pria itu tidak salah.
Menjelang sore, Raka dan Alya berdiri di dekat tenda medis, membahas daftar obat.
"Kamu cocok untuk program itu," kata Raka.
Alya menatapnya.
"Jangan bilang begitu karena kita teman."
"Aku bilang karena aku membaca laporanmu dan melihat posko ini. Kamu bekerja dengan kepala dingin, tapi tidak kehilangan hati. Itu jarang."
Alya diam.
Raka menurunkan suara.
"Kamu bahagia?"
Pertanyaan itu terlalu tiba-tiba.
"Apa?"
"Dengan hidupmu sekarang. Dengan dia."
Alya melihat Damar yang sedang berbicara dengan Rendra di dekat kendaraan.
"Sedang belajar."
Raka mengikuti arah pandangnya.
"Dia pernah melukaimu?"
Alya tidak menjawab.
Raka menghela napas.
"Alya, kamu selalu kuat untuk orang lain. Tapi jangan jadikan kuat sebagai alasan menerima luka yang seharusnya tidak kamu terima."
Damar melihat ekspresi Alya berubah dari jauh.
Dia tidak mendengar isi pembicaraan.
Tapi dia melihat Raka berdiri terlalu dekat, suara terlalu lembut, dan Alya tidak segera menjauh.
Rasa tidak enak naik di dadanya.
Malam itu, setelah tim Raka menginap di mess tamu, Damar datang ke pos kesehatan.
Alya sedang menyusun laporan audit.
"Kamu dan Raka dekat."
Pena Alya berhenti.
"Dia teman lama."
"Aku tahu."
"Kalau tahu, kenapa nada Anda begitu?"
"Karena dia terlihat seperti orang yang tahu bagian hidupmu yang tidak kuketahui."
Alya menatapnya.
Kali ini tidak ada amarah di suara Damar.
Hanya sesuatu yang lebih jujur.
"Memang ada banyak bagian hidup saya yang tidak Anda ketahui."
Damar mengangguk pelan.
"Aku ingin tahu."
Kalimat itu membuat Alya diam.
Dulu Damar hanya menilai.
Sekarang dia bertanya.
Pintu yang dibuka hari itu terasa sedikit lebih lebar.
"Kalau begitu," kata Alya, "jangan mulai dengan cemburu."
"Aku sedang mencoba."
"Hasilnya?"
"Buruk."
Alya tertawa pelan.
Damar menatapnya.
Di luar, Raka berdiri di balik bayangan mess tamu, melihat lampu pos kesehatan yang masih menyala.
Senyumnya hilang.
Dia mengambil ponsel dan membaca pesan yang baru masuk.
Jangan terlalu lama. Ingat tujuanmu.
Raka menutup layar.
Wajah hangatnya berubah dingin hanya dalam satu kedipan.
Di layar yang padam, bayangan wajahnya terpantul tipis. Tidak ada lagi kakak tetangga yang dulu mengajari Alya memperbaiki rantai sepeda. Tidak ada lagi dokter senior yang bicara sabar tentang kesempatan.
Yang tersisa hanya orang yang sedang menghitung waktu.
Ia memasukkan ponsel ke saku, lalu melihat ke arah rumah dinas Damar. Lampu teras masih menyala. Dua bayangan bergerak di balik tirai, tidak berdekatan, tapi cukup dekat untuk membuat rahangnya mengeras.
"Maaf, Alya," gumamnya.
Namun matanya tidak menunjukkan penyesalan.