NovelToon NovelToon
Tiga Bayi Tersembunyi: CEO Menyesal Seumur Hidup

Tiga Bayi Tersembunyi: CEO Menyesal Seumur Hidup

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / Anak Genius / Penyesalan Suami / Teman lama bertemu kembali
Popularitas:12.1k
Nilai: 5
Nama Author: Lover

Lima tahun lalu, Keira diusir dari keluarga Mulyono saat perutnya baru membesar.
Tidak ada yang tahu dia sedang mengandung tiga anak sekaligus — anak-anak dari pria paling berkuasa di Jakarta: Kevin Hartono, CEO Hartono Group.
Tanpa uang, tanpa keluarga, tanpa nama — dia membesarkan ketiga anaknya sendirian. Diam-diam, dia membangun kerajaan bisnisnya sendiri. Menjadi CEO SH Corporation. Menjadi dokter jenius yang dipanggil "Dr. Mira." Menjadi ahli chip SSS-level yang dicari seluruh dunia dengan nama "Ainara."
Sekarang, dia kembali ke Jakarta.
Bukan sebagai gadis yang pernah dibuang. Tapi sebagai wanita yang bisa menghancurkan siapa saja yang pernah menyakitinya.
Masalahnya? Kevin Hartono — mantan suami yang bahkan tidak tahu dia pernah hamil — baru saja menemukan bahwa putranya, Darren, punya saudara kembar yang identik.
Dan dia tidak akan berhenti sampai menemukan ibu mereka.
"Kei... kamu bisa membenciku. Kamu bisa memukulku. Tapi aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi."
Tapi Keira sudah bersumpah: *dia yang membuangku, sekarang harus berlutut untuk mendapatkanku kembali.*
Siapa bilang balas dendam terbaik bukan hidup bahagia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lover, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 3

Bab 003

Siang itu, The Grand Ballroom, Ritz-Carlton Pacific Place, dipenuhi bunga putih, lampu kristal, dan senyum palsu yang mahal.

Nama Ryan Salim dan Vania Mulyono terpampang di layar besar dekat panggung. Para tamu dari lingkaran bisnis Jakarta duduk berbaris rapi. Kamera bergerak pelan, merekam gaun pengantin Vania yang berkilau seperti ia benar-benar perempuan paling bahagia hari itu.

Keira berdiri di balik pintu utama ballroom.

Di tangannya tidak ada undangan. Tidak ada buket. Tidak ada ucapan selamat. Hanya satu map tipis berisi dokumen digital yang cukup untuk mengubah pesta itu menjadi lelucon.

Dari celah pintu, ia melihat wajah-wajah yang dulu membuang namanya seperti noda. Tante-tante sosialita yang pernah memuji kulitnya, sekarang duduk di baris depan sambil memakai berlian. Para pebisnis yang dulu menunduk hormat kepada Hendra, sekarang menunggu kesempatan berfoto dengan keluarga Salim.

Jakarta memang mudah lupa.

Keira tidak.

Di luar pintu, Rio menunggu dengan tablet berisi dokumen kepemilikan. Di dalam, suara pembawa acara terdengar lembut.

"Sekarang kita masuk pada prosesi janji setia."

Keira menatap pintu tertutup itu.

Lima tahun lalu, nama Ryan pernah ditulis di undangan pernikahannya.

Lima tahun lalu, pria itu tidak datang saat ia dilempar keluar dari Rumah Mulyono. Tidak menelepon. Tidak bertanya. Beberapa minggu kemudian, kabar yang ia dengar hanya satu: Ryan sering terlihat bersama Vania.

Hari ini, Ryan berdiri di tempat yang dulu seharusnya menjadi milik Keira.

Dengan perempuan yang menamparnya di malam hujan itu.

"Bos," Rio berkata pelan, "semua dokumen sudah diverifikasi. Grand Ballroom dan unit komersial terkait resmi di bawah kendali anak perusahaan SH Corporation sejak pukul sembilan pagi."

Keira mengangguk.

"Bagus."

"Perlu saya masuk dulu?"

"Tidak." Keira melepas kacamata hitamnya. Lipstik merahnya tampak menyala di bawah lampu koridor. "Mereka mengusirku di depan orang banyak. Aku juga akan kembali di depan orang banyak."

Rio menatap punggungnya. Ia mengenal Keira setelah perempuan itu sudah menjadi bos yang bisa menandatangani kontrak bernilai ratusan miliar tanpa mengubah ekspresi. Namun setiap kali nama Mulyono disebut, ada sesuatu yang lebih dingin muncul di mata Keira.

"Anak-anak sudah aman di suite," kata Rio.

"Ethan?"

"Sedang membongkar data Hartono Estate."

Keira menghela napas kecil. "Tentu saja."

"Tiffany menonton kartun."

"Pastikan dia tidak membuka live."

"Sudah saya kunci tabletnya."

Baru setelah itu Keira mendorong pintu.

Di dalam ballroom, Ryan mengambil mikrofon. Wajahnya tampan, senyumnya dibuat penuh perasaan.

"Vania," ucapnya, "aku berjanji akan menjagamu, menghormatimu, dan membuatmu menjadi perempuan paling bahagia."

Vania tersenyum manis. Matanya berkaca-kaca, tetapi bukan karena cinta. Ia terlalu menikmati semua tatapan iri.

Hendra duduk di barisan depan dengan dada membusung. Siska di sampingnya terus berbisik kepada tamu lain, memastikan semua orang tahu bahwa Mulyono dan Salim akan menjadi aliansi keluarga yang kuat.

"Mulyono akhirnya punya menantu sekelas Salim," kata seorang tamu.

Siska tersenyum. "Tentu saja. Vania memang pantas."

Di sisi lain, Nyonya Salim menerima ucapan selamat dengan dagu terangkat. Baginya, pernikahan ini adalah transaksi cantik. Ryan mendapatkan koneksi Mulyono, Vania mendapatkan nama Salim, dan skandal lima tahun lalu terkubur tanpa perlu dibicarakan.

Tidak ada yang menyebut Keira.

Nama itu dianggap sudah mati.

Saat Vania hendak mengucapkan janjinya, pintu ballroom terbuka.

Tidak keras.

Tidak dramatis dengan teriakan.

Namun seluruh ruangan tetap menoleh.

Keira masuk mengenakan gaun merah. Warna itu seharusnya menjadi warna keberuntungan dalam pesta, tetapi di tubuhnya, merah itu seperti peringatan. Langkahnya tenang. Rambutnya tersusun rapi. Tidak ada perhiasan berlebihan, hanya sepasang anting kecil dan tatapan yang membuat suara piano berhenti satu nada lebih cepat.

Gaun itu bukan gaun pengantin, tetapi seluruh perhatian tamu berpindah kepadanya seolah ia yang seharusnya berdiri di altar.

Seorang fotografer tanpa sadar menekan tombol kamera. Kilatan lampu menyala. Setelah itu kilatan lain menyusul. Tidak ada yang tahu apakah mereka sedang merekam tamu tak diundang atau kelahiran skandal baru, tetapi semua orang tahu satu hal: ini terlalu menarik untuk dilewatkan.

Seorang tamu berbisik, "Itu... Keira Mulyono?"

"Bukannya dia sudah diusir?"

"Lima tahun tidak muncul. Kenapa dia ada di sini?"

Ryan menurunkan mikrofon. Senyumnya menghilang.

Keira.

Nama itu bergerak di bibirnya tanpa suara. Perempuan yang dulu ia tinggalkan telah kembali dengan wajah yang membuat seluruh ballroom kehilangan napas.

Vania menggenggam buketnya terlalu kuat. "Kamu?"

Keira berhenti di tengah lorong. Matanya menyapu panggung, bunga, tamu, lalu berhenti pada Vania.

"Lanjutkan," katanya ringan. "Aku datang sebagai pemilik tempat, bukan tamu undangan."

Ruangan itu meledak dalam bisik-bisik.

Hendra langsung berdiri. "Keira! Apa maksudmu membuat keributan di acara keluarga?"

"Acara keluarga?" Keira tersenyum tipis. "Menarik. Lima tahun lalu Om bilang aku bukan keluarga."

Wajah Hendra menegang. Siska berbisik tajam, "Panggil keamanan."

Vania menggenggam lengan Ryan. "Sayang, lakukan sesuatu."

Ryan tidak langsung bergerak. Ia masih menatap Keira, seolah otaknya gagal menyatukan gadis pucat yang dulu lenyap dengan perempuan di hadapannya sekarang.

"Ryan!" Vania mendesis.

Baru saat itu Ryan berkedip. "Keira, ini bukan tempatnya."

"Justru ini tempatnya," jawab Keira.

Dua petugas keamanan mendekat, tetapi Rio sudah menunjukkan tablet kepada manajer ballroom. Wajah manajer berubah pucat. Ia segera memberi isyarat agar petugas mundur.

Hendra melihat itu. "Kenapa kalian diam? Keluarkan dia!"

Manajer membungkuk kaku. "Maaf, Pak Hendra. Kami tidak bisa."

"Tidak bisa?"

Keira berjalan lagi. Hak sepatunya terdengar jelas di lantai marmer.

"Mereka bekerja untuk pemilik gedung." Ia berhenti tepat di depan panggung. "Dan sejak pagi tadi, pemiliknya adalah aku."

Siska tertawa tidak percaya. "Jangan mengada-ada. Kamu pikir orang-orang di sini bodoh?"

Hendra menatap manajer ballroom. "Saya yang menandatangani kontrak sewa tempat ini. Saya kenal general manager kalian."

Manajer menunduk lebih dalam. "Benar, Pak. Kontrak sewa tetap berlaku. Tetapi hak pengelolaan gedung berpindah pemilik. Kami wajib mengikuti instruksi pemilik baru selama tidak melanggar hukum."

"Dan mengusirku?" tanya Keira. "Itu jelas melanggar instruksi pemilik."

Beberapa tamu mulai tertawa kecil. Tawa itu tidak keras, tetapi cukup untuk membuat wajah Hendra mengeras.

Rio mengangkat layar. Dokumen kepemilikan, cap notaris, dan nama perusahaan pengelola muncul di layar ballroom setelah staf teknis menerima perintah dari sistem pusat. Semua tamu melihatnya.

Grand Ballroom itu berada di bawah anak perusahaan SH Corporation.

Nama kuasa pengendali tertulis jelas: Keira Mulyono.

Suara bisik berubah menjadi riuh.

Vania mundur satu langkah. "Tidak mungkin."

"Apa yang tidak mungkin?" Keira menatapnya. "Aku membeli tempat yang kalian sewa tanpa izin. Itu saja."

"Kamu tidak punya uang sebanyak itu," Vania berkata tajam. "Kamu pergi dari rumah tanpa sepeser pun."

"Benar." Keira mengangguk. "Aku pergi tanpa sepeser pun. Tanpa dokumen. Tanpa keluarga. Terima kasih sudah mengingatkan semua orang."

Ruangan kembali senyap.

Keira menatap Vania. "Itu yang membuat hari ini lebih menarik, kan? Karena perempuan yang kalian kira mati di luar sana ternyata bisa membeli atap di atas kepala kalian."

Ryan akhirnya turun dari panggung. Ia mencoba tersenyum seperti dulu, senyum yang pernah membuat Keira percaya bahwa masa depan bisa sederhana.

"Keira, kita bisa bicara baik-baik."

Keira memandangnya seperti melihat dokumen lama yang sudah tidak berlaku.

"Kita punya lima tahun untuk bicara baik-baik. Kamu memilih diam."

Ryan terdiam.

Hendra menahan malu di depan ratusan orang. "Kamu sengaja datang untuk mempermalukan kami?"

"Tidak." Keira mengangkat alis. "Aku datang untuk memakai hakku."

Siska berdiri, suaranya melengking. "Hak apa? Kamu perempuan yang sudah mencoreng nama Mulyono!"

Beberapa tamu saling pandang. Kata-kata itu terlalu kasar untuk acara mewah, tetapi justru karena kasar, semua orang mendengarnya.

Keira tidak marah. Ia hanya tersenyum lebih dingin.

"Tante Siska, lima tahun lalu Tante mengambil gelang, kalung, paspor, bahkan kartu identitasku. Hari ini aku hanya mengambil kembali ruangan yang memang milikku. Rasanya masih jauh lebih sopan."

Wajah Siska memerah.

Vania tiba-tiba maju. "Kamu iri, kan? Kamu iri karena Ryan akhirnya menikahiku."

Keira menoleh kepada Ryan. "Iri?"

Ryan tampak ingin menjawab, tetapi matanya masih melekat pada wajah Keira. Vania melihat itu. Bibirnya bergetar.

Keira tertawa pelan. "Vania, kalau aku benar-benar menginginkan sesuatu, aku tidak perlu merebut sisa dari tanganmu."

Kalimat itu membuat beberapa tamu menunduk menyembunyikan senyum. Wajah Vania langsung pucat.

Ryan tampak tersinggung, tetapi lebih banyak karena menyadari dirinya disebut sisa. Nyonya Salim menatap putranya dengan kecewa yang cepat disembunyikan. Dalam keluarga seperti Salim, rasa malu tidak boleh terlihat terlalu lama.

Hendra memukul sandaran kursi. "Cukup! Kamu tidak punya hak mengatur pernikahan ini."

"Aku punya hak mengatur ruangan ini." Keira mengangkat tangan.

Lampu panggung meredup setengah. Layar besar berganti menampilkan sertifikat kepemilikan dan klausul penggunaan venue. Pembawa acara kehilangan kata-kata. Musik berhenti sepenuhnya.

Keira menatap seluruh ruangan.

"Kalian boleh tetap di sini jika mengikuti aturanku."

Hendra mendesis, "Aturan apa?"

Keira naik satu anak tangga menuju panggung. Gaun merahnya menyapu lantai seperti api yang tidak terburu-buru membakar.

"Karena ini tempatku," katanya, setiap kata terdengar jernih, "maka aku yang menentukan siapa boleh berdiri di atas panggung."

Ia menatap Vania, lalu Ryan, lalu Hendra.

"Siapa yang ingin memakai ballroom milikku untuk menikah, turun dari panggung dulu."

Vania menggigil oleh marah. "Kamu gila."

Keira tersenyum.

"Belum. Aku baru mulai."

Ia mengangkat tangan, menghentikan seluruh suara yang mulai naik.

"Kalau kalian masih ingin memakai aula milikku," katanya, "berlututlah dan minta izin."

Kamera ponsel yang sejak tadi diam-diam merekam kini terangkat lebih tinggi. Tidak ada yang ingin berkedip. Jakarta sudah lama menyukai drama orang kaya, tetapi jarang ada drama yang disajikan lengkap dengan gaun merah, mantan tunangan, sepupu perebut calon suami, dan dokumen kepemilikan properti dalam satu panggung.

Keira melihat semua itu dan membiarkannya.

Lima tahun lalu, rasa malunya disebar tanpa izin.

Hari ini, ia memilih sendiri panggungnya.

1
sunaryati jarum
Kamu minta maaf bukan merasa bersalah hanya takut perusahaan kamu koleb
sunaryati jarum
Berarti ibu Rosalind masih hidup
Tri Septi
apakah Leon kakaknya Kevin? dia mirip Raymond ayahnya Kevin ya 🤔🤔🤔
Tri Septi
lanjut thor🙏🙏🙏🙏
Tri Septi
mama keira hilang diculik, mama Kevin juga ada di mana ??? makin rumit aja
Tri Septi
semangat Kevin 💪 terima kasih author meski sedikit 😁🙏🙏🙏
Tri Septi
Kevin, ayo buktikan bahwa kamu bersih dan mereka yang berbuat jahat terbukti bersalah /Casual/
Tri Septi
sepandai-pandai tupai melompat suatu saat akan gagal juga....niat jahat semoga dpat digagalkan😆💪🙏
Tri Septi
orang bertopeng ini apakah sama dengan yang mengambil Darren waktu bayi ya......banyak yg terlibat, musuh keira banyak😠 semoga bisa segera terungkap 💪🙏
Tri Septi
penyesalan selalu di akhir
Tri Septi
mama Rosalind mungkin jenius, sehingga ada yg berniat menyembinyikan dan memanfaatkan nya /Frown//Frown//Frown/
Tri Septi
selamat datang kembali "Kei" 😍😍😍
Tri Septi
ada konspirasi....apa motifnya ya /Casual/
Siti Maryati
sampe.ikut berdesir mambaca "kamu punya aku"
Tri Septi
yang dibelakang Maya patut diwaspadai /Casual/ makin penasaran thor😄😄😄
sunaryati jarum
Berarti saudara seibu artinya ayahnya beda
sunaryati jarum
Semoga kalian cepat bersatu
Tri Septi
Kevin mau pdkt apa menyelidik? 🤣🤣🤣
Tri Septi
seperti induk ayam yang melindungi anak2nya, keira semangat 💪💪💪
Tri Septi
musuh dalam selimut 💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!