Yang tak suka, silahkan minggir!
Perceraian tak lantas menyudahi hubungan diantara Bagaspati Samudera dan Adinda Ayuningtyas. Sebab masih ada penghubung diantara mereka, sayangnya penghubung mereka hilang entah kemana.
"Dua tahun belakangan ini, Eyang sakit, Dind. Beliau mau ke Jakarta, dan ingin menginap di rumah kita," kata Bagas.
"Lalu, apa masalahmu? Bukankah Eyang sudah tahu kita berpisah?" sahut Adinda sengit.
"Itulah masalahnya, Ingatan Eyang mulai kacau sejak dokter memvonis beliau menderita demensia. Please, Dind, anggap saja ini permintaan terakhir Eyang pada kita."
Apakah permintaan Eyang Tuti pada Bagas dan Adinda?
Apakah Adinda sanggup menurutinya, sedangkan mereka bukan pasangan halal seperti dulu?
Berhasilkah mereka merajut kembali benang pernikahan yang dulu tercerai berai? Lantas bagaimana nasib putri kecil mereka yang hilang beberapa tahun silam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#19
#19
Flashback
“Selamat malam, Dok.”
“Selamat malam juga semua. Aku duluan, ya.”
Dokter Candra keluar dari rumah sakit kecil di daerah sekitar rumahnya, hari ini pasien penyakit musiman sedikit lebih banyak dari hari biasanya. Jadilah hampir jam sepuluh malam, ia baru selesai memeriksa pasien terakhirnya.
Udara malam cukup segar, tidak terlalu dingin, sebab ini masih di pertengahan musim panas, tapi efeknya nyamuk bertebaran seperti baru dilepaskan dari sangkarnya.
Suara gelak tawa para warga terdengar akrab, mereka asik bercengkrama di depan rumah bersama para tetangga, tak lupa kopi serta beberapa piring hidangan sebagai teman ngobrol. Alunan gending jawa menjadi pelengkap agar suasana tidak terlalu sepi.
Candra terus melangkah, membungkukkan kepala sejenak ketika melewati keramaian warga.
Beberapa saat berjalan cukup jauh, Candra kini berada di area yang cukup sepi, gelap, dekat dengan tempat tumpukan kardus dan kertas bekas dikumpulkan, terdengar suara aneh yang membuat Candra waspada sejenak.
Kresek!
Kresek!
Gesekan kantong plastik dan kardus terdengar samar-samar, Candra sedikit merinding takut, wanita itu mempercepat langkahnya sebab beberapa langkah lagi ada lampu penerangan.
Tapi—
Owek!
Kali ini suara tangis, lemah seperti sudah kehabisan tenaga, “Abaikan, Candra, itu pasti hanya halusinasimu saja.” Candra mempercepat langkahnya, tapi suara itu kembali mengusiknya, seolah meminta pertolongan.
Oweek!
Langkah kaki Candra terhenti, nuraninya mulai bergejolak, jika benar itu suara bayi yang terabaikan, mung esok hari bayi itu sudah tak bernyawa, karena hipotermia atau kelaparan. Dia pun membuang rasa takutnya jauh-jauh, setidaknya harus dipastikan, apakah benar itu suara tangis bayi atau hanya suara kucing liar.
Dengan mengeluarkan senter ponsel yang ia ambil dari dalam tas, Candra mulai mengamati sekitar, benar, ada kardus misterius dengan ukuran yang kira-kira cukup untuk meletakkan bayi di dalamnya.
Wanita itu berjalan mendekat, suara tangis dan rengekan bayi tak lagi samar terdengar, kali ini justru semakin jelas, bahkan kardus itu bergerak-gerak, sepertinya efek dari pergerakan bayi yang ada didalamnya.
Nafas Candra berhenti sejenak ketika ia akhirnya mengetahui isi kardus tersebut.
Bagaimana bisa? Kenapa ada yang begitu tega membuang bayi secantik ini? Ibu jahat mana yang melakukannya?!
Batin Candra berteriak keras, meski ia belum pernah melahirkan anak, tapi naluri sebagai wanita yang suatu saat akan menjadi ibu merasa tak tega hingga tanpa ada paksaan atau desakan dari pihak manapun, wanita itu mendekap bayi mungil tersebut.
“Aku akan menolongmu, Nak. Percayalah padaku.”
Candra berlari ke tepi jalan, mencegat taksi yang kebetulan lewat agar ia bisa tiba lebih cepat ke rumah sakit. Bayi kecil itu, wajahnya semakin pucat, suaranya semakin lemah, tapi syukurlah, detak jantungnya masih berdenyut.
“Tolong!” jerit Candra, ia berteriak meminta bantuan para tenaga medis yang ada di IGD.
“Lho, dok?” Para perawat bertanya.
“T-to-tolong— tolong bayi ini,” katanya lirih, suara dan tubuhnya gemetar ketakutan.
“Bayi siapa ini, Dok?”
Candra menggeleng lemah, “Entahlah, tapi aku menemukannya di dekat tumpukan kardus dan kertas ketika aku dalam perjalanan pulang.
Tim medis bergerak cepat memberikan pertolongan pada bayi mungil itu, Candra hanya bisa diam ditempat, terlalu gugup dan gemetar, hingga tak tahu harus berbuat apa.
Beberapa saat berlalu, kondisi bayi itu pun mulai membaik secara perlahan. Menurut dokter IGD bayi itu dehidrasi parah, selain itu tak ada penyakit lain yang menyertainya. Asal cukup asupan cairannya, selanjutnya ia bisa tumbuh dengan sehat seperti bayi pada umumnya.
•••
Beberapa hari kemudian, “Iya, Sayang. Sebentar, Mami buatkan susu,” kata Candra, ia masih kikuk perkara membuat susu untuk bayi, apalagi saat ia harus memandikan bayi, mengganti popok dan pakaian. Ternyata semuanya butuh skill yang tak main-main, begitulah seorang ibu.
Candra mengasuh bayi itu, ia melapor ke polisi, tapi bayi itu tetap ada dalam pengasuhan dan perawatannya sambil menunggu orang tua kandung bayi itu datang menjemput.
Tapi sebulan berlalu, tak pernah ada kabar dari pihak polisi, apalagi kabar dari orang tua si bayi. Beberapa kali Candra menelepon ke kantor polisi, tapi tak pernah ada kabar. Memang aneh, sebab Yogyakarta adalah kota kecil, jika ada laporan kehilangan bayi, pasti segera tersiar cepat.
“Apa yang harus Mami lakukan untukmu, Cantik? Mami tak bisa merawatmu seorang diri, Mami harus kerja,” gumam Candra ketika menimang bayi kecil yang sedang lahap menghisap susu dari dotnya.
“Apa aku titipkan ke rumah ayah saja, ya?”
aku lupa nama Kaka nya bagas