Dunia berubah dalam semalam. Langit di atas tanah perbatasan Amerika berubah warna, bumi terbelah, dan makhluk-makhluk yang dulunya manusia atau ternak kini bangkit sebagai monster haus darah. Di tengah kekacauan itu, Elena Cross — janda pemilik Rocking Spur Ranch yang tengah hamil delapan bulan — berjuang sendirian mempertahankan tanahnya dari serangan pertama gerombolan ternak yang bermutasi.
Di saat paling genting, sebuah kekuatan misterius bangkit dalam dirinya: **Gudang Tanpa Batas**, sebuah sistem ajaib yang bisa memunculkan senjata, makanan, obat-obatan, dan perbekalan apa pun dari udara kosong — aktif hanya karena satu syarat: melindungi kehidupan baru di tengah kehancuran dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon miichi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Perpisahan yang Sulit
Tiga bulan bukan waktu yang lama untuk mempersiapkan perjalanan menuju fasilitas yang bahkan Kapten Reyes sendiri tidak sepenuhnya memahami bahayanya. Namun bagi Elena, waktu tiga bulan itu terasa berlalu dalam kilatan persiapan yang melelahkan—pertemuan strategi dengan Divisi Pemulihan Nasional, pelatihan tambahan bagi tim yang akan menyertainya, dan yang paling berat, keputusan tentang siapa yang akan pergi dan siapa yang akan tinggal menjaga Aliansi.
"Kali ini berbeda, Elena," kata Whitlock suatu malam, saat mereka duduk di teras rumah utama, menatap bintang-bintang yang kini kembali terlihat normal di langit malam yang telah pulih dari warna anehnya. "Prometheus regional adalah satu fasilitas, satu inti yang harus distabilkan. Tapi fasilitas pusat ini—kita bahkan tidak tahu apa yang menunggu di sana."
"Aku tahu," jawab Elena pelan, tangannya terlipat di pangkuan, pikirannya melayang pada Grace yang kini tertidur lelap di kamarnya. "Dan itu yang membuatku takut, lebih dari apa pun yang pernah kuhadapi sebelumnya—bukan pertempuran itu sendiri, tapi kemungkinan aku tidak akan bisa pulang kali ini."
Whitlock menatapnya lama, wajah tuanya dipenuhi kekhawatiran yang jarang ia tunjukkan secara terbuka. "Kau tidak harus pergi sendirian, kau tahu. Dan kau tidak harus pergi sama sekali—Reyes bilang timnya bisa mencoba menghadapi fasilitas itu tanpa kau, meski peluangnya jauh lebih kecil."
"Kau tahu aku tidak bisa melakukan itu," Elena menggeleng pelan. "Kalau ada peluang aku bisa membantu mencegah bencana yang lebih besar, aku harus mencobanya. Untuk Grace, untuk semua orang di sini, untuk dunia yang perlahan mulai sembuh ini."
Percakapan tersulit datang beberapa hari kemudian, ketika Elena harus menjelaskan pada Grace—yang kini sudah cukup besar untuk memahami sebagian, meski belum sepenuhnya, tentang apa yang akan terjadi—bahwa ibunya harus pergi untuk waktu yang lama.
"Ibu akan pergi jauh, sayang," katanya lembut, duduk di lantai kamar Grace, memeluk putrinya erat. "Lebih jauh dan lebih lama dari sebelumnya. Tapi Bibi Sarah dan semua orang di sini akan menjagamu dengan baik, dan ibu akan selalu memikirkanmu, setiap hari, sampai ibu kembali."
Grace, dengan pemahaman anak kecil yang kadang lebih dalam dari yang diduga orang dewasa, menatap ibunya dengan mata bulat yang serius. "Ibu janji kembali?"
Pertanyaan sederhana itu menghantam Elena lebih keras dari serangan Grimes atau ancaman Rourke sebelumnya. Ia menahan air mata yang mengancam tumpah, memeluk Grace lebih erat. "Ibu janji akan berusaha sekuat tenaga untuk kembali, sayang. Ibu janji."
Malam sebelum keberangkatan, Sarah menemani Elena mengemasi perbekalan terakhir, suasana di antara mereka dipenuhi kesedihan yang tak terucap sepenuhnya namun terasa jelas di setiap gerakan.
"Aku akan menjaganya seperti anakku sendiri," kata Sarah, ulangan janji yang sama seperti bertahun-tahun—atau lebih tepatnya, setahun—yang lalu saat Elena pergi ke Prometheus regional pertama kali. "Tidak peduli berapa lama kau pergi, Elena."
"Aku tahu," jawab Elena, memeluk sahabatnya erat. "Aku tidak akan pernah bisa membalas semua yang telah kau lakukan untukku dan Grace, Sarah."
"Kau sudah membalasnya," Sarah menjawab lembut, "setiap kali kau memilih melindungi daripada menguasai, setiap kali kau memberi orang lain kesempatan kedua seperti yang kau lakukan pada Grimes. Itulah kenapa kami semua di sini bersedia berkorban untukmu, Elena—karena kau selalu bersedia berkorban untuk kami lebih dulu."
Keesokan paginya, saat matahari baru mulai terbit di ufuk timur—arah yang sama dengan tujuan perjalanan berbahaya yang akan mereka tempuh—tim ekspedisi berkumpul di gerbang Rocking Spur. Kali ini, timnya jauh lebih besar dari perjalanan-perjalanan sebelumnya: Elena, Whitlock, Dr. Voss yang bersikeras ikut meski kesehatannya belum sepenuhnya pulih, Kapten Reyes bersama lima anggota Divisi Pemulihan Nasional, dan yang mengejutkan banyak orang, Cornelius Grimes sendiri, yang telah meminta izin khusus untuk ikut serta.
"Aku mungkin bisa membantu," kata Grimes saat mengajukan diri beberapa minggu sebelumnya, wajahnya penuh keseriusan yang jauh berbeda dari kesombongan masa lalunya. "Fragmenku, meski melemah, mungkin masih bisa memberi wawasan tentang bagaimana kekuatan seperti ini bisa dipaksa tumbuh melampaui batasnya—pengetahuan yang mungkin berguna menghadapi fasilitas pusat."
Elena, setelah mempertimbangkan dengan hati-hati, akhirnya menyetujui permintaan itu, melihatnya sebagai kesempatan bagi Grimes untuk benar-benar menebus kesalahan masa lalunya, sekaligus tambahan pengetahuan berharga yang mungkin mereka butuhkan.
Grace, digendong Sarah, melambaikan tangan kecilnya dari teras rumah utama saat rombongan besar itu mulai bergerak menjauh dari gerbang ranch, menuju cakrawala timur yang masih menyimpan begitu banyak misteri dan bahaya yang menanti.
"Sampai jumpa, Ibu!" teriak Grace, suara kecilnya menggema di udara pagi yang sejuk.
Elena menoleh sekali lagi, menatap putrinya untuk terakhir kalinya sebelum perjalanan panjang itu benar-benar dimulai, menyimpan gambar itu dalam-dalam di hatinya sebagai pengingat tentang apa—dan siapa—yang ia perjuangkan.
"Sampai jumpa, sayang," bisiknya pelan, meski ia tahu suaranya tidak akan terdengar dari jarak sejauh itu. "Ibu akan kembali. Ibu janji."
---
ajaib kenapa tidak rahsia kan saja
gila !!