Arga Mahendra dikenal sebagai CEO termuda sekaligus paling menyebalkan di kota. Wajahnya tampan, hartanya melimpah, tetapi sifatnya dingin, arogan, dan perfeksionis. Semua orang takut padanya… kecuali satu orang. Namanya Nayla Pramesti. Gadis pemberani yang mulutnya lebih cepat daripada otaknya. Saat pertama kali bertemu, Nayla tanpa sengaja menyiram kopi ke jas mahal Arga. Bukannya minta maaf, ia malah berkata, “Kalau jalan jangan kayak punya trotoar sendiri, Pak CEO.” Sejak hari itu, Arga bersumpah akan membuat hidup Nayla sengsara. Takdir justru mempertemukan mereka lagi ketika Nayla diterima bekerja di perusahaan Arga. Setiap hari kantor berubah menjadi medan perang. Mereka saling mengejek, saling menjahili, dan tak ada yang mau mengalah. Namun di balik pertengkaran itu, Arga mulai melihat sisi lembut Nayla yang selalu disembunyikan di balik sikap bar-barnya. Sementara Nayla mulai menyadari bahwa di balik wajah dingin CEO itu, ada luka masa lalu yang belum sembuh. Saat cinta mulai tumbuh, muncul seorang tunangan pilihan keluarga Arga dan mantan kekasih Nayla yang berniat merebutnya kembali. Akankah dua orang keras kepala ini akhirnya mengakui perasaan mereka, atau justru kehilangan satu sama lain karena gengsi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syah_runi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kopi, Jas Mahal, dan Mulut Pedas
Di pagi hari, dilangit Jakarta sangatlah cerah. Jalanan sudah dipenuhi banyak kendaraan yang saling berebut jalan, sementara orang-orang saling berlari untuk mengejar waktu.
Di tengah hiruk pikuk itu, seorang gadis cantik berlari sambil mengigit sebuah rotu yang berisikan cokelat.
“Ohh astaga! Kenapa alarmku nggak bunyi, sih?”
katanya dengan napas yang masih tersenggal.
Nayla Putri Maharani sambil melirik jam tangannya.
Pukul 08:05.
Matanya langsung membulat.
“Ya ampun! Hari pertamaku kerja malah telat sih!”
Ia mempercepat langkahnya, tetapi tiba-tiba tali sepatunya terlepas.
“Kenapa ya semuanya harus hari ini terjadi?”
Dengan kesal ia pun berhenti sebentar, untuk mengikat tali sepatunya secepat mungkin, lalu berlari kembali.
Sesampainya di depan gedung pencakar langit yang sangat tinggi dan megah, Nayla langsung terdiam.
Tulisan besar berwarna emas terpampang sangat jelas MAHENDRA GROUP
“Ehh buset... gedungnya tinggi banget.”
ia pun mengangkat kepala sehingga lehernya pegal.
“Kira-kira kalau jatuh dari atas, mungkin nyawaku udah sampai di lantai duluan daripada badanku.”
Ia sambil menggeleng kepalanya sendiri.
“Tidak, Nayla! Harus fokus!”
Hari ini adalah hari pertamanya masuk bekerja sebagai stam administrasi.
Pekerjaan ini sangatlah penting baginya.
Sang ayah baru saja pensiun karena sakit, sedangkan sang ibu hanya membuka waring kecil di rumah.
Nayla berjanji akan membantu perekonomian keluarganya.
Maka dari itu, apapun yang terjadi, ia tidak boleh kehilangan perkejaan ini.
Di waktu yang sama...
Sebuah mobil sedan hitam mewah berhenti tepat di depan lobi perusahaan.
Semua satpan lamgsung berdiri tegak. Begitupun para karyawan yang sesang mengobrol, buru-buru merapikan pakaianya.
Pintuk mobil terbuka.
Nampaklah seorang pria bertubuh tinggi dan tampan keluar dengan langkah tenang.
Dengan menggunakan jas abu-abu gelap tampak pas di tubuhnya yang atletis.
Wajahnya yang tampan.
Rahangnya tegas.
Dan tatapan tajam.
Auranya begitu dingin sehingga orang-orang spontan untuk menundukkan kepala.
“Selamat pagi, Pak Arga.”
“Selamat pagi, Pak Direktur.”
Tidak satu pun yang mendapatkan balasan.
Pria itu hanya mengangguk tipis.
Namanya…
Arga Mahendra.
CEO Mahendra Group.
Usianya baru tiga puluh tahun, tetapi sudah berhasil membawa perusahaan keluarganya menjadi salah satu yang terbesar di Indonesia.
Namun…
Di balik kesuksesan itu, ia terkenal sebagai CEO paling menyebalkan itu dia sangat.
Perfeksionis.
Galak.
Tidak suka basa-basi.
Dan sangat membenci orang yang tidak disiplin.
Baginya…
Terlambat satu menit saja sama dengan gagal menghargai waktu.
Di sisi lain…
Nayla sedang berlari sambil membawa sebuah gelas kopi yang baru saja dibelinya.
“Semoga HRD belum marah…”
Bruk!
Tanpa sengaja tubuhnya menabrak seseorang.
Gelas kopi yang ada di tangannya langsung terlepas.
Byur!
Cairan kopi yang hangat tumpah tepat mengenai jas mahal pria yang ada di depannya.
Suasana lobi yang ramai pun seketika menjadi sunyi.
Semua orang membeku atas kejadian itu.
Beberapa karyawan bahkan menutup mulutnya.
“Ya Tuhan…”
“Dia menabrak Pak Arga…”
“Habislah gadis itu.”
Nayla membeku.
Matanya pun perlahan turun melihat noda kopi memenuhi jas pria itu.
“Eh…”
Ia menelan ludah.
“Maaf…”
Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, pria itu menatapnya dengan wajah datar.
Tatapan yang dingin.
Menusuk.
“Mata kamu dipakai?”
Nayla yang awalnya merasa bersalah langsung mengangkat kepala.
“Lho?”
“Emangnya Bapak jalan pakai mata ya?”
Arga mengernyit.
“Maksudmu apa?”
“Ya sama saja. Saya lari memang salah, tapi Bapak juga jalan lurus kayak jalan ini punya bapak sendiri.”
Beberapa orang langsung menarik napas panjang mendengar jawaban gadis itu.
Berani sekali gadis itu.
Belum pernah ada seseorang yang berani membantah CEO mereka.
Arga menatap Nayla tanpa ekspresi.
“Kamu merasa benar?”
Nayla mengangkat dagunya.
“Saya salah karena lari.”
“Dan Bapak pun salah karena nggak lihat ada orang.”
“Jadi impaskan.”
Seorang manajer pu. hampir pingsan mendengar jawaban Nayla.
Apa katanya impas?
Dia bilang sama CEO impas?
Arga melirik jasnya yang penuh noda kopi.
“Ini jas saya seharga lima puluh juta.”
Nayla langsung melotot.
“Apa? Lima puluh juta?”
“Iya.”
Ia spontan mendekat lalu memperhatikan kain jas itu.
“Hah?”
“Emang bisa ya buat kopi sendiri?”
Beberapa karyawan sampai menggigit bibir agar tidak tertawa.
Arga pun menghela napas pelan.
“Kamu sedang bercanda?”
“Tidak.”
“Saya hanya heran.”
“Kalau jas seharga lima puluh juta tetap aja fungsinya dipakai, kan?”
Arga menatapnya beberapa detik.
Baru kali ini ada orang yang berani berbicara seperti itu kepadanya.
Biasanya semua orang akan gemetar.
Tetapi gadis ini…
Bukannya takut.
Malah terus membalas.
“Kamu siapa?”
“Nayla.”
“Bagian mana?”
“Staf administrasi.”
Baru saja diterima.
Belum sempat mulai kerja.
Sudah bikin keributan.
Arga mengangguk tipis.
“Bagus.”
Nayla menghela napas lega.
“Ternyata Bapak baik juga.”
“Tidak.”
“Saya hanya ingin HRD mengevaluasi proses perekrutan.”
Senyum Nayla langsung menghilang.
“Hah?”
“Perusahaan ini tidak membutuhkan pegawai yang ceroboh.”
Kalimat itu terdengar dingin.
Dan menusuk.
Wajah Nayla punmemerah.
Apa katanya ceroboh?
Ia memang salah.
Tetapi bukan berarti ia harus dihina.
Dengan kesal ia menyilangkan tangan.
“Kalau perusahaan ini cuma menerima manusia sempurna, berarti Bapak juga harus resign dong?.”
Lagi.
Semua orang menahan napas.
Arga menatapnya.
“Kenapa?”
“Soalnya Bapak juga salah di sini.”
“Kita sama-sama nabrakan?.”
“Kalau saya ceroboh…”
“Berarti bapak ya sombong.”
Hening.
Benar-benar hening.
Beberapa detik kemudian…
Terdengar suara seseorang berlari.
“Pak Arga!”
Seorang pria berkacamata datang tergesa-gesa.
Itu adalah Dimas.
Asisten pribadi Arga.
“Maaf, Pak. Rapat direksi sudah menunggu.”
Arga tetap tidak mengalihkan pandangan dari Nayla.
“Ada nama pegawai baru?”
“Ada, Pak.”
“Nayla Putri Maharani.”
“Catat.”
Dimas pun mengangguk cepat.
“Siap, Pak.”
Nayla langsung panik.
“Eh, kenapa nama saya dicatat pak?”
Arga berjalan melewatinya.
Tanpa menoleh.
“Karena saya tidak menyukai orang yang membuat masalah.”
Langkahnya terus menjauh.
Sementara Nayla berdiri mematung.
“Enak aja!”
Ia berteriak pelan.
“Situ juga masalah buat saya!”
Dimas yang mendengar itu hanya bisa memijat pelipis.
Gadis ini…
Belum satu jam bekerja…
Sudah berani perang mulut dengan CEO.
Beberapa menit kemudian…
Di ruang HRD.
“Nayla.”
“Iya, Bu.”
“Kenapa hari pertama langsung bikin Pak Arga marah?”
Nayla menggaruk kepala.
“Itu… kecelakaan.”
Wanita HRD menghela napas.
“Kamu beruntung.”
“Pak Arga biasanya langsung memecat.”
Nayla mengangkat alisnya.
“Serius?”
“Iya.”
“Kalau begitu berarti beliau nggak galak.”
“Masih ada hati.”
Semua orang di ruangan itu menatap Nayla dengan bingung.
Bukannya takut.
Dia malah memuji CEO?
Salah satu karyawan berbisik.
“Kayaknya dia belum tahu.”
“Kalau pak Arga itu dijuluki Rajanya Es.”
“Kalau senyum saja bisa dihitung pakai jari.”
Nayla tertawa kecil.
“Ya sudah.”
“Kalau begitu target saya gampang.”
“Apa target?”
“Membuat Pak CEO senyum.”
Ruangan kembali sunyi.
Semua orang menatap Nayla seolah sedang melihat makhluk aneh.
Seorang senior bahkan berbisik lirih.
“Kasihan…”
“Gadis itu belum tahu dunia sekejam apa.”
Nayla hanya tersenyum penuh percaya diri.
Dalam pikirannya, tidak ada manusia yang benar-benar seseram itu.
Yang ada hanyalah orang yang terlalu serius menjalani hidup.
Ia tidak tahu…
Bahwa kalimat yang baru saja ia ucapkan akan menjadi awal dari kekacauan besar di hidupnya.
Karena di lantai paling atas gedung itu…
Arga Mahendra sedang berdiri di depan jendela ruang kerjanya sambil menatap ke arah bawah.
Bayangan gadis berambut kepang yang berani menyebutnya sombong terus terlintas di kepalanya.
Entah mengapa…
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya…
Ada seseorang yang membuatnya menjadi kesal hanya dalam waktu lima menit.
Arga menyipitkan mata.
“Nayla Putri Maharani…”
“Kita lihat saja, seberapa lama kamu bisa bertahan di perusahaan ini.”
Di sisi lain, Nayla yang sama sekali tidak mengetahui hal itu sedang tersenyum lebar sambil menikmati camilan dari meja pantry.
“CEO nyebelin begitu…”
“Pasti suatu hari saya bisa buat dia minta maaf.”
Takdir seolah mendengar ucapan keduanya.
Karena sejak hari itu…
Perang dingin antara CEO paling arogan dan gadis paling bar-bar resmi dimulai.
jd senam jantung🤧