NovelToon NovelToon
Malam Itu, Aku Tidur dengan Dosenku

Malam Itu, Aku Tidur dengan Dosenku

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Dosen / CEO
Popularitas:176
Nilai: 5
Nama Author: Vyrkon

Mabuk semalam di Singapura, Kirana menghabiskan malam terpanasnya dengan pria asing paling memukau yang pernah ia temui—lalu kabur subuh, meninggalkan selembar uang di nakas seolah pria itu cuma "bayaran satu malam".

Ia bersumpah takkan pernah bertemu lelaki itu lagi.

Sampai pagi harinya, pria itu berdiri di depan kelas sebagai **dosen pengganti** mata kuliah keuangannya. Prof. Arya Danuwangsa. Delapan tahun lebih tua, dingin, menyeringai seolah tahu persis apa yang mereka lakukan semalam.

*"Sepertinya malam itu kamu cukup puas, ya?"*

Astaga. Kirana baru saja tidur dengan dosennya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyrkon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 25

Bab 35: Rumah Hantu

Kirana mengatakan ia tidak takut hantu tepat sebelum sebuah kepala palsu jatuh dari langit-langit.

Jeritannya terdengar sampai pintu masuk.

Winda tertawa sambil memegang bahunya. “Katanya nggak takut.”

“Aku kaget, bukan takut.”

Rumah hantu itu dibangun mahasiswa di aula lama UN. Koridornya dilapisi kain hitam, lampu merah berkedip, dan suara gamelan diputar terbalik dari pengeras suara. Kirana sudah ingin pulang sejak melihat peti tiruan di lobi, tetapi harga dirinya menolak.

Acara malam itu merupakan penggalangan dana mahasiswa. Setiap tiket membantu perbaikan ruang seni, sehingga antreannya panjang dan panitia bekerja dalam tiga giliran. Fajar bertugas mengelola stan minuman di halaman, sementara Winda menjadi sukarelawan terakhir karena tidak tahan melihat jadwal yang berantakan.

“Aturannya jelas,” kata panitia sebelum mereka masuk. “Dilarang memukul pemeran, dilarang berlari di tangga, dan angkat kedua tangan kalau ingin keluar lewat jalur darurat.”

Kirana mengangguk sangat serius.

Winda menyenggolnya. “Baru masuk sudah cari jalur darurat?”

“Aku menghormati prosedur.”

Arya menerima peta keselamatan, memeriksa pintu keluar, lalu memastikan jumlah alat pemadam sesuai laporan. Ia benar-benar datang sebagai pendamping acara, meski pilihan kelompok yang sama dengan Kirana sama sekali bukan kebetulan.

Sebelum masuk, seorang junior meminta foto bersama Kirana karena pertunjukan Hujan Terakhir. Arya mengambil foto mereka. Junior itu kemudian meminta Arya ikut masuk bingkai.

“Buat reuni Nara dan Aluna, Prof.”

Kirana dan Arya berdiri dengan jarak sopan. Namun saat hasil foto diperiksa, tatapan Arya tetap mengarah pada Kirana, bukan kamera.

“Wah, chemistry-nya belum selesai,” kata junior itu.

Kirana menarik Winda menuju pintu sebelum wajahnya membocorkan apa pun.

Arya ikut sebagai dosen pendamping. Ia memakai kaus hitam dan tanda panitia, terlihat lebih menyeramkan daripada sebagian pemeran hantu.

“Prof jalan di depan,” kata Kirana.

“Kenapa?”

“Supaya memastikan jalurnya aman.”

“Bukan karena kamu takut?”

“Tentu bukan.”

Kelompok mereka terdiri atas enam orang. Winda sengaja mengambil posisi belakang, membuat Kirana terjebak tepat di samping Arya. Hubungan mereka sudah diketahui Winda, tetapi mahasiswa lain masih mengira kedekatan itu bagian dari peran panggung.

Pintu pertama tertutup. Kegelapan menelan mereka.

Kirana langsung meraih lengan Arya.

“Saya kira tidak takut.”

“Diam.”

Di ruang operasi tiruan, seorang mahasiswa berkostum pocong muncul dari bawah meja. Kirana menabrak dada Arya. Pria itu menahan pinggangnya dan bergerak di depan, menjadi penghalang antara Kirana dan pemeran.

“Jangan sentuh pengunjung,” katanya kepada panitia dengan nada dosen.

Pocong itu mengangguk patuh.

“Mas merusak suasana,” bisik Kirana.

“Saya menjaga aturan.”

Lorong kedua menggunakan lantai bergerak. Arya menguji papan dengan kaki sebelum membiarkan Kirana lewat. Ketika tangan palsu menyembul dari dinding, ia menangkapnya lebih dulu dan mengembalikan ke lubang.

Pemeran di balik dinding mengeluh, “Prof, jangan dibongkar.”

Winda tertawa sampai terbatuk.

Namun bagian terakhir berhasil membuat semua orang panik. Lampu padam total. Sirene berbunyi, lalu beberapa pemeran mengejar dari belakang dengan gergaji mesin tanpa rantai. Kelompok mereka berlari ke lorong sempit.

Sebelum pengejaran, mereka harus melewati ruang kelas terbengkalai. Boneka-boneka duduk menghadap papan tulis, masing-masing memakai seragam lama. Salah satu boneka tiba-tiba memutar kepala dan menyebut nama Kirana.

“Kirana...”

Ia berhenti begitu cepat hingga Arya menabraknya dari belakang. “Kenapa dia tahu namaku?”

“Karena kamu terkenal.”

Boneka kedua bergerak. Seorang mahasiswa keluar dari bawah meja sambil membawa poster ciuman yang diberi darah palsu. “Aluna, Nara menunggumu!”

Kirana melempar bantalan properti ke arahnya.

“Dilarang memukul pemeran,” ingat Arya.

“Itu bantalan.”

“Tetap pelanggaran.”

“Mas membela hantu?”

Arya mengambil kembali bantalan dan meminta maaf kepada pemeran. Dari belakang, Winda sudah menangis karena tertawa. Kirana berjanji akan membalas ketika mereka keluar, tetapi saat pintu berikutnya terbuka dan udara dingin buatan menyembur, ia kembali menggenggam lengan Arya dengan kedua tangan.

Kirana kehilangan Winda dalam gelap. Sebuah tangan dingin menyentuh bahunya. Ia menjerit, berbalik, dan tersandung ujung kain.

Arya menangkapnya sebelum jatuh.

“Saya di sini.”

“Gendong aku.”

Permintaan itu keluar tanpa pikir panjang. Arya tidak menertawakan. Ia mengangkat Kirana ke dalam pelukannya dan membawa melewati lorong, sementara Kirana menyembunyikan wajah di lehernya.

“Turunkan kalau sudah terang,” katanya.

“Katanya tidak takut.”

“Aku bisa putus sekarang.”

“Ancaman yang tidak meyakinkan saat kamu memeluk saya.”

Mereka sampai di jalan keluar samping, tetapi pintu utama tertahan kelompok lain. Arya menurunkan Kirana di ceruk gelap antara dua tirai. Lutut perempuan itu masih gemetar.

“Lihat saya,” katanya.

Arya mengusap tengkuknya dengan ujung jari, lalu menarik napas pelan agar Kirana mengikuti. Suara gergaji menjauh. Dunia menyempit menjadi telapak tangan di pinggang dan napas hangat di telinganya.

“Lebih baik?”

Kirana mengangguk. “Jangan bilang siapa pun.”

“Bahwa kamu minta digendong?”

“Terutama itu.”

“Bayarannya?”

“Mas memeras mahasiswa?”

“Saya menagih pacar.”

Kirana menoleh. Dalam gelap, wajah mereka sangat dekat. Arya menyentuh pipinya dan menunggu. Kirana mencium pria itu singkat, cukup untuk membuat senyumnya muncul.

“Satu ciuman untuk satu lorong,” kata Arya.

“Mahal.”

“Ada tiga lorong.”

Kirana hendak menyahut ketika cahaya putih menyapu mereka.

“Siapa di sana?” seru seorang mahasiswa sambil mengangkat senter.

Kirana refleks mendorong Arya. Cahaya menangkap siluet mereka: tangannya di dada pria itu, lengan Arya masih mengitari pinggang, wajah keduanya terlalu dekat untuk disebut kebetulan.

Mahasiswa itu berhenti. “Prof Arya?”

Arya bergeser menutupi Kirana. “Ada pengunjung yang panik. Saya membantu.”

“Oh.” Nada mahasiswa itu menunjukkan ia tidak sepenuhnya percaya. “Keluar lewat kiri, Prof.”

Di luar, Winda sudah menunggu dengan senyum jahat. “Aku melihat senter tadi.”

“Tidak terjadi apa-apa,” kata Kirana.

“Tentu.”

Fajar yang menjaga stan minuman memberi mereka air dan tidak bertanya. Ia melihat tangan Arya masih di punggung Kirana, lalu memilih melayani pengunjung lain.

Arya mengantar Kirana ke mobil sebelum kembali menandatangani laporan kegiatan. Begitu pintu tertutup, Kirana menepuk lengannya.

“Hampir ketahuan.”

“Wajah saya tidak terlihat jelas.”

“Mahasiswa itu menyebut nama Mas.”

“Dia mendengar suara saya.”

“Tetap saja.”

Arya mengunci pintu mobil, menarik Kirana mendekat, dan menahan tangannya di atas konsol.

“Kalau rahasia kita terbuka, saya siap bertanggung jawab.”

“Aku belum siap jadi bahan forum lagi.”

“Maka malam ini tetap rahasia kita.”

Ia menunduk ke telinga Kirana. “Termasuk tiga lorong dan utang dua ciuman.”

Kirana baru hendak memprotes ketika senter lain melintas di kaca depan mobil mereka. Ia buru-buru menjauh, tetapi bayangan dua tubuh yang terlalu dekat sudah sempat jatuh jelas ke kamera ponsel seseorang di ujung lorong gelap malam itu tanpa mereka sadari sama sekali pada akhirnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!