NovelToon NovelToon
Setelah Benda-Benda Bicara, Seluruh Keluarga Berlutut Memohon Ampun

Setelah Benda-Benda Bicara, Seluruh Keluarga Berlutut Memohon Ampun

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Misteri / Balas Dendam
Popularitas:25.9k
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Sari

Dibuang di tengah hujan oleh keluarganya sendiri, Keira Santoso nyaris mati — sampai sebuah lampu jalan BICARA padanya.

Sejak malam itu, dia bisa mendengar suara semua benda. Jantung yang mau mogok kerja. Kalung yang membisikkan rahasia. Berlian yang memanggilnya Tuan Putri.

Dan sentuhan seorang CEO tampan yang semua orang tak bisa menyentuhnya... adalah satu-satunya obat untuk keduanya.

Enam kakak yang dulu mengabaikannya? Sekarang rebutan memanjakannya.
Keluarga yang membuangnya? Berlutut memohon ampun.

Tapi Keira sudah menemukan rumahnya yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15

Bab 15

Grand Orchid Hotel & Club berdiri di tengah malam seperti kotak kaca yang tidak pernah tidur.

Mobil Ko Kevin berhenti di jalur khusus tamu privat, tidak di depan lobi utama. Dari balik kaca, Keira melihat pintu putar berlapis emas, valet berseragam hitam, dan deretan mobil yang harganya cukup untuk membeli beberapa rumah kontrakan kecil di pinggir kota.

Di telinganya, dunia masih ramai.

"Ban gue capek, bos," keluh salah satu sedan hitam yang baru berhenti. "Muter dari PIK ke SCBD cuma buat orang mabuk joget?"

Pintu mobil lain menguap. "Tolong tutup pelan. Aku bukan mantan yang bisa dibanting seenaknya."

Keira menekan pelipis.

Ko Kevin meliriknya dari kursi pengemudi. "Masih kuat?"

"Kalau kujawab tidak, kita pulang?"

"Tidak."

"Berarti pertanyaannya basa-basi."

Ko Kevin tersenyum kecil, tetapi matanya tetap tajam. Ia sudah tidak seperti pria santai yang memasak mie di dapur. Begitu mobil memasuki area Grand Orchid, seluruh tubuhnya berubah menjadi alat kerja. Tenang, terukur, siap memotong bahaya dari arah mana pun.

Ia menyerahkan satu earbud kecil. "Pakai ini. Aku masuk lewat sisi lain. Aku tidak bisa menempel terus di sebelahmu, nanti mereka curiga."

Keira memasang earbud itu di telinga kanan. "Kalau aku bilang masuk, kamu masuk."

"Kalau kamu diam terlalu lama, aku juga masuk."

"Definisi terlalu lama?"

"Tiga puluh detik."

Keira menoleh.

Ko Kevin mengangkat bahu. "Aku kakak baru, tapi protektifnya langsung paket lengkap."

Untuk pertama kalinya sejak meninggalkan Mansion Tanuwijaya, Keira hampir tersenyum.

Ia turun dari mobil. Udara dini hari dingin, tetapi dari pintu klub mengalir napas panas beraroma alkohol, parfum mahal, dan sesuatu yang lebih tajam, semacam ambisi anak-anak kaya yang belum pernah takut benar-benar jatuh.

Di dalam, musik menghantam lantai.

Lampu strobo berkedip. Dance floor penuh tubuh yang bergerak seperti tidak punya tulang. Meja-meja bundar dikelilingi orang muda dengan botol sampanye, kartu hitam, dan tawa yang terlalu keras.

Suara benda berdatangan dari segala arah.

"Aku gelas, bukan samsak!" jerit gelas kristal di tangan seorang pria. "Pegangnya jangan kayak mau balas dendam ke mantan!"

Speaker di sudut ruangan menggeram, "Volume segini lagi? Besok pita suaraku resign."

Sepatu hak tinggi seorang perempuan merintih, "Kaki dia udah menyerah dari tadi, tapi gengsi manusia memang lebih kuat dari logika."

Keira berjalan melewati kerumunan dengan wajah datar. Di layar ponselnya, Ko Kevin sudah mengirim foto blur dari CCTV lama, hanya potongan tangan kanan dengan cincin giok. Batu hijau tua. Ukiran tipis. Tidak cukup untuk mengenali wajah, tetapi cukup untuk menyingkirkan yang tidak cocok.

"Aku di area bar samping," suara Ko Kevin masuk pelan dari earbud. "Ada akses ke koridor VIP. Kamu lihat apa?"

"Terlalu banyak cincin. Terlalu banyak orang bodoh. Terlalu banyak benda cerewet."

"Prioritaskan pria usia dua puluhan. Kelompok sosial Jovan. Ada kemungkinan mereka kenal Gilbert Hartanto."

Nama itu membuat langkah Keira melambat.

Gilbert Hartanto.

Dalam ingatan tubuh asli Keira, nama itu pernah punya bobot berbeda. Sebuah perjodohan lama, harapan kekanak-kanakan yang dipelihara keluarga Santoso, dan penghinaan yang perlahan dibungkus sebagai cinta.

Keira yang sekarang hanya merasa lelah.

Ia mendekati bar counter. Bartender sedang menuang minuman biru ke gelas tinggi. Es batu di dalam shaker menggigil.

"Kocok terus, bang," keluhnya. "Kalau pusingku jadi es campur, tanggung jawab."

Keira baru hendak bertanya pada gelas-gelas di meja VIP sebelah ketika seseorang dari arah koridor hampir menabraknya.

Bukan tabrakan keras.

Hanya bahu yang bersentuhan. Punggung tangan Keira menyapu jari pria itu sekilas.

Kulit bertemu kulit.

Lalu dunia mati.

Tidak ada gelas.

Tidak ada speaker.

Tidak ada sepatu, pintu, kursi, lampu, lantai, bahkan dengung kecil dari benda-benda yang biasanya merayap seperti serangga di balik tengkoraknya.

Semua hilang.

Keira berhenti bernapas.

Musik masih ada. Orang-orang masih tertawa. Tetapi suara benda yang selama berminggu-minggu mengepung hidupnya, yang membuat malam-malamnya pecah dan matanya merah, lenyap begitu saja seolah seseorang menutup pintu tebal di dalam kepalanya.

Sunyi.

Benar-benar sunyi.

Ia menoleh.

Pria itu tinggi, berjas hitam, kemeja putih tanpa lipatan. Rambutnya rapi, wajahnya dingin dan pucat di bawah cahaya klub. Sepasang kacamata hitam menutup matanya, janggal untuk malam sedalam ini, tetapi tidak ada yang berani menganggapnya aneh.

Di belakangnya ada dua bodyguard dan seorang pria berwajah gugup yang membawa tablet.

Pria berkacamata hitam itu juga berhenti sepersekian detik.

Jarinya sedikit menegang.

Seolah ia pun merasakan sesuatu.

"Pak," bisik pria pembawa tablet, "lift sudah siap."

Pria berkacamata hitam itu tidak menjawab. Kepalanya sedikit miring ke arah Keira, tetapi kacamata hitam membuat Keira tidak tahu apakah ia melihat, mendengar, atau hanya menyadari keberadaannya dari udara.

Kontak kulit mereka sudah terputus.

Suara benda kembali menyerbu.

"Astaga, hampir jatuh!" teriak shaker di tangan bartender.

"Siapa tadi? Wangi uang lama," komentar kursi bar.

Keira hampir tersentak mundur.

Pria itu sudah berjalan pergi.

Bodyguard membuka jalur. Rombongan itu masuk ke lift privat di ujung koridor. Pintu lift menutup dengan pantulan cahaya perak, membawa pergi satu-satunya keheningan yang pernah Keira rasakan sejak kemampuan itu memburuk.

Keira berdiri terpaku.

Di telinganya, Ko Kevin bertanya, "Keira? Ada apa?"

Ia menelan ludah.

"Aku... tidak apa-apa."

"Suaramu berubah."

"Aku melihat seseorang."

"Tersangka?"

Keira menatap pintu lift yang sudah tertutup. "Tidak tahu."

Sebelum Ko Kevin bisa bertanya lagi, sebuah tangan meraih pergelangan Keira dari samping.

"Nah, ternyata bener lu di sini."

Keira menoleh. Seorang pria muda berwajah familier berdiri terlalu dekat, senyumnya miring. Di tangan kanannya ada cincin giok.

Rio Sudargo.

Keira pernah melihatnya di kampus, biasanya di sekitar Seline dan Anya, tertawa paling keras setiap kali seseorang dipermalukan.

"Lepas," kata Keira.

Rio tertawa. "Galak amat. Gilbert cari lu dari tadi."

Nama itu baru selesai diucapkan ketika Rio menariknya menuju koridor VIP.

Keira bisa saja melawan di tempat. Namun batu hijau di jari Rio menangkap cahaya lampu, dan di dalam kepalanya, suara Ko Kevin terdengar pelan.

"Keira, posisi?"

Keira menjawab sambil mengikuti tarikan Rio, "Koridor VIP. Aku masuk."

"Aku bergerak mendekat."

"Jangan dulu. Ada cincin."

Keheningan aneh dari pria berkacamata hitam masih tertinggal seperti bekas air dingin di kulitnya, tetapi begitu tirai tebal ruang VIP dibuka, hawa di dalam langsung memaksanya kembali fokus.

Ruang itu luas, kedap suara, dipenuhi sofa kulit, meja kaca, botol minuman, dan lampu hangat yang dibuat redup. Di satu sisi, karaoke screen menyala tanpa lagu. Di sisi lain, pintu kecil menuju kamar mandi pribadi tertutup rapat.

Tiga pria duduk di dalam.

Gilbert Hartanto di tengah, kemeja abu-abu mahal, senyum tipis yang dulu mungkin pernah terlihat seperti perhatian bagi Keira lama. Di kanannya, Kelvin Liem bersandar malas sambil memutar gelas. Di kirinya, Zeno Tjandra duduk paling diam, wajah rapi, mata penuh perhitungan.

Keira melihat tangan kanan mereka satu per satu.

Gilbert memakai cincin perak dengan batu hijau tua.

Rio punya cincin giok berukir tipis.

Kelvin memakai cincin batu hijau di ruas telunjuk.

Zeno juga.

Empat cincin.

Empat kemungkinan.

Di telinga kiri, suara Ko Kevin turun lebih rendah. "Siapa saja?"

Keira tidak menjawab langsung. Ia menatap meja, mengambil ponsel seolah mengecek notifikasi, lalu mengetik cepat di layar tanpa mengirim apa pun. Kamera depan ponselnya memantulkan ruangan cukup untuk memberi Ko Kevin gambaran jika ia melihat dari koneksi yang tadi sudah disiapkan.

Gilbert mengangkat alis. "Lama nggak ketemu, Keira."

"Kita memang tidak punya urusan."

Rio bersiul. "Dingin banget. Padahal dulu katanya ngejar Gilbert sampai malu-maluin diri sendiri."

Gelas di meja mendesis, "Aduh, mulai lagi manusia daur ulang hinaan."

Gilbert mengetuk bibir gelasnya. "Tuang minum dulu."

Keira melihat botol di depannya, lalu melihat Gilbert.

"Tanganmu patah?"

Kelvin tertawa keras. Rio menepuk sofa. Bahkan Zeno tersenyum sedikit.

Wajah Gilbert menggelap. "Kamu berubah."

"Terima kasih."

"Itu bukan pujian."

"Tetap kuterima."

Rio menarik Keira duduk di sofa kosong, tidak terlalu jauh dari pintu. Keira sengaja memilih posisi yang membuat kamera ponselnya menghadap sebagian meja. Ia meletakkan tas kecil di pangkuan, jari menyentuh earbud seolah merapikan rambut.

Ko Kevin berbisik, "Aku lihat empat orang. Semua cincin kanan?"

Keira menurunkan pandangannya. "Iya," jawabnya pelan, seolah bicara pada diri sendiri.

Gilbert menuang minuman untuk dirinya sendiri. "Keira, kalau kamu datang ke tempat seperti ini sendirian, jangan sok suci. Kita semua tahu kamu ingin masuk lingkaran kami lagi."

Keira hampir tertawa.

Lingkaran mereka?

Kalau bukan karena Wulan, ia bahkan tidak akan mau memakai udara yang sama dengan mereka.

Namun ia butuh bicara. Butuh pengakuan. Butuh celah.

Di meja kaca, sebuah dadu akrilik transparan tergeletak di dekat kartu permainan.

Dadu itu tiba-tiba berbisik, "Kak, mau angka berapa? Aku bisa bantu. Aku bosen dilempar orang mabuk."

Keira menunduk.

Kali ini, mungkin dunia yang bising masih punya gunanya.

"Daripada duduk membosankan," katanya, "main Truth or Dare saja."

Rio langsung tertarik. "Wih. Anak baik mau main?"

Gilbert menatapnya curiga. "Kamu?"

"Takut kalah?"

Kelvin mengetuk meja. "Pakai dadu. Angka paling kecil jawab, angka paling besar tanya atau kasih dare."

"Sederhana," kata Zeno.

Keira mengambil dadu itu.

"Enam," bisik dadu girang. "Aku kasih enam ya, Kak. Lempar agak elegan, biar dramatis."

Dadu berguling di meja kaca.

Enam.

Rio mendapat dua. Kelvin tiga. Gilbert empat. Zeno lima.

Rio mendecak. "Oke, tanya."

Keira menatap Rio. "Truth. Hari ini, apakah kamu hampir berhubungan intim dengan seorang perempuan?"

Tawa di ruangan itu berhenti setengah detik.

Rio menyipit. "Pertanyaan macam apa itu?"

"Truth or Dare memang begitu. Kalau takut, jangan main."

Kelvin tertawa lebih dulu. "Jawab aja, Yo. Lu tiap hari juga hampir."

Rio mengangkat gelas. "Ya. Hampir. Puas?"

Di telinga Keira, Ko Kevin tidak bersuara, tetapi ia tahu kakaknya sedang mendengar.

Keira tersenyum tipis. "Ronde berikutnya."

Dadu kembali berguling.

Enam.

Dadu cekikikan, "Aku berbakat. Tolong kasih aku karier."

Kelvin kali ini mendapat angka terendah.

Keira bertanya, "Truth. Dalam dua minggu terakhir, apakah kamu pernah berpura-pura menjadi orang lain untuk mendekati perempuan?"

Kelvin tersedak tawa. "Gila, spesifik banget."

Rio menunjuknya. "Jawab, Vin."

Kelvin mengangkat kedua tangan. "Pernah. Gue pernah pura-pura jadi alumni buat masuk acara kampus. Deketin MC-nya. Tapi itu kan bukan kriminal, cuma kreativitas sosial."

Zeno menatap Keira sedikit lebih lama.

Keira menyimpan ekspresinya.

Dua minggu.

Kata itu juga membuat sesuatu di sofa bergerak resah. Bukan sofa. Ikat pinggang di pinggang Gilbert, kulit hitam dengan gesper perak, berbisik malas.

"Tuan aku dua minggu ini suka banget role-play. Kadang jadi investor, kadang jadi fotografer. Pernah juga bilang, 'cewek gampang percaya kalau suara kita mirip orang yang dia tunggu.' Ih, norak."

Jari Keira berhenti di atas meja.

Gilbert?

Atau hanya kebiasaan menjijikkan yang terpisah dari kasus Wulan?

Ia tidak boleh melompat.

"Ronde lagi," kata Keira.

Gilbert menatapnya. "Kamu banyak sekali bertanya tentang perempuan."

"Aku perempuan. Topik yang dekat dengan kehidupan."

"Atau kamu sedang mencari sesuatu?"

Keira mengambil dadu. "Kalau kamu takut, berhenti."

Dadu berguling.

Enam.

Kali ini Zeno tidak melihat angka. Ia melihat tangan Keira.

Matanya turun ke dadu, lalu ke wajahnya.

"Tunggu," katanya.

Rio mengerutkan dahi. "Kenapa?"

Zeno mengambil dadu dari meja. Ia memutarnya di antara jari, mengamati sisi-sisinya. "Dari tadi dia yang lempar."

"Terus?"

"Mulai ronde berikutnya, satu lemparan saja per orang. Yang melempar bukan orang yang sama terus."

Dadu di tangan Zeno mengeluh, "Aduh, cowok pintar. Menyebalkan."

Keira menyandarkan punggung ke sofa. "Silakan."

Zeno melempar.

Angka empat.

Gilbert lima.

Kelvin tiga.

Rio enam.

Keira satu.

Ruangan itu langsung berubah.

Rio menoleh perlahan ke arah Keira. Senyumnya melebar, tidak lagi main-main. Ada sesuatu yang kotor dalam cara ia menikmati angka itu, seolah ia akhirnya menemukan celah untuk membuat seseorang merasa kecil.

Di earbud, suara Ko Kevin terdengar dingin. "Keira."

Keira menahan napas. Tangannya tetap di atas tas. Pintu ada tiga langkah di kanan. Botol kaca paling dekat ada di meja, separuh penuh, beratnya cukup.

Gilbert tidak berkata apa-apa.

Kelvin bersiul pelan.

Zeno hanya memperhatikan, terlalu tenang.

Rio mencondongkan tubuh. Cincin giok di tangan kanannya berkilat di bawah lampu redup.

"Dare-nya: lepas rok lu. Sekarang."

1
lin sya
kluarga gk tahu malu, stlh tau kbnarannya ngomong ttg kluarga. pdhl dulu kei anak yg diabaikan dan disakitin. skrg dtg dgn tmpg gk brsalah🤭
Dey77
baru awal baca,
semangat thor💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!