Yolanda Liem baru 23 tahun ketika menjadi janda.
Suaminya—Kevin Liem, putra sulung keluarga konglomerat Liem—meninggal karena sakit setelah lima tahun pernikahan tanpa cinta (dan tanpa konsumasi). Yola memilih tetap tinggal di mansion keluarga, mengurus rumah tangga, dan menjalani masa berkabung dengan tenang.
Sampai Rayhan Liem kembali.
Adik iparnya. CEO Liem Group. Pria paling dingin dan berbahaya di Jakarta.
Rayhan menatapnya bukan seperti kakak ipar. Tatapannya gelap, posesif, dan penuh rahasia. "Sejak kapan kau melihatku seperti itu?" tanya Yola dengan suara gemetar. Rayhan tidak menjawab. Dia hanya tersenyum — senyum yang membuat Yola ingin berlari.
Dan Yola memang berlari. Dua kali.
Tapi Rayhan selalu menangkapnya kembali.
Di antara ciuman paksa dan pengorbanan diam-diam, di antara luka pisau yang ditanggung demi Yola dan rahasia yang tak pernah ia ucapkan — Yola mulai mempertanyakan segalanya.
Apakah ini obsesi? Atau cinta yang sudah terlalu lama ditahan?
Ketika akhirnya ia berdiri di depan nisan Kevin dan berkata, "Aku sudah jatuh cinta pada orang lain" — apakah dunia akan memaafkannya?
⚠️ Peringatan: Mengandung adegan dewasa (steamy), hubungan possessive, dan grey-area consent di beberapa chapter. HE guaranteed.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33
Bab 033
Kembali ke Atelier
Pintu ruang kerja tertutup di belakang Rayhan dan Monica.
Yola tidak menunggu untuk mencari tahu apa yang mereka bicarakan.
Ia kembali ke kamar, membalas pesan Naomi dengan dua kalimat pendek bahwa ia aman dan akan menghubungi lagi nanti, lalu mematikan layar ponsel. Di dalam kepalanya, suara Monica masih tertinggal.
Kalau kamu terus memutuskan kapan dia kuat dan kapan tidak, kamu mengulangi masalah yang sama.
Perempuan itu benar.
Dan karena ia benar, Yola semakin tidak tahu harus menaruh rasa tidak nyaman di mana.
Menjelang siang, dokter keluarga datang memeriksa ulang pergelangan tangannya. Memarnya mulai kebiruan tipis, tetapi tidak memburuk. Dokter hanya meminta Yola tidak mengangkat barang berat selama beberapa hari.
"Saya tidak mengangkat barang berat," kata Yola.
Sari yang berdiri di samping tempat tidur langsung menatapnya.
Yola pura-pura tidak melihat.
Setelah dokter pergi, ia membuka catatan Atelier Yola. Ada tiga pesanan tester kecil yang tertunda sejak acara Celine. Dewi mengirim foto rak display yang sudah dirapikan, tetapi beberapa botol kaca ukuran sepuluh mililiter kurang. Persediaan essential oil pear juga hampir habis karena sample dibawa ke acara.
Hal-hal kecil.
Botol. Label. Pipet kaca. Minyak pear. Alkohol kosmetik.
Justru hal-hal kecil itu membuat Yola bisa bernapas.
Di dunia parfum, ukuran harus tepat. Satu tetes berlebih bisa mengubah wangi. Satu botol pecah bisa diganti. Satu label salah bisa dicetak ulang. Tidak seperti gosip, tidak seperti ciuman, tidak seperti pertunangan batal yang melekat di nama orang.
Yola turun menemui Mama Liem di ruang keluarga kecil.
"Mama, aku ingin ke Atelier sebentar."
Mama menurunkan cangkir jamu. "Hari ini?"
"Hanya memeriksa stok. Dewi bisa membantu. Aku tidak akan lama."
Mama melihat pergelangan tangannya. "Dokter bilang jangan angkat berat."
"Aku tidak akan."
Dari pintu, Sari batuk kecil.
Yola menoleh. "Sari."
"Saya tidak bilang apa-apa, Nona."
Mama Liem tersenyum tipis untuk pertama kalinya sejak malam sebelumnya. Lalu wajahnya kembali lembut. "Pergilah kalau itu membuatmu lebih tenang. Tapi Sari ikut. Rizal juga. Dan kalau kamu lelah, pulang."
"Baik, Ma."
Yola menunggu Mama menambahkan syarat lain, mungkin meminta izin Rayhan, mungkin menunda sampai besok. Tetapi Mama hanya mengangguk.
Di teras belakang, mobil sudah siap.
Rizal berdiri di samping pintu, tetapi kali ini ia tidak membuka mulut sebelum Yola datang. Ia hanya menunduk.
"Pak Rayhan tahu?" tanya Yola.
Rizal ragu setengah detik. "Pak Rayhan meminta saya menjaga dari jauh, Nona. Tidak menghalangi."
Yola terdiam.
Menjaga dari jauh.
Kalimat itu seperti jejak tamparan semalam yang belum hilang dari pipi Rayhan.
"Baik," katanya.
Atelier Yola di Kemang terasa berbeda ketika Yola masuk siang itu. Belum buka resmi, belum ada pelanggan, tetapi udara di dalamnya membawa wangi kayu baru, kertas label, dan sisa Pear Blossom yang menempel di rak. Dewi langsung keluar dari belakang meja dengan wajah lega.
"Nona Yola. Saya dengar berita, tapi saya tidak berani menghubungi terlalu sering."
"Terima kasih, Dewi. Aku baik-baik saja."
Dewi tidak mengatakan bahwa Yola terlihat tidak baik-baik saja. Ia hanya mengambil buku stok.
"Botol sepuluh mili tinggal dua belas. Pipet kaca masih cukup, tapi label foil harus dicetak ulang kalau Nona tetap mau soft gold. Essential oil pear dari supplier Cipete bisa dikirim besok sore, tapi kalau ingin cepat harus ambil langsung."
Yola membuka buku itu. Angka-angka rapi Dewi membuat pikirannya mulai bekerja.
"Sample editor dari acara Celine?"
"Dua orang menghubungi. Satu minta harga paket corporate gift. Satu lagi tanya apakah Pear Blossom bisa dibuat versi roll-on."
Untuk pertama kalinya hari itu, sesuatu di dada Yola bergerak bukan karena takut.
"Bisa."
Dewi tersenyum. "Saya sudah pikir Nona akan bilang begitu."
Mereka berdiri di meja kerja belakang, menyusun daftar belanja. Sari duduk di kursi dekat pintu, matanya tidak lepas dari ponsel dan kaca depan. Rizal tidak masuk, tetapi bayangannya terlihat di seberang jalan, cukup jauh untuk tidak menekan, cukup dekat untuk berjaga.
Yola memperhatikan itu melalui kaca.
Rayhan benar-benar mengubah jarak.
Ia tidak tahu apakah itu membuatnya lega.
Menjelang sore, Dewi menyodorkan daftar akhir.
"Kalau besok pagi ambil botol di Asemka, lalu essential oil ke Cipete, sore sudah bisa produksi sample baru."
"Besok pagi aku pergi."
Sari langsung mengangkat wajah. "Nona, dokter bilang jangan angkat berat."
"Aku akan minta bantuan."
"Bantuan siapa?"
Yola belum menjawab ketika pintu Atelier terbuka.
Bukan pelanggan.
Rayhan berdiri di ambang pintu.
Tidak ada jas hitam. Hanya kemeja gelap dengan lengan digulung dan ekspresi yang terlalu tenang untuk seseorang yang baru membuat seluruh Jakarta membicarakan pertunangannya. Matanya berhenti pada pergelangan tangan Yola, lalu pada buku stok di meja.
Dewi langsung menunduk. "Pak Rayhan."
Sari berdiri.
Yola tidak.
"Saya tidak meminta Pak Rayhan datang."
"Aku tahu."
Jawaban itu membuat Yola kehilangan satu kalimat bantahan.
Rayhan melangkah masuk, tetapi berhenti sebelum terlalu dekat dengan meja kerja.
"Rizal memberi laporan kamu akan ambil botol ke Asemka besok."
"Saya bisa pergi dengan Sari dan Dewi."
"Kamu tidak boleh angkat berat."
"Saya bisa menyewa orang toko."
"Bisa."
Yola menatapnya, curiga. "Lalu?"
Rayhan melihat daftar di meja, kemudian berkata, "Besok aku ikut. Bukan untuk mengatur. Untuk membawa barang."
Ruangan kecil Atelier mendadak terlalu sunyi.
Yola tidak tahu jawaban mana yang lebih aman.
up lagi, Author. banyak-banyak!😅