"Aku butuh seorang istri. Hanya selama satu tahun."
Nadira Pramesti tak pernah membayangkan akan menerima tawaran seaneh itu. Namun, demi menyelamatkan toko buku peninggalan ayahnya, ia menyetujui pernikahan kontrak dengan Arga Wijaya, pewaris Wijaya Group yang harus menikah untuk memenuhi syarat dalam surat wasiat keluarganya. Mereka sepakat untuk tidak saling mencintai dan berencana berpisah setelah kontrak berakhir.
Ketika sebuah buku catatan peninggalan ayah Nadira justru membuka jalan menuju rahasia lama yang selama dua puluh lima tahun disembunyikan keluarga Wijaya. Di tengah ancaman, kebohongan, dan seseorang yang rela melakukan apa saja demi menutup kebenaran, Arga dan Nadira mulai mempertanyakan satu hal: apakah hati mereka masih sanggup berpegang pada isi kontrak ketika cinta datang lebih dulu?
Karena terkadang, yang paling sulit bukanlah menikah dengan orang asing, melainkan berpisah dengan seseorang yang telah menjadi rumah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosealyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34. Kevin Yang Mencurigakan
Ketakutan memiliki cara tersendiri untuk mengubah cara seseorang memandang rumahnya. Bagi Nadira, rumah megah keluarga Wijaya yang awalnya terasa asing kini terasa seperti sangkar emas yang dipenuhi mata-mata. Meskipun Arga telah meningkatkan penjagaan dan Rizky selalu berada dalam jangkauan, rasa tidak aman itu tetap mengendap di dasar hatinya, seperti lumpur yang tidak bisa tersapu bersih.
Malam itu, hujan turun dengan deras, menghantam kaca-kaca jendela dengan suara yang ritmis namun mengintimidasi. Nadira duduk di ruang tengah, memeluk bantal sofa sambil menatap kosong ke arah perapian elektrik yang memberikan kehangatan semu. Arga baru saja selesai melakukan panggilan konferensi dengan tim keamanan, dan wajahnya terlihat lebih kaku dari biasanya.
"Kamu harus istirahat, Nad," ujar Arga lembut, sambil meletakkan tangannya di bahu Nadira.
Nadira mendongak, menatap mata Arga yang menyimpan keletihan mendalam. "Aku tidak bisa tidur, Mas. Aku terus berpikir... kenapa mereka begitu terobsesi dengan dokumen ayahku? Apa yang sebenarnya terjadi dua puluh lima tahun lalu sampai-sampai mereka rela melakukan hal berbahaya seperti itu?"
Arga menghela napas, lalu duduk di sampingnya. Ia menarik Nadira ke dalam pelukannya, memberikan rasa aman yang menjadi satu-satunya pegangan Nadira saat ini. "Aku sedang mengusahakannya. Aku sudah meminta Rizky melacak plat nomor sedan itu, meskipun mereka menggunakan plat palsu. Aku tidak akan membiarkan teka-teki ini menggantung terlalu lama."
Namun, di balik ketenangannya, pikiran Arga sedang bekerja dengan kecepatan tinggi. Ia teringat laporan singkat dari Rizky sore tadi. Rizky tidak hanya melaporkan tentang pengejaran mobil sedan, tetapi juga tentang sesuatu yang ia temukan saat memeriksa rekaman CCTV di sekitar area Toko Buku Senja dari beberapa hari sebelumnya.
Ada satu mobil yang sering terlihat terparkir tak jauh dari toko, bukan sedan hitam yang mengintimidasi itu, melainkan sebuah mobil sport mewah yang sangat ia kenali. Mobil milik Kevin.
Arga terdiam. Kevin adalah sepupunya yang selama ini dikenal dingin, tertutup, dan tidak terlalu peduli dengan urusan orang lain. Baru-baru ini, Kevin mulai menunjukkan perubahan sikap, ia menjadi lebih terbuka dan bahkan mencoba menjalin komunikasi yang baik dengan Nadira. Pada awalnya, Arga menganggap itu sebagai kedewasaan, namun kini, kecurigaan mulai merayap di benaknya.
Keesokan harinya, Arga sengaja tidak masuk ke kantor lebih awal. Ia menunggu di ruang kerjanya, mematikan lampu utama sehingga ruangan itu hanya diterangi oleh cahaya remang dari lampu meja. Ia ingin melihat siapa yang akan mendatanginya pertama kali.
Tak lama kemudian, pintu ruangannya terbuka tanpa ketukan. Kevin melangkah masuk dengan gaya santainya yang khas, mengenakan kemeja hitam dengan kancing atas yang terbuka.
"Kak Arga? Kok gelap sekali di sini? Kamu sedang latihan jadi hantu?" canda Kevin dengan nada bicara yang ringan, hampir terlalu ringan.
Arga tidak tersenyum. Ia memutar kursinya, menatap Kevin dengan tajam. "Dari mana kamu, Vin?"
Kevin menghentikan langkahnya, alisnya terangkat sedikit. "Baru dari gym. Kenapa? Wajahmu terlihat seperti sedang menginterogasi tersangka kriminal."
"Aku hanya bertanya," jawab Arga datar. "Rizky memberitahuku bahwa ada mobil yang mirip dengan milikmu sering terlihat di sekitar Toko Buku Senja beberapa hari terakhir. Kamu tahu sesuatu tentang itu?"
Suasana di ruangan itu mendadak berubah. Senyum di wajah Kevin tidak hilang, tetapi sorot matanya berubah menjadi waspada. Ia menyandarkan tubuhnya pada meja kerja Arga, melipat tangan di depan dada.
"Oh, itu," ujar Kevin santai. "Aku memang beberapa kali lewat sana. Lagipula, daerah itu cukup tenang untuk mencari inspirasi. Kenapa? Kamu mulai cemburu karena aku lebih sering mengunjungi istrimu daripada kamu?"
"Jangan bercanda, Kevin. Ini masalah serius. Toko itu dibobol, dan Nadira diikuti oleh orang asing. Jika kamu memang ke sana, seharusnya kamu melihat sesuatu. Atau... mungkin kamu yang mengaturnya?"
Kevin tertawa kecil, namun tawanya tidak mencapai mata. "Wah, aku tidak menyangka kamu bisa berpikir sejauh itu tentang sepupumu sendiri. Aku memang tidak menyukai Mama yang terlalu ambisius, tapi aku tidak serendah itu untuk meneror perempuan yang tidak tahu apa-apa."
"Lalu kenapa kamu tidak mengatakannya padaku? Kenapa kamu merahasiakan kunjunganmu ke sana?" cecar Arga.
Kevin mengangkat bahu. "Karena aku tahu kamu akan bereaksi berlebihan seperti ini. Kamu terlalu protektif, Kak. Terkadang, perlindungan yang berlebihan justru membuat orang merasa tercekik."
Kevin kemudian berbalik untuk pergi, namun sebelum ia keluar, ia berhenti sejenak di ambang pintu. "Saran dariku, jangan terlalu sibuk mencari musuh di luar sana. Terkadang, orang yang paling kamu percayai adalah orang yang paling tahu cara menusukmu dari belakang."
Setelah Kevin pergi, Arga terdiam membatu. Kalimat itu terasa seperti gema dari pesan misterius yang ia terima beberapa hari lalu.
Musuh yang tersenyum paling ramah di meja makan.
Arga segera menghubungi Rizky melalui telepon. "Rizky, aku ingin kamu melakukan pengawasan ketat terhadap Kevin. Jangan biarkan dia bergerak tanpa sepengetahuanmu. Dan satu lagi... cari tahu apakah Kevin memiliki kontak dengan pihak luar yang mencurigakan dalam satu bulan terakhir."
"Siap, Pak," jawab Rizky singkat.
Sore itu, saat Arga sedang memeriksa beberapa berkas di ruang arsip, ia tidak sengaja melihat Kevin sedang berbicara dengan seseorang di area parkir melalui jendela lantai dua. Kevin tampak tegang, wajahnya tidak lagi santai. Ia menyerahkan sebuah amplop cokelat kecil kepada pria asing yang mengenakan setelan jas rapi.
Arga memicingkan mata. Ia tidak bisa mendengar percakapan mereka, tetapi bahasa tubuh Kevin menunjukkan bahwa ia sedang melakukan sesuatu yang rahasia. Setelah pria itu pergi, Kevin menoleh ke arah gedung kantor, seolah memastikan tidak ada yang melihatnya.
Jantung Arga berdegup kencang. Ia merasa sedang berada di dalam labirin yang tidak berujung. Jika Kevin terlibat, maka ambisi Ratih untuk menguasai perusahaan mungkin lebih besar dari yang ia duga. Namun, jika Kevin hanya dijadikan kambing hitam, maka ada seseorang yang jauh lebih licik yang sedang menggerakkan bidak catur di belakang layar.
Tepat saat Arga hendak turun untuk mengonfrontasi Kevin, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari Nadira.
“Mas, aku menemukan sesuatu di buku catatan ayah. Ada nama yang dicoret dengan tinta hitam, tapi aku bisa membaca sebagian hurufnya. Aku rasa ini adalah nama seseorang yang bekerja di Wijaya Group. Aku takut membacanya sendirian. Bisa pulang sekarang?”
Arga merasa dunianya berputar. Antara kecurigaan terhadap Kevin dan rahasia yang ditemukan Nadira, ia tahu bahwa badai besar akan segera menghantam keluarga mereka. Dan kali ini, ia tidak tahu siapa yang bisa ia percaya sepenuhnya.