NovelToon NovelToon
Konslet

Konslet

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir / Penyelamat
Popularitas:236
Nilai: 5
Nama Author: Heriawan

Namaku Jefri Andalas Sinaga. Orang rumah memanggilku Jepot, pelanggan yang marah memanggilku bodat, dan satu kota kecil di internet memanggilku Bang Jepot sambil tertawa. Semua bermula ketika aku berkata “aman, bah” di pesta pernikahan, lalu satu gedung gelap sebelum kalimatku selesai.
Setelah kehilangan pekerjaan, aku pulang ke bengkel Bapak yang nyaris tutup. Bersama Liza Cemberut, Deli Patah, Bibir Ember, Tia Cekrek, dan orang-orang yang lebih bising daripada mesin gerinda, aku membuka jasa Konslet Medan. Setiap kerusakan ternyata tersambung ke gengsi, utang, pertengkaran keluarga, konten viral, atau rahasia yang tak seharusnya kusentuh.
Ketika serangkaian korsleting mengarah pada sambungan ilegal yang dapat membakar satu kawasan, lelucon tidak lagi cukup untuk melindungi siapa pun. Aku harus memilih diam demi usaha atau membuka sistem yang juga menyeret dosa lama keluargaku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heriawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERANG MULUT DI WARUNG KOPI

Rinso tidak perlu datang ke bengkel untuk mempermalukanku. Ia memilih tempat yang lebih efisien: warung Mak Sendok, jam delapan pagi, ketika orang satu gang sedang mencari kopi dan bahan pembicaraan.

Begitu aku masuk, semua kepala menoleh. Rinso duduk di meja tengah dengan seragam biru tua yang masih terlalu baru. Di tangannya ada ponsel. Di depannya, Fadli sudah membungkuk sambil menahan tawa sampai bahunya bergoyang.

“Selamat datang,” kata Rinso. “Pemilik akun Teknisi Jujur Medan sudah hadir.”

Aku menarik kursi plastik. Kakinya bergesek keras di lantai. “Kau tak punya kerjaan?”

“Ada. Tapi ulasan pelanggan harus ditanggapi.” Ia membersihkan tenggorokan seperti pembawa acara. “Datang terlambat, harga tidak jelas, teknisi banyak gaya. Papan nama lebih rapi daripada kerjaannya.”

Beberapa orang tertawa. Mak Sendok berhenti menuang kopi hanya untuk menikmati reaksiku.

Rinso memutar layar ponselnya ke arah warga. Foto profilku terpampang jelas: helm kuning, wajah sok yakin, papan Konslet Medan di belakang.

“Aku suka bagian teknisi banyak gaya,” kata Fadli. “Jujur kali.”

“Kau membela siapa?” tanyaku.

“Aku membela sastra.”

Aku merebut ponsel Rinso, tetapi ia menarik tangannya lebih cepat. “Jangan kasar. Ini barang bersertifikat.”

“Ulasan itu sudah kuhapus.”

“Sesudah kutangkap.”

“Itu cuma satu bintang.”

“Bintang satu dari akun palsu.”

Aku mencondongkan badan. “Kau duluan mencuri pelanggan.”

Rinso menghela napas. “Pelanggan bukan ayam, Jef. Tak bisa dicuri pakai karung. Mereka memilih.”

“Mereka memilih karena kau menjelekkan kami.”

“Buktinya?”

Aku menunjuk wajahnya. “Itu buktinya.”

“Wajahku?”

“Wajah orang licik.”

Fadli mengangkat tangan. “Keberatan, Yang Mulia. Wajah tak bisa dijadikan barang bukti. Kalau bisa, Binsar sudah dipenjara dari lahir.”

Binsar yang baru datang membawa kotak perkakas berhenti di pintu. “Kenapa aku dibawa-bawa?”

“Supaya sidangnya lengkap,” kata Fadli.

Aku berdiri. Rinso juga berdiri. Kursi kami hampir jatuh bersamaan. Orang-orang di warung langsung diam dengan cara yang terlalu bersemangat.

“Ulangi lagi soal pelanggan,” kataku.

“Pelanggan bukan ayam.”

“Bukan itu.”

“Teknisi viral?”

Aku mencengkeram ujung meja. “Kau sengaja pasang slogan itu.”

“Papan namaku kubayar sendiri. Mau kutulis puisi pun hakku.”

Mak Sendok mengetuk gelas dengan sendok. “Kalau kelen mau berkelahi, pindah ke jalan. Jangan rusakkan kursiku. Kursi ini lebih lama hidup daripada usaha kelen.”

Pintu warung terbuka. Liza masuk dengan map cokelat di dada dan wajah yang membuatku ingin kembali duduk sebelum disuruh.

Ia menatap Rinso, lalu aku, lalu ponsel yang masih menampilkan tangkapan layar.

“Hapus ulasannya,” katanya.

“Sudah.”

“Dari akun dan riwayat aktivitas.”

Aku terdiam.

Liza mengulurkan tangan. “Ponsel.”

“Ini urusan pribadi.”

“Ulasanmu menyeret nama usaha. Tidak pribadi lagi.”

Aku menyerahkan ponsel. Ia membuka aplikasi, masuk ke akun palsu, menghapus ulasan, lalu menunjukkan layar kepadaku.

“Sekarang minta maaf.”

Beberapa orang di warung menegakkan punggung. Bahkan suara sendok mengaduk kopi berhenti.

“Apa?”

“Minta maaf kepada Rinso. Di depan orang yang membaca ulasan palsumu.”

“Aku tidak akan dipermalukan seperti anak sekolah.”

Liza mengembalikan ponsel. “Kau yang mempermalukan diri sendiri. Aku cuma minta kau membereskannya.”

Rinso menyilangkan tangan. “Tak usah kalau berat. Nanti sakit pinggangnya.”

Aku menatapnya. “Jangan senang dulu.”

“Jefri.” Suara Pak Tor datang dari meja paling ujung.

Aku baru menyadari Bapak duduk di sana sejak tadi. Secangkir kopi hitam di depannya belum disentuh. Tangannya berada di bawah meja, tersembunyi dari pandangan.

“Apa pulak, Pak?”

Pak Tor menatapku tanpa meninggikan suara. “Kalau salahmu umum, minta maafmu pun jangan sembunyi.”

Kalimat itu membuat warung lebih sunyi daripada ancaman. Aku bisa melawan Liza. Aku bisa memaki Rinso. Tapi suara Bapak membawa sesuatu yang lebih berat: rasa malu yang tidak memberi jalan keluar.

Aku menghadap Rinso. “Baiklah.”

“Baiklah apa?”

“Jangan cari kesempatan.”

Rinso menunggu.

Aku menarik napas. “Aku membuat akun palsu. Aku memberi ulasan buruk tanpa pernah memakai jasamu. Itu salah.”

Mak Sendok berbisik kepada Fadli, cukup keras untuk didengar semua orang, “Ternyata mulutnya bisa juga dipakai benar.”

Aku melanjutkan sebelum kehilangan keberanian. “Aku hapus ulasannya. Maaf.”

Rinso memandangku lama. Senyum mengejeknya hilang sedikit. “Maaf karena ketahuan atau karena bohong?”

“Jangan tambah soal ujian.”

“Pertanyaannya sederhana.”

Aku ingin membalas. Liza tidak mengatakan apa-apa, tetapi tatapannya menahan kata-kata di tenggorokanku.

“Karena bohong,” kataku akhirnya.

Rinso mengangguk sekali. “Diterima.”

Aku tidak merasa menang. Aneh sekali. Selama ini aku mengira orang meminta maaf supaya masalah selesai. Ternyata masalah bisa selesai sementara rasa malu tetap duduk di dada seperti pelanggan yang belum bayar.

Fadli menyodorkan kopi. “Minumlah. Rasa harga dirimu turun.”

Aku menepis gelas itu. “Kau tertawa paling kuat tadi.”

“Aku tertawa karena fotomu jelas kali. Penjahat pun harus belajar privasi.”

Binsar ikut duduk. “Kalau perlu akun palsu, aku bisa buat. Fotoku tidak akan kupasang.”

Semua menatapnya.

“Aku cuma menjelaskan kemampuan,” katanya cepat.

Mak Sendok meletakkan buku utang warung di depan kami. “Karena sudah sidang umum, sekalian perkara kopi. Rinso tiga gelas belum bayar. Jepot dua.”

Rinso mengambil uang dari dompet.

Aku menatap Mak Sendok. “Kenapa utang kopi masuk sekarang?”

“Supaya ada perkara yang betul-betul bisa lunas hari ini.”

Fadli mengangguk serius. “Sistem peradilan warung lebih cepat.”

Aku membayar dua gelas, termasuk kopi yang belum sempat kuminum. Mak Sendok memberi kembalian sambil berkata, “Lihat? Minta maaf tak mengurangi uang. Utang yang mengurangi.”

Liza membuka map di meja. “Mulai hari ini tidak ada perang ulasan. Tia minta ulasan jujur dari pelanggan lama. Semua foto pelanggan harus punya izin. Harga ditulis sebelum kerja. Keluhan dijawab dengan data, bukan emosi.”

“Usaha kita jadi kantor pajak,” kataku.

“Bagus. Setidaknya kantor pajak punya catatan.”

Rinso mengambil ponselnya dan hendak pergi. Ketika melewatiku, ia berhenti.

“Ada satu hal lagi.”

“Apa?”

“Jangan kira permintaan maaf menghapus urusan keluarga.”

Aku menoleh. Liza menutup map. Pak Tor mengangkat wajah.

Rinso tidak lagi bicara seperti saingan bengkel. Suaranya lebih rendah. “Utang Pak Tor kepada keluargaku masih ada. Aku sudah memberi waktu cukup.”

Pak Tor berdiri perlahan. “Kita pernah bicara.”

“Kita bicara terus. Bayarnya belum.”

Aku melangkah di antara mereka. “Berapa pun, kami bayar.”

Rinso menatapku. “Bukan berapa pun. Angkanya jelas. Tanggalnya juga harus jelas.”

“Beri waktu.”

“Dari dulu yang diberikan waktu.” Ia memasukkan ponsel ke saku. “Sebelum akhir tahun, utang itu harus lunas.”

Ia pergi meninggalkan warung. Tidak ada yang menertawakan langkahnya. Kopi di depanku masih panas, tetapi udara terasa mendadak dingin.

Pak Tor kembali duduk tanpa melihat siapa pun. Tangannya keluar dari bawah meja. Jari-jarinya bergetar kecil ketika meraih gelas.

Permintaan maafku baru saja membereskan satu kebohongan, lalu Rinso membuka utang lama yang jauh lebih sulit dihapus.

1
Kustri
ini cerita ttg apa thor✌
Kustri
mau ketawa takut karma🫣
Kustri
penasaran ama bang J✌(lbh keren)
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!